APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Ghost

My Ghost

Syafira akhirnya paham mengapa apartemennya disewakan dengan harga miring. Di balik ketakutan para tetangga, hunian itu dihuni hantu tampan yang justru memikat hatinya. Alih-alih lari, fantasi romantis Syafira malah membuncah saat merasakan dekapan dingin sang arwah. Namun, benturan logika dua dunia perlahan mulai mengusik pikirannya. Akankah jalinan asmara beda alam ini berujung bahagia seperti kisah-kisah fiksi yang kerap ia tulis?
Bab
Bagikan

Bab 3

Klek.

Terdengar pintu kamar terbuka pelan saat aku selesai membereskan laptop, ponsel, dan buku-buku catatanku. Aku duduk di tepi ranjang dan tersenyum manis melihat kabut hitam masuk dengan membawa nampan.

Kalau kau penasaran seperti apa wujudnya, kau bisa melihat bayangan hitam tubuhmu di dinding atau lantai. Ya, seperti itulah dia. Keseluruhannya hitam dan hanya bentuknya yang menyerupai orang dan berwujud tiga dimensi.

"Makan, habiskan!" perintahnya sambil meletakkan nampan di atas ranjang lalu mundur dan bersandar di dinding. Kali ini benar-benar terlihat seperti bayangan.

"Ya, tentu saja," sahutku antusias. Mataku berbinar mendapati roti tawar dan semangkuk sup krim. Buru-buru aku menyendok sup krim lalu memakannya.

Hmm, lezat. Benar-benar lezat.

"Dari mana kau belajar masak?"

"Bukan urusanmu."

Aku mengerucutkan bibir tapi lalu angkat bahu dan makan dengan lahap. Benar-benar masih tidak percaya bahwa hantu bisa masak dan makanan di hadapanku tidak berubah menjadi belatung serta daun kering seperti dalam film-film.

"Kau bilang bisa berwujud menyerupai apa yang dipikirkan orang yang kau takut-takuti. Kenapa kau tidak berwujud menjadi lelaki tampan seperti yang kupikirkan?" tanyaku setelah menghabiskan selembar roti. Masih ada dua lembar lagi dan aku tidak keberatan menghabiskannya.

Selama beberapa saat tidak ada tanggapan hingga kupikir si hantu tidak akan menjawab pertanyaanku. Tapi kemudian dia berkata dengan suaranya yang terdengar dalam dan—seksi?

Aku benar-benar sudah gila!

"Lagi-lagi kau melakukannya," hantu itu mendengus.

Kupikir dia akan menjawab pertanyaanku. "Apa?"

"Sekarang kau berpikir suaraku seksi." Nada kesalnya terdengar jelas.

"Jangan salahkan aku. Salahkan dirimu sendiri yang mengintip isi kepalaku." Aku menyeringai. "Jadi, kenapa kau tidak berwujud seperti yang kupikirkan?"

"Karena itu artinya aku harus menampakkan wajah asliku di depanmu. Dan aku tidak mau melakukannya."

Mataku berbinar. Kuletakkan kembali roti kedua yang sudah setengah kugigit lalu berdiri mendekatinya. Setelah cukup dekat, kuletakkan telunjuk di daguku sambil memperhatikannya seolah sedang berpikir.

"Apa itu artinya kau tampan? Kenapa aku ragu?" Kau pasti sangat jelek hingga tidak berani menunjukkan wajahmu.

Dia menggeram. "Kau benar-benar harus belajar menjaga mulut dan otakmu."

Aku menaikkan dagu, menatap bagian yang kupikir adalah wajahnya dengan sikap menantang. "Kalau kau tidak setuju dengan apa yang kukatakan dan kupikirkan, sebaiknya tunjukkan wajahmu."

"Aku benar-benar tidak suka manusia sepertimu. Kau terlalu berani, terlalu dekat, dan—"

"Dan?"

"Terlalu cantik."

DEG.

Aku tersentak kaget mendengar ucapannya. Kurasa dia juga. Dan yang membuatku semakin terperangah, perlahan sosoknya kian padat, hingga akhirnya membentuk tubuh utuh dengan raut wajah yang memang rupawan.

Hidung mancung, bibir tipis namun berlekuk seperti ombak, dagu lancip, mata hitam yang tampak menyorot tajam, serta alis tebal yang nyaris lurus. Semua itu tampak sangat pas di wajahnya yang kini tampak gusar. Apa karena dia baru saja mengakui bahwa aku cantik?

"Tidak, bukan seperti itu," ujarnya ketus dengan wajah yang lucunya—memerah.

"Hah?" Apa dia baru saja menjawab pertanyaan dalam benakku?

"Sudahlah, sana habiskan makananmu." Lalu tanpa mengatakan apapun lagi, dia berbalik keluar kamar.

Aku masih terdiam di tempatku berdiri dengan seringai bodoh di wajahku. Apa itu tadi? Apa dia benar-benar hantu dan bukannya vampir yang terkurung dalam apartemen ini? Yah, setidaknya menurutku vampir lebih manusiawi daripada hantu.

Dan tanpa bisa menahan diri, aku bertanya dengan suara keras ke arah pintu kamar yang terbuka. "Apa di sekitar sini ada Mall hantu? Pakaianmu cukup bagus."

BRAKK.

Aku meringis melihat pintu tiba-tiba tertutup dengan suara keras. Kurasa sudah cukup membuat hantu kesal hari ini.

***

"Kau suka acara kartun, ya?" tanyaku tanpa mengalihkan perhatian dari layar tv.

Dia tidak menyahut seperti biasa. Menganggap pertanyaanku hanya angin lalu.

Aku menoleh dan kali ini memperhatikan sosoknya dengan seksama. Sudah tiga hari dia terus menunjukkan sosok fisiknya yang sempurna. Hanya sesekali menghilang. Mungkin karena kesal padaku. Dan selama itu, aku tidak pernah melihatnya ganti pakaian. Hanya kaus polos pas badan dan jins belel. Apa itu pakaiannya saat meninggal?

Dia berdecak kesal lalu memperbaiki posisi berbaringnya. Kini satu tangan di bawah kepala. Satu kaki mengapit guling dan kaki lainnya menekuk lutut. Dia tampak nyaman berbaring telentang di sofa yang tidak sepenuhnya menampung tubuhnya yang tinggi.

Aku menahan senyum geli. Sepertinya dia lagi-lagi membaca pikiranku. Dengan jahil, kubiarkan mataku jelalatan memperhatikan fisiknya yang membuat liur menetes.

Mata hitam si hantu menatap sendu si wanita yang tengah tertidur nyenyak. Ada kerinduan dalam sorot matanya pada sang kekasih yang tak bisa lagi ia gapai. Lalu wanita itu datang, dengan segala kemiripannya dengan sang kekasih.

Perlahan si hantu mendekat, lalu dengan hati-hati duduk di tepi ranjang. Sejenak dia hanya diam. Memperhatikan si wanita yang terlihat sangat tenang dan lelap dalam tidurnya. Hingga akhirnya dia tak sanggup lagi menahan diri untuk menyentuh si wanita, merasakan kelembutan dan kehangatan kulitnya—

PLAK!

Bantal guling melayang tepat mengenai wajahku. Aku mengaduh seraya menyingkirkan guling itu lalu melotot ke arah si hantu yang juga balas menatapku dengan sorot kesal.

"Apa?" tanyaku kesal. Dasar pengganggu imajinasi!

"Aku tidak pernah punya kekasih dan kau tidak mirip siapapun dalam hidupku!" serunya kesal seraya duduk. "Dan satu lagi, aku tidak pernah menyentuhmu diam-diam!"

Bibirku membentuk seringai geli dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menggodanya. "Tapi kau memang memperhatikanku saat tidur dan membayangkan ingin menciumku, kan?"

Dia terbelalak. "Bagaimana kau tahu?"

Aku pun terbelalak dan senyum jahilku lenyap. "Jadi benar?"

"Eh!" seketika wajahnya memerah. Resiko memiliki kulit putih bersih. "Dasar wanita menyebalkan. Kembali saja ke kamar! Aku bertekad ini terakhir kalinya aku berurusan dengan penulis romansa."

Aku tertawa geli sambil memeluk guling yang tadi dia lempar padaku.

"Itu gulingku! Kembalikan!" mendadak dia berseru.

Aku semakin terbahak. "Tadi kau sudah memberikannya padaku." Kupeluk guling itu semakin erat. Kedua pahaku juga menjepitnya.

Mendadak dia menghilang lalu kurasakan tarikan yang sangat kuat pada guling yang kupeluk. Aku tidak berhenti tertawa sambil mempertahankan guling itu tetap dalam dekapanku.

"Kembalikan!" terdengar geraman seperti dihembuskan angin menyapu telingaku.

"Tidak mau!"

Aku merasakan dorongan di sisi kepalaku hingga menempel di sandaran kursi. Bersamaan dengan itu, guling ditarik semakin kuat namun akupun memeluknya sangat erat. Kini tawaku sudah pudar namun seringai geli masih bertahan di wajahku.

"Aku akan meremukkan kepalamu!" geramnya lagi. Kali ini lebih jelas karena sosoknya kembali solid hingga utuh sepenuhnya.

Aku terkekeh. "Bagaimana kalau kita buat kesepakatan? Akan kukembalikan guling ini dan kau harus mengatakan siapa namamu."

Dia mendesis marah. "Kesabaranku sudah habis."

Refleks aku memejamkan mata merasakan tekanan di sisi kepalaku semakin kuat. Tapi yang kurasakan kemudian membuatku membeku.

Bibir yang empuk dan lembut terasa menekan bibirku. Awalnya hanya menempel rapat. Tapi kemudian bergerak, menghisap bibir atasku lalu beralih pada bibir bawahku. Lebih lama di sana. Perlahan lidahnya keluar. Menekan-nekan lembut di antara bibirku yang sedikit merekah, agar membuka lebih lebar.

Aku mengerang. Menerima undangannya dengan senang hati. Bibirku terbuka semakin lebar, membiarkan lidahnya masuk dan menjelajah kehangatan mulutku.

Tangannya yang semula menekan sisi wajahku pindah menyentuh sisi leherku. Ibu jarinya membelai lembut, menciptakan gelenyar panas yang terasa membakarku, dan membuatku bergetar nikmat.

Sentuhannya membuatku gatal ingin menyentuhnya juga. Tanganku bergerak hendak menyentuh pundaknya namun—

"Sial!" umpatku setelah berhasil melepaskan diri dari pagutannya. "Aku tidak bisa menyentuhmu," kesalku sambil mencoba menyentuh wajahnya namun tubuhnya berubah transparan dan tanganku menembusnya.

Dia menyeringai. "Tapi aku bisa menyentuhmu," ucapnya lalu kembali menyatukan bibir kami. Semakin menekanku ke kursi dan menciumku lebih dalam.

-------------------------

~~>> Aya Emily <<~~

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dulu Kau Buang Aku, Kini Aku Milik Pamanmu!
9.8
Silvia mengorbankan segalanya demi menikahi Sienzo Gunawan lewat investasi 20 triliun. Namun, di malam pernikahan, ia justru dijebak dan ditiduri belasan teman Sienzo hingga hamil dan tewas saat bersalin di ruang bawah tanah. Terbangun kembali di masa lalu tepat saat keluarga Gunawan memohon investasi dan pernikahan bisnis tersebut, Silvia memutuskan untuk mengubah takdirnya. Kali ini, ia tidak akan menjadi korban lagi, melainkan membuat Sienzo membayar semua kekejamannya di masa lalu.
Sampul Novel ENTERNAL LOVE
9.0
Kematian Carolina di tangan penyihir hitam menghancurkan hidup Elgar. Demi membalas dendam, ia berguru pada penyihir agung untuk memburu pembunuh tunangannya. Namun, perjalanan Elgar dihadang pengkhianatan Putri Liana. Di tengah rintangan, ia bertemu gadis misterius yang berwajah persis seperti Carolina. Elgar kini bimbang antara menuntaskan dendamnya atau mencari tahu jati diri gadis itu yang mengusik batinnya.
Sampul Novel Not A Perfect Marriage
9.5
Ivy Marionet menjalani pernikahan rumit yang penuh rahasia dengan seorang ksatria kerajaan. Ia harus berjuang keras demi menyembunyikan identitas aslinya yang misterius. Keadaan kian genting saat campur tangan Putra Mahkota Winter membuat Ivy terancam hukuman mati di tangan suaminya sendiri. Siapa sebenarnya sosok Ivy? Di tengah intrik dan bahaya yang mengintai, mampukah ia mengungkap kebenaran sekaligus menyelamatkan diri dari eksekusi yang membayangi hidupnya?
Sampul Novel Pembalasan Dendamku terhadap Suami Pengkhianat
9.2
Setelah dikhianati hingga tewas oleh suaminya dan selingkuhannya, Sarah, yang bersekongkol memalsukan kematian otak putrinya demi mencuri jantung sang anak untuk putri Sarah, seorang ibu mendapatkan kesempatan kedua dalam hidup. Terbangun kembali di hari penandatanganan donor organ, ia bertekad melindungi putrinya yang terbaring di rumah sakit. Dengan ingatan dari masa depan, ia memulai aksi balas dendam yang penuh misteri untuk menuntut balas atas setiap rasa sakit dan nyawa yang telah direnggut.
Sampul Novel Persembahan Untuk Sang Kirin
9.3
Kehidupan bahagia seorang putri kaya dan pemilik gym hancur dalam sekejap. Setelah dua bulan diabaikan suaminya, ia dikepung lima pria di gym miliknya sendiri. Tiga hari kemudian, ia disiksa, dirantai, dan dipaksa merangkak untuk dipersembahkan kepada kirin. Sepuluh bulan pasca-persembahan tersebut, para penculiknya mengincar pil keabadian yang mampu memberikan kemudaan serta hidup abadi bagi pria.
Sampul Novel Petualangan Seka dan Kompas Perak
9.5
Menjelang usia sepuluh tahun, Seka harus menghadapi kenyataan pahit akibat lilitan utang ibunya, Senia Ayu. Situasi kian pelik ketika Senia diculik oleh kawanan Raksasa Kerdil, yang memicu terbongkarnya sebuah rahasia besar. Setelah bertarung melawan makhluk-makhluk tersebut, Seka menemukan Kompas Perak ajaib yang mampu memicu kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Berbekal kompas itu, ia pun memulai petualangan besar untuk membebaskan ibunya, melacak sang ayah, dan mengungkap asal-usul dirinya.