APKDock Logo
Sampul Novel Pengkhianatanmu Adalah Kesalahan Terbesarmu

Pengkhianatanmu Adalah Kesalahan Terbesarmu

9.4 / 10.0
Sebagai anak angkat di keluarga Haris, hidup Alya hancur setelah dikhianati Revan hingga berbadan dua. Demi nama baik keluarga, ia diusir dan dipaksa menggugurkan bayinya. Alya menolak, lalu memilih pergi demi membesarkan putranya, Rayan, seorang diri. Saat telah sukses, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Revan yang kini datang memohon ampun. Meski pria itu mencoba menebus kesalahannya, kepedihan Alya terlanjur mendalam. Akankah ada kesempatan kedua?

Pengkhianatanmu Adalah Kesalahan Terbesarmu Bab 1

Hujan baru saja berhenti sore itu ketika seorang anak perempuan kecil berdiri di depan gerbang besar rumah keluarga Haris. Bajunya lusuh, rambutnya lepek karena air hujan, dan matanya memancarkan rasa takut bercampur harap. Di tangan mungilnya, ia menggenggam boneka beruang kecil dengan salah satu matanya hilang.

"Namamu siapa, Nak?" tanya seorang wanita paruh baya yang membuka pagar. Suaranya lembut, tapi sorot matanya penuh selidik.

"A-Alya," jawab gadis itu pelan, suaranya bergetar.

Wanita itu menatapnya lama, lalu tersenyum samar. "Mulai hari ini, kamu tinggal di sini, ya. Aku Ratna, dan nanti kamu panggil aku Ibu."

Alya mengangguk ragu. Ia tak tahu bahwa langkah kecilnya memasuki rumah besar itu akan menjadi awal dari kisah panjang hidupnya - kisah tentang cinta, luka, dan kehilangan.

Tahun-tahun pertama berjalan penuh kebahagiaan. Alya tumbuh sebagai anak yang lembut dan penurut. Ratna benar-benar memperlakukannya seperti anak kandung sendiri, bahkan lebih lembut dibanding pada Revan, anak laki-lakinya yang berjiwa bebas dan sulit diatur.

Revan saat itu baru berusia sembilan tahun. Ia awalnya kesal harus berbagi kasih sayang dengan anak asing yang tiba-tiba datang. Tapi seiring waktu, hatinya luluh.

"Jangan nangis, nanti Ibu marah sama aku lagi," kata Revan suatu kali ketika Alya menangis karena dijahili teman sekolah. Ia menyodorkan permen karet sambil mengacak rambut Alya. "Udah, senyum. Kamu kan kuat."

Alya yang waktu itu masih kecil menatapnya dengan mata berkaca. "Kamu jahat tadi, ninggalin aku sendirian."

Revan terkekeh kecil. "Maaf, tadi aku cuma ambil air. Tapi tenang aja, mulai sekarang aku jagain kamu."

Janji polos seorang anak laki-laki yang seolah sederhana - tapi bagi Alya, janji itu berarti dunia. Ia mulai percaya, bahwa rumah itu benar-benar miliknya. Bahwa keluarga itu adalah tempat ia pulang.

Namun waktu berjalan. Revan tumbuh menjadi remaja yang keras kepala. Ia lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah, nongkrong dengan teman-teman, pulang larut malam, bahkan kadang mabuk. Haris sering menegur, tapi Ratna selalu memaafkan.

Sementara itu, Alya tumbuh menjadi gadis yang tenang dan rajin. Ia pandai memasak, sopan, dan selalu menjaga sikap. Tak jarang, Ratna memujinya di depan tamu-tamu mereka.

"Kalau semua anak perempuan seperti Alya, dunia pasti damai," ujar Ratna suatu malam.

Revan yang mendengar dari tangga hanya mendengus. "Iya, iya, si malaikat kecil," gumamnya sinis, lalu naik ke kamarnya tanpa bicara.

Sejak saat itu, hubungan mereka mulai renggang. Alya mencoba bersikap baik seperti biasa, tapi Revan semakin dingin. Kadang ia sengaja mengacuhkan Alya, kadang bersikap kasar tanpa alasan.

Alya tak mengerti kenapa Revan berubah. Ia hanya tahu, setiap kali Revan pulang dalam keadaan mabuk, matanya selalu tampak kosong.

Suatu malam, hujan turun deras. Petir menyambar, dan listrik di rumah padam. Ratna dan Haris sedang menghadiri acara bisnis di luar kota, meninggalkan rumah hanya dengan dua penjaga dan pembantu. Alya baru saja beranjak tidur ketika mendengar pintu depan dibuka dengan keras.

"Revan?" panggilnya pelan.

Langkah kaki berat terdengar menaiki tangga. Bau alkohol tercium kuat.

"Revan, kamu mabuk lagi, ya?" tanyanya dari balik pintu kamarnya. Ia khawatir, tapi juga takut.

Tak ada jawaban. Hanya suara langkah yang semakin dekat.

Ketika pintu terbuka, Revan berdiri di sana dengan pandangan gelap. Wajahnya merah, napasnya berat, dan matanya tak seperti biasanya. Alya mundur selangkah, jantungnya berdegup cepat.

"Kenapa kamu selalu pura-pura suci di depan mereka, ha?" suaranya berat, seperti menahan amarah dan emosi yang bercampur.

"Aku... aku nggak ngerti maksud kamu apa," jawab Alya gemetar.

Revan mendekat, membuat Alya terdesak ke dinding. "Kamu pikir aku nggak tahu semua orang lebih sayang kamu? Bahkan Ibu... Ibu lebih bangga sama kamu daripada aku sendiri."

"Revan, kamu mabuk. Tolong keluar," katanya sambil menahan tangis.

Tapi Revan tak bergerak. Malam itu, dalam gelap, sesuatu terjadi - sesuatu yang tak pernah seharusnya terjadi antara mereka.

Dan dunia Alya hancur.

Pagi harinya, Alya duduk di lantai kamar, memeluk lututnya sambil menatap kosong. Tubuhnya gemetar, matanya bengkak. Ia tak bisa berhenti menangis.

Ketika Revan sadar dari mabuknya, ia sendiri ketakutan. Ia mencoba meminta maaf, tapi setiap kata yang keluar terdengar seperti racun bagi Alya.

"Aku nggak sengaja... aku nggak tahu apa yang aku lakukan semalam..."

"Pergi," bisik Alya pelan tapi tegas. "Aku nggak mau lihat kamu lagi."

Sejak hari itu, dunia mereka berubah total. Alya tak pernah bicara lagi dengan Revan. Ia menghindar sebisa mungkin, sementara Revan memilih bersembunyi dalam rasa bersalahnya sendiri.

Namun kebohongan tak bisa bertahan selamanya. Dua bulan kemudian, Alya mulai sering mual dan pingsan. Saat Ratna membawanya ke dokter, rahasia itu terbongkar.

"Alya mengandung, Bu," kata dokter dengan wajah canggung.

Ratna membeku. Dunia seolah berhenti berputar. "A... apa?"

Dan ketika Alya akhirnya mengaku siapa ayah dari bayi itu, Ratna menamparnya tanpa ampun.

"Kau memalukan! Bagaimana bisa kau menuduh kakakmu sendiri melakukan hal sekeji itu?! Apa kamu gila?"

Alya hanya diam. Air matanya mengalir tanpa suara. Ia tak lagi punya tenaga untuk menjelaskan.

Sementara Revan berdiri di balik pintu ruang tamu, mendengar semua itu dengan wajah pucat. Tapi ia tetap diam - terlalu pengecut untuk mengaku.

Hari itu juga, Ratna memintanya pergi.

"Keluar dari rumah ini, Alya. Aku tak mau menanggung malu!"

Dengan tas kecil dan beberapa helai baju, Alya melangkah keluar dari rumah yang dulu ia sebut rumah. Hujan kembali turun, sama seperti hari ketika ia pertama kali datang ke sana.

Malam-malam setelahnya adalah neraka. Alya tinggal di rumah sewa kecil di pinggiran kota, bekerja di warung makan siang malam untuk membayar sewa dan kebutuhan harian. Tubuhnya lemah karena hamil, tapi ia tak menyerah.

Dalam kesunyian, ia sering memeluk perutnya dan berbicara pelan.

"Nak, kamu kuat ya. Mama janji, Mama nggak akan biarin kamu sendirian. Kita cuma punya satu sama lain."

Setiap kali rasa sakit datang, Alya menggigit bibirnya, menahan tangis. Dunia menolaknya, tapi ia tetap bertahan.

Hingga malam itu, saat kontraksi pertama datang, ia sendirian di rumah. Ia berjuang melahirkan di rumah bidan dengan uang seadanya. Tangis bayi laki-laki itu pecah di udara dingin dini hari, menjadi suara paling indah yang pernah ia dengar.

"Namanya Rayan," bisik Alya lemah. "Artinya cahaya."

Tangannya gemetar saat menyentuh pipi mungil bayinya. Dalam benaknya, ia berjanji - masa lalu akan berhenti di sini. Anak itu tak akan tahu tentang luka ibunya.

Tahun-tahun berlalu, Alya membesarkan Rayan dengan penuh kasih. Ia membuka usaha kecil menjahit, hidup sederhana tapi bahagia. Setiap pagi Rayan memeluknya sebelum berangkat sekolah.

"Ma, nanti aku bawa nilai bagus ya!" katanya ceria.

Alya tersenyum lembut. "Mama nggak butuh nilai bagus, Mama cuma mau kamu bahagia."

Kadang ia teringat masa lalunya, tapi ia belajar memaafkan takdir, walau belum bisa memaafkan pelakunya.

Hingga suatu hari, saat ia menjemput Rayan di sekolah, seseorang berdiri di dekat gerbang.

Seorang pria dengan kemeja rapi, wajahnya tampak dewasa, tapi sorot matanya tak asing. Revan.

Waktu seolah berhenti. Alya terpaku, napasnya tercekat. Revan melangkah mendekat, suaranya pelan tapi jelas.

"Alya..."

Ia menunduk menatap anak kecil di sampingnya - Rayan. Mata keduanya sama, begitu mirip.

"Dia... anakku?" suara Revan bergetar.

Alya memeluk Rayan erat, seolah takut anaknya diambil. "Jangan berani-berani mendekat. Semua sudah berakhir, Revan."

Tapi Revan tak pergi. Ia menatap Alya lama, dengan penyesalan yang begitu dalam. "Aku cuma mau minta maaf. Sekali ini aja."

Air mata yang selama bertahun-tahun Alya tahan akhirnya jatuh.

"Maafmu nggak akan bisa ngapus apa yang kamu lakuin."

Dan di tengah jalan sekolah yang ramai, dua jiwa yang dulu terikat oleh kesalahan kembali dipertemukan - bukan untuk mengulang, tapi mungkin untuk menebus.

Namun bagi Alya, maaf bukan hal mudah. Luka itu masih berdarah, meski waktu telah berlalu.

Di hatinya hanya ada satu doa kecil setiap malam -

Aku ingin kuat. Demi anakku. Bukan demi masa lalu.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Pengkhianatanmu Adalah Kesalahan Terbesarmu

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Belenggu Cinta Tuan Muda
9.5
Nara, seorang gadis polos anak asisten rumah tangga, menjadi korban dendam Axel. Sang tuan muda tega melecehkannya karena ibu Nara adalah selingkuhan ayahnya. Namun, niat awal menyiksa justru berubah menjadi obsesi cinta yang ekstrem. Axel menjelma sebagai pria posesif yang mengurung kebebasan Nara. Meski terus mencoba kabur, Nara selalu berhasil ditangkap kembali. Akankah takdir membawa hubungan penuh luka ini menuju akhir yang bahagia, ataukah kehancuran?
Sampul Novel Dia, Yang Mudah Dihibur
8.6
Setelah diabaikan lagi di hari Idul Adha demi cinta sejati Brian yang meminta bantuan memperbaiki lampu, sang protagonis memilih melepaskan hubungan mereka. Lewat sebuah unggahan media sosial yang memperlihatkan keintiman Brian dengan wanita tersebut, ia tidak lagi marah melainkan langsung meminta putus. Brian yang terlalu percaya diri mengira pacarnya hanya sedang merajuk dan akan kembali luluh seperti biasa. Namun, ia tidak menyadari bahwa kepatuhan itu kini telah sirna sepenuhnya.
Sampul Novel Foto Suamiku Diruang Keluarganya
8.7
Dua tahun menikah, Ane tak pernah menyangka akan menghadapi kenyataan pahit. Kebenaran bahwa dirinya hanyalah istri kedua Farel terungkap tanpa sengaja saat ia bertamu ke rumah salah satu wali muridnya. Di sana, sang ibu murid menjatuhkan sebuah foto keluarga rahasia. Ane sangat syok melihat sosok suaminya di foto itu. Kini, ia didera dilema batin yang hebat, harus memilih antara memperjuangkan cintanya atau pergi meninggalkan Farel.
Sampul Novel Gairah Membara: Cinta Tak Pernah Mati
8.4
Kusuma Hadi menghina Dewi Nayaka tanpa tahu siapa dia sebenarnya, bahkan menyuruh orang membuangnya ke laut. Penyesalan mendalam menghampirinya saat sang sekretaris mengungkap bahwa wanita itu adalah istrinya sendiri. Kusuma pun berbalik melimpahinya dengan kasih sayang. Namun, di tengah kemesraan yang terlihat begitu harmonis, publik tiba-tiba dikejutkan oleh kabar perceraian tak terduga dari pasangan ini.
Sampul Novel Occidens
9.7
Akibat ketamakan orang tuanya, Edgar yang berdarah campuran hidup dalam kebencian dan kutukan. Perlahan, hatinya yang dingin mencair berkat Selena, gadis pencari kayu yang selalu ceria. Namun, takdir kejam menguji cinta mereka saat Edgar dinobatkan sebagai pemimpin kaum immortal sekaligus penguasa klan demon. Aturan mutlak melarang sang raja memiliki ratu. Bisakah hubungan mereka bertahan menghadapi hukum dunia immortal yang sangat mengikat?
Sampul Novel Sebatas Harapan
8.9
Bagi saya yang berusia dua puluh satu tahun, hidup adalah tentang merayakan kebebasan mutlak. Saya menikmati kesenangan tanpa memedulikan gender, usia, ataupun status sosial pasangan. Walau gaya hidup bebas ini kerap menuai pandangan negatif, saya menganggapnya sebagai bentuk tertinggi dalam mencintai diri sendiri. Setiap kepuasan duniawi yang dirasakan menjadi energi yang memulihkan jiwa, bukan sekadar pemuas nafsu. Inilah kisah saya mengejar arti kebahagiaan yang sesungguhnya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan