APKDock Logo
Sampul Novel La Tahzan, Miss Lemot

La Tahzan, Miss Lemot

8.6 / 10.0
Vinessa, gadis periang yang rupawan, harus menghadapi kenyataan hidup yang begitu getir. Walau berhati mulia, ia kerap diremehkan dan kehadirannya tak pernah diinginkan oleh orang-orang di sekitarnya. Alih-alih mendendam atas perlakuan buruk dari keluarganya sendiri, ia memilih ikhlas menerima segala cemoohan sebagai takdir hidupnya. Ikuti kisah perjuangan Vinessa yang menyentuh hati dalam bertahan menghadapi kerasnya dunia yang tidak pernah berpihak padanya.

La Tahzan, Miss Lemot Bab 1

Seorang gadis tengah menatap pantulan dirinya di depan cermin. Entah apa yang ingin dia lihat? Yang jelas, dia hanya mengulas senyum manisnya. Senyum manis yang selalu terukir di bibirnya setiap hari, tanpa lelah. Dia mengedipkan sebelah matanya, lalu berjalan keluar kamar dan menuju ke ruang makan.

"Selamat pagi, Bun," sapa gadis itu kepada wanita paruh baya yang sedang berkutat dengan masakannya.

Gadis itu menatap ke arah meja makan yang terdapat beberapa makanan. Hati rasa ingin mencicipi, tetapi apalah dayanya yang takut sang bunda marah.

"Bunda, Ines berangkat dulu, ya. Assalamu'alaikum, Bun." Setelah mencium punggung tangan bundanya, Ines langsung berjalan keluar rumah menuju ke depan gerbang rumahnya.

Vinessa Queensheila Erick. Gadis yang cantik, manis, dan selalu menebar senyum kepada setiap orang. Dia juga selalu membuat orang tertawa sekaligus kesal dalam waktu yang bersamaan, karena ketidakwarasan dan kelemotannya, membuat siapa pun di sekelilingnya akan langsung naik pitam.

Seperti saat ini, dia sedang berdiri menunggu jemputan dari seseorang untuk berangkat ke kampus. Namun, sudah pukul 07.25 WIB orang yang ditunggu tak kunjung datang, padahal hari ini ia ada kelas pagi. Dia kemudian mengambil ponsel di saku celananya untuk menghubungi orang itu. Saat sudah tersambung, Ines langsung berbicara pada intinya tanpa memberi salam sekalipun.

"Halo, Akang Fernanku yang gantengnya tiada tara," ucap Ines dengan nada selembut mungkin.

"Hm, apa?" tanya Fernan dengan suara serak khas bangun tidurnya di seberang sana.

"Lo lama banget, sih, jemput Ines, Fer. Kaki Ines kesemutan, bahkan badan hampir lumutan," papar Ines.

"Jemput lo? Emang mau ke mana?" tanya Fernan kembali.

"Ya ke kampuslah, Akang Fernan!" tegas Ines sambil mengentakkan kakinya.

"Sorry, gue baru bangun tidur, Nes," sahut Fernan.

"Lo baru bangun, Fer? Kok bisa, sih? 'Kan hari ini ngampus, Fer?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Fernan, Ines malah balik bertanya dengan bertubi-tubi.

"Sebentar, Nes. Ngampus, ya?" beo Fernan, "emang hari ini hari apa? Bukannya hari minggu, ya? Kok bisa ada jadwal kampus, sih? Atau gue yang salah? Gue lihat kalender dulu." Fernan menatap ke layar ponselnya dan membuka kalender.

"Fer, lo ngomong apaan, sih? Ayo, buruan jemput Ines. Nanti kita telat!" pekik Ines.

Fernan mendengkus sebal. "Makanya, kalau lemot jangan dipelihara, Nes! Lo ganggu mimpi indah gue yang lagi kencan sama Lisa blackpink. Ini hari Minggu, Ogeb. Lihat kalender lo makanya. Udah, ah, bye."

"Minggu?" Ines menyalakan ponselnya, lalu melihat kalender.

"Si Fernan kayaknya pengen libur sendiri, nih, anak. Orang di kalender Ines aja sekarang hari kamis. Gimana bisa libur?" gumam Ines.

Ines mengedikkan bahunya, lalu berjalan menuju ke halte bus terdekat. Saat sedang menunggu bus yang lewat, tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di hadapan Ines. Gadis itu langsung mengerucutkan bibirnya karena kesal.

Bagaimana tidak? Mobil ini menghalangi pemandangan Ines. Gadis itu berjalan mendekati jendela mobil, lalu mengetuknya dengan pelan.

"Permisi, Pak, Kak, atau siapa aja. Tolong mobilnya jangan menghalangi pemandangan saya!" ucap Ines dengan sedikit lantang.

Kaca mobil terbuka lebar, tampaklah seorang pria dengan setelan kantor lengkap dan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.

Pria itu melambaikan tangannya, lalu berkata, "Halo, Princess? Are you Okay?"

"Not fine."

Pria itu mendengkus sebal. "Mau ke mana?" tanya pria di dalam mobil itu sambil menatap Ines dari bawah sampai ke atas.

"Ck, mau ke kampuslah, Bang Arka," jawab Ines dengan santainya.

Arka, pria di dalam mobil itu langsung terkejut dengan mata yang melotot. Dia atau gadis di hadapannya ini yang bodoh? Pasalnya, tadi dia melihat kalender sebelum pergi, tetapi ini bukankah hari minggu?

"Kamu baik-baik aja 'kan?" tanya Arka dengan hati-hati.

Ines menganggukkan kepala. "Baik."

"Kayaknya kamu nggak baik, deh. Abang tahu kamu lagi frustasi, tapi nggak begini juga, Nes." Mendengar ucapan abangnya, Ines hanya mengerutkan dahi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Orang aku sehat, Bang."

"Sehat kok oon," gumam Arka.

"Ini hari minggu, Nes. Ngapain kamu ngampus? Mau mejeng dengan Pak Kobet? Ya, kali, Dek. Jangan malu-maluin abang dong!" Sinis Arka.

"Minggu? Ini kamis, Bang," bantah Ines.

"Coba lihat ponsel kamu."

Ines menyerahkan ponselnya kepada Arka, membuat pria itu langsung menghidupkan ponsel adiknya. Dia mengecek kalender dan ternyata benar. Ya, benar-benar buat kesal.

"Ya, gimana nggak hari kamis! Lihat, ini bulannya. Dasar ogeb!" Arka menoyor kepala Ines, membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya.

Arka menarik tangan Ines agar masuk ke mobilnya. "Masuk, Abang ajak kamu ke suatu tempat."

***

Arka memarkirkan mobilnya di halaman perusahaan milik sang ayah, yang kini telah diambil alih olehnya. Ines cemberut, gadis itu mengira bahwa Arka akan membawanya ke suatu tempat yang indah. Ternyata ke perusahaan? Tempat membosankan dan melelahkan bagi Ines. Bagaimana tidak? Di sana Arka hanya menyuruhnya duduk, lalu terkadang meminta bantuannya.

"Ngapain, sih, ke sini?" tanya Ines.

Arka menatap ke arah adiknya. "Mau jual paku."

Ines mengerutkan dahinya bingung. "Hah? Gimana ceritanya, Bang, perusahaan jualan paku? Dikira matrial kali," ucap Ines sambil memutar bola matanya jengah.

Arka menjitak kepala Ines dengan gemas. "Ya kali, Nes. Masa abang yang gantengnya mirip Bright, harus jualan paku di perusahaan."

"Ganteng dari mana, Bang?" tanya Ines, "kalau Bang Sean sama Bang Erick beneran gantengnya, abang mah oplas kali."

"Yang bener aja, Nes! Masa abang harus oplas dulu biar ganteng! Ini kegantengan alami yang diturunkan oleh Ayah sama Bunda," ungkapnya dengan bangga.

"Muka kayak badut ancol aja bangga," gumam Ines yang masih terdengar oleh Arka.

"Adek siapa, sih, lo? MasyaAllah, pinter banget. Saking pinternya, gue pengen pelet lo," gerutu Arka.

"Ye, dikira melet pacar apa? Ya kali Ines mau jadi pacar Abang, ogah. Mending Ines jadi pacarnya si Jupri aja," cerocos Ines.

"Ih, itu mulut atau burung perkutut? Nyerocos aja kalau ngomong. Mending suaranya bagus, kayak kaleng rombeng!" pekik Arka sambil menoyor kepala Ines.

"Abang kdrt, nih, dari tadi jitakin kepala Ines mulu," racau Ines.

Arka memukul tangan Ines dengan lumayan keras, membuat sang empu mengaduh kesakitan.

"Ya kali gue kdrt sama adek sendiri. Kalau sama bini gue, baru namanya kdrt. Lo kapan pinternya, Nes?" pungkas Arka dengan nada kesal, lalu berjalan mendahului Ines.

"Nanti, Bang. Kapan-kapan!" teriak Ines sambil berlari menyusul sang kakak.

Ketika Arka dan Ines akan memasuki gedung, tiba-tiba sebuah suara memanggil nama keduanya.

"Bang Arka, Ines," panggil seseorang, membuat keduanya menatap ke asal suara. Arka menaikkan sebelah alisnya, sedangkan Ines menatap tajam ke arah orang di hadapannya kini.

Lanjut Membaca

Daftar Isi La Tahzan, Miss Lemot

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Dokter Cantik Spesialis Andrologi
9.3
Sebagai dokter spesialis andrologi, protagonis wanita dihadapkan pada situasi tidak terduga saat menangani seorang pasien pria. Pasien tersebut mengaku memiliki stamina yang terlalu besar dalam urusan intim dan menuntut sang dokter untuk memeriksa kondisinya secara langsung menggunakan tubuhnya sendiri. Permintaan provokatif ini seketika mengubah dinamika profesional mereka, membuat sang dokter kewalahan dan tidak berdaya menghadapi dominasi sang pasien dalam pertemuan medis yang tidak biasa ini.
Sampul Novel Jodohnya yang Tak Diinginkan, Sihirnya yang Terlarang
9.2
Lima tahun mengabdi sebagai pendamping Alpha Bram, kesetiaanku dibalas pengkhianatan kejam. Saat lampu gantung jatuh, Bram menjadikanku tameng hidup demi menyelamatkan Bella, selingkuhannya. Akibatnya, tubuhku hancur dan serigalaku lumpuh. Tak cukup sampai di situ, Bram tega memutuskan ikatan suci kami secara paksa. Rasa sakit luar biasa itu merenggut nyawaku, tepat ketika rahasia bahwa aku mengandung ahli warisnya terungkap. Kini, penyesalan Bram sia-sia.
Sampul Novel Langit & Senja
8.4
Dalam romansa remaja ini, sosok Senja adalah bagian krusial bagi kehidupan Langit. Hubungan erat mereka melahirkan harapan besar agar kebersamaan ini abadi tanpa ada yang berubah. Melalui dinamika emosi yang mendalam, perjuangan Langit untuk mempertahankan Senja di sisinya begitu terlihat. Ia sangat meyakini bahwa takdir telah mengikat mereka untuk terus melangkah bersama dalam satu kesatuan yang utuh selamanya.
Sampul Novel My [Secret]ary
8.6
Penolakan Raya atas posisi pemimpin anak perusahaan Chinar Group membawanya bertemu kembali dengan Jevano. Mantan kakak tingkat kuliahnya tersebut kini justru bekerja sebagai sekretaris pribadinya. Walau Jevano selalu bersikap dingin dan cuek, Raya tidak bisa menahan perasaannya. Namun, di balik sikap profesional tersebut, sang sekretaris menyimpan misteri besar. Jevano bukanlah pegawai biasa, melainkan sosok penuh rahasia yang menyembunyikan identitas aslinya.
Sampul Novel Terjebak Cinta, CEO Arogan
8.8
Saat menghindari pria hidung belang pilihan pamannya, Zee tidak sengaja terlibat cinta satu malam dengan Nevan Aditama. CEO dingin tersebut menuduh Zee sebagai mata-mata musuh, memicu pengejaran yang memaksa Zee melarikan diri. Takdir kembali mempertemukan mereka saat Zee bekerja menjadi asisten pribadi Nevan. Kini, di hadapan sang miliarder yang kejam, ia harus berpura-pura dan menyembunyikan identitas aslinya agar rahasia masa lalu mereka tidak terbongkar.
Sampul Novel The Ceo Is My Husband
8.5
Hubungan unik terjalin antara gadis remaja berusia enam belas tahun dan seorang CEO sukses. Sang pria paruh baya terus mengejarnya tanpa lelah, selalu ingin menatap wajahnya. Sebaliknya, gadis itu merasa jengah dan bosan dengan kehadiran sang CEO yang terus-menerus di hadapannya. Perbedaan usia yang kontras serta keteguhan hati sang pria menciptakan dinamika interaksi yang penuh warna dalam kisah romansa mereka yang tidak terduga.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan