APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perangkap Dendam Tuan Miliarder

Perangkap Dendam Tuan Miliarder

Skandal besar menghancurkan karir Angela Jones hingga ia terpaksa melarikan diri ke Santa Barbara. Tak disangka, di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Carter, pria yang dulu pernah difitnahnya. Aaron kini telah menjelma menjadi miliarder dingin yang berambisi menuntut balas. Terjerat dalam permainan kekuasaan Aaron untuk menebus dosa masa lalu, Angela pun dihadapkan pada dilema rumit: terus melawan kekejaman dunia atau pasrah pada pria yang ingin menyelamatkannya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Angela POV

Aku menunduk, berusaha menyembunyikan kekacauan yang bergejolak di dadaku. Telepon dari rumah sakit itu terus terngiang di kepalaku. Mom dalam kondisi kritis. Mereka membutuhkan persetujuanku untuk operasi. Tapi aku tidak tahu bagaimana menjelaskan semua ini kepada Aaron. Aku tidak ingin membebani dia lagi setelah semua yang dia lakukan untukku hari ini.

"Aku baru ingat ada sesuatu yang harus kuurus," kataku cepat, memaksakan senyum yang kuharap terlihat alami. "Aku harus pergi. Kau bisa gunakan mobilku untuk pulang."

Aaron menatapku, sorot matanya tajam. "Apa ada sesuatu yang terjadi?"

"Tidak ada. Ini hanya sedikit urusan keluargaku," jawabku. Aku bisa mendengar nada gugup yang menyelip dari suaraku.

"Angela."

Aku mendongak, dan mata kami bertemu. Aku berusaha menahan air mata yang hendak keluar dan aku berharap dia tidak menyadarinya.

"Kalau kau harus pergi, pergilah," katanya pelan. "Tapi kalau kau butuh bantuan, apa pun itu, katakan padaku."

Dadaku terasa sesak. Ada begitu banyak hal yang ingin kuungkapkan. Aku ingin jujur padanya tetapi kata-kata itu tidak pernah keluar. Aku hanya mengangguk pelan menanggapi perkataannya.

"Terima kasih, Aaron," bisikku sebelum berbalik dan berjalan pergi.

***

Perjalanan ke rumah sakit terasa begitu panjang. Aku terus mengkhawatirkan kondisi Mom. Pikiranku penuh dengan skenario buruk. Aku mencoba menelepon Dad beberapa kali, tetapi seperti sebelumnya, tidak ada jawaban. Pesan suara lagi, dan lagi. Rasanya seperti aku benar-benar sendirian menghadapi ini.

Setibanya di rumah sakit, aku bergegas menuju ruang ICU. Begitu tiba di pintu ICU, seorang perawat menghentikanku sejenak.

"Wali pasien atas nama Mrs. Jones?" tanya perawat itu.

"Ya, itu saya," jawabku cepat.

"Dr. Smith, dokter bedah kami, sudah menunggu untuk menjelaskan prosedur," katanya sambil mengarahkanku ke arah ruang medis.

Aku segera melangkah masuk. Dr. Smith, dengan jas putihnya, menatapku dengan serius begitu aku memasuki ruangan.

"Miss Jones, kita butuh segera melakukan operasi darurat untuk menyelamatkan ibu Anda," ujar Dr. Smith. "Namun, kami memerlukan persetujuan Anda untuk melanjutkan tindakan."

Aku menelan ludah, perasaan cemas semakin menghimpit. "Apa yang harus saya lakukan?"

Dr. Smith menjelaskan secara singkat prosedur dan risikonya. Setelah itu, dia menyerahkan formulir kepada perawat di sampingnya yang sudah siap dengan dokumen administrasi.

Perawat itu menunjuk ke meja kecil di pojok ruangan. "Silakan tanda tangani formulir ini," katanya.

Aku mengangguk dan tanpa ragu mengambil formulir itu. Setelah menandatangani dengan cepat, aku menyerahkannya kembali.

"Terima kasih. Kami akan segera memulai persiapannya," kata perawat itu sambil membawa formulir tersebut.

Aku hanya mengangguk, jantungku berdebar kencang, sementara aku hanya bisa menatap pintu ruang ICU, berharap Mom bisa melewati operasi ini.

Aku berjalan ke ruang tunggu. Ketika duduk di sana, kecemasan mengalir deras di kepalaku. Bayangan Mom terus muncul di pikiranku. Senyum lembutnya, tawa hangatnya yang selalu membuat rumah menjadi hidup. Sekarang, dia terbaring di ruang operasi, berjuang antara hidup dan mati.

Tidak terasa, air mata mengalir tanpa permisi, membasahi pipiku. Aku ingin Mom kembali padaku, menyemangatiku saat aku menghadapi ujian sekolah, atau sekedar mengingatkanku untuk makan. Aku merindukan semua itu, setiap detik kecil yang terasa begitu berharga.

Aku menggigit bibirku, mencoba menahan suara isak yang hampir lolos dari bibirku. Aku mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya kembali mencoba menelepon Dad. Sama seperti sebelumnya, tidak ada jawaban.

Saat rasa khawatir semakin menyelimutiku, aku mencoba mengalihkan perhatian. Aku membuka layar, berharap menemukan sesuatu yang bisa memberikan sedikit ketenangan. Tapi sesuatu mengusikku, sebuah berita yang membuat mataku terbelalak tidak percaya.

"Perusahaan Jones Terancam Pailit Setelah Krisis Keuangan Meluas."

Aku membaca kalimat dari berita itu berulang-ulang. Aku tidak bisa mempercayai semua masalah ini akan menimpa keluargaku. Proyek gagal, investor mundur, dan perusahaan Dad, yang selalu dia banggakan, hanya selangkah lagi dari kehancuran.

Air mata mengaburkan pandanganku. Aku merasakan tanganku yang gemetar dan dadaku yang terasa sesak. Mom di ruang operasi, perusahaan Dad yang terancam pailit, dan kini dunia kami mungkin akan runtuh. Aku merasa terjebak dalam badai yang tiba-tiba menghantam hidupku. Bagaimana aku bisa menghadapi semua ini kelak?

Saat aku masih terjebak dalam pikiran itu, aku mendengar suara seorang wanita yang memanggil namaku dari kejauhan.

"Angela Jones?"

Aku mendongak, melihat seorang wanita paruh baya dengan pakaian elegan berdiri beberapa langkah dariku. Cara dia berdiri, dengan postur penuh percaya diri, membuatnya tampak mendominasi ruangan.

"Ya, saya Angela. Siapa Anda?" tanyaku.

Dia tersenyum tipis. "Namaku Victoria Bennett. Akhirnya kita bisa bertemu di sini."

Jantungku mencelos mendengar nama itu. Bennett. Ian Nathaniel Bennett. Apakah wanita di hadapanku ini ada hubungannya dengan si brengsek Ian? Seketika, ingatan kejadian di sekolah kembali menyeruak. Aku kembali teringat bagaimana dia mencoba melecehkanku, dan bagaimana Aaron datang tepat waktu untuk menghentikannya.

Dia melangkah mendekat, ekspresinya tampak dingin. "Aku mendengar cerita tentang anakku, Ian. Juga tentang temanmu yang telah membuatnya babak belur."

Aku mengepalkan tangan, menahan amarah yang mulai menguasaiku. "Ian pantas mendapatkan itu," jawabku dengan nada tajam.

Victoria tertawa kecil. "Pantas atau tidak, itu bukan sesuatu yang bisa kau tentukan. Aturan hanya berlaku jika seseorang itu memiliki kekuasaan. Sedangkan kau dan temanmu itu?"

"Jadi karena kami tidak memiliki kekuasaan, kami tidak berhak menegakkan apa yang benar?" tanyaku.

"Aku mendengar kabar tentang perusahaan ayahmu. Kau tahu betapa mudahnya untuk menghancurkan sesuatu yang sudah di ambang kehancuran, bukan?" lanjutnya.

Aku tertegun. "Anda tidak bisa mengancamku seperti ini!"

Dia menyeringai, wajahnya tetap terlihat tenang. "Mengancam? Aku hanya memberimu gambaran kenyataan. Di dunia ini, yang lemah hanya bisa bertahan jika mereka tahu tempatnya. Tapi, kau dan temanmu telah melanggar batasan dan berani mengusik keluargaku."

Aku membuka mulut untuk membalas, tetapi dia menyela.

"Tapi aku bermurah hati memberimu kesempatan, Angela. Berikan kesaksianmu sebagai korban besok. Pikirkan baik-baik. Orang yang hampir melecehkanmu itu adalah Aaron. Ian hanya datang menyelamatkanmu. Kau bisa menceritakan kisah itu dan menyelamatkan keluargamu."

Hatiku bergetar mendengar kata-kata menjijikkan itu dari mulutnya. "Kau ingin aku memfitnah Aaron?" suaraku mulai meninggi, tak terima dengan manipulasi yang tak terduga ini.

Victoria mengangkat alis, senyum tipis di bibirnya semakin lebar. "Kenyataan tidak selalu sehitam-putih yang kau pikirkan. Jika kau melakukan apa yang aku minta, keluarga Bennett akan membantu menyelamatkan perusahaan Jones. Dan ketika ibumu bangun, dia tidak akan menyaksikan kehancuran keluarganya."

Aku tercekat, kata-katanya seakan meresap ke dalam diriku dan membuat jantungku berdegup kencang.

"Tapi jika kau tidak melakukan apa yang aku minta," dia mengangkat alis, matanya terlihat penuh keyakinan, "Maka bersiaplah untuk kehancuran keluargamu."

Victoria kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya, lalu mengulurkannya padaku. "Sebaiknya kau pikirkan ini baik-baik, Angela. Jika kau berubah pikiran, kau bisa menghubungiku kapan saja."

Victoria membalikkan tubuhnya dan sebelum pergi, dia melontarkan satu kalimat terakhir. "Terkadang, untuk mendapatkan sesuatu yang besar, kita harus mengorbankan hal-hal kecil."

Dengan langkah angkuh, Victoria meninggalkanku begitu saja. Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh, sementara tanganku gemetar menggenggam erat kartu namanya.

Aku ingin menghancurkan, merobek kartu itu hingga menjadi serpihan tak berarti tetapi ancamannya terus terngiang di kepalaku. Tidak. Aku tidak akan mengkhianati Aaron. Namun, pikiranku berperang dengan rasa takut. Aku tidak bisa membiarkan keluargaku hancur, tidak di tangan keluarga Bennett.

Tetesan air mata mulai mengalir di pipiku, tak bisa kutahan lagi. Siapa sangka hidupku akan sampai pada titik ini?

Waktu terasa berjalan lambat. Hingga akhirnya, suara berat engsel pintu ruang operasi membuatku mendongak.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Hasrat Tuan Yavuz
8.2
Demi melindungi saudaranya dari jebakan satu malam, seorang gadis malah terjebak rencana jahat pria asing dan dipaksa menjalani inseminasi. Walau hamil tanpa bersentuhan, ia terpaksa menikahi tunangan saudaranya, lalu bercerai dan kabur untuk menyembunyikan rahasia itu. Sialnya, rencana hidup tenang sirna saat ia tahu ayah biologis anaknya adalah bos mafia kejam yang kini tengah memburunya kembali.
Sampul Novel HASRAT NAKAL ISTERI KECIL
9.5
Sejak balita, Naura dibesarkan oleh asisten ayahnya yang bernama Gilbert Louise Tom dan memanggilnya Daddy. Kini, sosok duda berumur empat puluh tahun dengan tubuh kekar itu justru tampak kian menawan di matanya. Hubungan dekat yang terjalin lama di antara mereka perlahan berubah menjadi rasa tertarik yang begitu kuat. Naura pun mulai kesulitan untuk menjauhkan dirinya dari pesona memikat yang dimiliki oleh pria matang tersebut.
Sampul Novel Jodoh Dari Ayah
9.2
Genta Mackenzie, pria blasteran yang kerap bergonta-ganti pasangan, akhirnya harus tunduk pada perjodohan yang diatur oleh sang ayah. Tak disangka, pertemuan pertamanya dengan sang calon istri justru menumbuhkan benih cinta yang tulus di hatinya. Genta pun langsung menyatakan perasaannya tanpa ragu. Kini, sang gadis dihadapkan pada kebimbangan besar. Sanggupkah ia membalas ketulusan pria pilihan orang tuanya itu dan membuka hati untuk pernikahan ini?
Sampul Novel My Fair Lady
9.0
Gugur di luar angkasa, Alex yang merupakan calon kaisar terlahir kembali di Bumi abad ke-21. Sialnya, jiwanya merasuki tubuh Alexandra, gadis tertindas yang dibenci keluarga Klein. Ia bahkan dipaksa menikahi Master Dietritch yang dingin demi menyelamatkan bisnis keluarganya. Walau dianggap sebelah mata sebagai sosok pengganti, jiwa tangguh Alex menolak menyerah. Kisah perjuangan sang ratu pemberani di bawah kuasa presiden tiran yang posesif pun dimulai.
Sampul Novel Tertawan Pesona Mantan Papa Tiri
8.0
Embun menghadapi dilema moral yang berat ketika disodori tumpukan uang dalam sebuah tawaran merendahkan. Demi melunasi utang keluarganya yang menggunung, ia diminta bersetubuh dengan suami dari wanita yang ingin menolongnya. Di tengah himpitan ekonomi yang mencekik, Embun merasa bimbang dan tak sanggup menanggung skandal kotor tersebut. Kini, ia harus memilih antara menjaga harga dirinya atau menyelamatkan masa depan finansial orang-orang tercinta yang sangat ia sayangi.
Sampul Novel The Queen is My Love
7.9
Hati Putri Vienza terjerat cinta pada Ghafur, pelayan kafe biasa, meski ia telah bertunangan dengan Pangeran Akhtar dari Kerajaan Wieldburg yang kuat. Hubungan terlarang ini menjadi nestapa bagi Vienza, terutama saat dusta yang ia sembunyikan memicu bencana besar. Bagi Akhtar, sang putri tak lebih dari sekadar pajangan belaka. Sementara itu, Ghafur harus menanggung luka mendalam setelah rahasia besar tersebut akhirnya terbongkar.