APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Permainan Mustahil

Permainan Mustahil

Cairan anggur merah mengalir perlahan melewati leher jenjang hingga membasahi dadanya, membuat kemeja putih yang dikenakannya melekat erat pada tubuh yang gemetar. Meski didera rasa gugup yang hebat, ada ketegangan mendalam yang justru membangkitkan sensasi lain dalam dirinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, wanita ini secara sadar mengambil langkah berani untuk menggoda pria lain yang bukan suaminya, memulai sebuah permainan berbahaya yang dipenuhi misteri dan hasrat terlarang.
Bab
Bagikan

Bab 3

Suasana makan malam itu terasa aneh.

Aku berusaha menenangkan diri dan memecah keheningan dengan senyuman tipis, "Rinto, makan yang banyak ya. Ini semua masakan rumah biasa, nggak mewah. Jangan sungkan ya."

"Ini sudah cukup kok," jawab Rinto.

Dia menjawab sambil tersenyum canggung, baru sadar kalau tadi sempat terlalu lama menatapku.

Setelah itu, aku sudah tidak sanggup menikmati makanan.

Tatapan Rinto terus tertuju padaku yang terlihat penuh nafsu.

Dia sepertinya mulai menyadari ada yang berbeda antara aku dan Evan malam itu. Topik obrolan kami pun berubah.

"Kak Niana cantik sekali malam ini, badannya juga luar biasa. Kak Evan bahagia sekali," ujar Rinto.

Wajah Rinto yang mabuk tampak merah, dia sengaja memperjelas kata 'bahagia'.

Aku mengerti maksudnya dan merasa sangat malu.

Evan hanya terkekeh santai, lalu berkata, "Ah, mana. Istrimu juga nggak kalah menarik, lain kali ajak ke sini, ya."

Mereka tertawa dan bercanda, sementara aku yang masih dalam keadaan basah merasa sangat gugup.

Begitu teringat dengan misi yang direncanakan Evan, tubuhku terasa makin panas dan bagian bawah tubuhku terasa gatal.

Aku tanpa sadar menyilangkan kakiku karena merasakan ada cairan yang keluar.

Setelah beberapa putaran minum, Evan memberiku tatapan kode, lalu berpura-pura bersandar lemas di meja dan berkata, "Aduh, pusing sekali, aku nggak kuat lagi ...."

Setelah mengatakan itu, Evan pun berbaring begitu saja, seolah benar-benar mabuk berat.

Rinto sempat bingung. "Loh? Padahal kita baru minum sedikit, kenapa dia sudah tumbang?" ujar Rinto.

Tatapannya pun beralih padaku. Kali ini, dia tidak lagi menyembunyikan ketertarikannya. Mungkin karena dia juga mabuk, matanya menelusuri tubuhku tanpa malu-malu.

Aku bahkan mendengar suaranya menelan air liur. Setelah itu, aku buru-buru mengalihkan pandangan dengan berkata, "Rinto, Evan mabuk, bisa bantu angkat Evan ke kamar nggak?"

Aku dan Rinto memapah Evan ke dalam kamar.

Jantungku berdebar kencang.

Begitu sampai di ranjang, Evan langsung merebahkan diri. Di saat itulah, aku pun menguatkan tekadku, kemudian membungkuk untuk melepas sepatu Evan. Aku sengaja membungkukkan pinggangku lebih rendah, merapatkan kedua kakiku, lalu mengangkat pinggulku sedikit.

Aku merasa gugup sekali saat melakukan itu.

Rokku memang pendek dan Rinto berdiri di belakangku. Aku tahu dia pasti telah melihat keagungan terindah di balik rokku.

Sesuai dugaanku, aku bisa merasakan tubuh Rinto menjadi kaku, bahkan suara napasnya pun berubah menjadi lebih berat.

Aku merasa malu sekali. Sebagai seorang guru, bisa-bisanya aku menggoda rekan kerja Evan!

Namun, di sisi lain, aku merasakan sensasi yang sulit dijelaskan.

Mungkin aku memang wanita yang liar. Aku sudah bisa merasakan bagian bawah tubuhku sudah basah dan ia butuh sesuatu yang bisa mengisinya.

Rinto pasti sudah melihat itu, memalukan sekali!

Saat pikiranku masih kacau, tiba-tiba tubuh yang kekar memelukku dengan erat.

"Kak Niana, kamu menggoda sekali. Aku nggak tahan lagi!"

Wajah Rinto menempel di samping wajahku, napasnya membelai kulitku, panas dan mendesak.

Aroma maskulin yang menyeruak, bercampur samar dengan bau alkohol, mulai tercium. Pada saat yang sama, aku bisa merasakan ada bagian tubuhnya yang hangat tiba-tiba menempel di belakang pinggulku.

Dengan satu sentuhan itu, tubuhku pun melemas. Aku jatuh dalam pelukannya seolah-olah tidak ada tenaga sedikit pun.

Milik Rinto terasa besar dan kuat sekali. Jauh lebih hebat dari Evan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Become True
9.2
Suara berat yang sangat dirindukan itu tiba-tiba terdengar, membuat sang gadis berlesung pipi terpaku. Air matanya kembali mengalir deras, namun kali ini dipenuhi rasa bahagia yang luar biasa. Sosok yang selalu ia sebut dalam doa dan harapannya kini nyata berdiri di depannya. Pertemuan tak disangka ini seketika membangkitkan memori lama yang sempat sirna. Dia telah kembali untuk mewujudkan semua mimpi yang selama ini tersimpan rapat.
Sampul Novel Dirka & Viona
8.2
Dirka menjalani hidup yang serbawanita namun hampa tanpa kehadiran orang tua. Di tengah kekhawatiran para pelayan setianya akan kelangsungan warisannya, sebuah perjalanan ke tempat penuh memori masa kecil mempertemukannya dengan seorang gadis misterius yang hendak bunuh diri. Kejadian tersebut mengorek kembali trauma masa lalu Dirka. Walau gadis itu memilih bungkam, Dirka tidak sanggup mengabaikannya dan memilih membawanya pergi guna menyelamatkannya dari keputusasaan.
Sampul Novel KECELAKAAN SEMPURNA
8.9
Demi membiayai pengobatan kanker sang ibu, Qarletta Averly yang berumur 21 tahun melamar sebagai fotografer di Heston Corporation. Namun, harapan Arlett pupus setelah berurusan dengan sang CEO, Carl Heston. Sebuah kecelakaan fatal justru menyeretnya ke dalam skandal besar yang telah direncanakan oleh Carl. Kini, Arlett terjebak dalam pusaran masalah rumit bersama pria berkuasa tersebut, yang membuat seluruh kehidupannya berubah total.
Sampul Novel Kematian Berujung Perceraian
9.3
Setelah memohon 99 kali, Rizald Pratama akhirnya setuju membawa putri mereka berkemah di gunung saat hari ulang tahunnya. Namun esok harinya, sang ibu justru menemukan putrinya tewas di kaki gunung sambil memeluk foto keluarga. Di tengah kedukaan, Rizald malah mengunggah foto mesra bersama teman masa kecilnya dan seorang anak lain di media sosial. Ironisnya, potret menyakitkan yang memperlihatkan tangan kecil korban tersebut diambil oleh mendiang putrinya sendiri sebelum meninggal.
Sampul Novel Malam Gairah: Cinta Adalah Game Pemberani
7.9
Pernikahan impian Camila hancur seketika saat sang calon suami tidak datang, menjadikannya bahan tertawaan para tamu. Dalam balutan amarah dan rasa kecewa, ia nekat melewati malam bersama seorang lelaki asing. Camila mengira kisah itu selesai begitu saja, tetapi pria misterius tersebut justru menolak pergi dari hidupnya. Kini, Camila dihadapkan pada pilihan sulit: mengabaikan godaan pria itu atau kembali membuka hatinya untuk asmara yang baru.
Sampul Novel Melodi Abadi
7.9
Kehidupan sang protagonis terasa begitu hampa dan menyesakkan, di mana keputusasaan terus membayangi setiap langkahnya. Namun, titik terang mulai muncul saat kehadiranmu membawa secercah harapan baru. Pertemuan yang tidak disangka-sangka ini menjadi momen krusial yang memutar balik roda takdirnya. Perlahan, jalan hidup yang semula kelam dan penuh penderitaan bertransformasi menjadi sebuah melodi abadi yang indah dan sarat akan makna.