APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pesona Ibu Susu Anakku

Pesona Ibu Susu Anakku

Bima tak menyangka Jenny, siswi SMA yang dahulu ia tolong, kini menjadi ibu susu bagi bayinya. Kehamilan Jenny di usia muda menyimpan teka-teki besar. Seiring waktu, daya tarik gadis itu mulai menggetarkan hati Bima yang sebenarnya telah beristri. Akibat sebuah salah paham, keduanya terpaksa menikah siri. Bima bahkan berniat menceraikan Soraya, istri sahnya. Namun, Jenny enggan melukai hati sesama perempuan. Akankah Soraya mampu bertahan atau justru terdepak?
Bab
Bagikan

Bab 3

Seminggu kemudian....

Suara deringan ponsel yang berada di dekat bantal lantas membangunkan gadis yang tengah tertidur. Lantas dia pun mengerjapkan matanya dan segera mengangkat panggilan masuk yang tertera nama Bu Nur.

"Jenny! Kemana saja kamu?!" Pekikan dari sambungan telepon itu langsung membuat gadis yang bernama Jenny itu menjauhkan ponselnya pada telinga, sebab terasa berdengung.

"Aku sakit, Bu."

"Sakit sakit, kamu ini sakit-sakitan terus! Sekarang kamu pulang ke kontrakan! Kalau nggak aku akan membuang seluruh pakaianmu!" ancamnya.

Jenny membulatkan matanya dengan lebar, tetapi ada rasa bingung di otaknya. "Maksud Ibu apa? Kok bawa-bawa pakaian?"

"Kamu aku usir! Sudah ada yang mau menempati kontrakanku!"

"Kok Ibu usir aku? Aku 'kan hanya telat sebulan. Nanti aku bayar kalau ada uang."

"Nggak! Aku nggak suka sama orang yang sering nunggak. Mau sebulan atau seminggu sekali pun ... aku nggak suka!" tegasnya terdengar emosi. "Aku tunggu kamu sampai sore, kalau kamu nggak datang ... semua pakaianmu aku buang ke tong sampah."

Tut ... tut ... tut.

Panggilan itu langsung terputus begitu saja, dan tak lama seorang dokter wanita berambut pendek datang membuka pintu.

"Selamat sore, Nona."

"Sore Dokter." Jenny tersenyum lalu menaruh ponselnya di bawah bantal.

"Saya periksa dulu, ya. Kondisi Nona."

"Iya."

Dokter itu menempelkan stetoskop ke arah dada Jenny, lalu mendengarkan bunyi denyut jantungnya. Tetapi pandangan dokter itu justru teralihkan pada baju pasien yang dikenakan Jenny.

Tidak ada yang salah sebenarnya, hanya saja basah kuyup dan tercium aroma amis.

"Apa air susumu keluar banyak?" tanya Dokter itu.

"Iya, Dok." Jenny mengangguk cepat, lalu meraba dadanya yang terasa keras dan nyeri. "Sakit juga rasanya, Dok. Kencang dan seperti bengkak."

"Maaf coba saya raba sebentar, ya." Lengan dokter itu terulur ke arah dada, Jenny hanya mengangguk kecil saat dia merabanya. Terasa geli dan risih, padahal hanya sebentar saja.

"Kenapa bisa begini ya, Dok?"

"Ini karena ASInya nggak dikeluarkan, jadi bengkak Nona."

"Cara keluarinnya gimana? Diperas terus dibuang?" tanya Jenny dengan polos.

"Jangan dibuang. Sayang. Oh ya, saya pernah dengar seminggu yang lalu ada seorang pria mencari ibu susu untuk anaknya. Bagaimana kalau kamu saja yang menjadi ibu susunya? Biar air susumu nggak terbuang dan tentunya bisa bermanfaat juga," usul dokter wanita berambut pendek itu.

"Ibu susu itu apa?"

"Menyusui bayi. Jadi nanti anak pria itu menyusu sama kamu."

Jenny membulatkan matanya dengan lebar, lalu menggeleng cepat. "Mana bisa begitu, Dok. Kan dia bukan anakku. Masa aku yang menyusui?"

"Ya itu namanya ibu susu. Mungkin istri dari pria itu punya masalah sampai nggak bisa menyusui."

"Tapi aku sendiri belum pernah menyusui, Dok. Pasti rasanya sakit." Jenny meraba dadanya sembari membayangkan mulut bayi yang hinggap di puncak dadanya. Seketika bulu kuduknya berdiri.

"Nggak sakitlah. Bayi mah bibirnya lembut. Lebih sakitan juga suamimu yang gigit," ujar dokter itu sambil tertawa. Tetapi justru Jenny seketika sendu dan tak lama air matanya berlinang membasahi pipi. "Lho, kok kamu nangis? Maafkan saya, Nona. Saya nggak ada maksud apa-apa." Dokter itu menyentuh pundak gadis itu dengan wajah bersalah, dia juga tak mengerti apa kesalahannya hingga membuat gadis itu menangis.

"Nggak apa-apa, Dok. Dokter nggak salah kok." Jenny mengusap kedua pipinya lalu tersenyum kecil. "Kalau memang dengan menyusui bayi itu penting, aku bersedia kok."

"Kalau begitu nanti saya hubungi orang itu, ya? Oh ya, kondisi Nona sudah baik dan sudah bisa pulang."

"Begitu ya, Dok. Tapi ...." Jenny terdiam beberapa saat, wajahnya tampak bingung. "Tapi aku nggak punya uang untuk biaya keluar dari rumah sakit, Dok." Jenny menatap dokter itu dengan wajah sedih.

"Biayanya sudah dibayar sama suamimu, sudah lunas bahkan sampai kamu keluar."

"Suamiku?" Jenny mengerutkan dahinya heran.

"Iya, suamimu. Masa sama suami sendiri lupa. Tapi kok ngomong-ngomong seminggu semenjak kamu melahirkan kok dia nggak datang lagi?"

"Dia bukan suamiku, Dok. Dia hanya orang yang menolongku saja."

"Oh ternyata bukan, ya? Maaf ... saya kira itu suamimu."

*

*

Jenny turun dari mobil angkutan umum, dia baru saja pulang dari rumah sakit. Langkah kakinya terhenti di depan teras rumah kontrakannya. Dia terlihat heran sebab ada sebuah tas jinjing besar bermotif bunga-bunga di tergeletak di sana. Jenny kenal betul tas itu milik siapa, yakni miliknya sendiri.

"Bagus deh kamu datang, sekarang kamu pergi dari sini!" seru seseorang dengan nada ketus. Suaranya terdengar dari belakang dan membuat gadis itu berbalik badan.

"Tolong seminggu saja aku tinggal disini, Bu. Nanti aku cari pekerjaan buat bayar sewa," pintanya dengan nada memohon. Jenny merasa bingung tinggal di mana lagi, sebab hanya kontrakannya saja tempat untuk dirinya berteduh dari panasnya matahari dan dinginnya hujan.

"Nggak bisa, kontrakannya sudah disewa orang. Sekarang kamu pergi saja dari sini!" cetusnya. Wanita paruh baya itu mengibaskan tangannya, seolah mengusir gadis itu.

Dengan penuh keterpaksaan, dia pun melangkah meninggalkan tempat itu sembari menenteng tas jinjing pada kedua tangannya.

"Oh iya, apa aku langsung ke tempat orang yang mencari ibu susu saja, ya?" Jenny teringat ucapan Dokter tadi, wanita itu juga sempat memberikannya kartu nama papa dari bayi yang akan dia susui. "Tapi kira-kira ... menyusui bayi seperti itu aku dibayar nggak, sih? Ya kalau nggak dibayar, minimal aku bisa tidur saja di rumahnya sambil menyusui. Lumayan juga ada tempat tinggal."

Jenny yang sudah berada disisi jalan raya itu langsung melambaikan tangannya pada angkutan umum yang baru saja lewat. Setelah berhenti dia pun segera masuk.

Di dalam mobil itu terisi banyak orang, tetapi untungnya semuanya wanita. Jadi tidak terlalu risih meskipun berdempetan.

"Pak, apa Bapak tahu alamat ini?" Jenny memberikan kartu nama yang dipegang pada sopir angkot itu. Dia sendiri tak tahu tempatnya meskipun masih diwilayah Jakarta.

"Tahu, Nona. Tapi lumayan jauh, mungkin Nona yang terakhir pas turun."

"Nggak apa-apa, Pak. Asal sampai dengan selamat."

"Oke." Pria bertopi itu memberikan kartu itu pada Jenny, lalu mengemudikan mobilnya.

***

Setelah membayar, Jenny turun dari mobil itu tepat di depan rumah mewah berwarna biru muda. Dia pun berjalan menuju gerbang ingin bertanya pada satpam yang berada di dalam sana yang tengah berdiri.

"Pak permisi," ucapnya dengan sopan. "Apa ini rumahnya Pak—"

"Maaf, Nona. Kami nggak menerima sumbangan untuk pengemis," sela pria berseragam itu dengan cepat.

"Pengemis?" Jenny mengerutkan dahinya, tak paham dengan ucapan pria itu. "Maksud Bapak apa?"

"Nona datang ingin mengemis, kan?" tebaknya. Wajah pria itu terlihat masam dan seolah tak menyukai kedatangannya.

"Aku nggak mau ngemis, Pak." Jenny menggeleng cepat. "Aku hanya ingin tanya apa—"

"Nona nggak usah berbohong." Pria itu kembali menyela. "Sekarang Nona pergi dari sini. Saya sedang malas untuk meladeni pengemis seperti Nona," ujarnya mengusir. Setelah itu dia pun berlalu pergi masuk ke dalam pos satpam.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel As Your Command
8.2
Demi wasiat sang ayah, Kenneth mendedikasikan hidupnya untuk mematuhi setiap perintah Kania. Sejak sekolah hingga bekerja, ia bertindak layaknya robot dingin tanpa emosi. Namun, Kania tidak menyerah dan terus berusaha mendobrak dinding pertahanan Kenneth. Ketika tuntutan sang majikan perlahan berubah menjadi lebih berani dan intim, Kenneth akhirnya menyadari bahwa pengabdian setianya kini telah bertransformasi menjadi benih cinta yang nyata.
Sampul Novel Cinta Lima Belas Tahun
8.3
Lima belas tahun menjalani hubungan penuh kebahagiaan bersama Bagas Saputra tidak menjamin akhir yang indah. Kehadiran sosok wanita lain mengubah sikap Bagas menjadi asing, hingga ia tega mendesak sang istri untuk bercerai. Meski batinnya terluka sangat dalam, sang istri sempat memilih bertahan dengan harapan suaminya akan kembali seperti dulu. Namun, kenyataan pahit akhirnya menyadarkannya bahwa perjuangan itu sia-sia dan kisah cinta mereka memang telah mencapai titik akhir.
Sampul Novel Gairah Citra dan Kenikmatan
8.1
Di sudut kota yang sepi, Seto dan Anissa memilih mengabaikan dinginnya malam demi memuaskan hasrat satu sama lain. Ketika semua orang masih tertidur lelap, pasangan suami istri ini sengaja terjaga lebih cepat demi menjalani ritual pagi yang membara. Sentuhan lembut dan intens dari Seto perlahan membangkitkan birahi sang istri. Keduanya pun hanyut dalam kemesraan yang intim, saling berbagi kepuasan dan kenikmatan fisik yang begitu mendalam.
Sampul Novel Istri sang Tuan Muda Lumpuh
8.4
Fyorin menghadapi situasi penuh ketegangan saat terjebak dalam momen intim bersama Tuan Muda Sooya. Meski sempat ragu, ia memantapkan hati untuk menyerahkan segalanya. Namun, kepolosan Fyorin tak terbendung saat ia merasa terintimidasi oleh realitas fisik sang tuan muda. Di tengah rasa takut yang mulai melingkupi pikirannya, Sooya dengan lembut memintanya memejamkan mata untuk meredakan kecemasan. Inilah kisah romansa dewasa sarat intrik keluarga yang menguji keberanian Fyorin.
Sampul Novel Kehidupan Malam Mendatangkan Cinta
8.2
Demi melunasi utang dan biaya medis ibunya, Maudy terpaksa mengambil pekerjaan misterius berbayar tinggi. Keputusan ini menyeretnya ke dunia malam kota Alka, tempat ia harus bertahan hidup di sebuah lokalisasi. Tak disangka, Maudy justru jatuh cinta pada seorang pria kaya yang ternyata pemilik tempat tersebut. Hubungan asmara mereka pun harus menghadapi berbagai rintangan berat yang tak terduga.
Sampul Novel Kembar Tiga: Ayah Presdir untuk Ibu
8.0
Akibat konspirasi jahat yang merusak kehormatannya, Claire Adhitama terpaksa meninggalkan rumah. Enam tahun berlalu, ia kembali bersama tiga anak kembarnya yang masih kecil untuk membalas dendam. Tak disangka, anak-anaknya yang cerdik justru menemukan ayah kandung mereka yang kaya raya dan menculiknya pulang demi mendukung sang ibu. Saat berhadapan dengan tiga replika dirinya, sang presdir menyudutkan Claire dengan senyuman hangat, menantangnya untuk memiliki anak keempat, yang langsung ditolak keras oleh Claire.