APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perangkap Dendam Tuan Miliarder

Perangkap Dendam Tuan Miliarder

Skandal besar menghancurkan karir Angela Jones hingga ia terpaksa melarikan diri ke Santa Barbara. Tak disangka, di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Carter, pria yang dulu pernah difitnahnya. Aaron kini telah menjelma menjadi miliarder dingin yang berambisi menuntut balas. Terjerat dalam permainan kekuasaan Aaron untuk menebus dosa masa lalu, Angela pun dihadapkan pada dilema rumit: terus melawan kekejaman dunia atau pasrah pada pria yang ingin menyelamatkannya.
Bab
Bagikan

Bab 2

POV Angela

Aku tak tahu apa lagi yang terjadi saat aku menutup kedua mataku, tapi tiba-tiba cengkeramannya lepas dari leherku.

Aku melihat Ian terjatuh. Sepertinya ketika Ian fokus padaku, Aaron menyerangnya dari belakang. Ian terjungkal ke lantai, mengeluarkan rintihan kesakitan. Aaron langsung menghujani pukulan ke arahnya.

Aku terbatuk-batuk, paru-paruku akhirnya mendapatkan sedikit udara segar. Lututku lemas, tubuhku goyah, dan akhirnya terjatuh terduduk. Pandanganku terpaku pada Ian, tubuhnya terkulai di bawah pukulan bertubi-tubi dari Aaron.

Aaron akhirnya berhenti ketika Ian sudah tak berdaya. Dia mendekat, tatapannya terlihat sangat khawatir padaku. "Angela, kau baik-baik saja?"

Aku hanya bisa mengangguk lemah, aku tidak sanggup berbicara lagi. Hari ini, dunia terasa berputar terlalu menakutkan untukku. Aaron, seolah membaca pikiranku, menarikku ke dalam pelukannya. "Maafkan aku, Angela. Aku datang terlambat."

Kehangatan tubuhnya menenangkan badai di dalam diriku. Air mataku mengalir deras, membasahi bajunya, membawa serta semua ketakutan dan kecemasan yang kurasakan. Aku bersyukur, sangat bersyukur, karena Aaron ada di sini. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia tidak datang.

Dia melepaskan pelukannya dariku, lalu dengan gerakan cepat, dia melepas jaketnya dan memakaikannya padaku. "Kita pergi dari sini," bisiknya, suaranya terdengar lembut dan menenangkan.

Aku menatap matanya yang terasa hangat dan penuh kasih. 'Aaron, jika kau tahu yang sebenarnya, akankah kau masih bersikap baik padaku?' Pertanyaan itu kembali terbersit di benakku.

"Angela," panggilnya, suaranya sedikit khawatir, membuyarkan lamunanku. "Ayo pergi dari sini."

Aaron membantuku berdiri, tangannya menopang pinggangku. Saat kami keluar dari ruang seni, mataku menangkap sosok Ian yang terkapar tak berdaya di lantai. Dadaku sesak saat mengingat pelecehan yang hampir menimpaku tadi. Tetapi seolah menjawab kegelisahan dan ketakutanku, Aaron menggenggam tanganku, jemarinya memberiku kekuatan. Perhatiannya yang terasa hangat dan tulus, membuatku terharu. Dia memperlakukanku seolah aku adalah seseorang yang berharga untuknya.

Ketika kami tiba di pintu masuk sekolah, Aaron mengantarku hingga ke depan mobil. Sopir pribadiku sudah menungguku di sana.

"Terima kasih, Aaron," kataku.

"Kau harus ke rumah sakit," katanya. "Kau perlu diperiksa."

Aku menggeleng pelan, "Tidak perlu. Aku tidak apa-apa. Istirahat di rumah sudah cukup untukku. Tapi, lukamu..." Aku mengarahkan pandangan pada wajahnya yang babak belur.

"Jangan khawatir. Aku baik-baik saja." Dia menyentuh wajahnya sekilas, lalu tersenyum. "Kau sendiri harus memastikan lukamu dirawat saat pulang nanti."

Dia membantu membukakan pintu mobilku. Setelah memastikan aku duduk dengan nyaman, dia menutup pintu pelan.

Aku menatapnya melambaikan tangannya dari balik jendela. Rasa bersalah menggerogoti hatiku karena membiarkannya begitu saja. Segera, aku membuka jendela mobilku. "Aaron," panggilku.

"Ikutlah denganku. Aku akan mengantarmu pulang," kataku. Aku tahu dia naik bus sekolah, tapi bus sekolah sudah lama pergi karena keterlambatan kami keluar.

Aaron diam sejenak, raut wajahnya sulit terbaca. Matanya menatapku, namun terasa sebuah keraguan tergurat di sana. Aku tahu dia tipe yang mandiri, yang enggan meminta bantuan meskipun keadaannya mendesak.

"Ayolah," kataku, suaraku sedikit mendesak, "Aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendirian dalam keadaan seperti ini."

Akhirnya dia mengangguk, dan sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya yang terluka. "Baiklah," katanya.

Jantungku berdebar saat melihatnya duduk di sampingku. Wajahnya penuh luka, memarnya mencolok, dan sudut bibirnya berdarah. Aku tak bisa menahan diri. Jari-jariku perlahan menyentuh pipinya yang memar, membuatnya sedikit meringis.

"Apa sakit sekali?" tanyaku, cemas.

"Aku baik-baik saja. Jangan terlalu mengkhawatirkanku," jawabnya.

Sopirku tiba-tiba memotong pembicaraan kami. "Ke mana kita, Nona?"

"Kita pulang dulu," jawabku.

"Baik, Nona," balas sopir itu sebelum menjalankan mobil.

"Aaron, kau harus ke rumahku dulu. Aku akan mengobati lukamu."

"Tidak perlu. Ini hanya luka kecil, akan sembuh sendiri."

Aku mendesah, merasa frustasi dengan keras kepalanya. "Aaron Carter," panggilku.

"Lukamu bisa infeksi kalau dibiarkan. Aku akan mengobatimu, dan itu bukan permintaan. Aku tidak ingin mendengar alasan lagi," lanjutku.

Beberapa saat kemudian, mobil berhenti di depan rumahku. Aku mengantar Aaron masuk ke dalam.

"Duduklah di sini," ujarku, menunjuk sofa kulit cokelat tua di ruang tamu. "Aku akan ambil kotak P3K."

Aaron hanya mengangguk. Aku berjalan cepat ke dapur, di mana aku tahu kotak itu disimpan di laci bawah, dekat wastafel. Tanganku menarik laci itu terbuka, dan aku merasa lega ketika melihat kotak putih bertanda palang merah di sana.

Aaron masih duduk di sofa ketika aku tiba. Aku berlutut di depannya, membuka kotak P3K di atas meja. "Ini akan sedikit sakit," kataku, mencelupkan kapas ke antiseptik.

Perlahan, aku mulai membersihkan luka di pipinya. Tanganku bergetar sedikit, meski aku mencoba untuk tetap tenang. Jarak antara kami begitu dekat sehingga aku bisa merasakan napasnya menyapu wajahku.

"Kenapa kau harus begitu nekat?" tanyaku akhirnya, mencoba memecah ketegangan. "Ian bisa saja melukaimu lebih parah."

"Kalau itu berarti aku bisa melindungimu," katanya pelan. "Itu sepadan."

"Kau tidak perlu melakukan semua ini untukku," bisikku, menekan perban pada luka di alisnya. "Lihat dirimu sekarang. Kau terluka karena aku."

Aku menatapnya dan senyum kecil muncul di wajahnya. "Aku akan sembuh. Beberapa memar ini bukan apa-apa. Selama kau baik-baik saja, tidak ada hal lain yang lebih penting."

Gerakanku terhenti. Aku menatapnya, benar-benar menatapnya, dan untuk sesaat dunia di sekitar kami terasa hening.

Tangannya tiba-tiba menyentuh pergelangan tanganku, aku tersentak kecil. Sentuhannya lembut, namun ada kekuatan yang membuatku sulit bernapas.

"Aaron..." suaraku nyaris berbisik.

Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatapku dalam. Dia menarik tanganku perlahan, membawanya lebih dekat ke dadanya. Aku tidak bisa bergerak, tidak bisa berpaling.

"Angela," katanya, suaranya rendah, nyaris seperti bisikan. "Kau penting bagiku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."

Jantungku berdegup kencang. Bibirnya hanya beberapa inci dari bibirku, dan aku bisa merasakan kehangatan napasnya menerpa wajahku. Seluruh tubuhku terasa panas, dan aku tahu aku seharusnya mundur, memberi jarak. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak ingin.

Mataku perlahan terpejam, rasanya seperti dunia ini hanya ada kami berdua, seperti waktu berhenti sejenak.

Namun, tepat saat itu, deringan ponselku memecah keheningan, membuatku tersentak.

Aku segera meraih ponsel yang tergeletak di meja. Aku menatap Aaron sekilas. "Aku harus menjawab ini," kataku pelan, seperti permintaan maaf.

Aaron hanya mengangguk, tanpa berkata apa-apa. Aku berdiri, melangkah menjauh ke sudut ruangan sebelum akhirnya menekan tombol hijau di layar.

"Halo," sapaku.

"Benar ini dengan Ms. Angela?" Suara wanita dari seberang sana terdengar tegang. "Ini dari rumah sakit. Kami ingin memberi tahu bahwa kondisi ibu Anda, Mrs. Jones, memburuk dan membutuhkan persetujuan segera untuk tindakan operasi.

"Apa yang terjadi?" tanyaku, panik.

"Keadaannya sangat kritis. Kami perlu bertindak sekarang."

Kata-katanya seperti petir yang menghantamku dengan keras. Hatiku terasa berat dengan kenyataan yang baru saja aku terima.

"Aku akan segera ke sana," jawabku.

Aku perlahan berjalan menuju ruang tamu dan melihat Aaron seperti tampak kebingungan melihatku. "Ada apa?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Perawan Kesayangan Tuan-tuan Gigolo
9.6
Jagat raya dikejutkan oleh aksi para gigolo kaya nan rupawan yang memperebutkan kasih sayang seorang gadis desa yang serba kekurangan. Di balik kepolosan wajahnya, perempuan tersebut rupanya seorang pembunuh kejam yang telah melukai mereka. Anehnya, para pria ini malah merasa bangga jika harus tewas di tangan sang gadis. Mengapa mereka justru memuja sosok yang mengancam nyawa tersebut? Inilah kisah cinta penuh laga tentang obsesi luar biasa yang sulit dinalar publik.
Sampul Novel Diperlakukan Bak Orang Asing Oleh Suami Anakku
8.2
Setelah merelakan seluruh hidupnya demi Ricardo dan putri mereka sebagai ibu rumah tangga, wanita ini justru menghadapi kenyataan pahit. Kehadiran kembali cinta lama suaminya yang baru bercerai mengubah segalanya. Diperlakukan layaknya pelayan oleh anak kandungnya sendiri dan diabaikan oleh sang suami, ia akhirnya memilih mundur. Dengan menandatangani berkas perceraian tanpa menuntut hak apa pun, ia pergi menjauh. Namun kini, setelah ia melangkah pergi, penyesalan mendalam justru datang menghampiri mereka.
Sampul Novel Gairah Liar dan terpendam Sang CEO
9.3
Nindy terperangkap dalam situasi menegangkan bersama Devien. CEO yang terobsesi dengannya itu bertekad menguasai Nindy secara paksa. Teriakan histeris Nindy mencari bantuan berakhir sia-sia, karena ruangan kedap suara mengunci semua jeritannya dari dunia luar. Hasrat liar yang telah lama dipendam Devien kini meledak sepenuhnya. Ia bertindak tanpa kendali untuk memuaskan nafsunya, mengabaikan setiap penolakan keras yang disuarakan oleh Nindy.
Sampul Novel Janda Lugu
8.4
Arka terpaksa pulang ke kampung demi kabur dari kejaran rentenir setelah menjadi korban penipuan. Di sana, sang ibu justru berniat menjodohkannya dengan Nilam, seorang janda bergelimang harta. Arka pun memanfaatkan rencana ini untuk menguasai kekayaan Nilam. Namun, kebaikan tulus Nilam perlahan mengubah hatinya. Ketika niat buruknya terungkap, Nilam yang terluka menuntut agar pernikahan mereka diubah menjadi sekadar formalitas. Mengapa wanita yang dulu sangat lugu itu kini berubah begitu dingin?
Sampul Novel Kau Tak Menyadari Disaat Aku Pergi
9.6
Adrian sangat dimanja oleh Bianca, istrinya yang penyayang. Namun, kehangatan itu sirna seketika saat sebuah pesan misterius mengungkap perselingkuhan Adrian. Bukannya meluapkan kemarahan, Bianca justru membalasnya lewat sikap diam yang sangat dingin tanpa aba-aba. Sikap ini membuat Adrian terjebak dalam kebingungan besar. Ia pun lambat laun menyadari bahwa tersiksa akibat kehilangan cinta secara perlahan jauh lebih menyakitkan.
Sampul Novel Rahasia di Balik Ruang Gelap
9.5
Di keheningan bioskop pribadi yang remang-remang, sebuah hadiah kedewasaan yang tidak biasa diberikan oleh sang ayah tiri berupa tayangan dewasa. Menyaksikan adegan intim di layar membuat tubuh sang gadis dilingkupi sensasi asing yang menggelisahkan hingga ia tak mampu menahan getaran di tubuhnya. Di tengah kepasrahan dan reaksi tubuh yang memerah, sang ayah tiri mendekat, menarik pakaian dalamnya, dan menawarkan pelajaran untuk menjadi wanita seutuhnya sembari menuntut kepatuhannya yang mutlak.