APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pewaris muda dan penipu

Pewaris muda dan penipu

Elías menyusup kembali ke lingkaran keluarga Altamirano dengan satu misi: menuntut balas atas masa lalunya. Di sana, ia justru dipertemukan dengan Victoria, wanita yang kini terombang-ambing di antara tuntutan tugas dan asmara terlarang. Ketika kabut misteri dan rahasia kelam dinasti tersebut perlahan tersingkap, keduanya malah terjerat dalam romansa membara yang penuh risiko. Di tengah pusaran dusta serta pengkhianatan, mereka dipaksa menghadapi kenyataan pahit tentang asal-usul mereka.
Bab
Bagikan

Bab 1

Hujan telah berhenti, tetapi tanah tetap lunak, seolah menolak untuk melepaskannya. Lumpur menutupi kakinya, lengket, seolah mencoba menahannya sedikit lebih lama sebelum melepaskannya. Elías berjuang maju, lengannya penuh goresan, otot-ototnya menegang, dadanya terbakar setiap kali bernapas. Dia telah berlari selama berjam-jam. Atau mungkin berhari-hari. Waktu di hutan tidak diukur seperti di dunia jam. Semak belukar telah merobek kulitnya, serangga berdengung seolah-olah mereka tahu ceritanya. Dia tidak tahu apakah mereka mengejarnya atau mengawalnya. Tiba-tiba, pepohonan terbelah menuju tikungan sungai. Air bersih. Cair. Seperti sebuah janji. Elías berlutut dan dengan kikuk meraih ke dalam, minum dengan putus asa. Dia merasa seolah-olah jika dia menutup matanya sekarang, dia tidak akan pernah membukanya lagi. Jari-jarinya mengaduk kerikil seolah-olah mencari sesuatu yang terkubur di sana. Sesuatu yang telah lama hilang. Mesin truk pikap menderu di kejauhan. Sosok itu mendekat di sepanjang jalan tanah: sebuah kendaraan gelap dengan kabin ganda, meluncur dengan susah payah di lumpur. Pengemudinya-seorang pria tua berambut abu-abu, sendirian-tampaknya tidak menyadari batang kayu yang setengah tumbang menghalangi jalan.

Elías bergegas berdiri, goyah.

"Awas!" teriaknya, tetapi suaranya serak, nyaris seperti bisikan di udara yang lembap.

Dia berlari tanpa berpikir. Dia hanya bereaksi. Batang kayu itu ambruk, bannya menggoresnya, truknya menjadi tidak stabil. Elías tiba tepat pada waktunya untuk membuka pintu pengemudi, menarik pria itu keluar, dan berguling bersamanya menuruni lereng. Terdengar suara dentuman keras, diikuti oleh derit logam yang menghantam batu.

Keheningan.

Kemudian, hanya suara sungai yang tenang.

Sebuah kenangan mengaburkan pikirannya:

Lari.

Suara tanpa wajah. Sebuah tangan mendorongnya dalam kegelapan.

Jangan melihat ke belakang.

Derit pintu logam. Bau kurungan: minyak tua, lembab tengik, darah kering. Rantai yang diseret. Jeritan tertahan. Lalu... tidak ada apa-apa. Pria yang diselamatkannya itu terengah-engah. Kemejanya robek dan dahinya berdarah, tetapi dia sadar. Dia duduk perlahan, linglung. Dia menatap Elías seolah-olah dia tidak tahu apakah dia melihat seorang anak laki-laki... atau hantu. "Siapa namamu?" Elías tetap diam. Bukan karena tidak percaya. Tetapi karena pertanyaan itu menusuknya. Seolah-olah menyebut namanya akan mengkhianati sesuatu yang belum sepenuhnya dia ingat. "Kau tidak perlu mengatakannya," pria itu menambahkan, suaranya lebih lembut. "Tetapi kau menyelamatkan hidupku. Dan kau tidak melupakan itu." Itu bukan pola yang umum. Itu terlihat dari cara dia memandangnya, tanpa kesombongan atau rasa kasihan. Seolah-olah dia juga pernah berada di ambang kehancuran. "Apakah kau punya tempat untuk tidur?" Elías menggelengkan kepalanya, nyaris tak bergerak.

"Kalau begitu ikut aku."

Mereka berjalan dalam diam di sepanjang jalan sempit. Truk itu masih melaju, meski dengan lampu depan yang rusak dan bodi yang penyok. Elías berada di kursi belakang, terbungkus selimut yang ditemukan pria itu di antara perkakas. Di luar, pepohonan berlalu perlahan, samar-samar. Di dalam, udara tercium lembap, rokok murah, dan lumpur yang baru diolah.

"Kau kuat," kata pengemudi itu, tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. "Hanya sedikit orang yang menceburkan diri ke lumpur demi orang asing."

Elías tidak menjawab. Ia berpegangan erat pada selimut seolah-olah selimut itu membuatnya tetap terhubung dengan tubuhnya. Seolah-olah hawa dingin tidak datang dari luar.

"Namaku Renato. Renato Altamirano."

Nama itu tidak berarti apa-apa baginya. Atau belum.

Renato menghirupnya dalam-dalam sebelum melanjutkan:

"Aku tidak tahu dari mana asalmu, tetapi jika yang kau cari adalah kesempatan... aku bisa memberimu satu." Elías mendongak. Ia memperhatikannya dari kaca spion. Matanya gelap, penuh kelelahan. Dan kosong.

"Kenapa?"

Renato meliriknya. Ia tidak langsung menjawab. Ia memperlambat langkahnya saat mendekati sebuah tikungan dan bergumam, seolah berbicara pada dirinya sendiri:

"Terkadang Anda menolong seseorang yang tidak Anda kenal... karena Anda tidak bisa menyelamatkan seseorang yang Anda kenal."

Rumah itu besar, sunyi. Lampu-lampu hangat kontras dengan malam yang lembap. Elías masuk seolah-olah ia sedang menginjak wilayah terlarang. Kamar yang diberikan kepadanya sederhana, tetapi bersih. Tempat tidur yang sudah dirapikan. Handuk. Roti yang baru dipanggang di atas piring. Air panas dalam kendi. Tidak ada yang menanyakan namanya. Tidak ada yang mencoba menyentuhnya.

Ia berdiri selama beberapa detik, tidak tahu apakah harus duduk, tidur, atau melarikan diri. Kemudian ia perlahan-lahan melepaskan bajunya. Di punggungnya, bekas luka menyebar seperti peta dari apa yang masih belum terucapkan. Bekas luka itu tidak tampak baru. Tetapi bekas luka itu juga tidak lama.

Ia berjalan ke cermin kamar mandi. Ia menatap dirinya sendiri. Ada sesuatu pada wajah wanita itu yang tampak asing baginya. Seolah-olah itu belum menjadi miliknya. Seolah-olah ia menempati tubuh pinjaman.

Dan kemudian, dari sudut gelap ingatannya, atau hati nuraninya, muncul suara lembut, hampir seperti anak kecil yang nyaris berbisik:

Kau bukan siapa-siapa.

Elías menundukkan pandangannya. Ia tidak menanggapi. Namun di dalam dirinya, ada sesuatu yang mulai-sangat perlahan-terbangun.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cintanya Bersinar Dalam Kegelapan
9.4
Julian dulu terabaikan dalam hidup Sienna, meski dialah pencuri ciuman pertama gadis itu saat gelap. Ketika takdir meruntuhkan dunia Sienna dan memaksanya menikahi pria lain, Julian kembali. Namun, ia tidak lagi lemah. Kini sebagai pria berkuasa, Julian hadir di titik terendah Sienna untuk melindunginya. Lewat lamaran pernikahan yang penuh keyakinan, ia siap membuktikan bahwa cinta tulusnya tiada tanding.
Sampul Novel Give Me Your Heart
9.1
Demi memperjuangkan cinta, Andrea Keyne Halim nekat merebut paksa pria impian dari sahabatnya sendiri. Namun setelah berhasil menikah, ia justru harus menelan pil pahit. Sang suami memperlakukannya dengan sangat dingin, mengabaikan kehadirannya, dan enggan menyentuhnya. Di tengah kesedihan yang mendalam, Andrea menyadari bahwa ia menginginkan hati suaminya, bukan sekadar status pernikahan. Sanggupkah Andrea bertahan menghadapi sikap membeku ini, ataukah ia akan memilih menyerah dan pergi?
Sampul Novel Negeri Ini Dikuasai Mafia
8.6
Kemiskinan masa lalu memicu dendam mendalam pada diri Basudo. Tumbuh dewasa, ia memilih jalan kegelapan demi membalas rasa sakitnya. Sebagai raja mafia yang haus kekuasaan dan kendali ekonomi, ia tak segan melenyapkan siapa pun yang menghalangi. Namun, kekejaman tanpa ampun ini melahirkan perlawanan baru. Defian dan Telma, dua sosok pemberani, kini muncul dan siap mempertaruhkan hidup mereka demi menghentikan dominasi kejam Basudo beserta kelompoknya.
Sampul Novel Rebirth: Aku Kembali Untuk Membalas Penghianatan Suamiku
9.3
Regina Meizura Carlton meregang nyawa akibat pengkhianatan kejam dari suami, adik, dan orang tuanya sendiri. Beruntung, takdir memberinya kesempatan kedua untuk terlahir kembali. Kini, Regina bangkit dengan tekad membara untuk menuntut balas pada semua orang yang telah menghancurkan hidupnya. Di tengah perjuangannya, ia juga berjanji tidak akan lagi mengabaikan ketulusan cinta dari Axel Witsel Witzelm. Kisah penuh intrik dan konflik dewasa ini ditujukan bagi pembaca bijak.
Sampul Novel Roh Jiwa Putri yang Teraniaya
9.5
Dua bulan pasca kematiannya, sebuah keluarga baru menyadari bahwa mereka meninggalkan putri mereka di tengah hutan saat wisata. Mengira sang putri hanya merajuk karena dihukum berjalan kaki, sang adik justru mengirimkan pesan ejekan agar dia mati demi menguasai warisan nenek mereka. Ibu yang bersikap dingin bahkan mengancamnya agar hadir di pesta ulang tahun keluarga. Mereka tidak pernah menduga bahwa korban tidak pernah bisa keluar dari sana. Pencarian intensif di pegunungan akhirnya mengungkap kenyataan mengerikan saat sisa-sisa tulang belulangnya ditemukan terkubur.
Sampul Novel Saksi Gairah, Bukti Pengkhianatan
9.3
Saat pengacara sibuk menyusun draf surat cerai, seorang wanita tenggelam dalam sensasi intim yang membangkitkan gairah terpendamnya. Di bawah meja, sentuhan jemarinya menghidupkan kembali hasrat yang layu bagai disiram kesegaran baru. Ilusi itu mendadak terasa nyata ketika kehangatan kursi di bawahnya menjelma menjadi dekapan tubuh pria yang kokoh. Sentuhan lembut pria misterius itu mulai menjelajahi kulitnya, membawa dirinya hanyut dalam pusaran nikmat yang tak terbendung di tengah situasi pelik pernikahannya.