
Permainan Mustahil
Bab 3
Suasana makan malam itu terasa aneh.
Aku berusaha menenangkan diri dan memecah keheningan dengan senyuman tipis, "Rinto, makan yang banyak ya. Ini semua masakan rumah biasa, nggak mewah. Jangan sungkan ya."
"Ini sudah cukup kok," jawab Rinto.
Dia menjawab sambil tersenyum canggung, baru sadar kalau tadi sempat terlalu lama menatapku.
Setelah itu, aku sudah tidak sanggup menikmati makanan.
Tatapan Rinto terus tertuju padaku yang terlihat penuh nafsu.
Dia sepertinya mulai menyadari ada yang berbeda antara aku dan Evan malam itu. Topik obrolan kami pun berubah.
"Kak Niana cantik sekali malam ini, badannya juga luar biasa. Kak Evan bahagia sekali," ujar Rinto.
Wajah Rinto yang mabuk tampak merah, dia sengaja memperjelas kata 'bahagia'.
Aku mengerti maksudnya dan merasa sangat malu.
Evan hanya terkekeh santai, lalu berkata, "Ah, mana. Istrimu juga nggak kalah menarik, lain kali ajak ke sini, ya."
Mereka tertawa dan bercanda, sementara aku yang masih dalam keadaan basah merasa sangat gugup.
Begitu teringat dengan misi yang direncanakan Evan, tubuhku terasa makin panas dan bagian bawah tubuhku terasa gatal.
Aku tanpa sadar menyilangkan kakiku karena merasakan ada cairan yang keluar.
Setelah beberapa putaran minum, Evan memberiku tatapan kode, lalu berpura-pura bersandar lemas di meja dan berkata, "Aduh, pusing sekali, aku nggak kuat lagi ...."
Setelah mengatakan itu, Evan pun berbaring begitu saja, seolah benar-benar mabuk berat.
Rinto sempat bingung. "Loh? Padahal kita baru minum sedikit, kenapa dia sudah tumbang?" ujar Rinto.
Tatapannya pun beralih padaku. Kali ini, dia tidak lagi menyembunyikan ketertarikannya. Mungkin karena dia juga mabuk, matanya menelusuri tubuhku tanpa malu-malu.
Aku bahkan mendengar suaranya menelan air liur. Setelah itu, aku buru-buru mengalihkan pandangan dengan berkata, "Rinto, Evan mabuk, bisa bantu angkat Evan ke kamar nggak?"
Aku dan Rinto memapah Evan ke dalam kamar.
Jantungku berdebar kencang.
Begitu sampai di ranjang, Evan langsung merebahkan diri. Di saat itulah, aku pun menguatkan tekadku, kemudian membungkuk untuk melepas sepatu Evan. Aku sengaja membungkukkan pinggangku lebih rendah, merapatkan kedua kakiku, lalu mengangkat pinggulku sedikit.
Aku merasa gugup sekali saat melakukan itu.
Rokku memang pendek dan Rinto berdiri di belakangku. Aku tahu dia pasti telah melihat keagungan terindah di balik rokku.
Sesuai dugaanku, aku bisa merasakan tubuh Rinto menjadi kaku, bahkan suara napasnya pun berubah menjadi lebih berat.
Aku merasa malu sekali. Sebagai seorang guru, bisa-bisanya aku menggoda rekan kerja Evan!
Namun, di sisi lain, aku merasakan sensasi yang sulit dijelaskan.
Mungkin aku memang wanita yang liar. Aku sudah bisa merasakan bagian bawah tubuhku sudah basah dan ia butuh sesuatu yang bisa mengisinya.
Rinto pasti sudah melihat itu, memalukan sekali!
Saat pikiranku masih kacau, tiba-tiba tubuh yang kekar memelukku dengan erat.
"Kak Niana, kamu menggoda sekali. Aku nggak tahan lagi!"
Wajah Rinto menempel di samping wajahku, napasnya membelai kulitku, panas dan mendesak.
Aroma maskulin yang menyeruak, bercampur samar dengan bau alkohol, mulai tercium. Pada saat yang sama, aku bisa merasakan ada bagian tubuhnya yang hangat tiba-tiba menempel di belakang pinggulku.
Dengan satu sentuhan itu, tubuhku pun melemas. Aku jatuh dalam pelukannya seolah-olah tidak ada tenaga sedikit pun.
Milik Rinto terasa besar dan kuat sekali. Jauh lebih hebat dari Evan.
Anda Mungkin Juga Suka





