APKDock Logo
Sampul Novel Merebut Hati Suamiku

Merebut Hati Suamiku

8.4 / 10.0
Pernikahan di lingkungan pesantren antara Kayshilla Chandra dan Aaraf Ibrahim terjadi karena perjodohan orang tua. Namun, Aaraf berterus terang belum bisa mencintai Kayshilla sebab masih mengharapkan wanita lain. Kenyataan pahit ini memaksa Kayshilla berjuang menghadapi bayang-bayang masa lalu sang suami. Di tengah badai ujian rumah tangga, sanggupkah ketulusan dan kesabaran Kayshilla mencairkan sikap dingin Aaraf demi meraih cinta seutuhnya?

Merebut Hati Suamiku Bab 1

"Maaf sebelumnya, Ning. Saya menerima pernikahan ini atas paksaan dari Abah dan Umik, bukan atas keinginan saya sendiri. Maaf kalau kita harus berjarak dulu, dan saya memperlakukan kamu dengan baik hanya saat di depan orang-orang."

Deg!

"Kita akan fokus pada urusan masing-masing, tanpa ikut campur satu sama lain. saya dengan kehidupan saya, dan kamu dengan kehidupanmu. Untuk pernikahan ini ... biar waktu yang menjawab, Ning."

Aku menggeleng. Bak mendengar sambaran petir yang langsung menghantam dada, kata-kata menyakitkan itu keluar dari mulut pria yang beberapa jam lalu melantunkan ijab qabul untukku.

Aaraf Ibrahim, pria yang saat ini menyandang status sebagai suamiku itu berkata tanpa adanya ekspresi berlebih. Wajah tampannya yang ditumbuhi jambang halus tampak dingin, bahkan mata hazel itu sama sekali tidak menatapku.

"Iya, Gus." Aku mengalihkan wajah agar dia tidak tahu tangisku sudah meledak. Ah, aku salah, bagaimana mungkin dia tahu? Dia saja tidak menatapku yang duduk di depannya.

"Saya tahu ini akan membuatmu sakit, tapi Abah memaksa saya. Tolong pahami kalau hati saya juga sakit, apa lagi saat hati saya masih untuk orang lain."

"Apa maksudnya?!" Aku mengangkat wajah dan menatap tajam bola mata itu, tidak peduli dia akan tahu lelehan air mata di wajahku.

"Saya mencintai wanita lain."

'Ya Allah ...,' batinku.

Aku menahan napas melihatnya yang begitu jujur mengakuinya perasaannya di hadapanku tanpa peduli perasanku. Apa dia pikir aku wanita tidak punya hati? Apa dia dikirim hanya untuk menghancurkanku?

"Seharusnya tidak usah menikahi saya, nikahi saja wanita itu. Jadi kita tidak sama-sama sakit."

Gus Aaraf menggeleng, "Abah sudah terlanjur memilihmu. Saat aku ingin melamar wanitaku, Abah sudah melamarmu lebih dulu."

Wanitaku? Dia terang-terangan mengakui wanita lain di hadapan istrinya. Aku tahu kami memang dijodohkan, bahkan sebelum pernikahan ini kami memang tidak pernah bertemu. Aku hanya melihat Gus Aaraf dari foto, tetapi entah dia pernah melihatku atau tidak.

"Lalu kamu mengorbankanku?" tanyaku dengan tawa sumbang, "beruntung kamu tidak punya saudara perempuan, Gus. Jadi kamu nggak akan melihat keluarga yang kamu sayangi terluka. Tapi ... keluargaku? Aku yakin Abah akan marah putrinya diperlakukan seperti ini."

Gus Aaraf terdiam dengan kepala menunduk, samar-samar aku mendengar bibirnya menggumamkan kata maaf. Namun, sangat lirih.

"Seharusnya kamu nggak perlu menjelaskannya, Gus. Katakan saja tidak mau menyentuhku, lalu aku akan maklum. Kalau begini ... aku akan sakit seumur hidup."

Hening! Pria itu masih diam. Dia adalah pria yang baik akhlaknya, dan ini salahku karena menjatuhkan hatiku padanya. Dia tidak bersalah, aku tahu itu! Abahnya yang melamarku hingga aku masuk ke kehidupannya.

Namun, tidak bisa kah dia menghormatiku sebagai perempuan?

Semua sepupuku menikah karena perjodohan, mereka bahagia dan damai bersama suaminya. Aku pikir, aku juga akan bahagia. Apa lagi Abah dan Umik mertua sangat ramah saat menyampaikan lamarannya bulan lalu. Ternyata, putranya malah menyakitiku.

"Maaf, Gus. Saya tidak bermaksud lancang, saya hanya ingin mengutarakan perasaan, seperti yang kamu lakukan malam ini. Saya ... saya menghormati kamu, saya ngerti," ucapku pasrah.

Cukup lama suamiku itu terdiam. Entah dia memikirkan perkataanku barusan, atau memikirkan kekasihnya?

"Maaf, Ning. Saya belum ada perasaan apa-apa sama kamu, jadi jangan berharap apa-apa kepada saya. Tapi, saya akan tetap memperlakukan kamu dengan baik, meskipun suatu saat nanti ada sikap saya yang akan menyakiti kamu."

"Tidak usah diperjelas, Gus. Saya nggak papa," jawabku dengan memaksakan senyum.

"Terima kasih, Ning. Kamu wanita baik."

Gus Aaraf berbicara dengan begitu tenang, lemah lembut, dan halus. Namun, tetap saja kata-katanya menusuk dalam ke jantung. Seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas-remas perasaanku.

"Malam ini dan seterusnya, saya belum bisa memberikan hak kamu sebagai istri. Sekali lagi maafkan saya, Ning." Gus Aaraf lantas bangkit dan menuju sofa.

Sementara aku masih duduk di atas sajadah. Kami baru saja sholat berjamaah, memanjatkan doa untuk pernikahan ini. Namun, dengan tegasnya dia bilang tidak menginginkanku? Penolakannya malam ini langsung menamparku yang sudah siap menjalankan kewajiban sebagai istri.

Dia berkata layaknya begitu menjaga agar aku tidak sakit hati, tetapi justru itu malah membuat lukaku meradang. Aku sekuat mungkin menahan tangis yang hampir meledak di malam pertama pernikahan, sedangkan suamiku itu sudah fokus pada ponselnya.

Dia seperti lupa kalau baru saja menyakiti hatiku.

"Tidurlah, Ning. Kamu tidak perlu menungguku, karena aku akan tidur di sofa malam ini."

Deg!

Bahkan, dia menolak untuk satu ranjang denganku? Sebegitunya kah dia tidak ingin dekat denganku?

"Iya, Gus. Saya tahu."

"Jangan bicara apa-apa pada Abah dan Umik. Saya nggak mau kalau mereka kepikiran dan kondisi kesehatannya ngedrop."

Lalu, bagaimana dengan kondisiku?

"Baik, Gus."

Gus Aaraf hanya mengangguk. Pandangannya kini fokus pada layar ponsel, sesekali bibirnya akan mengulas senyum. Entah, dengan siapa ia sedang berkomunikasi.

Hingga saat aku sudah merebahkan diri di kasur, Gus Aaraf keluar kamar dengan ponsel yang menempel di telinganya. Sayup-sayup aku masih bisa mendengar suaranya berbicara dengan seseorang di seberang telepon.

"Halo, Ay."

Aku sontak bangkit dan membelalak kaget, 'siapa ay itu?' batinku.

***

Tepat di sepertiga malam aku terbangun, kebiasaan sholat malam sudah membuatku biasa bangun jam segini. Dengan perlahan aku menurunkan kaki dan langsung melihat suamiku yang tidur tanpa selimut.

"Aku mencintainya saat dia melantunkan ijab qabul di hadapanmu, Ya Allah. Aku menyayanginya saat dia berjanji di hadapan Abah akan menjagaku. Tapi kenapa dia sekarang menyakitiku?"

Tanpa terasa air mata menitik dan dengan cepat pula aku menghapusnya. Tidak ada gunanya menangisi laki-laki yang tidak mencintaiku, tapi netraku selalu terhipnotis, hingga akhirnya memanas dan aku menangis.

Kakiku melangkah menuju lemari untuk mengambil selimut. Bagaimanapun aku adalah istrinya, kenyamanan tidurnya adalah kewajibanku. Tidak peduli di hatinya ada nama siapa.

Kting! Kepalaku sontak menoleh saat mendengar dering ponselnya. Dengan cepat aku merapikan selimut untuknya, kemudian mataku menyipit melihat ponsel itu.

"Kamu ngapain?!"

Aku terlonjak kaget saat mendengar suara bariton itu menggema, suara serak dengan kelopak mata yang belum terbuka sempurna. Gus Aaraf cepat-cepat meraih ponsel yang bahkan belum sempat aku lihat dengan jelas tersebut.

"Kamu lihat ponselku, Ning?"

"E-enggak."

"Saya lihat sendiri kamu serius lihatin ponselku!" Gus Aaraf menghela napas kasar, "maaf, Ning. Tapi kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan satu sama lain, saya harap kamu nggak lupa!"

Aku mengangguk pasrah. Dia bangkit dan melempar selimut begitu saja ke lantai, langkahnya menuju ke kamar mandi, tetapi kata-kata menyakitkannya masih bergaung di telingaku.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Merebut Hati Suamiku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai dari Laurence Andrews untuk ke-99 kalinya. Bukannya peduli, Laurence malah mengusir Josie dari mobil demi menerima telepon dari sang mantan, Rosalie Harris. Laurence terus meremehkan Josie dan yakin istrinya tidak akan pernah pergi. Namun, ia tidak sadar bahwa kesabaran Josie telah habis akibat terus diabaikan. Di saat yang sama, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie agar segera bercerai dan pergi dari negara itu selamanya.
Sampul Novel En-PD154
9.0
Kemenangan sepuluh kali berturut-turut di arena justru berujung pengkhianatan dari Roderick. Sang tunangan tega bermesraan dengan cinta pertamanya, bahkan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar tak berkelas. Kelembutan Roderick sirna seketika demi menyatakan cinta pada wanita lain di depanku. Kecewa, aku langsung menghubungi ayahku, sang bos mafia besar. Kupastikan pernikahan kami batal karena aku akan mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
8.7
Demi menyelamatkan Adrian dari ledakan, punggungku hancur terbakar. Empat tahun aku merawatnya saat koma, tetapi setelah sadar, ia malah menyatakan cinta pada Stella di depan publik. Mereka menghinaku, bahkan Adrian menuduhku berbohong saat diserang preman. Baginya, aku hanya beban. Puncaknya, ia membuangku di jalan tol saat hari pernikahan demi Stella. Kini, aku memilih pergi meninggalkan segalanya dan menuju bandara.
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa untuk pembaca usia 21 tahun ke atas ini menyoroti sisi tersembunyi kehidupan yang penuh luka, dilema, dan kerinduan di balik topeng kesucian. Melalui narasi realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan diri di tengah kegelapan untuk menemukan cahaya. Sebuah hiburan mendalam tentang pencarian makna hidup serta cinta yang berliku, menyajikan perspektif baru bagi Anda.
Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Nadia Antika rela bersabar atas perlakuan buruk ibu mertuanya demi membina rumah tangga bersama Askara Brahma selama dua tahun. Namun, kehangatan Askara mendadak hilang dan ia berubah menjadi sangat dingin. Perubahan drastis ini memicu kecurigaan Nadia akan adanya rahasia kelam. Akankah ia sanggup menghadapi kenyataan pahit saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan adik iparnya sendiri di dalam rumah mereka?
Sampul Novel Penantian Yang Tak Kunjung Kembali
9.2
Enam tahun pernikahan rahasia dengan seorang direktur menyisakan luka bagi sang istri, terutama karena suaminya menolak dipanggil ayah oleh putra mereka. Ketika sang suami kembali mengabaikan ulang tahun anak mereka demi sekretaris wanitanya, ia memutuskan pergi membawa putranya dan mengajukan cerai. Kehilangan ini membuat sang suami yang biasanya tenang menjadi lepas kendali dan mencarinya ke mana-mana bagai orang gila. Namun, kali ini sang istri dan putranya benar-benar tidak akan pernah kembali lagi.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan