APKDock Logo
Sampul Novel Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku

9.0 / 10.0
Lima tahun lalu, Ardan menceraikan Luna akibat tuduhan selingkuh dan keraguan atas status anak mereka. Kini, takdir mempertemukan mereka kembali di kampus tempat Luna kuliah, di mana Ardan yang dulunya pengusaha sukses telah beralih profesi menjadi dosen. Meski Ardan masih menyimpan dendam serta kerap melontarkan sindiran pedas tentang masa lalu, Luna tidak gentar. Ia justru menghadapi sikap dingin mantan suaminya itu dengan keberanian dan kecurigaan yang jenaka.

Dosenku Mantan Suamiku Bab 1

*Flashback lima tahun yang lalu

Drucia Luna, gadis cantik yang baru saja merayakan kelulusan SMA, tengah bermain bersama saudara-saudaranya di halaman belakang panti asuhan. Suasana sore itu terasa begitu ceria, dengan tawa dan canda yang mengiringi permainan mereka. Namun, keceriaan itu terganggu saat pasangan suami istri yang tidak dikenal mendekat ke arah mereka.

Pasangan itu tidak datang sendiri. Mereka terlihat berjalan bersama Ibu Panti, yang wajahnya tampak serius.

"Luna..." panggil Ibu pantinya dengan suara lembut.

Luna berhenti sejenak dan menatap mereka dengan tatapan bingung. "Ibu mau bicara sebentar," ujar wanita paruh baya itu lagi.

"Ada apa, Ibu?" tanyanya Luna, matanya melirik pasangan suami istri yang tampak serius.

Ibu Panti tersenyum tipis, meski senyumnya terasa dipaksakan. "Ini Tuan dan Nyonya Kusuma. Mereka mau bicara sama kamu," jawabnya.

Luna menghela napas. Kemudian ia mengikuti ketiga orang dewasa itu yang sudah berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah.

Di dalam rumah, Ibu Panti sudah duduk di kursinya dengan wajah yang tampak tenang, meskipun matanya menyiratkan kekhawatiran. Pasangan suami istri itu duduk di sofa, tepat di depan Luna, menatapnya dengan penuh perhatian dan harap.

"Kami datang ke sini untuk memberikan tawaran kepadamu, Luna." Tuan Kusuma mulai membuka percakapan, sementara Nyonya Kusuma masih terdiam.

"Aku mau di adopsi?" tanya Luna dengan wajah tak suka pada Ibu pantinya.

"Dengerin dulu, Nak," sahut Ibu pantinya dengan lembut.

Luna menghela napas. Kemudian kembali menatap pasangan itu dengan wajah tak nyaman.

"Perkenalkan, saya Ardan, dan ini istri saya, Wulan." Pria itu kembali berbicara, sementara sang istri di sampingnya hanya diam, matanya tetap memandang Luna dengan penuh perhatian.

"Kami ingin menawarkan sesuatu kepadamu, Luna." Kali ini Nyonya Kusuma yang angkat bicara. "Kami sudah tujuh tahun menikah, tetapi kami belum dikaruniai anak."

Luna mendengarnya dengan wajah masam, pikirannya langsung mengarah pada kemungkinan bahwa pasangan ini datang untuk mengadopsinya.

"Aku nggak mau diadopsi. Aku sudah besar, aku masih nyaman tinggal di sini," ujar Luna dengan tegas

"Kami bukan bermaksud mengadopsi kamu, Luna," sahut Nyonya Kusuma.

"Terus?" tanya Luna dengan tatapan sinis.

"Saya ingin menawarkan kamu untuk menjadi istri kedua suami saya dan melahirkan seorang anak untuk keluarga kami," lanjut Nyonya Kusuma. "Kami akan memberi imbalan satu milyar rupiah dan merenovasi seluruh bangunan panti ini. Setelah anak itu lahir, kamu bisa bercerai dari suami saya tanpa membawa anak itu, dan kamu bisa melanjutkan hidupmu seperti biasa."

Luna terkejut. Matanya terbelalak dan mulutnya terbuka lebar. Ia menatap pasangan suami istri itu dengan tatapan tak percaya.

"Kami juga akan menjadi donatur tetap di panti ini jika kamu menerima tawarannya," tambah Tuan Kusuma dengan suara penuh harap.

Tanpa ragu sedikitpun, Luna langsung menjawab dengan lantang. "ENGGAK!"

Tuan Kusuma dan Nyonya Kusuma saling bertukar pandang, lalu menghela napas. Kemudian Tuan Kusuma kembali angkat bicara dengan nada yang lebih serius, "Pikirkan baik-baik, Luna. Kalau kamu merasa ini sangat berat, setidaknya pikirkan Ibu Panti dan adik-adikmu. Dengan uang sebanyak itu, kamu nggak akan hidup susah lagi. Adik-adikmu juga pasti terpenuhi kebutuhannya. Mereka nggak akan lagi tidur di kamar yang bocor, nggak akan kekurangan makanan, dan nggak lagi kekurangan uang jajan."

Luna terdiam. Di satu sisi, tawaran itu bisa memberikan kehidupan yang lebih baik bagi panti asuhan dan keluarganya. Namun di sisi lain, tawaran itu sangat melukai harga dirinya.

Ia cantik, muda dan berprestasi. Banyak pria lajang yang menyukainya. Bagaimana mungkin ia harus menyerahkan hidupnya kepada pria tua yang sudah beristri? Meskipun pria itu terlihat masih gagah dan tampan, Luna tetap tidak bisa menerimanya.

"Luna..." Ibu Panti hendak berbicara, namun Luna langsung menyahut dengan cepat. "Nggak mau, Bu. Aku masih kecil. Aku aja kayak anaknya mereka." Mata Luna mulai berkaca-kaca, menahan tangis yang ingin pecah.

"Ibu banyak hutang, Nak. Ibu juga sudah nggak punya uang lagi buat biayain adik-adik kamu. Ibu cuma bisa sekolahin kamu sama Andaru aja. Ibu sudah nggak sanggup lagi, karena buat makan saja Ibu harus hutang ke mana-mana," ucap Ibu Panti dengan mata yang berkaca-kaca. Luna tak tega melihatnya. Mengingat betapa seringnya ibunya sakit-sakitan, Luna semakin bimbang dengan tawaran itu.

Luna bukan anak yang kurang ajar. Ia tahu caranya berbalas budi. Selama ini ia juga selalu membantu ibunya mencari uang dengan berjualan. Namun itu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Sekarang, keadaan ekonomi mereka semakin memburuk. Tak ada satupun donatur yang mau berdonasi ke panti ini karena uang yang disumbangkan sering kali diselewengkan oleh bendahara panti yang kini sudah kabur entah ke mana.

Satu-satunya cara untuk menyelamatkan kehidupan mereka adalah dengan menerima tawaran itu. Luna tak ingin ibunya semakin sakit, dan ia juga tak mau adik-adiknya putus sekolah atau sampai kekurangan makanan setiap harinya.

Mereka tumbuh bersama di sini. Meskipun tak sedarah, Luna sangat menyayangi mereka.

"Bagaimana?" tanya Nyonya Kusuma.

"Kenapa kalian nggak mencoba bayi tabung aja?" Luna balik bertanya, mencoba untuk mencari kejelasan.

Nyonya Kusuma tersenyum tipis, senyum yang penuh keputusasaan. "Kami sudah pernah mencobanya, Luna, tapi gagal. Kami sudah nggak punya harapan untuk memiliki anak lagi, karena rahim saya sudah diangkat."

Luna menatap Nyonya Kusuma dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia merasa terjebak dalam keputusan yang begitu sulit.

"Aku... aku akan coba bantu," kata Luna akhirnya dengan suara yang hampir tak terdengar. "Tapi hanya sekali, hanya untuk anak itu. Setelah itu, aku ingin hidupku kembali seperti semula."

Tuan Kusuma dan Nyonya Kusuma saling berpandangan, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengar. Namun, mereka hanya mengangguk penuh rasa terima kasih.

Luna menunduk, matanya basah, tetapi ia tahu ini adalah satu-satunya cara untuk membantu adik-adiknya dan Ibu panti yang telah merawatnya selama ini. Dengan perasaan berat, ia menerima tawaran itu, meskipun hatinya masih belum ikhlas.

*****

Selama lima bulan pertama pernikahan, Luna masih sering menangis. Ia belum bisa menerima nasibnya yang dinikahi oleh pria yang sudah beristri dan usianya 15 tahun lebih tua darinya. Luna benar-benar merasa tertekan. Meski Ardan selalu baik dan perhatian padanya, ia tidak merasa nyaman menjadi istrinya karena Wulan mulai menampakkan sifat aslinya.

Jika Ardan ada di dekat mereka, Wulan selalu bersikap manis dan perhatian. Namun, jika Ardan tidak ada, Wulan tidak segan-segan memarahinya, bahkan menyiksanya dengan sesuka hati. Ia selalu diperintah layaknya pembantu, padahal posisinya kini sudah mengandung anak Ardan.

"Kehadiran kamu cuma merusak hubungan saya sama Mas Ardan! Kamu nggak tahu diri! Semenjak ada kamu, perhatian Mas Ardan jadi terbagi. Dia bahkan jarang senyum ke saya lagi!" Wulan memarahi Luna sambil menjambak rambutnya dengan keras.

Luna menangis, tak punya daya untuk melawan karena tubuhnya sedang sakit. Ia sudah sering melaporkan kejadian ini ke Ardan, namun Ardan hanya menanggapinya dengan kata-kata tanpa tindakan nyata.

"Tolong aku, Mas. Aku nggak kuat kalau tinggal sama Mbak Wulan terus. Aku disiksa kalau nggak ada kamu, Mas!"

"Udah saya tegur. Wulan memang begitu sikapnya, tapi sebenarnya dia baik. Kamu harus bisa beradaptasi sama dia, nanti lama-lama juga terbiasa."

Semakin hari, Luna semakin menderita. Apalagi saat kandungannya memasuki usia enam bulan, Wulan tidak memberinya kesempatan untuk beristirahat hingga menyebabkan Luna hampir keguguran.

"Kalau pada akhirnya Mbak Wulan cemburu, kenapa dulu Mbak harus memaksa saya untuk jadi istri kedua Mas Ardan? Andai waktu itu Mbak Wulan nggak maksa, mungkin saya nggak akan menderita, dan Mbak Wulan juga nggak akan kehilangan perhatian Mas Ardan," ucap Luna dengan suara lemah.

"Terus kenapa kamu terima?! Dasar mata duitan! Saya melakukan itu karena saya takut diceraikan Mas Ardan!" teriak Wulan dengan emosi yang memuncak.

Luna sudah pernah bertanya pada Wulan, kenapa dari sekian banyak wanita, ia yang dipilih untuk menjadi istri kedua Ardan. Dan Wulan menjawab, bahwa ia dipilih karena anak-anak di panti asuhan dianggap tak berharga dan bisa diperlakukan semena-mena. Selain itu, Wulan mengaku bahwa Luna memiliki wajah yang cantik, yang dianggapnya akan menghasilkan keturunan dengan gen yang baik untuk masa depan mereka.

Sungguh jahat sekali bukan?

Di usia kandungan Luna yang sudah menginjak delapan bulan, menjelang kelahiran anaknya, Wulan semakin cemburu pada perhatian yang diberikan Ardan kepada Luna. Karena rasa cemburunya yang semakin mendalam, Wulan bahkan rela menyewa pria bayaran untuk melancarkan fitnahnya terhadap Luna.

Akibatnya, Ardan marah besar dan berakhir menceraikan Luna karena terpengaruh oleh ucapan Wulan yang mengatakan bahwa anak yang dikandung Luna bukanlah anak Ardan, melainkan anak dari pria lain yang konon tidur bersama Luna setiap kali Ardan tidak ada di rumah.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Dosenku Mantan Suamiku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel CINTA LINA
9.1
Dalam kisah romantis masa kini, Lina terjebak pernikahan yang dipaksakan akibat perjodohan sepihak. Di bawah tekanan tradisi keluarga yang begitu mengikat, ia berjuang menemukan arti cinta sejati di balik hubungan tanpa restu hatinya ini. Akankah komitmen yang diawali dari kehendak orang tua tersebut perlahan tumbuh menjadi kasih sayang yang tulus, atau justru berujung sebagai beban berat yang menghancurkan seluruh kebahagiaan hidupnya?
Sampul Novel Ibu untuk Yana
8.8
Sibuk menikmati status duda dan memiliki satu anak yang begitu cantik, enggak ada angin serta badai, Mama tercinta justru menjodohkan dirinya dengan seorang gadis polos berumur delapan belas tahun. Akankah ia terima, atau menolaknya??
Sampul Novel Indra, Reinkarnasi Tiga Dewa
9.6
Dunia sihir Nobel terancam punah akibat virus mematikan kiriman Raja Iblis untuk membasmi manusia. Indra, seorang yatim piatu yang tumbuh di kalangan ras Triton, harus kehilangan tempat tinggalnya yang hancur diserang monster terinfeksi. Demi melawan kegelapan, ia memulai perjalanan bersama Aruna yang misterius dan Rai, pendekar yang bertekad membangun kembali kerajaannya. Akankah Indra berhasil menguak jati dirinya sekaligus menghentikan wabah iblis ini?
Sampul Novel Jerat Cinta Sang Casanova
8.9
Dalam semalam, hidup Aileen Maharani runtuh akibat pengkhianatan sang pacar dan insiden tak terduga dengan pria asing. Demi menata ulang hidupnya, ia pindah ke Jakarta. Sialnya, ia malah menjadi target obsesi Kendrick Adelard. Miliarder angkuh tersebut mengklaim Aileen dan menuntut tanggung jawab atas malam itu. Aileen kini terjebak dalam dilema besar: kabur dari jerat sang Casanova atau terpaksa tunduk menjadi wanita simpanannya.
Sampul Novel Pembalasan Seorang Istri
8.2
Dua tahun ditinggal bekerja ke luar negeri tanpa kehangatan suami membuat sang istri didera kesepian mendalam. Namun, kepulangan sang suami justru membawa badai tuduhan keji bahwa dirinya telah melahirkan anak dari pria lain. Dalam perselisihan fisik yang tegang, sebuah kebenaran tak terduga mendadak terungkap secara mengejutkan saat air ASI memuncrat ke wajah suaminya akibat remasan keras. Di tengah kepanikan yang melanda, bagaimana ia menghadapi kemarahan dan kecurigaan sang suami?
Sampul Novel Terpenjara Cinta Sang CEO Kejam
8.4
Demi membalas dendam masa lalu, Morgan menculik Vallen dan menyiksanya secara fisik maupun mental. Vallen terpaksa menjadi tawanan pelampiasan hasrat pria itu, tanpa pernah tahu siapa sebenarnya sosok Morgan di masa lalunya. Di balik kebencian akibat salah paham ini, benih cinta Morgan rupanya belum sepenuhnya padam. Akankah penderitaan tragis ini menghancurkan mereka, atau justru menumbuhkan kembali cinta di hati keduanya?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan