APKDock Logo
Sampul Novel Nasib Dikelilingi Tetangga Julid

Nasib Dikelilingi Tetangga Julid

9.6 / 10.0
Dalam kisah romansa modern ini, ketenangan hidup sang protagonis terusik oleh kehadiran para tetangga yang gemar mencampuri urusan pribadi. Hari-harinya kini dipenuhi keresahan akibat gunjingan serta komentar pedas yang tersebar luas tanpa kendali. Menghadapi lingkungan yang sarat provokasi dan gemar bergosip menjadi ujian kesabaran yang berat. Di tengah dinamika tersebut, ia harus bertahan menghadapi sikap usil orang-orang di sekitarnya.

Nasib Dikelilingi Tetangga Julid Bab 1

"Eh, liat tu, Bu Ibu, tetangga sombong lewat," celetuk Bu Tut. Bu Tuti atau biasa dipanggil Bu Tut, memulai kebiasaannya menyindir Rani.

Rani yang mendengar hanya melengos begitu saja. Ia malas kalau berhadapan dengan Bu Tuti. Tak akan ada habisnya kalau melayani sindirannya.

Melihat Rani yang tidak terpancing, membuat Bu Tuti kesal. Ia kembali menyindir, "Kok, bisa ya, si Irwan betah punya istri sombong kaya gini? Kadang saya juga liat loh, Bu Ibu, suaminya mau aja disuruh melakukan pekerjaan rumah. Padahal 'kan itu tugasnya perempuan. Laki-laki itu tugasnya hanya mencari nafkah. Kasihan banget 'kan yang jadi suaminya? Sudahlah bekerja, di rumah pun harus melakukan pekerjaan rumah tangga lagi! Punya istri, kok ya, ga guna." Mulut Bu Tuti memang nggak pernah pake rem kalo ngomong.

Rani terdiam mendengar ucapan Bu Tut. Tangan kanannya yang memegang sayur gemetar saking geramnya dia. Dia mulai terpancing emosi.

"Bu Tut, ini memang nggak bisa didiemin, ya!" ucapnya terlihat geram. Matanya menampakan kemarahan.

Seketika nyali Bu Tut menciut."Memang apa salahnya kalau suami membantu istri? Yang bantuin juga suami saya, bukan suaminya Bu Tut. Mas Irwan-nya aja nggak keberatan, kenapa jadi Bu Tut yang repot?" ketus Rani.

Suasana di tukang sayur pagi itu memanas, Rani yang biasanya diam saja ketika mulut pedas Bu Tut berbicara, kali ini tak tinggal diam.

"Bu, minta tolong sama suami sendiri itu ga dosa dan nggak ada yang larang, yang nggak boleh itu minta tolong sama suami orang, secara paksa pula. Habis itu, dengan tidak tau malunya menggoda suami orang," Rani menyindir Bu Tut. Ia mengingatkan Bu Tut ketika anak perempuannya yang sudah menjadi janda meminta tolong kepada suaminya membetulkan lampu di rumahnya.

Bukan hanya meminta tolong, Ratih-- anaknya Bu Tut bahkan tidak segan-segan menggoda suami Rani. Untungnya, Irwan tidak tergoda. Dia lelaki yang kuat iman.

Bu Tut kena mental. Ia merasa sangat malu. Meski tidak ada satu pun warga yang tau, tapi perkataan Rani sukses membuat Bu Tut terdiam.

Rani menarik sudut bibirnya melihat Bu Tut berhenti mengoceh. "Berapa, Bang, total belanjaan saya?"

"Dua puluh lima ribu, Mbak Rani!" Rani menyodorkan uang pas dan segera berlalu dari perkumpulan ibu-ibu rese itu tanpa mencoba berbasa-basi dengan mereka.

"Liat tuh! Anak muda zaman sekarang ga ada sopan santunnya sama orang tua," celetuk Bu Susi, salah seorang gengnya Bu Tut. "Kurang ajar banget ngomong seperti itu."

"Sudah, Bu!" tegur Bu Midah salah satu tetangga yang rumahnya dekat dengan rumah Rani. "Nanti, orangnya dengar! Ibu mau disamperin si Rani lagi?" Bu Midah mencoba menakuti.

Bu Midah salah satu tetangga yang ga suka berkumpul dengan ibu-ibu penggosip seperti gengnya Bu Tut. Beliau sama seperti Rani. Lebih suka di rumah berkumpul bersama suami dan anaknya.

Beliau juga tau, kalau gengnya Bu Tut selalu membicarakan dia di belakang. "Itu lah resiko kalau sudah kenal dengan orang yang suka menggosip. Kalau kalian tidak ada, kalian lah yang akan dijadikan bahan gosipan," batinnya.

"Emang bener 'kan. Si Rani itu memang kurang ajar. Masa sama Bu Tut bicara seperti itu. Bu Tut ini seumuran loh sama ibunya."

"Bukannya saya membela Rani, tapi 'kan Bu Tut duluan yang memulai. Coba kalau Bu Tut diam aja, mungkin Rani nggak akan bicara seperti itu," bela Bu Midah.

"Bu Midah, ini apa-apaan, sih? Segitunya membela Rani! Dibayar Rani berapa memangnya?" ketus Bu Tut.

Bu Midah yang tau sifat Rani tak seperti yang digosipkan tetangga hanya geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan Bu Tut.

"Bukan begitu, Bu Tut. Ya, sudah kalau begitu saya permisi duluan, ya! Mau segera masak untuk suami saya." Daripada semakin panjang Bu Midah segera berlalu meninggalkan mereka.

Yang tersisa tinggal gengnya Bu Tut. Mereka bergosip ke sana ke mari, membicarakan orang yang tak sefrekuensi dengan mereka.

"Bu, ini masih lama lagi milih belanjaannya? Saya mau keliling lagi ke gang sebelah!" tanya Kang Parto, tukang sayur langganan mereka.

"Sabar atuh, Kang! Ini masih milih-milih, bingung soalnya mau masak apa?" jawab Bu Irma.

"Yang cepat, Bu! Nanti pelanggan saya malah belanja di tempat lain lagi," Kang Parto semakin mendesak.

"Yee.. Akang! nggak sabaran banget. Rejeki itu udah ada yang ngatur, Kang! Kalau rejeki Akang mereka bakalan beli, kok!" ucap Bu Tut sewot.

"Ayo, Bu, cepetan! Ibu-ibu ini, milihnya lama palingan nanti juga ngutang sama saya." Kang Parto tak tahan lagi, secara tak sadar dia berkata seperti itu.

Bu Tut merasa tersinggung dengan ucapan Kang Parto. Dia membalas dengan ketus, "Apa maksud Akang bicara begitu? Mau nagih, iya?"

Mendengar suara Bu Tut yang sedikit menggas dan nyaring, Kang Parto sempat kicep. Dia menelan salivanya.

"Bukannya nagih, Bu! Saya juga untungnya dikit, janganlah dihutang terus!"

"Kami memang sering ngutang, tapi kami selalu belanja di tempat Akang, nggak pernah ke tempat lain. Kalau kami nggak belanja di sini, nggak bakalan ada orang kampung sini yang belanja sama Akang!" Bu Irma membela bestinya, Bu Tut.

"Mendingan nggak punya pelanggan kaya situ daripada ngutang terus," batin Kang Parto.

Merasa dibela, Bu Tut pura-pura merajuk. "Nih, saya bayar semua belanjaan saya," ucapnya ketus sembari menyodorkan uang lima belas ribu.

"Loh, nggak sekalian sama hutang-hutang yang kemarin, Bu?"

"Nggak lah.., sebenarnya saya pengen bayar tapi karena Akang bicara begitu, saya jadi males bayar! Ayo, gays kita cabut." Bu Tut bicara seenaknya. Beserta gengnya, mereka berlalu meninggalkan gerobak kang sayur.

Kang Parto hanya bisa melongo melihat kelakuan para gadis berumur itu.

"Heleh.., dikira bayar sekalian sama hutang, taunya cuma bayar belanjaan tadi aja. Sudah lah lama milihnya yang dibeli juga sedikit," gerutu Kang Parto.

"Ngomongin orang jagonya. Nggak ngaca sama kelakuan sendiri." Lelaki berumur 30 tahun itu masih menggerutu sambil mendorong gerobaknya menuju gang sebelah.

****

Rania sampai ke rumah dengan muka cemberut. Pertemuan dengan Bu Tut di kang sayur tadi sukses membuat moodnya berantakan.

Melihat raut wajah istrinya, Irwan-- suaminya bertanya, "Ada apa, Yank? Kok, datang dari belanja mukanya cemberut gitu? Habis digodain si Parto, ya?" Dengan nada sedikit cemburu.

"Huh..." Rani menghela nafas. "Apaan sih, Mas! Aku lagi bete juga, habis ketemu sama Mak Lampir!"

Suaminya terlihat bingung. Dia tidak mengerti, siapa yang dimaksud istrinya Mak Lampir.

"Eh, maksud kamu siapa, Yank?"

"Siapa lagi? Itu ibunya janda gatel, yang rumahnya di pojokan sana," gerutu Rani.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Nasib Dikelilingi Tetangga Julid

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Cinta Karena Kesalahan
9.0
Tujuh belas tahun Keira Kastari Naryadinata berjuang hidup hanya berdua dengan ibunya. Ketika sang ibu berpulang, ia pun kehilangan segalanya. Sejak lahir, Keira diasingkan oleh Kastara, ayah kandungnya yang sombong, hanya karena ia bukan anak laki-laki. Namun kini, sang ayah tiba-tiba datang meminta maaf dan memintanya pulang ke ibu kota. Keira pun bimbang, ragu apakah pria egois itu benar-benar menyesal, di tengah dendam masa lalu dan kerinduan akan sebuah keluarga.
Sampul Novel Cinta Terlarang & Rahasia
9.4
Karina, yang tumbuh dalam keluarga broken home, menjalani hubungan gelap bersama Evan, suami dari saudara perempuan sahabatnya. Begitu skandal ini terbongkar, ia menerima kecaman dari publik serta dimusuhi oleh Siska. Karina akhirnya memutuskan pergi dalam kondisi hamil tanpa memberi tahu siapa pun. Bertahun-tahun berlalu, ia kembali ke Jakarta bersama putranya. Kini, misteri identitas ayah kandung anak tersebut terancam terungkap. Sanggupkah ia terus menyembunyikan rahasia kelam itu?
Sampul Novel GADIS BIASA VS BOSS MAFIA
8.6
Anne Mary, gadis jenius 18 tahun, menyaksikan cinta pertamanya dihabisi oleh bos mafia kejam, Marcio Lamparska. Dituduh sebagai pelaku, ia diculik ke Spanyol untuk ditempa menjadi petarung. Di tengah rencana balas dendamnya, benih cinta justru tumbuh di hati Anne untuk Marcio. Situasi kian rumit saat musuh Marcio yang posesif, Iosef, datang menyelamatkannya. Kini, Anne yang telah menjelma jadi pembunuh tangguh harus memilih antara dendam masa lalu atau cinta.
Sampul Novel Pengasuh Duda Jutawan
7.9
Pasca dicampakkan suami saat bersalin, Johanne Warrent harus menghidupi bayinya dengan menjadi pengasuh Jhin, anak lelaki Eduard Collen. Sang majikan adalah duda kaya raya yang berwatak dingin dan angkuh. Di bawah tekanan keluarga besar Eduard, Johanne berupaya keras mendekati Jhin yang menutup diri akibat trauma. Di tengah perjuangan itu, muncul perasaan cinta yang menguji profesionalismenya. Ia pun harus bertahan demi masa depan anaknya.
Sampul Novel Re(s)tart
9.7
Kehilangan kebahagiaan menyisakan pertaruhan nyawa bagi seorang anak. Di tengah kondisi babak belur dan sisa tenaga yang kian menipis, ia tetap memandang rendah musuh yang terus mencemooh latar belakang masa lalunya. Di balik kepedihan itu, tersimpan tekad kuat untuk menghadapi hari esok yang penuh teka-teki. Saat ancaman kematian kian mendekat dan membayangi masa depannya, mampukah ia bertahan untuk berjuang, atau justru memilih lari dan menyerah pada keadaan?
Sampul Novel Terpaksa menikah dengan CEO
9.3
Kehancuran mengintai Darma, seorang pengusaha yang kini terpuruk akibat salah langkah dalam berbisnis. Demi mempertahankan aset berharganya dari kebangkrutan, ia terpaksa berutang besar kepada Dimas Santoso, sosok CEO dingin yang kejam. Di sisi lain, sang putri, Alia, tetap sibuk bekerja keras setiap hari. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa keluarganya sedang berada di ujung tanduk dan sang ayah tengah dikejar waktu untuk melunasi utang tersebut.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan