APKDock Logo
Sampul Novel Petualangan Seka dan Kompas Perak

Petualangan Seka dan Kompas Perak

9.5 / 10.0
Menjelang usia sepuluh tahun, Seka harus menghadapi kenyataan pahit akibat lilitan utang ibunya, Senia Ayu. Situasi kian pelik ketika Senia diculik oleh kawanan Raksasa Kerdil, yang memicu terbongkarnya sebuah rahasia besar. Setelah bertarung melawan makhluk-makhluk tersebut, Seka menemukan Kompas Perak ajaib yang mampu memicu kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Berbekal kompas itu, ia pun memulai petualangan besar untuk membebaskan ibunya, melacak sang ayah, dan mengungkap asal-usul dirinya.

Petualangan Seka dan Kompas Perak Bab 1

Seka oh Seka

Kenapa wajahmu selalu murung begitu?

Apa yang bisa membuatmu bahagia kembali?

Seka oh Seka

Kemarilah maka kan kuberi sesuatu untukmu

Benda yang akan membuatmu tersenyum

Nyanyian itu tak asing bagi Seka. Suaranya lembut terdengar bagai seorang dewi tengah bernyanyi diatas awan. Bahkan saat ini, anak laki-laki itu tak tahu dirinya sedang berada dimana. Celingukan menengok ke kiri dan kanan. Berharap ia tahu akan sesuatu tentang tempat ini.

"Hei, tunjukkan dirimu! Jangan hanya bisa menyanyi saja. Apa kamu mau memberiku petunjuk?"

Sunyi....

Tak ada lagi nyanyian itu terdengar apalagi jawaban bagi Seka. Dia berjalan kesana kemari berharap bertemu seseorang. Hingga dia lihat seorang kakek berdiri dengan tongkatnya.

Seka berlari kecil menghampirinya. Tanpa ada rasa takut sedikitpun. Berharap sosok ini bisa berinya petunjuk tentang dimana dia sekarang.

"Oh, Seka kurasa sudah saatnya kamu mengetahui sesuatu. Ambil ini dan bawalah!"

Kakek itu melempar sebuah benda bulat mengkilat. Seka nyaris tak mampu menangkapnya karena silau oleh pantulan sinar matahari. Tapi dia rasakan tangannya menggenggam sesuatu.

"Eh, benda ini sudah ada di tanganku!"

"Iya, aku tadi yang bantu jual koranmu!"

Sontak Seka tersadar, kalau dia tadi hanyalah bermimpi. Ramen memberinya sekeping koin perak di genggaman tangannya. Rupanya tadi ada yang mau membeli koran yang dijual Seka. Tapi karena anak ini tertidur, Ramen yang bantu menjualkannya.

"Bangun dong dasar pemimpi! Masih siang bolong begini sudah tidur saja kamu ini, Seka."

"Kamu kan tahu, Ramen. Aku ini kalau malam bekerja di warung makan untuk cuci piring. Waktu tidurku jadi berkurang."

"Iya, aku tahu! Memangnya sebanyak apa piring yang kamu cuci semalam?"

Karena masih kondisi setengah sadar, Seka malah mencoba menghitungnya dengan jari. Berapa piring yang dia cuci semalam. Ramen pun menepuk dahinya dengan keras.

"Aduh, Seka aku tidak memintamu untuk menghitung sungguhan. Ayo, basuh mukamu dulu dengan air!"

Seka pun menurutinya. Dia pergi mengambil air dari keran di taman kota. Barulah kesadarannya kembali seratus persen.

"Dengar, ibumu dalam keadaan bahaya!"

"Apalagi yang dilakukan sama ibuku, Ramen? Pasti ditagih hutang lagi!"

"Bukan itu, Seka! Ini lebih bahaya dari yang kamu kira. Ibumu itu…."

"Hei hei hei! Ada anak-anak ingusan di taman ini. Ayo, kemarikan uang kalian!"

"Simpan ceritamu nanti saja Ramen. Kita kabur duluuuu!"

"Sekaaaa! Ini lebih penting dari yang kamu kira. Aduh, kok kakiku tidak bisa digerakkan?"

Ramen terlambat kabur. Dia sudah dipegang kakinya oleh anak buah preman berambut sapu lidi. Mereka hanya tertawa saja sambil membalikkan tubuh anak jalanan itu.

"Dih, lepasin dong!"

"Enak saja! Berikan uangmu pada kamu dulu baru kita lepaskan."

Tawa ledekan terdengar keras dibelakang pimpinan preman berambut sapu lidi. Bukan Ramen namanya kalau mau menyerahkan uang itu dengan sukarela. Dia bersikeras untuk bisa lepas. Para preman itu berpikir kalau anak ini tak akan mudah lepas. Tapi rupanya perhitungan mereka salah.

"Hah! Kemana anak itu?"

"Bweeeek! Ayo coba tangkap aku!"

"A-astaga! Dia jadi lembek seperti cacing eh seperti mi instan rebus."

"Pantas saja dia diberi nama Ramen! Ayo kejar dia!"

Kalau tubuh Ramen sudah lembek seperti mi, dia bisa melata bagaikan cacing. Anak jalanan itu mencari tempat persembunyian yang bagus. Sementara anak buah preman berambut sapu lidi jijik melihatnya.

"Bos aja deh yang kejar anak itu!"

"Aargh! Punya anak buah tidak berguna semua!"

Terpaksa pimpinan preman rambut sapu lidi itu yang mengejarnya sendirian. Dia sudah kehilangan jejak Ramen. Sementara anak ini bersembunyi dibalik semak sambil memadatkan dirinya. Tiba-tiba pundaknya ditepuk keras. Nyaris saja dirinya berteriak heboh.

"Astaga! Seka? Kenapa kamu bisa ada disini? Bukannya tadi sudah lari jauh ya!"

"Sedari tadi aku disini, Ramen!"

Mulut Seka langsung ditutup oleh Ramen. Dia tahu pimpinan preman rambut sapu lidi tengah melewati semak dekat persembunyian keduanya. Bahkan sampai mereka tahan napas supaya tidak ketahuan. Ketika dirasa sudah aman, barulah keluar dari sana.

"Uangmu utuh kan, Seka?"

"Tentu saja! Mana mungkin aku tinggalkan disana. Aku ambil dulu koran-koran tadi. Mau setor ke pemilik kios."

Ramen pun berjalan mengikuti Seka. Memang benar preman berambut sapu lidi itu sudah pada pergi. Menyisakan sampah di taman ini. Beruntung koran yang dibawa Seka tidak dirusak oleh mereka.

"Biasanya mereka merusak kalau tidak dapat uang dari anak jalanan."

"Iya, tapi apa untungnya buat mereka menyobek koran-koran ini? Kecuali aku penjual asongan minuman atau makanan. Mereka pasti bakalan ambil sepuasnya."

Seka pun membawa kembali koran tadi diantar Ramen. Dia setorkan hasil jualannya dan si pemilik kios beri keuntungan hasil jualannya pada Seka. Termasuk bonus, karena Seka bisa menjual buku TTS pada salah satu pengemudi mobil ketika di lampu merah.

"Huh! Apa bagusnya buku TTS itu ya?"

"Untuk mengasah otak katanya. Ah, aku belum pernah mencobanya! Jadi, apa yang mau kamu beritahu padaku tadi?"

Ramen teringat akan hal itu. Sementara hari sudah makin sore saja. Dia beritahu pada Seka kalau ibunya ditahan oleh si Juragan Gurame.

"Memangnya ibuku mencuri ikan Gurame di kolamnya?"

"Eh, tidak tahu Seka! Mungkin karena berhutang lagi?"

Seka hanya mengangguk saja. Dia sudah paham sifat ibunya yang suka berhutang pada siapapun demi memenuhi kebutuhan hidup. Anak ini pun berpikir, andai ayahnya masih ada. Mungkin hidupnya tak akan seperti ini.

"Aku temani kamu deh, Seka! Aku kan tahu dimana ibumu disekap."

"Kamu ini serba tahu ya!"

Ramen membusungkan dada sambil menepuknya. Dia bangga dengan segala apa yang dia tahu. Selama ini pun setiap ibunya Seka mengalami masalah pasti dia yang beritahukan. Keduanya berjalan menuju ke rumah Juragan Gurame.

Seka dan Ramen mencoba menebak apa yang akan dilakukan oleh juragan ikan itu. Apakah mau dijadikan pelayan di rumah besarnya? Atau justru dijadikan istri ke-100.

"Ibuku memang cantik tapi menyusahkan! Memangnya juragan itu mau? Lagipula sejak dulu memang tidak mau menikah lagi. Hanya mau menunggu ayahku datang."

"Iya, masalahnya ayahmu itu kemana? Kerja di daerah lain atau sudah berpisah sama ibumu?"

Pantang bagi Seka bertanya begitu pada ibunya. Sebab Ibu Seka sangat percaya kalau Ayah Seka akan kembali entah kapan. Hanya diceritakan kalau Ayahnya adalah pahlawan di masa lalu.

"Itu sih dulu Seka. Lihatlah dirimu sekarang ini! Adakah orang yang menghargai mu atau ibumu?"

"Terus cerita ibuku itu bohong dong, Ramen?"

"Aku sih tidak menuduh begitu, Seka! Tapi orang dewasa begitu rumit. Nah, ini penjara bawah tanahnya!"

Ramen menunjuk pada satu lubang. Seka berusaha mengintipnya. Memang nampak samar ada tubuh ibunya disana. Matanya terpejam dengan tangan terikat serta mulut dilakban.

"Aku jaga disini, kamu yang masuk ya!"

Lubang yang rasanya tak mungkin dimasuki oleh seorang anak laki-laki seperti Seka. Tapi dia berhasil memasukinya. Tubuhnya bisa mengecil lalu membesar lagi di dalam ruangan tempat ibunya ditahan. Dia cukup memikirkan apa yang dibutuhkan saat itu. Sayangnya, kemampuan Seka ini tidak mampu untuk memunculkan uang dihadapannya.

"Ibu memang payah!"

Mendengar suara itu, perempuan yang tengah disekap itu pun terbangun. Nampak dia bahagia melihat siapa yang datang. Tahu kalau penyelamatnya akan datang.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Petualangan Seka dan Kompas Perak

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Aku Hanyalah Ilusi Cinta Pertamanya
9.5
Pernikahan dengan Stephen sejak awal tidak didasari cinta, melainkan utang budi setelah melindunginya dari tikaman pisau. Ketika cinta pertama pria itu kembali, dia tanpa ragu membatalkan pernikahan mereka. Namun, Stephen justru menjadi gila saat mengetahui bahwa sang istri memilih untuk menggugurkan kandungannya dan pergi menghilang demi melepaskan diri dari hubungan tanpa rasa cinta tersebut.
Sampul Novel Benih Sang Pewaris
9.3
Kehidupan Isabella hancur setelah dilecehkan pria misterius di hotel tempatnya bekerja. Meski ditawari uang melimpah sebagai ganti rugi, pelayan ini menolak keras kompensasi tersebut. Namun, takdir mempermainkannya ketika ia mendapati dirinya hamil anak dari pewaris kaya raya itu. Kini, di tengah trauma mendalam dan rahasia besar yang dipikulnya, Isabella harus berjuang keras melewati masa-masa sulit demi menemukan kebahagiaannya kembali.
Sampul Novel Cintamu Dibayar Dengan Surat
8.3
Akibat sebuah insiden fatal, Rio terpaksa menikahi Sintia Wijaya. Tiga tahun pernikahan berjalan tanpa cinta, Rio bahkan memilih menikahi Clara, mantan kekasihnya. Ia sangat membenci Sintia yang dituduh memanfaatkan kekayaannya demi pengobatan sang ibu, hingga tega menolak mengakui Dika sebagai anak kandungnya. Namun, badai besar mulai mengguncang rumah tangga mereka ketika istri kedua Rio datang membawa sebuah surat perjanjian rahasia yang tak terduga.
Sampul Novel Gairah Liar Sang Mantan
8.2
Malam sunyi berubah menegangkan saat kakek nekat masuk ke kamarku dan melakukan aksi tak terduga. Di bawah ancaman agar tidak membangunkan adik, aku terpojok dalam situasi membingungkan yang menggelisahkan. Sentuhan serta bisikannya membuatku lemas kehilangan kendali. Saat ia melangkah lebih jauh dengan melucuti pakaianku, tiba-tiba lampu menyala terang. Di tengah keheningan malam itu, sebuah rahasia besar kini terancam terbongkar.
Sampul Novel Karma Dibalik Kematian Palsu Suamiku
8.9
Setelah melahirkan prematur akibat syok mendengar suami dan ibu mertuanya tewas jatuh ke jurang, kehidupan seorang wanita hancur total. Setahun kemudian, saat sekarat akibat keracunan herbisida, kebenaran pahit terungkap di depan matanya. Suami dan mertuanya yang dikira tewas ternyata masih hidup dan sengaja memalsukan kematian demi menyingkirkannya. Mereka kembali bersama Jane, anak tetangga yang kini menjadi istri baru, siap merebut uang ganti rugi lahan secara sah.
Sampul Novel Terjebak Pesona Anak Teman Mama
8.1
Nadia Anindita, siswi pemberontak yang menggemaskan, selalu berselisih dengan ketua OSIS populer nan kaku, Raka Bratama. Di balik kebencian dan perdebatan sengit mereka, tersimpan masa lalu keluarga yang rumit. Takdir tak terduga pun datang saat keluarga menjodohkan mereka secara paksa. Kini, keduanya terjebak dalam ikatan pernikahan yang konyol. Akankah ego mereka memicu perceraian, atau justru menumbuhkan benih cinta sejati?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan