
Petaka Di Balik Gairah
Bab 3
Aku ingin menolak. Namun, ketika kata-kata sudah sampai di ujung lidah, aku menyerah dan kembali melemaskan tubuhku, membiarkan dia melakukan apa pun pada tubuhku.
Dia seakan berbicara kepada pinggulku, "Tenang saja, Bu. Ini murni obat herbal tradisional. Nggak hanya meningkatkan gairah, tapi juga baik untuk tubuh, membantu detoksifikasi, dan mempercantik kulit."
Aku hanya menanggapi dengan singkat, lalu sedikit mengangkat pinggulku sesuai instruksinya. Rasanya agak hangat di belakang dan ada sensasi benda asing yang cukup kuat. Sensasi itu begitu aneh sehingga aku tidak bisa menahan diri untuk mengerang pelan.
Setelah itu, dia mulai memijat lagi sambil memuji setiap bagian tubuhku. Dada yang penuh, pinggang yang ramping, kaki yang panjang, hingga pinggul yang menonjol. Aku tidak menanggapinya, hanya menutup mata dan menikmati pelayanannya. Perasaan jengkel dalam hatiku perlahan menghilang tanpa kusadari.
Saat itu, sensasi dari supositoria mulai terasa semakin jelas. Awalnya, benda asing itu terasa menghilang, digantikan oleh sensasi hangat yang semakin dalam. Bahkan rasanya benda itu sedikit membesar di dalamku.
Perlahan, kehangatan itu menyebar bukan hanya di belakang, tetapi juga ke bagian depan. Sensasi itu menjalar hingga seluruh perut bagian bawahku terasa panas seperti terbakar. Tubuhku mulai berkeringat deras.
Efek dari supositoria yang luar biasa, ditambah dengan pijatan yang membuat rileks, menimbulkan rasa gatal yang sulit diabaikan di dalam diriku.
Tanpa memedulikan rasa malu lagi, aku pun sedikit memiringkan tubuhku dan menyilangkan kedua kakiku dengan lembut sambil memberikan tekanan ringan. Pinggulku seakan memiliki kesadaran, sehingga bergerak pelan dengan sendirinya.
Aku mencoba menggunakan cara lama untuk sedikit mengurangi rasa itu dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Namun, jelas upayaku itu gagal total.
Aku baru saja menjepit sedikit, tiba-tiba pria itu langsung memegang pinggangku dengan kedua tangan. Dia mengangkatku dan menghentikan gerakannya, sehingga membuat seluruh tubuhku terasa seperti tercerai berai.
Aku tak bisa lagi berpura-pura tenang. Aku mengeluarkan suara desahan panjang dan mencoba menyampaikan rasa ketidakpuasanku.
Hembusan napas pria itu tiba-tiba terasa di bawah punggungku, dia menggigit ringan sambil berkata pelan, "Jangan terburu-buru, Bu."
Gigitan itu membuat pikiranku kacau. Tangan dan kakiku terasa lemas, tulang ekor dan tulang belakangku terasa sangat pegal hingga hampir tidak bisa menopang tubuhku di atas ranjang.
Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih jauh. Tubuhku yang lemas hanya bisa terkulai, dengan kepala tertunduk di antara lenganku.
Saat itu, efek anggur yang diminum tadi sore sepertinya mulai terasa. Berbaring di ranjang membuatku merasa seperti terombang-ambing di atas kapal. Seiring dengan akumulasi sensasi aneh yang terus bertambah di belakangku, tubuhku menjadi semakin sensitif dan hasrat itu semakin memuncak tanpa kendali.
Namun, di tengah rasa tertekan dan gelisah, aku merasakan sesuatu di dalam perut bagian bawahku yang semakin hangat dan penuh. Tanpa sadar, aku menegakkan leherku, lalu memohon dengan kaki yang gemetaran, "Jangan permainkan aku lagi, lakukanlah."
Namun, dia tidak melakukannya, melainkan tetap menggoda dengan perlahan, "Bu, bagaimana kalau kita bertaruh?"
"Bertaruh apa?" tanyaku dengan napas tersengal-sengal.
Pria itu menggigit telingaku dengan lembut, "Kalau aku berhasil membuatmu merasa nyaman, tubuhmu ini, hari ini, akan sepenuhnya menjadi milikku ...."
Tanpa kusadari, seluruh ruangan menjadi hening. Yang terdengar hanya napasku sendiri dan detak jantungku yang berdebar-debar.
Aku ingin menolak, tetapi api di perut bagian bawahku semakin berkobar. Sensasi terbakar itu menjalar hingga ke kepalaku dan merampas kemampuanku untuk berpikir.
Panas itu membakar hingga kulit kepalaku terasa meremang, membuat semua kata penolakan yang hendak keluar berubah menjadi suara yang gemetaran. Aku berkata, "Semua terserah kamu, cepatlah, kumohon ...."
Anda Mungkin Juga Suka





