APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Permainan Kakak Tercinta

Permainan Kakak Tercinta

Undangan menginap di rumah sang kakak berubah menjadi situasi mencekam. Teror dimulai saat sang adik melihat senyum ganjil di wajah suami kakaknya ketika sedang mencuci muka. Meski sempat ditenangkan, sang adik justru dikunci di dalam kamar bersama pria tersebut. Di tengah kepanikan, ia akhirnya menyadari bahwa seluruh kejadian mengerikan ini adalah rencana yang telah dipersiapkan oleh kakaknya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 1

Kakak mengundangku untuk menginap di rumahnya.

Malam itu, saat aku sedang mencuci muka, aku menoleh dan melihat senyuman aneh di wajah suaminya.

Kakak mencoba menenangkanku, hingga kakak mengunciku dan suaminya di dalam kamar.

Barulah aku sadar bahwa semua ini adalah rencana kakakku.

Setelah selesai ujian mata kuliah terakhir, aku baru saja keluar dari kelas dan telepon dari kakakku masuk.

"Sudah selesai ujian? Apa rencana liburan semester ini? Kalau belum ada, datang saja ke rumahku."

Tanpa berpikir panjang, aku langsung menolak, "Nggak deh, ada kakak tingkat yang baru buka perusahaan kecil di Kota Santana, aku rencananya mau magang di sana dua bulan."

"Kamu baru semester 3, nggak perlu buru-buru, lagipula perusahaan kecil belum tentu terpercaya. Nanti biar kakak iparmu carikan perusahaan besar untukmu. Aku juga sudah siapin kamar untukmu."

Anehnya, kali ini kakak tidak menyanggahku seperti biasanya. Sebaliknya, dia justru dengan baik hati membantu menyusun rencana untukku.

Namun, membayangkan tinggal serumah dengan kakak saja sudah membuatku merinding. Aku menggenggam ponsel, ragu-ragu untuk cukup lama dan akhirnya menolak dengan alasan ingin tinggal di rumah saja.

Namun, begitu sampai di rumah malam itu, aku bahkan belum sempat membongkar koper, ibuku masuk ke kamarku dan berkata, "Kamu pergi temani kakakmu ya liburan ini."

Kenapa semua orang ingin aku ke sana?

Semua keinginanku untuk magang di perusahaan besar langsung menguap. Aku langsung berkata, "Aku nggak mau, aku mau magang di Kota Santana saja."

Ibuku langsung panik dan menggenggam lenganku, menjawab, "Kamu pergi sejauh itu sendirian? Bagaimana mungkin aku tenang membiarkanmu pergi?"

Sorot matanya yang mengamati tubuhku penuh dengan rasa tidak percaya, seolah-olah aku ini terlalu lemah untuk berpergian sendirian ke Kota Santana. Seakan aku pasti akan habis dimakan tanpa sisa dunia luar.

Melihat wajahku yang jelas terlihat tidak senang, ibuku mulai memakai pendekatan emosional. Dia duduk di tepi kasurku, menepuk-nepuk tanganku dan berkata, "Kakakmu lagi hamil, badannya juga lemah sekarang. Dia butuh seseorang untuk menemaninya."

Oh, ternyata kakak sedang hamil. Pantas saja, dia tiba-tiba jadi lebih ramah dan perhatian padaku.

"Uang kuliah dan biaya hidupmu, semuanya dibayar oleh kakakmu dan suaminya. Kamu nggak boleh jadi anak yang nggak tahu balas budi, mengerti?"

Dengan tanggung jawab yang tiba-tiba diberikan kepadaku, meskipun enggan, aku juga tidak punya pilihan selain pindah ke sana.

Namun, aku tak menyangka, ternyata rumah itu seperti gua penuh misteri. Tanpa ada siluman wanita yang cantik, tetapi semuanya terasa aneh.

Kakakku yang katanya butuh teman, tidak terlihat antusias dengan kedatanganku. Bahkan, sikapnya lebih seperti malas berurusan denganku. Sebaliknya, kakak iparku yang katanya super sibuk di dunia kerja, malah terlihat ramah berlebihan.

Di hari pertama kedatanganku, dia langsung pulang lebih awal untuk mengajakku makan. Setelah itu, dia juga membelikanku pakaian dan sepatu baru.

Namun, keanehan tidak berhenti di situ.

Suatu hari, aku bangun lebih pagi karena janjian dengan teman untuk melihat pameran.

Saat sedang mencuci muka di kamar mandi, tiba-tiba aku mendengar suara pintu terbuka dari belakang. Belum sempat mengatakan diriku sedang di dalam, kakak ipar malah langsung masuk begitu saja.

"Kenapa bangun begitu pagi? Mau ke mana?" tanya kakak ipar dengan santai, sambil berjalan mendekat.

Tangan kirinya menopang wastafel, sementara dadanya menyentuh lenganku, bahkan lututnya yang sedikit ditekuk mengenai bagian belakang lututku.

Jarak aman antara kedua orang seketika hilang. Aku merasa tidak nyaman, tapi hanya bisa menjawab seadanya, sambil mempercepat gerakan menggosok wajah dengan sabun cuci muka.

Sepertinya dia menyadari ketidaknyamananku. Dia tersenyum dan berkata, "Santai saja, nggak perlu terburu-buru. Aku hanya mau ambil alat cukur."

Namun, tangan kirinya tetap menekan wastafel, sementara tubuhnya setengah menempel padaku. Dalam posisi hampir memeluk, dia meraih rak di atas wastafel untuk mengambil alat cukurnya. Aku langsung bergidik. Saat mencoba menjauh, aku merasakan sesuatu yang keras menyentuh bagian pantatku.

Tanpa perlu dijelaskan, aku tahu benda apa itu. Wajahku langsung memerah, perasaan malu dan bingung bercampur menjadi satu.

Rasa tidak nyaman itu begitu kuat. Dengan tergesa-gesa, aku membersihkan wajah, lalu buru-buru pergi ke pintu, seperti melarikan diri.

Apa-apaan ini?! Pagi-pagi sudah seperti itu? Dia nggak sengaja atau justru sengaja?!

Namun, saat aku berdiri di pintu dengan wajah memerah, aku menoleh dan melihat kakak ipar tersenyum santai seolah tidak terjadi apa-apa.

Alat cukurnya berdengung, sama seperti pikiranku yang terus berdengung tanpa henti. Apa mungkin aku yang terlalu sensitif? Mungkinkah ini hanya ketidaksengajaan?

Sejak kejadian itu, aku mulai berusaha menghindari kakak ipar setiap hari.

Hari-hari berlalu. Suatu malam, seperti biasa, aku masuk kamar lebih awal untuk menghindari kontak langsung. Namun, aku terbangun oleh suara teriakan kakak tengah malam.

Kupikir ada sesuatu yang serius, jadi aku buru-buru keluar kamar dan hanya mendengar kakakku berkata santai, "Kakak iparmu mabuk, tolong jemput dia."

Aku melirik jam, masih sekitar pukul sepuluh. Aku pun berkata, "Masih belum terlalu malam, bisa pesankan taksi saja."

Namun, raut wajah kakak berubah dingin. Dia menatapku tajam dan berkata, "Aku hanya menyuruhmu menjemputnya saja, kenapa nggak mau? Sebelum hamil, aku selalu jemput dia sendiri. Sekarang dia mabuk, masa kamu nggak mau pergi jemput dia? Kamu tinggal di rumahku, makan minum di sini, disuruh jemput saja kok susah sekali?!" Usai bicara begitu, kakak mengeluarkan uang empat ratus ribu dari tasnya dan menyodorkannya padaku, lalu melanjutkan, "Ini ongkos untukmu, cepat pergi biar nggak kelamaan."

Dengan berat hati, aku menerima uang itu dan pergi memesan taksi.

Dari kejauhan, aku melihat sekelompok pria berdasi, termasuk kakak ipar yang berdiri di pintu keluar mal. Semuanya mabuk, tetapi kakak ipar terlihat yang paling parah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Kehancuran Yang Direncanakan
8.9
Nayla kehilangan segalanya dalam semalam ketika memergoki pengkhianatan tunangan dan sepupunya, tepat saat orang tuanya tewas dibunuh secara sadis. Kini nyawanya terancam sebagai saksi kunci yang paling dicari. Dalam pelariannya, ia nyaris ditabrak oleh Reza, seorang pria asing yang kemudian menjadi tempatnya berlindung. Nayla terpaksa memalsukan identitasnya demi keselamatan diri, tanpa menyadari bahwa sosok penyelamatnya itu juga menyembunyikan sebuah rahasia gelap yang mematikan.
Sampul Novel Kerinduan Tak Berujung
7.9
Lima tahun membina rumah tangga, Stella baru menyadari bahwa pernikahan dengan Felix hanyalah kepalsuan belaka. Sang suami sengaja memalsukan akta nikah mereka demi memberikan status hukum kepada wanita lain bernama Tania demi kelancaran bisnisnya. Felix mengira Stella yang telah mengorbankan hubungan keluarga demi dirinya tidak akan pernah pergi. Namun, rasa kecewa yang mendalam membuat Stella memilih melangkah pergi selamanya, meninggalkan Felix yang terlambat menyesali keputusannya.
Sampul Novel Pembalasan Dendam Seorang Ayah
9.3
Kebaikan putriku menolong orang tua ke ambulans berujung petaka di sebuah desa. Ketika aku berhasil melacak keberadaannya, ia telah meregang nyawa akibat pelecehan kejam. Kepedihan ini kian mendalam saat pelaku dibebaskan dari jerat hukum hanya karena dinyatakan mengidap gangguan jiwa. Menghadapi ketidakadilan ini, aku memilih jalan ekstrem. Aku memutuskan untuk ikut menggila dan sengaja menjadi pasien gangguan jiwa demi menuntut balas langsung kepada pembunuh putriku.
Sampul Novel Pria yang Menguntitku
8.8
Di balik mata boneka di atas ranjangnya, ada seorang pria yang diam-diam mengintai. Sang penguntit kerap menyusup ke rumah, berbaring di kasurnya, hingga meninggalkan jejak di pakaiannya. Saat rahasia ini terungkap, pria itu mengira sang wanita gemetar ketakutan di sudut ruangan. Namun, ia tidak menyadari bahwa semua ini adalah jebakan. Wanita itu justru sengaja memancingnya dan telah lama menanti kehadirannya dalam permainan obsesi yang gelap ini.
Sampul Novel WURAKE
8.3
Wurake adalah penganut ilmu hitam yang mengincar janin, bayi, serta ibu hamil dan nifas demi memuaskan dahaga mereka. Berbeda dengan Kuyang, sosok Wurake bisa berupa pria maupun wanita, dengan ancaman nyata yang mengintai siapa saja tanpa memedulikan umur atau gender korban. Kisah misteri berbalut horor fantasi ini merupakan karya fiksi belaka, sehingga jika terdapat kesamaan nama tokoh ataupun lokasi, hal tersebut hanyalah unsur ketidaksengajaan.
Sampul Novel Yang Tersisa Setelah Segalanya Usai
9.7
Sepulang dari perjalanan dinas, Karina berniat memberikan kejutan istimewa kepada suaminya, Jerry, dengan membawa bukti hasil pemeriksaan kehamilan. Ia menyusul Jerry ke sebuah ruang VIP di klub malam dengan hati penuh harap. Namun, momen bahagia itu hancur seketika sebelum ia sempat membuka pintu. Dari balik celah, terdengar percakapan yang mengungkap bahwa Jerry menikahinya hanya demi melindungi wanita lain bernama Yuna. Kenyataan pahit ini membuat seluruh tubuh Karina membeku seketika.