APKDock Logo
Sampul Novel Pengobatan Khusus Tabib Desa

Pengobatan Khusus Tabib Desa

9.3 / 10.0
Saat merayakan Hari Raya di sebuah desa terpencil yang jauh dari rumah sakit, seorang gadis mengalami sakit perut parah akibat salah makan. Tanpa pilihan lain, ia mendatangi tabib tua setempat untuk meminta bantuan pijat medis. Namun, situasi berubah mencekam ketika tabib tersebut memaksa melepas celananya dengan dalih membuang hawa jahat. Begitu menyadari kondisi korbannya, nafsu liar sang tabib memuncak hingga ia nekat menyerang gadis malang tersebut di tengah keterasingan desa.

Pengobatan Khusus Tabib Desa Bab 1

"Paman, apa pijat itu memang harus melepas celana juga?"

Saat merayakan Hari Raya di desa, aku tidak sengaja salah makan hingga perutku sakit. Di daerah pelosok yang jauh dari rumah sakit ini, aku tidak punya pilihan selain mencari tabib tua di desa untuk memijatku.

Siapa sangka, tiba-tiba dia menanggalkan celanaku dan berkata, "Kamu nggak mengerti, hanya dengan cara inilah hawa jahat di tubuhmu bisa dikeluarkan!"

Padahal, tubuh bagian bawahku sudah basah kuyup. Saat celana itu terlepas, dia menyadari segalanya.

Nafsu binatangnya memuncak, dan dalam sekejap, dia menerjangku.

Namaku Soraya Maria, seorang istri yang kesepian.

Aku tipe wanita yang akan merasa tidak nyaman di sekujur tubuh jika tidak melakukan hal “itu” sehari saja.

Sudah tujuh tahun aku menikah dengan suamiku, tapi dia seperti daun layu yang sama sekali tidak bisa memuaskanku.

Tubuhku terasa kian kering, sangat membutuhkan badai hebat untuk melembapkannya.

Menjelang akhir tahun, suamiku membawaku pulang ke kampung halamannya untuk merayakan tahun baru.

Tak kusangka, ibu mertuaku sangat jorok. Air yang digunakan untuk mencuci piring saja sampai berbau busuk.

Makanan pun sudah hampir basi.

Baru makan beberapa suap, aku langsung merasa tidak enak badan.

Perutku melilit hebat, rasanya seperti sedang diaduk-aduk.

Aku pun bergegas lari ke toilet.

Toilet di desa sangat sederhana, bahkan tidak ada pintunya. Jika melepas celana, bokong yang polos bisa terlihat jelas oleh orang lain.

Karena terburu-buru, aku lupa membawa tisu, sehingga terpaksa meminta adik iparku untuk mengantarkannya.

Adik iparku masih mahasiswa jurusan olahraga. Tubuhnya kekar berotot dengan kulit gelap.

Saat dia membawakan tisu, matanya langsung terbelalak menatapku.

Aku baru sadar bahwa bagian bawahku telah terlihat sepenuhnya olehnya.

Perasaan saat area pribadiku diperhatikan dengan lekat itu, justru membuatku merasa bergairah sekaligus malu.

Tubuhku mulai terasa panas, ada rasa gatal yang membuatku sangat menginginkannya.

Setelah keluar dari toilet, perutku masih saja terasa sakit.

Aku bertanya pada suamiku, "Rumah sakit di sekitar sini ada nggak? Aku pasti salah makan, sudah sakit banget!"

Suamiku menggelengkan kepala dengan raut wajah tidak sabar.

"Kenapa cuma kamu yang sakit perut padahal kita makan makanan yang sama? Di desa mana ada rumah sakit. Jangan cari-cari masalah, bisa nggak?"

Di saat aku merasa kecewa, ibu mertuaku memberi tahu, "Di desa kita ada tabib tua. Kami biasanya berobat ke sana kalau sakit, lebih manjur daripada dokter-dokter itu."

"Dia tinggal di ujung barat desa. Sesampainya di sana, panggil saja Paman Tobi, katakan kalau aku yang merekomendasikannya."

Aku mengangguk. Untuk saat ini, hanya Paman Tobi satu-satunya harapanku.

Tak lama kemudian, aku tiba di rumah Paman Tobi. Dia berusia sekitar lima puluh tahunan awal, tetapi tubuhnya tampak sangat bugar.

Benar-benar tabib tua yang pandai merawat diri. Aku jadi penasaran bagaimana kemampuannya di "bidang itu".

Aku menjelaskan maksud kedatanganku dan betapa sakit perutku ini.

Setelah mendengar penjelasanku, dia mengangguk pelan dan menunjuk ke arah tempat tidur di kamar.

"Ini gampang, aku hanya perlu mengeluarkan hawa jahat dari perutmu."

"Berbaringlah di tempat tidur, aku akan memijatmu sebentar."

Hanya ada satu tempat tidur di kamar itu, jelas sekali itu adalah tempat tidurnya.

Saat aku berbaring di sana, ada rasa kegembiraan yang samar dalam hatiku.

Ini pertama kalinya aku berbaring di tempat tidur pria lain.

Di desa memang kondisinya seperti ini, jadi terpaksa dipakai seadanya dulu.

Meski tempatnya sederhana, tetapi peralatan Paman Tobi cukup lengkap.

Dia menyeduhkan secangkir ramuan obat untukku dan menyuruhku meminumnya.

"Ini obat herbal untuk sakit perutmu. Minumlah, lalu aku akan memijatmu."

Setelah meminumnya, sekujur tubuhku mendadak terasa panas membara.

Kemudian dia mengeluarkan sebuah kotak peralatan yang berisi berbagai macam alat pijat.

Sekilas, aku melihat ada mainan "seperti itu" di dalamnya!

Ini benar-benar tidak beres. Ternyata layanan Paman Tobi cukup luas jangkauannya.

Detik berikutnya, dia menyingkap bajuku, memperlihatkan perutku yang mulus.

Tubuhku menegang. Sensasi saat seorang pria menyingkap bajuku terasa cukup merangsang, hingga aku mulai menantikan apa yang akan dilakukan Paman Tobi padaku.

Dia mengambil sebotol minyak esensial dan meneteskannya ke perutku.

Rasanya dingin, mengalir perlahan mengikuti lekuk pinggangku.

Paman Tobi menjulurkan kedua tangannya, lalu mulai memijat perutku dengan lembut dan perlahan.

Tangan besarnya yang kasar dan kapalan itu, justru memberikan rangsangan aneh saat menyentuh kulitku.

Tak butuh waktu lama, minyak esensial telah merata di perutku.

Sensasi licin berpadu dengan telapak tangan Paman Tobi yang hangat, membuat suhu tubuhku meningkat, bahkan area di antara kedua kakiku mulai bergejolak.

Paman Tobi memegang kedua sisi pinggangku, sementara kedua jempolnya yang besar menekan lembut di sekitar pusar.

Harus diakui, teknik Paman Tobi memang hebat, rasa sakit di perutku jauh berkurang.

Namun di detik berikutnya, telapak tangannya menyelinap ke balik bajuku dan perlahan bergerak ke atas.

Aku terkejut dan bertanya dengan panik, "Pa-Paman Tobi, apa yang Paman sentuh? Yang sakit itu perutku, bukan dadaku."

Tangan Paman Tobi sama sekali tidak berhenti. Dia justru menyingkap bajuku sepenuhnya, memperlihatkan sepasang "bukit" yang bulat sempurna.

Matanya sampai terbelalak, lalu dia memuji, "Tak kusangka, ternyata milikmu besar juga."

Aku sangat malu hingga rasanya "cairanku" hampir mengalir keluar. Melihat diriku dalam kondisi seperti ini di hadapannya membuat wajahku terasa panas.

"Paman Tobi, apa yang sedang Paman lakukan?"

Lanjut Membaca

Daftar Isi Pengobatan Khusus Tabib Desa

Ch. 1 Ch. 2
Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Benih Sang Paranormal
8.6
Intan, desainer sukses berusia 30 tahun, begitu fokus pada karier hingga mengabaikan asmara. Status lajangnya memicu gunjingan tetangga dan tekanan dari ibunya, Sukma. Terbebani situasi ini, Intan mencurahkan isi hatinya kepada sang sahabat, Luna. Menyadari sikap dingin Intan pada pria, Luna curiga ada pengaruh sihir di baliknya dan menyarankan pengobatan alternatif. Benarkah ada kekuatan gaib yang selama ini menghalangi jodoh Intan?
Sampul Novel Istri Ke-4 Kesayangan Tuan Mafia
8.0
Hidup Aneisha hancur setelah diculik dan dipaksa menjadi istri keempat Zuan Lee, bos mafia kejam. Tak tahan disiksa suami dan tiga istri madunya, ia mencoba mengakhiri hidup namun gagal. Aneisha lalu kabur dan diselamatkan Xavier, musuh bisnis Zuan. Bersama Xavier, ia bangkit menjadi sosok wanita yang kuat dan memikat. Saat takdir mempertemukannya kembali dengan Zuan yang masih terobsesi padanya, sanggupkah mantan suaminya itu menaklukkan hati Aneisha yang kini berani menentangnya?
Sampul Novel Jovanca Sang Penggoda
7.9
Jovanca, yatim piatu berparas menawan, lelah berjuang sendirian melawan kerasnya kemiskinan dengan kerja serabutan. Demi mencari hiburan, ia mulai memanfaatkan kecantikannya untuk memikat para pria. Sialnya, permainan ini berbalik menjadi petaka saat ia diburu banyak pria beristri. Di tengah kemelut tersebut, Jovanca justru jatuh hati pada sosok lelaki lain. Akankah ia berhasil keluar dari jerat intrik asmara ini demi meraih kebahagiaan sejati?
Sampul Novel Kurawat Dengan Cinta, Dibalas Dengan Pengkhianatan
9.4
Selama tiga tahun, Claire Nolan merawat suaminya, Julian Westwood, yang lumpuh. Bukannya dihargai, Julian malah membencinya hingga tega mengunci Claire di luar rumah selama 99 hari. Saat bisa berjalan lagi, Julian justru langsung menjemput cinta pertamanya di bandara. Sadar kasih sayangnya tak dihargai, Claire memutuskan mengakhiri kontrak dan meminta cerai. Kepergian Claire akhirnya meninggalkan penyesalan mendalam bagi Julian yang terlambat menyadari segalanya.
Sampul Novel putus cinta
9.5
Dalam hubungan asmara ini, daya tarik utama kekasihku terletak pada tahi lalat di pipinya. Tanda lahir tersebut memancarkan pesona yang sangat manis, khususnya ketika dia tersenyum lebar. Aku bersyukur ukurannya pas dan tidak berlebihan. Sungguh tak terbayangkan jika ukurannya sebesar bola tenis; membayangkannya saja sudah membuatku merasa ngeri. Keunikan fisik yang proporsional inilah yang selalu berhasil memikat hatiku.
Sampul Novel Tangisan Bayi Di depan Pintu Rumahku
9.7
Dua tahun membina rumah tangga dengan Gibran, aku belum juga dikaruniai anak. Kondisi ini membuat ibu mertua membenciku dan terus menuntut perceraian atau poligami, walau usahanya selalu kuhalangi. Suatu pagi, kedamaian kami terusik oleh suara tangisan bayi yang misterius, padahal tidak ada tetangga sekitar yang memiliki bayi. Begitu pintu dibuka, aku terkejut mendapati bayi merah di dalam kardus dengan tali pusar yang belum lepas. Siapa orang tua bayi ini dan mengapa ditaruh di sini?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan