APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Enemy Is My Husband

My Enemy Is My Husband

Niat Joana menghibur diri di kelab malam hancur saat memergoki sang kekasih berselingkuh dengan empat wanita sekaligus. Dalam keadaan mabuk berat karena patah hati, ia malah terlibat cinta satu malam dengan pria asing. Keadaan kian kacau ketika ia mengetahui bahwa lelaki misterius yang kini mengklaim dirinya adalah kakak kandung mantan kekasihnya itu. Kini, Joana terjebak dalam cengkeraman kekuasaan pria tersebut dan tidak bisa meloloskan diri dari takdir rumit ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Joana merasakan kedua tungkai kakinya melemah. Efek wiski membuat Joana terhuyung ke samping. Untung saja telapak tangan kanannya lebih dulu meraih ujung meja.

Sejenak Joana terdiam. Bukan karena tidak berani menghampiri Levin. Namun, Joana harus memastikan ia bisa berdiri tegak kembali.

Joana sudah cukup malu dan terluka mendapati kenyataan dirinya diselingkuhi. Dia tidak ingin semakin terlihat menyedihkan ketika nanti berhadapan dengan Levin dalam keadaan lemas tak berdaya. Bahkan menopang tubuh sendiri pun tidak mampu.

Merasa jika keseimbangannya sudah lebih baik. Joana melangkah dengan tatapan mematikan. Kemurkaan jelas terlihat dari raut wajahnya. Untuk mengalihkan perasaan meledak-meledak dalam hati. Joana mengepalkan telapak tangan sekuat mungkin, hingga buku-buku jarinya memutih.

Joana menyempatkan meraih sebuah gelas berisi koktail, yang entah milik siapa. Dengan menggenggam gelas di tangan kanan. Joana berdiri di hadapan Levin, yang masih memejam menikmati sentuhan dari kedua sisi.

Joana merasakan napasnya tercekat. Hingga suara cicitan saja tak mampu terucap.

Lengan kanannya terangkat dengan getar yang terlihat jelas.

Byur!

"Aaargh, sialan!"

"Kenapa? Aku mengganggumu?!" Joana tiba-tiba bisa mengeluarkan suara menusuk. Padahal sebelumnya area tenggorokannya terasa tercekat.

Manik hijau zamrud Joana menatap dengan tatapan membunuh. Netra yang biasanya memancarkan binar cinta itu seketika terlihat kosong tanpa arti.

Wajah Levin berubah pucat. Ekspresi yang sejak tadi menunjukkan kenikmatan, hilang seutuhnya berganti kegugupan luar biasa.

Adegan saat Joana menyiramkan minuman tadi. Ternyata memancing perhatian orang-orang yang berada di dekat mereka.

Berbeda dengan Levin yang tampak terkejut setengah mati melihat kehadiran Joana. Keempat wanita yang sejak tadi memberi service justru tampak santai. Seolah mereka sudah terbiasa dengan kejadian seperti ini. Hal itu semakin membuat Joana terbakar dalam hati.

"Joa, kenapa ... kenapa kamu di sini? I-ini tidak seperti yang kamu lihat. Perempuan-perempuan sialan ini yang lebih dulu merayuku. Aku tidak bermaksud mengkhia--"

"Cukup, Levin! Aku tidak mau mendengar alasan konyolmu. Kau sudah membohongiku. Menyakitiku. Mengkhianatiku, dan sekarang kamu ingin membodohiku juga? Kau pikir aku tidak punya otak untuk berpikir?! Bahkan orang bodoh sungguhan pun tahu kalau kamu menikmati sentuhan mereka, berengsek! Selera selingkuhmu terlalu rendahan!" maki Joana dengan napas memberat.

Dadanya bahkan terlihat naik-turun. Terlihat jelas jika dirinya sedang menahan ledakan emosi.

Beberapa orang yang mendengar ucapan Joana justru menanggapi dengan tawa terang-terangan.

"Joa, tolong maafkan aku. Aku bersumpah tidak akan melakukan hal ini lagi. Tolong beri aku kesempatan."

Joana lebih dulu menjauhkan tangannya, sebelum telapak tangan Levin berhasil meraih pergelangan tangannya.

"Masalah tadi pagi bahkan belum selesai, dan kau sudah mencari masalah lain yang lebih parah seperti ini. Seharian ini aku khawatir karena kau tidak menghubungiku! Kau tahu kalau aku hampir saja membuang ego untuk mencarimu lebih dulu sepulang dari sini?!" ujar Joana berapi-api.

Levin belum sempat menjawab. Sebab, suara Joana kembali terdengar lebih dulu.

"Ternyata seperti ini kelakuanmu. Mungkin saja setiap kali ada masalah, kau melampiaskannya dengan perempuan bayaran. Kau laki-laki paling hina yang pernah kutemui selama ini!" lanjut Joana mengeluarkan semua makian yang menumpuk dalam hati.

"Joa, kau salah paham. Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya--"

"Hei, penipu! Bisa-bisanya kau bilang tidak pernah melakukan ini sebelumnya? Aku bahkan sudah menghafal mukamu yang setiap malam setor cairan di sini. Benar, 'kan?!" salah seorang pria dengan tato yang memenuhi seluruh lengan berseru lantang, sembari meminta pendapat pada pengunjung yang lain.

Gelak tawa kembali terdengar. Sekarang lebih keras daripada sebelumnya. Tidak ada satupun di antara pelanggan kelab itu, yang tidak menganggukan kepala.

Levin terlihat mengetatkan rahang, dan langsung menghampiri pria yang baru saja berteriak lantang mengenai dirinya.

Brug!

Kepalan tangan Levin bergerak cepat menargetkan wajah pria tadi.

"HEI, SIALAN!"

"BERANI SEKALI KAU!"

"KALIAN YANG SIALAN!" Levin balik meneriaki mereka.

"Siapa yang menyuruh kalian ikut campur urusanku?! Urus saja jalang kalian masing-masing!" maki Levin sembari menunjuk para wanita yang mendampingi pria-pria itu.

"Cuih! Kami memang pemain perempuan. Tapi kami tidak sepertimu yang masih bisa bicara omong kosong di tempat ini. Sudah jelas bersalah, tapi masih membela diri. Kau terlihat seperti tidak punya harga diri!" salah satu dari sekumpulan pria itu menyahut seraya menunjuk wajah Levin.

Demi Tuhan! Joana sudah sangat malu dengan keadaan ini. Sampai-sampai semua kalimat yang ingin diucapkan menghilang total dari benaknya.

Joana yang sudah tidak tahan berada di tempat itu, lantas memilih pergi. Dia sudah tidak bisa melihat tingkah Levin. Pria itu tidak hanya mengabaikannya, tetapi hendak mengajak orang lain bertengkar pula.

Hal yang paling Joana syukuri malam ini adalah ia datang bertepatan dengan waktu weekend. Banyaknya pengunjung yang hadir, membuatnya dengan mudah menghilang dan tak terlihat oleh Levin.

Semakin jauh meninggalkan lokasi Levin tadi. Kekuatan kakinya pun perlahan mulai melemah lagi. Joana terus memaksa berjalan dengan pandangan berkaca-kaca.

Demi mengalihkan rasa sakit hatinya, dan menahan desak air matanya yang ingin keluar. Joana menggigit bibir dalam sekuat yang dia mampu. Hingga merasakan karat dari bibirnya yang terkoyak.

"Astaga, Joa. Kau dari mana saja?! Aku mencarimu dari tadi!"

Joana mengabaikan pertanyaan Vinka, yang terdengar sangat khawatir.

"Shake-kan wiski, tequila, vodka atau apapun itu yang bisa membuatku mabuk sampai pingsan!" Joana tiba-tiba memesan sambil menepuk meja bar.

Sang pria bartender tampan itu hanya merespon dengan senyum lebar, sembari menyiapkan pesanan Joana.

"Joa, kau gila?! Kau sudah mulai mabuk. Kenapa menambah minuman yang kadar alkoholnya tinggi lagi?! Tidak! Kau harus minum yang rendah--"

"Vinka, please! Untuk malam ini bisakah kau tidak melarangku lagi? Aku ... aku hanya ingin minum," lirih Joana. Tatapannya terlihat kosong dan berembun.

Menyadari jika telah terjadi sesuatu pada Joana. Vinka sampai terdiam. Hanya berselang beberapa detik. Vinka meraih tubuh Joana untuk dipeluk.

"Katakan manusia biadab mana yang sudah menyakitimu? Aku akan menghajarnya untukmu," bisik Vinka sembari mengelus punggung Joana. Terlebih saat merasakan pundak Joana bergetar disertai dengan cairan hangat yang membasahi ceruk leher Vinka.

"Le-levin. Dia--"

"JOANA?!"

Ucapan Joana terpotong begitu mendengar teriakan Levin. Joana seketika melepas pelukan Vinka. Bersamaan dengan Vinka yang langsung menoleh ke belakang, dan menemukan Levin yang menatap sekitar.

"Laki-laki sialan itu. Aku akan membunuhnya! Kau tunggu di sini." Vinka tiba-tiba berdiri dengan raut wajah tegang menahan amarah.

Di antara semua orang yang mengenal Joana. Vinka adalah sosok yang paling tahu Joana luar-dalam.

Joana bukan tipe wanita cengeng. Namun, ketika wanita itu tidak bisa lagi menahan tangisnya. Maka bisa dipastikan seseorang telah menyakitinya begitu dalam, dan Vinka tahu itu.

