APKDock Logo
Sampul Novel Perangkap Dendam Tuan Miliarder

Perangkap Dendam Tuan Miliarder

7.9 / 10.0
Skandal besar menghancurkan karir Angela Jones hingga ia terpaksa melarikan diri ke Santa Barbara. Tak disangka, di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Carter, pria yang dulu pernah difitnahnya. Aaron kini telah menjelma menjadi miliarder dingin yang berambisi menuntut balas. Terjerat dalam permainan kekuasaan Aaron untuk menebus dosa masa lalu, Angela pun dihadapkan pada dilema rumit: terus melawan kekejaman dunia atau pasrah pada pria yang ingin menyelamatkannya.

Perangkap Dendam Tuan Miliarder Bab 1

POV Angela

"Angela, kau dicari Ms. Miller di ruang seni," ujar salah seorang temanku, suaranya terengah-engah seperti baru saja berlari.

Ruang seni? Kenapa dia mencariku jam segini? Ini sudah saatnya pulang sekolah, dan aku harus segera menjenguk Mom di rumah sakit. Dengan rasa penasaran, aku menyusuri koridor yang sepi karena kebanyakan murid sudah pulang.

Ketika tiba di ruang seni, aku melihat pintunya sedikit terbuka. Aku melangkah masuk dengan ragu, mataku menjelajahi setiap sudut ruangan. Tapi, tak ada siapa pun di sana. Hanya terlihat deretan meja kerja yang berantakan dengan sisa-sisa peralatan melukis.

"Ms. Miller?" panggilku.

Hening. Tak ada sahutan, tak ada suara. Aku menghela napas dengan rasa frustasi. Apakah mungkin temanku salah? Atau mungkin Ms. Miller sudah pulang? Saat aku berbalik untuk pergi...

Kemudian hal itu terjadi.

Sebuah tangan menutup mulutku dari belakang, kasar dan tiba-tiba.

"Ssst."

Bisikan dan napas yang memburu dari orang itu menjalar ke tengkukku, membekukan tubuhku di tempat. Napasku tersengal, dangkal, dan putus asa.

"Jangan berisik. Aku tidak akan menyakitimu jika kau menurut," bisiknya lagi.

Jantungku berdetak kencang. Saat tangannya terlepas dari mulutku, aku berbalik dengan cepat untuk melihat siapa yang berada dalam ruangan yang sama denganku saat ini.

"Ian? Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku.

Dia tidak menjawab. Tiba-tiba, dia mengunci pintu ruangan ini dengan kunci yang dia ambil dari sakunya. Bunyi "klik" kunci yang terdengar, membuat jantungku berdetak lebih kencang.

"Apa yang kau lakukan?!" teriakku panik.

Ian berjalan mendekatiku, refleks membuatku berjalan mundur. Tatapan matanya membuatku semakin takut padanya. Aku berjalan mundur hingga tidak tersadar menabrak meja di belakangku.

"Kau terus menghindariku, Angela," katanya, nadanya dingin. "Kenapa? Aku sudah sabar selama ini, tapi yang kau lakukan hanya terus menjauh."

"Minggir," aku mencoba berjalan melewatinya, tapi tangannya segera mencengkeram lenganku dengan begitu kuat.

"Kau tidak mengerti," suaranya terdengar meninggi. "Aku lelah diabaikan."

Dorongannya datang tanpa peringatan, keras dan kuat hingga membuatku menghantam lantai. Rasa sakit menusuk ke punggungku. Sebelum aku bisa bangkit, Ian sudah berada di atasku, berat badannya menindihku.

"Kau milikku, Angela," bisiknya, napasnya hangat di telingaku.

"Lepaskan aku!" Suaraku pecah saat aku berjuang melepaskan diri di bawahnya. Jantungku berdetak kencang, setiap otot di tubuhku menegang untuk mendorongnya menjauh, tapi dia tidak bisa dihentikan.

"Berhenti melawan," desisnya, tangannya menyapu sisi wajah hingga ke leherku. "Kau membuatnya semakin sulit."

Mataku melebar panik saat dia membungkam mulutku dengan sebuah kain yang dikeluarkan dari saku celananya. Aku ingin berteriak, ingin melawan, tapi tubuhku tak berdaya. Dia menahan tubuhku, menekan dengan kuat, membuatku tak bisa bergerak.

"Diam dan nikmati saja," bisiknya lagi.

Air mata mengalir di wajahku saat aku berjuang untuk mendorongnya menjauh. Tangannya ada di mana-mana, melanggar batasan, dia juga mulai membuka kancing seragamku. Pikiranku menjerit, menolak untuk membiarkan ini terjadi padaku.

Dengan sisa kekuatan yang kumiliki, aku berhasil menendangnya hingga tubuhnya terhuyung mundur. Suara erangan kesakitannya adalah kemenangan singkat untukku.

Inilah kesempatanku. Aku langsung berlari ke arah pintu, gelombang adrenalin mengalir deras dalam tubuhku. Aku menerjang ke arah pintu, jari-jariku melepaskan kain yang membungkam mulutku. Akhirnya, kain itu terlepas, membuka jalan bagiku untuk berteriak.

"Tolong! Tolong aku!" teriakku dengan putus asa. Aku menggedor-gedor pintu dengan sekuat tenaga, berharap ada yang mendengarnya. Aku harus keluar dari sini.

Tapi Ian terlalu cepat pulih. Dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan cepat, menarikku kembali dengan kekuatan brutal.

"Kau tidak akan ke mana-mana, Angela," bisiknya.

"Brengsek! Lepaskan aku!" teriakku lantang, tanganku berusaha mencakarnya tetapi cengkeramannya tidak goyah. Dia mencondongkan tubuhnya lebih dekat padaku, berusaha menciumku tetapi aku berhasil menghindarinya. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Siapa saja, tolong aku!

"Angela, kau di sana?"

Hatiku melonjak mendengar suara Aaron di luar pintu. Rasa lega merayap dalam tubuhku, tapi tangan Ian langsung membungkam mulutku sebelum aku bisa menjawab.

"Jangan bicara," bisiknya di telingaku, tatapannya melirik ke arah pintu.

"Angela," suara Aaron memanggil lagi, lebih dekat sekarang.

Aku bisa merasakan tatapan Ian yang penuh amarah, membuatnya semakin tampak menakutkan. Tangannya menekan mulutku semakin kuat, membuatku kesulitan bernapas. Panik melandaku.

Aku menggerakkan kepalaku, mencari celah untuk melepaskan diri. Gigiku akhirnya menemukan sasaran di tangannya. Aku menggigit dengan sekuat tenaga, membuatnya meraung kesakitan hingga akhirnya menarik tangannya.

"Aaron!" teriakku, suaraku serak karena menahan napas. "Tolong aku!"

"Kau jalang!" teriak Ian. Seketika itu juga, dia menamparku dengan keras, membuat pandanganku terasa kabur, dunia terasa berputar-putar.

Rasa sakit menusuk pipiku. Ian mendekatiku lagi, tangannya kasar dan memaksa, berusaha menyentuhku kembali. Aku melawan lebih keras, mencakar dan menendang sekuat tenaga diiringi oleh tangisanku yang begitu histeris.

Tiba-tiba, terdengar suara dentuman keras dari luar, seperti seseorang yang sedang berusaha mendobrak pintu. Aku mendengar suara Aaron mengutuk di luar sana.

Tidak berapa lama, Aaron akhirnya berhasil mendobrak pintu. Mata kami bertemu. Aku tidak tahu bagaimana penampilanku saat ini di matanya. Aku pasti tampak kacau sekali.

"Brengsek!" teriak Aaron.

Aaron langsung menerjang Ian saat dia masuk, tinjunya melayang. Aaron mendaratkan pukulan yang kuat ke rahang Ian, tapi Ian membalas dengan cepat, menghantam perut Aaron dengan tinjunya.

Aku menyaksikan dengan ngeri saat perkelahian itu terjadi. Tiba-tiba, Aaron terhuyung, tubuhnya ambruk ke lantai ketika mendapatkan serangan bertubi-tubi dari Ian. Suara pukulan itu membuatku merasa ngeri.

"Tidak!" Aku menjerit, suaraku pecah. "Berhenti, Ian! Kau akan membunuhnya!"

Tapi, Ian tak menghiraukanku. Dia terus memukuli Aaron, tanpa henti. Tidak, jika ini terus berlanjut, Aaron akan mati.

Kepanikan merayap dalam diriku saat aku memindai ruangan mencari sesuatu, apa saja untuk membantu. Mataku tertuju pada sebuah kursi kayu di sana.

Aku bangkit dengan cepat. Tanpa berpikir panjang, aku meraih dan mengayunkannya sekuat tenaga. Kursi itu mengenai bahu Ian, membuatnya merintih kesakitan, dan mengeluarkan geraman marah.

"Sialan, kau jalang!" desisnya.

Dia berdiri, langkahnya cepat saat dia berjalan ke arahku. Aku berjalan mundur hingga punggungku menghantam dinding di belakangku. Aku ketakutan dan tidak tahu apa lagi yang akan dia lakukan padaku kali ini.

Ketika aku tersudut, tangan Ian langsung mencekikku, menekan tenggorokanku hingga udara seakan tersedot dari paru-paruku. Kedua tanganku berusaha memukul tangannya, tapi cekikannya semakin kuat, menguras sisa-sisa udara di tubuhku.

"Kau bisa menghentikan semua ini, Angela," desisnya. "Kalau kau mau menerimaku, semua ini tidak akan terjadi."

Air mata membanjiri mataku, mengaburkan penglihatanku. Cengkeramannya semakin mengencang di tenggorokanku. Dadaku terasa terbakar karena kekurangan udara, kekuatanku semakin memudar. Apakah aku akan mati di sini?

Lanjut Membaca

Daftar Isi Perangkap Dendam Tuan Miliarder

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Cinta dan Ilmu Hitam
8.7
Pernikahan ini justru membawa perubahan aneh pada fisikku. Berat badanku melonjak drastis karena rasa lapar ekstrem yang membuatku makan lima kali sehari. Padahal, hasil pemeriksaan medis menyatakan tubuhku normal. Saat melakukan siaran langsung di internet untuk meminta bantuan, seorang warganet mengungkap kenyataan pahit. Suamiku diduga mengirim guna-guna yang menyiksa diriku sebagai istri sah, demi memberi keuntungan bagi selingkuhannya.
Sampul Novel Cinta Yang Sesungguhnya
9.1
Demi lepas dari siksaan suami dan keluarganya, Dayana Ekavira Sanjaya kabur dari Jakarta dan memakai nama Kana Zanitha. Di tengah pelariannya, ia pingsan di kebun lalu diselamatkan oleh Elvan Ravindra Dewangga, pemilik vila yang introvert. Meski Kana sempat didera ketakutan, perlahan tumbuh rasa cinta di antara mereka. Sayang, ketenangan itu terusik saat sang suami berhasil melacak tempat persembunyiannya. Kini, Kana harus memilih: melarikan diri lagi atau bertahan menghadapi masa lalunya.
Sampul Novel I WAS NEVER YOURS
9.0
Menaruh hati padanya adalah kesalahan fatal yang semestinya kuhindari. Namun, rasa ini telanjur mengakar kuat walau rintangan besar menghadang hubungan kami. Tiap kali rasa sayang ini membuncah, kepedihan mendalam justru kian menyiksa batin. Kini, aku terombang-ambing di antara hasrat untuk bersama dan realitas kejam yang tak memihak. Menyayanginya hanya menuntunku pada kepedihan tanpa akhir dan ketidakpastian yang terus menyelimuti takdir kami.
Sampul Novel PETAKA STATUS WHATSAPP
9.1
Kehidupan damai Hilda hancur seketika saat rahasia besar Rian terkuak. Tanpa disengaja, sebuah unggahan status WhatsApp menjadi awal mula terbongkarnya segala kebohongan dan pengkhianatan yang selama ini disembunyikan oleh pasangannya tersebut. Kini, Hilda terpaksa menghadapi kenyataan pahit tentang sosok pria yang sangat ia percayai selama ini. Sebuah kecerobohan fatal yang akhirnya membuka lebar kedok penipuan Rian.
Sampul Novel Pewaris Sejati yang Terlupakan Menyerang Balik
8.1
Jennifer Bennett didepak dari posisinya sebagai pewaris sah Keluarga Bennett oleh seorang penipu. Usai dituduh palsu dan dipermalukan di depan umum, ia memutuskan berhenti mencari pengakuan mereka. Jennifer bangkit untuk membalas dendam, menjadi ancaman nyata bagi para penindasnya. Saat keluarganya berusaha menjatuhkannya, Jennifer justru meraih kesuksesan besar. Baginya, kekuasaan mutlak adalah pembalasan terbaik atas pengkhianatan mereka.
Sampul Novel Rahasia Gelap Kekasihku
8.5
Dibuang sang ayah akibat tuduhan kejam membuat hati Arsen membeku. Namun, takdir mempertemukannya dengan Rose, perempuan misterius yang tiba-tiba lenyap. Dalam pencariannya, Arsen menemukan Claire, gadis polos berwajah sama persis. Demi mengobati rindu, Arsen pun mendekatinya. Sayang, ia justru menemukan berbagai kejanggalan mengerikan. Kekasih barunya itu ternyata menyimpan rahasia kelam. Kini, Arsen terjebak dalam dilema besar antara cinta dan bahaya maut.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan