
Organ Putriku Untuk Putra Pelakor
Bab 2
Pagi itu setelah Samuel pergi, putri kami, Coco, terus-menerus merengek ingin bertemu ayahnya.
"Papa sudah janji mau rayain ulang tahunku hari ini. Papa ke mana? Apa Papa masih marah samaku?" tanya Coco sambil mengusap air matanya. "Coco janji bakal jadi anak baik dan nggak akan buat Kak Max marah lagi."
Max adalah anak Ruby, cinta pertama Samuel, yang lahir dengan penyakit jantung bawaan. Setelah bercerai, Ruby membawa Max ke rumah sakit tempat Samuel bekerja. Sejak itu, Samuel mulai sering menyebut nama Max di rumah, mengkritik Coco sebagai anak yang manja dan keras kepala.
Bahkan saat Max merusak boneka Coco atau menarik-narik rambutnya, Samuel selalu menyalahkan Coco. Coco sering menangis sampai matanya membengkak.
Ketika Max datang berkunjung, Coco berlari ke kamarnya dan menolak keluar. Namun, Samuel menyeret Coco keluar dari kamar dengan kejam dan memaksanya meminta maaf pada Max.
Aku harus membujuk dan berusaha keras untuk meredakan ketegangan di antara mereka. Mengingat semua ini, hatiku terasa pilu. Aku membelai kepala Coco dan mencoba menenangkannya.
"Papa adalah seorang dokter, tugas utamanya adalah menolong orang. Bukan berarti Papa nggak peduli sama Coco. Mungkin saja sekarang ada hal yang lebih mendesak."
Mata Coco berbinar-binar. Meski suaranya kecil, nadanya terdengar tegas, "Papa adalah orang paling hebat di dunia, pahlawan Coco!"
Aku tersenyum dan menggendongnya kembali ke kamar tidur. Kemudian, aku pergi ke ruang kerja untuk mengambil buku dongeng dan berniat menemani Coco hingga dia tertidur. Namun, saat aku kembali, Coco sudah tidak ada di sana!
Aku mencari ke seluruh penjuru rumah dan baru menyadari bahwa pintu depan telah terbuka. Tanpa mengganti sepatuku, aku berlari turun ke jalan untuk mencarinya. Namun, siapa sangka ....
Saat aku terhanyut dalam rasa penyesalan, tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing di depan pintu. "Samuel, cepat periksa Max! Dia sudah nggak tahan lagi!"
Itu suara Ruby! Kenapa dia ada di sini?
Sebelum sempat memahami apa yang terjadi, aku melihat ekspresi Samuel yang biasanya tenang, kini tiba-tiba berubah drastis. Dia melemparkan rekam medis di tangannya dan bergegas keluar.
Di ruang perawatan Max, Samuel mengerutkan kening saat memeriksanya dengan saksama. "Padahal tadi dia masih baik-baik saja ...."
Ruby menangis tersedu-sedu sambil berlutut di lantai. "Kalau dia meninggal, aku juga nggak mau hidup lagi!"
Wajah Samuel memucat dan buru-buru memapah Ruby untuk berdiri. "Jangan bicara begitu! Kita pasti akan menemukan donor jantung yang cocok!"
"Tapi, di mana kita bisa temukan jantung yang sesuai untuk anak seusia Max? Dia masih kecil sekali ...." Ruby menangis.
Samuel terdiam, bibirnya terkatup rapat. Hatiku terasa sedikit pilu. Meskipun Ruby adalah cinta pertama Samuel, dia sudah meyakinkanku bahwa hubungannya dengan Ruby sekarang hanyalah sebagai teman biasa. Bagaimanapun, anak itu tidak bersalah.
Ruby memeluk Samuel erat-erat dan memohon dengan putus asa. "Samuel, tolong selamatkan dia. Aku mohon, dia adalah hidupku! Aku cuma punya satu anak, kamu nggak tega biarkan aku kehilangan anakku, 'kan?"
"Kamu sudah janji, setelah Max sembuh, kamu akan cerai dan bersamaku. Tolong, selamatkan dia! Dia juga bakal jadi anakmu di masa depan!"
Aku terpaku di tempat seakan-akan disambar petir. Tidak mungkin! Bagaimana mungkin? Samuel pernah mengatakan bahwa masa lalunya sudah berakhir! Membantu Ruby hanya karena mereka tumbuh besar bersama.
Dia tidak mungkin membohongiku, bukan? Namun, Samuel tidak membantah. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun.
Wajahnya menunjukkan pergulatan batin. Setelah beberapa saat, dia berbisik, "Oke, aku akan melakukannya."
Hatiku terasa beku.
Sejak Ruby kembali, sikap Samuel terhadapku menjadi semakin dingin. Alasan yang dia berikan padaku adalah karena tekanan di rumah sakit dan dia merasa sangat lelah saat pulang sehingga tidak ingin berbicara. Aku yang merasa kasihan padanya, percaya pada ucapannya begitu saja.
Tak pernah kusangka, itu semua karena Ruby. Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa dia sudah lama mengkhianatiku!
Setelah mendapatkan jawaban pasti dari Samuel, Ruby menghela napas lega.
"Syukurlah, Samuel. Kamu tahu, Max juga sangat menyukaimu. Setiap kali makan, dia cuma mau kalau kamu yang membujuknya. Kalau kamu nggak ada, dia akan merengek memintaku meneleponmu ...."
Aku tidak tahu lagi bagaimana harus merasakan hal ini. Ternyata, Samuel yang tergesa-gesa ke rumah sakit bukan karena urusan pekerjaan, melainkan untuk anak dari cinta pertamanya.
Ternyata, saat putriku terbaring sekarat di rumah sakit, dia malah menghibur anak orang lain untuk makan. Aku ingin tertawa keras. Semua kebahagiaanku hancur seketika.
Ternyata, selama ini aku dan putriku hanyalah sebuah lelucon.
Samuel memegang dahinya dengan kelelahan dan melambaikan tangan. "Tapi saat ini kita belum menemukan donor jantung yang cocok. Aku masih punya sedikit tabungan. Mungkin dengan uang yang cukup, ada orang yang mau ...."
"Samuel! Sudah ada yang cocok!"
Ruby mengeluarkan hasil laporan kecocokan donor dari balik punggungnya yang tampaknya sudah disiapkan sejak lama. "Lihat ini. Gadis kecil di ICU itu, bukankah dia nggak punya keluarga?"
Darahku seakan membeku di sekujur tubuh.
Anda Mungkin Juga Suka