Joana yang tidak ingin tinggal lebih lama di tempat itu, lantas meraih dua botol tequila, kemudian membawanya pergi tanpa membayar.

Sang bartender tidak menahan, karena tahu Vinka akan kembali dan membayar minuman-minuman itu.

Joana terus berjalan tanpa arah dan memasuki lift yang membawanya ke lantai dua, sambil meneguk minuman itu langsung dari bibir botol

Prang!

Joana terjatuh hingga botol yang berada di tangan kanannya membentur lantai.

Susah payah Joana berdiri. Sebab, efek minuman itu mulai bekerja, merenggut akal sehatnya.

"Levin berengsek! Binatang itu kenapa tidak mati saja?!" Joana meracau sambil mendorong beberapa pintu kamar VVIP.

"Buka! Buka!" dengan mata yang hampir tertutup, Joana terus mengendor pintu kamar di lantai itu. Namun, sayang semua pintu itu tidak ada yang terbuka.

Hingga saat Joana berdiri di pintu kamar terakhir. Tanpa ragu, Joana langsung mendorong pintu kamar tersebut.

Brak!

Joana yang kehilangan keseimbangan seketika tersungkur ke lantai.

"Siapa kau?" suara bariton yang terdengar sexy itu membuat Joana terkekeh layaknya orang gila.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Penyesalan Dan Pembebasan
8.6
Setelah sepuluh tahun menanggung kebencian Irfan pasca-pernikahan paksa mereka, sang protagonis akhirnya kehilangan pria itu dalam misi penyelamatan yang tragis. Diiringi penyesalan keluarga dan tuduhan sebagai pembawa sial, ia memilih mengakhiri hidupnya dengan racun. Namun, sebuah keajaiban membawanya terbangun kembali di malam sebelum hari pernikahan mereka. Sadar akan penderitaan masa lalu, kali ini ia bertekad untuk merelakan hubungan mereka dan memilih jalan hidup yang berbeda.
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Istri Pengganti
9.5
Liburan semester seorang gadis hancur saat dipaksa Sabda Ahmad dan istrinya menjadi pengantin pengganti. Kakaknya, Asma, mendadak kabur misterius menjelang pernikahan. Tanpa pilihan, ia harus menikahi Adam Kusuma Wardana, cucu tunggal dari Juragan Zein. Di tengah ketidakpastian dan tanda tanya besar mengenai alasan hilangnya sang kakak, sanggupkah ia menjalani pernikahan yang diawali keterpaksaan ini?
Sampul Novel Diuber Janda
8.8
Amin, seorang montir, mendambakan cinta dari gadis perawan. Namun, takdir justru membawanya ke situasi kocak yang tak terduga. Bukannya mendapatkan wanita impian, ia malah menjadi target buruan para janda di lingkungannya. Mereka bersaing ketat demi memikat hatinya, membuat perjalanan asmara sang montir menjadi sangat rumit dan penuh dengan rintangan jenaka.
Sampul Novel Kaca yang Pecah
9.6
Setelah delapan tahun perjuangan dan ribuan alat tes kehamilan, penantian itu akhirnya membuahkan hasil. Suwanto, sang suami yang selalu mencintainya tanpa syarat, sangat bahagia hingga berjanji memberikan segalanya. Ibu mertuanya pun kini berbalik memperlakukannya bagai permata demi kelangsungan bisnis Keluarga Hadi. Namun, di tengah kegembiraan keluarga besar ini, sebuah keputusan mengejutkan telah diambil. Sang istri sama sekali tidak berniat untuk melahirkan anak di dalam kandungannya.
Sampul Novel Mas Brewok
8.8
Menyamar demi menjadi sosok impian Yusuf Muhammad justru merenggut kesucian Nur akibat ketidaksengajaan. Di balik pesona Yusuf yang memikat, Nur didera penyesalan mendalam lantaran kepalsuan yang ia bangun. Hatinya kian tersiksa menyadari dirinya hanyalah pengganti sementara. Saat rahasia ini terbongkar, akankah Yusuf tulus menerima cintanya, atau malah membalas dendam atas dusta tersebut? Simak kisah asmara penuh risiko dalam drama dewasa ini.
Sampul Novel Menaklukan CEO Mesum
8.2
Demi menyelamatkan sang ibu dari jeruji besi akibat penggelapan dana satu juta dolar, Bianca nekat menemui CEO pusat di Singapura, Steve Dvalton. Namun, Steve justru menawarkan kesepakatan gelap yang menuntut Bianca menjadi pemuas nafsunya. Terjebak dalam dilema besar antara kesetiaan pada sang kekasih dan keselamatan ibunya, Bianca terpaksa masuk ke dalam hubungan intim yang penuh tipu muslihat. Di sisi lain, Steve merasa sangat tertantang oleh keliaran Bianca di ranjang.