APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perceraian: Jangan Berharap Kembali

Perceraian: Jangan Berharap Kembali

Tari memutuskan bercerai demi fokus mengurus toko kuenya setelah menangkap basah perselingkuhan Deo. Walau Deo memohon rujuk hingga rela menanggung malu, Tari tetap bergeming. Di sela gangguan sang mantan suami, hadir Noah, tetangga baru yang langsung terpikat padanya. Tari pun memanfaatkan Noah agar terhindar dari kejaran Deo. Namun, sebuah kejadian tak terduga di ranjang mengubah segalanya, hingga kini giliran Noah yang menuntut pertanggungjawaban darinya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Di dalam dapur berukuran 3×5 itu, bau harum dari dalam oven menguar. Perempuan yang tengah berkutat dengan buku resep buatannya itu begitu fokus. Hingga suara ting dari oven terdengar, perempuan itu baru bangkit, menggapai oven glove.

Ketika tutup oven dibuka, bau harum langsung menyerbu keluar. Perempuan itu, Tari, tersenyum senang melihat resep barunya berhasil. Dia mengeluarkan nampan dari dalam ovel, lalu meletakkannya di meja.

"Cantiknya."

Kue dengan kombinasi abstrak warna merah dan putih. Tari sendiri memang suka membuat resep baru yang terinspirasi dari resep lainnya. Dia mempunyai sebuah toko kue yang dia bangun sendiri. Dengan uang tabungannya selama kuliah, yah tentu saja uang sakunya dia dapat dari orang tuanya.

"Oby pasti suka," ujarnya, menyebut panggilan sayang untuk suaminya, Deo.

Ponsel yang tergeletak di sampingnya bergetar. Tari menggapainya, melihat nama Oby tertera di layar. Dia melepas oven glove di tangannya, lalu menjawab panggilan dan menempelkan ponsel ke telinga kiri.

"Ada apa by?"

Dua detik kemudian baru terdengar suara. Namun, itu bukan suara Deo, melainkan seorang pria yang tak Tari kenal. Alisnya mengernyit, mendengar suara di sebrang bergumam canggung.

"Siapa?" tanya Tari.

"Sorry … lo istrinya Deo, kan? Gue bartender di club tempat dia tampil malam ini. Gue ambil hpnya buat hubungin lo karena dia mabuk berat. Tadi hampir adu tinju sama pacar Nadine."

Alis Tari bertaut. Dia merubah ponselnya ke telinga kanan. "Nadine? Kok bisa? Eh, nggak usah diceritain. Club Hourse, kan? Gue ke sana sekarang."

"Iya—"

Tari mematikan sambungan sepihak. Dia langsung melepas apronnya, melipatnya asal. Kaki melangkah cepat, menggapai long blazer dan kunci mobil di atas meja.

"Ada-ada aja. Bisa-bisanya berantem sama pacar orang. Pacarnya si uler lagi," gerutunya, berlari cepat keluar unit apartemennya.

…

Tari memarkir mobilnya di tengah mobil-mobil kecil dengan harga selangit. Tentu saja. Club yang dia datangi adalah salah satu club terbesar di Jakarta, yang hanya bisa didatangi orang-orang ber-uang. Biaya masuknya saja lebih mahal dari harga menginap di hotel bintang lima.

Tari tersenyum pada kedua penjaga di pintu, yang dibalas denagn anggukan kecil. Dia tak perlu membayar atau memesan dahulu. Pelanggan VIP kalau kata Deo, karena suaminya yang tampan itu adalah disjoki kebanggaan Hourse Club.

"Tar!"

Seorang perempuan berambut merah berlari mendekat. Dia adalah teman SMA Tari dan Deo, Cloe namanya. Anak orang kaya, yang sukanya bermain di club bahkan sejak masih SMA.

"Lo lihat Deo nggak?" Tari menggelengkan kepala, melihat Cloe yang terhuyung-huyung.

"Enggak, tuh! Kenapa? Dari pada urusin suami lo itu, mending ikut gue seneng-seneng yok! Ada bule di sana beb!" Nada bicara Cloe naik turun, tak beraturan.

"Lo minum berapa botol sih?" Aroma alkohol menyapa hidung Tari, membut kepalanya pening. Dia tidak suka minuman yang memiliki rasa tajam itu. "Lo beneran nggak lihat Deo? Katanya ada job di sini malam ini. Oh, iya. Dia tadi juga ada ribut sama pacar Nadine."

Cloe menggaruk kepala dengan bibir mengerucut. "Nadine …? Oh! Iya, beb. Tadi ada Nadine di sini. Sendirian kok, dia langsung ke sana."

Telunjuk Cloe bergetar, mengarah ke lorong gelap. Tari mengernyitkan alis, sangat tahu tempat apa itu. Tempat para pasangan yang ingin menuntaskan kesenangan, melewati malam-malam penuh jrit mesra bersama-sama.

"Nadine ke sana sendirian?"

Cloe mengangguk. Tari berdecak, dia memberi tepukan singkat di bahu Cloe. "Jangan minum lagi, pulang aja," nasihatnya, sebelum memutuskan melihat tempat yang Cloe maksud.

Setahunya Nadine akhir-kahir ini hidup dengan benar. Dia juga beberapa kali mendengar dari Deo kalau Nadine sudah tidak pernah mabuk-mabukan di club, atau menari dengan pakaian minim di atas lantai dansa seorang diri.

Tari menghentikan langkahnya setelah masuk lumayan jauh ke dalam lorong temaram itu. "Gue ngapain ke sini? Nadine mau ngapain juga bukan urusan gue."

Tujuannya adalah mencari Deo, sang suami yang entah ada di mana. Dia jadi meragukan ucapa si penelpon yang berbeda dengan Cloe. Dia hampir saja kembali, tapi seorang pria yang menggenggam ponsel dengan gantungan serupa dengan miliknya membuatnya berhenti.

Gantungan kupu-kupu dengan sayap berwarna merah dan biru. Itu ponsel milik Deo. "Lo! Stoo!" Melangkah cepat, Tari menghampiri pria bertopi hitam itu. Tanpa aba-aba dia menarik ponsel Deo, memastikan itu benar-benar ponsel suaminya.

"Lo yang nelpon gue?" tanyanya, setelah melihat wallpaper ponsel, fotonya bersama dengan Deo.

Pria itu mengangguk. "Deo ada di salah satu kamar," ucapnya.

Tari menoleh ke belakang, melihat kamar-kamar yang tertutup dengan alis mengernyit. "Dia semabuk itu?" tanyanya.

Pria bertopi hanya mengangguk singkat. "Nomor 25," beritahunya.

"Oke. Makasih, yah." Dia kembali melangkah di lorong dengan lampu redup berwarna-warni itu. Matanya menatap awas sampai menemukan papan bertulis angka 25. Sebelum mendorong pintu, Tari menatap pria bertopi lagi untuk memastikan.

Pintu kayu itu dia dorong perlahan. Kegelapan menyambut Tari. Tangannya meraba-raba dinding, menekan saklar di dekat pintu. Seketika ruangan itu diterangi cahaya dari lampu di langit-langit. Tari bisa melihat dengan jelas setiap inci dalam kamar itu.

Di atas ranjang, dua orang tengah saling menindih, tanpa satupun busana di tubuh mereka. Si wanita mendongak menatap langit-langit, membiarkan pria di atasnya bermain-main di lehernya.

Tari mengerjap pelan. Dia hampir saja menutup pintu lagi, kalau tidak menangkap tato kupu-kupu di bahu si pria. Alisnya bertaut, mulutnya terbuka kecil.

"D-deo?"

Gerakan pria itu terhenti. Dia mengangkat kepala, tanpa sengaja beradu pandang dengan Tari. Mulut Tari terbuka lebar, melihat wajah yang teramat familier itu. Dia membuang muka, di detik selanjutnya dia keluar dan membanting pintu kasar.

"Ah! S-sial! Apa-apaan!"

Menjambak rambut, Tari berkedip beberapa kali menatap pintu yang tertutup. Dia ganti melihat pria bertopi yang hanya berdiri diam. Tangan Tari kembali menyentuh gagang pintu. Tetapi, dia tidak mampu untuk mendorong sebilah pintu itu.

"Bangsat!"

Memilih pergi, Tari melangkah cepat menjauh dari kamar itu. Dia berhenti sejenak di samping pria bertopi yang kini menunduk. Tari baru bisa mengenali wajah pria itu, dia mantan pacar Nadine yang dicampakkan beberapa bulan lalu.

"Sial! Lo nggak mau putus sendiri?"

Dengan sengaja Tari menabrak bahu pria itu. Keluar dari lorong menyesakkan itu. Dia melangkah bertambah cepat, membelah kerumunan orang yang makin ramai karena sudah malam. Dia tidak peduli walau beberapa orang berteriak marah karena tertabrak olehnya.

Keluar dari club, Tari merogoh saku blazer untuk menemukan smart key, menekan salah satu tombol hingga mobilnya berbunyi. Tari berlari menghampiri mobilnya. Tangannya yang bergetar menarik pintu mobil kuat.

Dia masuk, menutup kembali pintu lalu langsung berusaha menyalakan mesin mobil. "Ahh!" Tetapi, mesin tak juga menyala. Dia kembali mencoba, hingga percobaan ke lima baru berhasil.

Namun, wajah Deo tiba-tiba muncul di kaca jendela. Pria itu mengenakan kaus yang terpasang terbalik, memukul-mukul kaca sambil berteriak memanggil Tari. Sekalipun Tari tak menoleh. Dia segera menginjak gas, memutar setir keluar dari parkiran.

Dia masih bisa mendengar umpatan Deo, yang langsung berteriak mencari kunci mobilnya. Tari tak peduli, menambah kecepatan hingga mobilnya sampai di jalan raya. Pandangannya kabur, membuatnya tak bisa melihat dengan benar.

Berada di jalan dua arah, hampir saja Tari melewati garis batas. Beberapa mobil membunyikan klakson, membuat Tari terkejut dan menginjak rem. Klakson semakin kencang orang bunyikan saat mobil Tari berhenti di tengah jalan.

Perempuan itu panik, menginjak gas dan menepikan mobil ke kiri. Napasnya memburu, kepalanya terasa pening bukan main. Menjambak rambut hingga ikatannya berantakan.

Tari membenturkan kepalanya ke setir beberapa kali. Dia menggeram keras, mengertakkan gigi kuat. Tangannya mengepal, memukul setir hingga memerah.

"Ahh!" teriaknya. Dia menggigit bibir kuat, membuang muka ke jendela, menatap beberapa pejalan kaki yang berjalan di trotoar. Tanpa bisa dia cegah, air matanya menetes begitu saja.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dicambuk atau Diceraikan?
7.8
Menjalani hukuman cambuk di Diusz menjadi momen paling memalukan bagi sang istri. Di bawah tatapan dingin beberapa pria kekar, roknya disingkap paksa sebelum cambukan mendarat di tubuhnya. Namun, penderitaan fisik ini justru memicu reaksi tak terduga dari sang suami yang malah menjadi sangat bergairah menyaksikannya. Kejadian tak biasa malam itu akhirnya mengembalikan kebahagiaan intim yang telah lama hilang dalam pernikahan mereka.
Sampul Novel KUTEBUS TALAKKU
9.7
Indah berjuang keras mengumpulkan uang demi menebus talak dari Raqeef, yang justru bertekad mendapatkan kembali hatinya. Sementara itu, amarah Hairi memuncak akibat jebakan kamera tersembunyi di klub malam. Ketegangan keluarga kian memanas karena Lovena menolak keras anggota keluarga baru dan mengancam mengusirnya. Di sisi lain, Teddy mendesak agar sosok misterius itu segera dihadirkan dalam pertemuan keluarga besar guna menyelesaikan konflik.
Sampul Novel Pesona Istri Yang Kuabaikan
8.5
Pernikahan karena mandat sang ibu membuat seorang pria matang harus terikat dengan Husniah, gadis muda yang jauh dari kriteria wanita idamannya. Selama setahun penuh, ia menelantarkan istrinya yang dianggap tidak menarik demi mengejar cinta perempuan lain. Namun, dinamika rumah tangga mereka berbalik total ketika Husniah bertransformasi menjadi sosok perempuan yang sangat anggun dan memikat. Sayangnya, kesadaran dan penyesalan sang suami datang terlambat setelah sekian lama mengabaikannya.
Sampul Novel Suamiku Berkomplot dengan Sahabatku
7.8
Pasca-kecelakaan yang membuatnya buta, sang istri dirawat oleh sahabatnya, Hanni, di rumah. Namun, keintiman dengan suaminya, Erwin, mendadak terasa ganjil karena ia kerap mendengar napas orang ketiga. Kebenaran terungkap saat sebuah insiden jatuh mengembalikan penglihatannya. Ia melihat Erwin mendekap Hanni di ranjangnya. Mengira sang istri masih buta, Hanni dengan provokatif berbisik untuk mencarikannya pria lain agar mereka bisa bermain berempat demi kepuasan yang lebih menantang.
Sampul Novel Terjebak Cinta Sang Casanova
8.9
Maisya Indira, gadis SMA berusia 17 tahun, tidak sengaja berpapasan dengan Zifran Alanta, seorang CEO Casanova mesum. Guna menghindari rencana perjodohan dari Mama Sarah yang sangat berambisi menikahkan putranya, keduanya sepakat berpura-pura pacaran. Namun, kedekatan yang intens justru menumbuhkan rasa nyaman yang mendalam. Sandiwara mereka perlahan berubah menjadi jeratan hasrat terlarang tanpa ikatan status yang berisiko. Akankah jalinan cinta palsu ini berujung nyata?
Sampul Novel The Beautiful Replacement
8.0
Karir modeling Seraphine hancur, meninggalkannya dalam lilitan utang hingga hampir menjadi penghibur. Saat terpuruk, ia mendapat hak asuh keponakannya setelah sang kakak meninggal. Tak disangka, Arche, mantan kakak iparnya yang kaya raya, justru datang melamarnya. Sera berniat memanfaatkan kekayaan Arche demi melunasi utang-utangnya. Namun, ketulusan Arche perlahan menggoyahkan niat buruk tersebut. Akankah Sera tetap memanfaatkan Arche, atau malah jatuh cinta padanya?