APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Permainan Kakak Tercinta

Permainan Kakak Tercinta

Undangan menginap di rumah sang kakak berubah menjadi situasi mencekam. Teror dimulai saat sang adik melihat senyum ganjil di wajah suami kakaknya ketika sedang mencuci muka. Meski sempat ditenangkan, sang adik justru dikunci di dalam kamar bersama pria tersebut. Di tengah kepanikan, ia akhirnya menyadari bahwa seluruh kejadian mengerikan ini adalah rencana yang telah dipersiapkan oleh kakaknya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 2

Begitu aku berlari mendekat, kakak ipar dengan santainya merangkul bahuku. Satu tangannya berada di bahu kananku, sementara tangan lainnya dengan lembut memegang pergelangan tanganku. Sambil berbicara dengan rekan-rekannya, dia juga terus mengusap-usap bahu dan lenganku.

Tubuhnya yang tinggi terasa berat seperti besi, hampir seluruh tubuhnya bersandar padaku. Aku pun terpaksa menopang pinggangnya dengan susah payah agar tidak terjatuh.

Namun, saat aku mengongak, aku melihat rekan-rekan kakak ipar yang sedang berbicara menatapku dengan pandangan yang penuh arti, senyuman mereka terasa ambigu dan menyiratkan sesuatu yang membuatku semakin tak nyaman.

Kakak ipar tampak tidak menyadari hal tersebut, dia terus mengusap bahu dan lenganku perlahan.

Di tengah tatapan penuh makna dari orang-orang asing itu, sentuhan tangannya terasa seperti ular berbisa yang licin dan dingin, merayap di kulitku, membuatku bergidik.

Untungnya, mobil yang kami pesan tiba di saat yang tepat. Aku segera memasukkan kakak ipar ke kursi belakang. Saat diriku hendak duduk di kursi depan, salah satu rekan kerja kakak ipar yang dari tadi menatapku dengan tatapan yang aneh, entah sejak kapan dia sudah duduk di sana.

Dia bahkan sudah mengenakan sabuk pengaman dan berkata santai sambil sedikit menoleh, "Philip, aku nebeng ya. Turunkan saja aku di jalan Bengkong Selatan itu saja."

Mobil pun melaju, sopir fokus mengemudi tanpa banyak bicara. Sementara rekan kerja di kursi depan tampak mulai tertidur.

Namun, pikiranku sama sekali tidak tenang di kursi belakang. Aku terus memikirkan tatapan aneh rekan-rekan kakak iparku tadi, serta tindakan kakak ipar yang terasa seperti melewati batas.

Tubuhku menegang, semua bulu kuduk berdiri.

Kakak ipar yang duduk di sebelah kananku mulai mendekat tanpa sadar. Aroma alkohol yang begitu mennyengat membuatku mual. Dalam kegelapan mobil, tiba-tiba tangannya merayap ke bagian dalam pahaku.

Gerakannya perlahan, dengan usapan yang penuh makna tersembunyi.

Seketika, otot bagian pahaku menegang. Dengan reflek, aku mengepalkan tangan kanan dan ingin sekali memukulnya.

Namun, teringat rekan kerjanya yang duduk di depan, aku hanya bisa menahan rasa jijik dan menepis tangannya. Lalu, merapatkan tubuhku ke pintu sebelah kiri.

Namun, tangannya tak kunjung berhenti. Dia terus bergerak lebih tinggi, hingga akhirnya berhenti di pangkal pahaku.

Dia bahkan dengan sengaja mencubit bagian lunak di sana.

Aku menoleh dan melihat tatapan kakak ipar yang mesum, dipenuhi nafsu.

Saat itu, aku sadar bahwa kakak iparku tidak benar-benar mabuk.

Dia tahu persis apa yang dia lakukan.

Begitu mobil berhenti, aku langsung melompat keluar.

Aku berbohong dengan mengatakan diriku sakit perut, lalu berlari pulang sambil menelepon kakak untuk turun dan menjemput suaminya.

Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu.

Malam itu, aku terus merasa ada tangan yang terus menekan pahaku. Aku tidak bisa tidur semalaman, hanya berbaring sambil memikirkan apakah aku harus menceritakan kejadian ini pada kakak.

Namun keesokan harinya, aku mengurungkan niat itu.

"Aku menyuruhmu menjemputnya, bisa-bisanya kamu meninggalkannya begitu saja?! Aku ini sedang hamil, kamu bahkan nggak bisa membantuku sedikit?"

Kakak yang biasanya terlihat lembut dan ramah pada orang lain, selalu berbeda sikapnya padaku. Dia sering berbicara dengan nada marah seperti itu, Begitu aku duduk di meja makan, dia langsung melancarkan serangan kata-katanya.

Jika bukan karena suamimu melecehkanku, bagaimana mungkin aku lari?

Meskipun aku terus mengeluh dalam hati, aku tetap memilih untuk diam dan tidak membantahnya.

Hubunganku dengan kakak memang tak terlalu baik. Jika aku menceritakan apa yang dilakukan kakak ipar tanpa bukti, dia pasti akan marah besar dan menganggapku hanya ingin merusak rumah tangganya.

Lagipula, kakakku memang orang yang sangat keras kepala. Jika aku tidak menuruti keinginannya, dia pasti akan mencari seribu alasan untuk menyerangku balik. Jika dia tidak berhasil menyerang diriku, dia akan menyimpan dendam, lalu langsung melapor pada ayah dan ibu. Bahkan, mungkin melampiaskan amarahnya ke mereka, menyalahkan mereka karena dianggap tidak mendidikku dengan baik.

Bukankah itu yang terjadi saat aku kelas tiga SMP dulu?

Dia jelas melihat aku sedang diganggu, tetapi bukannya membantuku, dia malah merasa aku mempermalukannya. Dengan dinginnya, dia menamparku sambil berkata, "Steve, kamu itu laki-laki! Bisa-bisanya berantem dengan anak laki-laki lain di kamar mandi, malah sampai ditelanjangi? Kamu nggak punya harga diri sedikit pun?"

Saat itu, aku baru berumur 15 tahun. Aku adalah anak laki-laki yang berbeda dari kebanyakan teman seusiaku.

Di saat yang lain bermain basket sampai tiga hari tidak mandi dan penuh keringat, aku malah rajin mandi setiap hari. Ketika mereka suka berkelahi, membuat onar atau mengejar anak perempuan, aku malah lebih suka membaca buku dan menonton film.

Namun, menjadi berbeda dalam sebuah kelompok selalu ada konsekuensinya. Aku harus berkorban atas keunikanku dengan menjadi target perundungan teman-teman sekelas. Mereka menyebutku lembek, mengolok-olokku dan bahkan melakukan kekerasan padaku dengan cara yang keterlaluan. Puncaknya, mereka pernah menelanjangiku dan mengunciku di kamar mandi selama tiga jam pelajaran.

Meski begitu, aku tidak pernah berani meminta bantuan dari kakak ataupun orang tuaku. Karena aku tahu, mereka hanya akan mencemoohku, menyebutku lemah dan tidak seperti laki-laki pada umumnya. Seperti saat ini, kakakku terus mengoceh tanpa henti, pikiranku malah kembali pada kejadian di masa itu. Kata-kata tajam dan dinginnya waktu itu masih terngiang di telingaku, membuatku merasa kecewa yang begitu mendalam. Aku hanya diam, memandang kakak di meja makan, lalu menelan kembali niatku untuk meminta bantuan.

Memang ada beberapa hal yang harus kuselesaikan sendiri.

Namun, sebelum berhasil menemukan bukti pelecehan itu, aku justru menemukan sebuah kenyataan yang jauh lebih menjijikkan.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta dan Ilmu Hitam
8.7
Pernikahan ini justru membawa perubahan aneh pada fisikku. Berat badanku melonjak drastis karena rasa lapar ekstrem yang membuatku makan lima kali sehari. Padahal, hasil pemeriksaan medis menyatakan tubuhku normal. Saat melakukan siaran langsung di internet untuk meminta bantuan, seorang warganet mengungkap kenyataan pahit. Suamiku diduga mengirim guna-guna yang menyiksa diriku sebagai istri sah, demi memberi keuntungan bagi selingkuhannya.
Sampul Novel Kak, Kalian Sungguh Kejam
8.9
Akibat tuduhan palsu sang adik tiri tentang alergi makanan, seorang protagonis dihukum oleh ketiga kakak laki-lakinya—seorang pebisnis, penyanyi terkenal, dan pelukis genius. Mereka mengurungnya di ruang bawah tanah yang kedap tanpa memedulikan permohonannya. Sementara mereka pergi ke rumah sakit untuk merawat sang adik tiri, protagonis perlahan kehabisan oksigen hingga akhirnya tewas mengenaskan. Tiga hari kemudian, saat mereka kembali dan baru teringat untuk membukakan pintu, semua sudah terlambat.
Sampul Novel Keanehan Keluarga Pacarku
7.9
Niat hati menemani sang kekasih pulang kampung, protagonis justru terjebak dalam pusaran misteri yang mencekam di Keanehan Keluarga Pacarku. Kejanggalan bermula saat ia menemukan adik pacarnya dipenuhi luka memar misterius, disusul peringatan mengerikan dari seorang nenek setempat untuk segera melarikan diri. Situasi kian membingungkan ketika ia melihat sahabat lamanya yang telah lama hilang berada di kediaman paman pacarnya. Di tengah kepungan rahasia gelap ini, tatapan sang kekasih pun mulai berubah drastis.
Sampul Novel Lawon Abang (Kafan Merah)
9.4
Mbah Karso didera dendam hebat usai Mawar, cucunya yang bermata merah, tewas mengenaskan di tebing akibat kejaran dan fitnah warga Ledokombo. Demi membalas kematian keji sang cucu, ia nekat membangkitkan iblis kuno bernama Nyai Larapati yang telah lama tertidur. Jasad Mawar yang tak bernyawa pun dipaksa bangkit kembali untuk mengobarkan aksi balas dendam berdarah tanpa ampun, menyasar seluruh penduduk desa yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut.
Sampul Novel Misteri Bangku Kosong
8.1
Memasuki SMA swasta elite sebagai murid pindahan baru, aku langsung dihadapkan pada kejanggalan di ruang kelas. Di barisan belakang, terdapat sebuah meja dan kursi merah tua yang dibiarkan kosong. Anehnya, seluruh teman sekelas memperlakukan bangku mati itu seolah-olah berpenghuni, bahkan menyapa dan mengajaknya berbicara setiap hari. Di sekolah baru ini, semua orang tampaknya bisa melihat sosok tak kasat mata yang menduduki tempat tersebut, menyisakan aku sebagai satu-satunya orang yang tidak menyadari kehadiran misterius itu.
Sampul Novel Roh Istri yang Terikat Abadi
9.7
Dian diculik saat mengandung, lalu tewas mengenaskan karena Rizal, suaminya, mengabaikannya demi sang sahabat. Ledakan bom menghancurkan tubuh Dian dan bayinya. Sebagai ahli forensik, Rizal malah mengautopsi jasad tak dikenal yang ternyata istrinya sendiri, bahkan sempat melayangkan hinaan. Namun, penemuan kancing baju usang di meja otopsi mendadak menyingkap kenyataan kelam yang seketika meruntuhkan seluruh hidupnya.