APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Misteri Bangku Kosong

Misteri Bangku Kosong

Memasuki SMA swasta elite sebagai murid pindahan baru, aku langsung dihadapkan pada kejanggalan di ruang kelas. Di barisan belakang, terdapat sebuah meja dan kursi merah tua yang dibiarkan kosong. Anehnya, seluruh teman sekelas memperlakukan bangku mati itu seolah-olah berpenghuni, bahkan menyapa dan mengajaknya berbicara setiap hari. Di sekolah baru ini, semua orang tampaknya bisa melihat sosok tak kasat mata yang menduduki tempat tersebut, menyisakan aku sebagai satu-satunya orang yang tidak menyadari kehadiran misterius itu.
Bab
Bagikan

Bab 3

....

Aku semakin bingung, jadi aku bertanya pada Laura, "Laura, kamu kenal Nadia?"

Laura menunjuk meja di sebelahnya, tapi tidak mengatakan apa-apa.

Aku lalu menepuk bahu siswa laki-laki yang duduk di depanku.

Dia berbalik dan menatapku bertanya-tanya.

"Nadia yang sering kalian panggil-panggil itu siapa? Setahuku, nggak ada yang namanya Nadia di kelas, 'kan?"

Kelas sangat ramai. Karena takut dia tidak mendengar ucapanku dengan jelas, aku agak mengeraskan suaraku.

Tapi kelas seketika sunyi. Siswa yang duduk di depanku buru-buru menoleh ke belakang dengan wajah pucat, memegangi kepalanya dan bergumam.

"Bukan salahku. Aku nggak tahu, aku nggak tahu."

Paula memaksakan senyum dan berkata, "Farah, kamu ini gimana? Nadia 'kan di sebelah Laura, kamu nggak lihat?"

Kelas menjadi hidup kembali.

Semua orang memperkenalkan Nadia dengan kata-kata masing-masing.

"Nadia sangat cantik. Kulitnya putih, matanya lebar, paling cantik di kelas kita! Masa kamu nggak merhatiin?"

"Iya, Farah, Nadia itu favorit di kelas kita. Jangan cuekin dia."

"Kulit Nadia mulus, alisnya tipis melengkung. Alis alami, bukan make-up. Ya 'kan, Nadia?"

"Aku iri sama warna bibir Nadia. Merahnya cerah alami. Lihat bibirku, jelek banget."

Mereka berebut untuk bicara, seperti takut terlambat.

Ketika aku menoleh ke belakang, meja dan kursi yang kosong masih tetap kosong.

Matahari tengah hari sedang terik-teriknya. Garis-garis sinarnya jatuh ke atas meja itu, membingkai kata "pelacur".

Laura tersenyum tipis.

Tampak persis seperti Nadia cantik yang mereka gambarkan.

Pelajaran olahraga sore itu gabungan dari dua kelas. Saat waktu bebas, Bastian menarik pergelangan tangan Laura, memaksa ditemani ke ruang peralatan untuk mengambil bola basket.

"Ayo Laura, waktu kita terakhir ke ruang peralatan itu asyik, 'kan?"

Mata Laura diwarnai rasa takut. Dia berjuang untuk melepaskan diri dari cengkeraman Bastian.

Aku buru-buru melangkah maju dan melindungi tubuh Laura.

"Bastian, ambil benda seringan bola basket saja perlu ditemani anak perempuan?"

Bastian melepaskan pergelangan tangan Laura dan pergi dengan marah.

Sebelum aku sempat berkata apa-apa, Laura berkata dengan pandangan tertunduk, "Terima kasih."

Aku takut dia akan diganggu lagi, jadi aku berkata, "Aku bisa melawannya, Laura. Jangan takut aku kena masalah, panggil aku kapan saja kalau kamu butuh sesuatu."

Dia tiba-tiba mendongak, bekas tamparan yang masih membekas di wajahnya tampak sangat mencolok. Matanya yang cokelat gelap memeram banyak emosi yang tidak dapat kumengerti, termasuk benci, amarah, dan rasa tersentuh.

Dia menarik napas dalam-dalam. "Farah, kamu anak baik. Jangan pedulikan aku."

Melihat wajahku yang tidak mengerti, dia membisikkan sesuatu yang tidak dapat kupahami.

"Kamu tadi pagi bilang kalau kamu nggak bisa lihat Nadia. Kata-katamu itu membuat gembok di tubuhnya terbuka."

Aku segera bertanya apa maksudnya.

Tapi dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menggelengkan kepalanya tanpa suara dan berbalik pergi, duduk di dekat petak bunga.

Seorang siswa laki-laki kelas sebelah menghampiriku setelah melihat Laura pergi. "Kamu anak pindahan itu, ya?"

Dia memegangi bola basket dan tersenyum cerah, terlihat seperti anak yang supel.

Aku tidak menjawab pertanyaannya dan balik bertanya dengan sedikit bersemangat, "Kamu tahu ada yang namanya Nadia di kelas kami?"

Dia menggaruk kepalanya dan mencoba mengingat-ingat.

"Nadia ... ingat, ingat! Dia anak yang dulu mencontek waktu ujian. Memangnya kenapa? Kamu anak pindahan, 'kan? Harusnya kamu nggak tahu dia. Dia sudah meninggal."

Meninggal?

Lalu siapa yang mereka ajak bicara setiap hari?

Nadia itu tidak ada!

Ketika anak laki-laki itu melihat wajahku tiba-tiba pucat, dia menyodorkan kola yang masih tersegel kepadaku. "Kenapa? Lemas belum makan siang? Minum ini."

Aku menolak tawarannya, mencoba mengendalikan suaraku yang gemetar.

"Dia meninggal kenapa?"

"Kayaknya kecelakaan? Aku dengar dari anak-anak kelas kalian kalau Nadia itu secantik Laura. Tapi aneh, kenapa aku nggak pernah lihat gadis secantik itu sejak masuk?"

"Tapi," bisiknya sambil mencondongkan tubuh lebih dekat padaku. "Aku dengar katanya Nadia ini sangat terkenal. Sampai-sampai dia meninggalkan meja dan kursinya di kelas sebagai kenang-kenangan setelah kematiannya. Beneran ada meja kursi kosong punya dia di kelasmu?"

Benar.

Meja dan kursi tua berwarna merah yang dicoret-coret.

Langit kembali mendung.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alkisah Bunga Teratai
9.8
Tujuh pemuda berkekuatan mistik dahsyat dipersatukan dalam tim khusus yang terinspirasi dari simbol reinkarnasi teratai. Dipimpin Sagara Widyatama, mereka berlatih keras demi menertibkan dunia supranatural yang kian kacau. Namun, misi maut ini bukan sekadar laga fisik biasa. Sosok Sagara perlahan menyingkap tabir misteri tentang ikatan mendalam yang pernah menyatukan mereka semua di kehidupan masa lalu.
Sampul Novel CODE: FAUST
7.9
Sejak virus misterius mengubah makhluk hidup menjadi mutan pada 2028, Bumi hancur. Memasuki tahun 2036, faksi Government dan Black Beast saling bertikai memperebutkan kekuasaan di atas puing peradaban. Di tengah kekacauan ini, Dr. Plague, profesor bermasa lalu kelam, bertekad menebus dosa dengan mengembalikan kedamaian. Ia harus bertahan dari radiasi dan perang saudara sembari membongkar konspirasi besar di balik wabah mematikan tersebut.
Sampul Novel Kuyang Kalimantan
9.1
Legenda kuno penghisap darah menyebarkan teror mistis di tanah Kalimantan. Makhluk gaib ini mengincar ibu hamil dan perempuan yang sedang melahirkan. Menghadapi ancaman mengerikan tersebut, hukum adat menjadi benteng pertahanan terakhir yang mutlak. Seluruh masyarakat, termasuk warga suku asli, dilarang keras melanggar pantangan suci turun-temurun. Kelalaian kecil dalam mematuhi aturan adat ini dipastikan akan mendatangkan malapetaka yang sangat fatal bagi mereka.
Sampul Novel Mengejar Dosen Duren
9.4
Jelita terbangun dengan tragis setelah tubuhnya dipinjam oleh Elizabeth, hantu istri dosennya, Daniel Danuarja. Elizabeth ternyata memanfaatkan raga Jelita untuk bercinta dengan Daniel hingga merenggut kesuciannya. Saat sadar, Jelita mendapati arwah Elizabeth mulai memudar dan hampir musnah. Di tengah amarah besar akibat dikhianati, kini Jelita harus terjebak dalam pusaran skandal yang rumit bersama dosennya tersebut.
Sampul Novel Pengobatan Khusus Tabib Desa
9.3
Saat merayakan Hari Raya di sebuah desa terpencil yang jauh dari rumah sakit, seorang gadis mengalami sakit perut parah akibat salah makan. Tanpa pilihan lain, ia mendatangi tabib tua setempat untuk meminta bantuan pijat medis. Namun, situasi berubah mencekam ketika tabib tersebut memaksa melepas celananya dengan dalih membuang hawa jahat. Begitu menyadari kondisi korbannya, nafsu liar sang tabib memuncak hingga ia nekat menyerang gadis malang tersebut di tengah keterasingan desa.
Sampul Novel Perempuan dan Kuasanya
8.2
Setelah suaminya menyebarkan video persalinannya ke situs terlarang, hidup wanita ini hancur akibat perundungan siber. Upaya hukum orang tuanya justru berakhir tragis dengan kematian mereka akibat ditabrak oleh pihak tergugat. Di tengah kondisi fisik yang lemah, ia diusir mertua dan suaminya pada tengah malam, lalu disiksa hingga tewas oleh sekelompok orang kejam. Jasadnya dikubur diam-diam di gunung terpencil oleh sang suami. Namun, maut bukanlah akhir. Ia tiba-tiba terbangun kembali di hari pertama ia melahirkan anaknya.