APKDock Logo
Sampul Novel Menjadi Korban Manipulasi Kekasih Kakakku

Menjadi Korban Manipulasi Kekasih Kakakku

8.4 / 10.0
Akibat fitnah kejam dari wanita pilihan kakaknya, Nadia dituduh melakukan perundungan. Sang kakak yang murka mengirimnya ke sekolah perempuan demi memperbaiki moralnya. Sejak itu, Nadia berubah menjadi adik yang penurut dan tidak pernah menuntut apa pun. Namun, kepatuhan dingin ini menyembunyikan luka luar biasa. Begitu sang kakak membaca laporan medis Nadia, ia kehilangan kendali dan memohon dengan sangat agar adik yang telah ia sia-siakan itu bersedia memanggilnya "Kakak" sekali lagi.

Menjadi Korban Manipulasi Kekasih Kakakku Bab 1

Wanita yang disukai kakakku memfitnahku merundungnya.

Kakak yang selama ini hidup saling bergantung denganku pun marah, mengirimku ke sekolah perempuan untuk memperbaiki moralku.

Sejak itu, aku menjadi adik yang dia harapkan. Penurut, tidak iri, tidak menuntut apa pun.

Namun, setelah melihat laporan medis tentangku, dia mendadak kehilangan kendali.

"Nadia, kumohon, panggil aku 'Kakak' sekali lagi!"

Hari aku pulang, turun hujan deras. Kakak tidak datang menjemputku.

"Merry nggak enak badan, kamu pulang sendiri saja." Di telepon, suaranya dingin dan tanpa perasaan.

Aku diam-diam membereskan barang-barang, lalu berjalan pulang. Padahal aku hanya dikurung di sekolah selama setahun, tetapi aku malah lupa jalan pulang.

Hari itu ketika kakak mengantarku pergi, waktu di jalan terasa begitu singkat. Singkat sampai aku tak sempat menjelaskan kepadanya bahwa bukan aku yang mendorong Merry jatuh dari tangga. Singkat sampai aku tak sempat meredakan amarah Kakak, sebelum akhirnya dia mendorongku masuk ke kurungan gelap tanpa siang malam itu.

Meskipun aku sudah berjalan lama di bawah hujan dan pakaianku basah kuyup, aku tetap tidak bisa sampai rumah. Mungkin, aku memang sudah tidak punya rumah lagi.

Ayah dan Ibu meninggal terlalu dini, aku dan kakak saling bergantung untuk hidup. Namun sekarang, demi Merry, Kakak tidak menginginkanku lagi.

Selama lebih dari setahun, dia sama sekali tidak menjengukku. Pernah suatu kali aku sakit parah dan sangat ingin pulang, sangat rindu Kakak. Namun, ketika aku meneleponnya, sebelum aku selesai berbicara, dia sudah menutup telepon.

"Jangan bertingkah sok menyedihkan di depanku." Itu adalah ucapannya saat itu.

Kakak meninggalkanku. Aku benar-benar tidak bisa menemukan jalan pulang.

....

"Kamu buat masalah apa lagi? Sudah setahun di dalam sana, ternyata masih manja begini?" Kakak buru-buru masuk ke kantor polisi. Melihatku yang basah kuyup, alisnya mengerut, lalu dia memarahi tanpa ampun.

"Hari ini Merry sakit, makanya aku nggak menjemputmu. Kamu ini sudah besar, masa masih nggak bisa pulang sendiri? Harus buat drama begini juga? Masih berharap aku akan terus menurutimu?"

"Maaf, Kak. Aku nggak sengaja, aku sungguh lupa jalan pulang." Kakiku gemetar. Begitu mendengar nada marahnya, tubuhku langsung bereaksi dengan rasa takut. Badanku yang sudah menggigil, kini terasa semakin membeku.

Melihat Kakak terdiam dengan wajah tak bersahabat, aku langsung berlutut. "Ini salahku, salahku .... Kak, maafkan aku, jangan ... jangan kirim aku kembali ke sana. Aku pasti akan menurut, Kak."

Para polisi sampai kebingungan. Mereka buru-buru menolongku berdiri sambil menasihati Kakak dengan lembut, "Bawa pulang saja, jangan mempermalukan diri di sini."

Dengan ekspresi tegang, Kakak berbalik, lalu berjalan pergi. Aku terus mengikutinya dari belakang, selangkah pun tak berani jauh.

Sebelum naik mobil, aku dengan hati-hati menaruh pakaianku di kursi untuk alas duduk.

"Kamu ngapain?" Kakak mengerutkan kening menatapku.

Aku menunduk, suaraku lirih. "Pakaianku basah, aku takut mengotori mobil Kakak."

Kerutan di dahinya semakin dalam. Aku tahu dia tidak senang, jadi aku menunduk lebih rendah lagi.

Setelah waktu yang cukup lama, baru terdengar suara tidak sabarnya. "Masuk mobil!"

....

Apa aku sudah terlalu lama tidak pulang? Rumah tempat aku dan Kakak tinggal selama belasan tahun, kini terasa begitu asing.

Foto aku dan Kakak yang dulu tergantung di ruang tamu sudah menghilang, berganti foto Kakak bersama Merry.

Sofa krem yang dulu kupesan khusus bersama Kakak sudah tidak ada, berubah menjadi sofa warna merah muda yang tidak kusukai. Kamarku pun berubah total, semua barang milikku lenyap, setiap sudut dipenuhi aroma orang lain.

"Nadia sudah pulang?" Merry keluar dari kamar Kakak, senyuman manis terukir di wajahnya.

"Kamu nggak di rumah, jadi aku ajak Merry tinggal di sini. Kakinya sakit gara-gara dulu kamu dorong dia sampai jatuh, jadi kamu harus lebih pengertian. Aku sudah suruh orang beresin kamar kecil di loteng, mulai sekarang kamu tinggal di atas."

Kakak berjalan mendekat, merangkul tangan Merry. Aku menatap ke arah kamar gelap di lantai atas. Dulu tempat itu hanya untuk menyimpan barang-barang. Tidak apa-apa ... setidaknya masih ada tempat untuk tidur.

Di sekolah dulu, delapan orang harus berdesakan dalam asrama kecil tanpa ventilasi. Saat cuaca panas, aku sering terbangun di tengah malam. Tubuhku pun basah seakan-akan baru saja diangkat dari air. Rasa sesak itu seperti ada batu besar yang menekan dadaku.

Namun, itu masih belum seberapa. Yang paling menakutkan adalah suatu malam tak lama setelah aku baru masuk sekolah.

Dalam keadaan setengah tidur, aku merasakan ada tangan yang merabaku. Aku sontak membuka mata, lalu mendapati sepasang mata penuh nafsu.

Aku berteriak kencang, tetapi mulutku dibekap erat. Aku tak bisa bersuara dan hanya bisa berjuang mati-matian. Aku jelas melihat teman sekamarku membuka mata. Mereka menyaksikan semuanya, tetapi tidak seorang pun yang maju menghentikannya.

Sejak saat itu, aku tidak pernah tidur nyenyak lagi di sana. Dibandingkan itu, tempat ini bersih dan rapi. Meskipun kecil, bagiku sudah cukup baik bisa punya tempat untuk bernaung.

"Nadia, aku mengambil kamarmu. Kamu nggak keberatan, 'kan?" Merry tersenyum munafik. Aku tahu itu adalah provokasinya padaku.

Dulu dengan sifat asliku, menghadapi perempuan munafik semacam ini, aku selalu lebih suka menggunakan tangan daripada kata-kata.

Aku dan Merry memang tidak akur sejak pertama bertemu. Aku benci wanita yang penuh kepura-puraan seperti Merry, tetapi dia selalu saja menggangguku.

Di pesta perpisahan sekolah, dia sengaja jatuh dari tangga di depan mataku. Saat orang-orang berlari menghampiri, menyaksikan adegan itu, mendengar tangisan dan tuduhan memilukan dari Merry, semuanya langsung percaya aku adalah gadis jahat yang menindas teman.

Aku nggak akan pernah lupa tatapan kakak waktu itu. Dia menggendong Merry dalam pelukannya, lalu memandangku dengan tatapan penuh kekecewaan, kemarahan, dan rasa jijik. "Kamu benar-benar membuatku kecewa. Aku nggak punya adik sepertimu."

Namun, aku sungguh tidak mendorongnya.

Hari itu, aku menunggu Kakak pulang di rumah sangat lama. Dia tidak pulang, bahkan tidak mengangkat teleponku. Yang datang hanyalah sekretarisnya, membawa tamu tak diundang, menyeretku masuk ke mobil.

Tanpa memberiku kesempatan sedikit pun untuk menjelaskan, Kakak langsung mengurungku di sekolah perempuan.

"Aku gagal mendidikmu, jadi kamu tinggal di sana saja. Introspeksi diri baik-baik, tebuslah kesalahanmu kepada Merry."

Sejak saat itu, aku sadar aku tidak mungkin menjadi tandingan Merry. Bukan karena aku lebih lemah darinya, melainkan karena hati kakak sudah lebih dulu berpihak kepadanya.

Jadi, meskipun dia merebut kamarku, bagaimana aku berani menunjukkan rasa tidak puas?

Lanjut Membaca

Daftar Isi Menjadi Korban Manipulasi Kekasih Kakakku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Kisah romansa modern ini mengikuti perjalanan emosional David dan Arina dalam menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah keindahan bunga musim semi yang bermekaran, keduanya belajar saling memahami dan mengisi kekosongan hati masing-masing. Hubungan mereka pun tumbuh dengan indah seiring waktu, membuktikan bahwa satu musim yang singkat mampu menyatukan dua jiwa dalam sebuah ikatan cinta yang tulus serta sangat mendalam bagi mereka berdua.
Sampul Novel En-PD153
8.9
Kekasih lama yang kusangka sudah mati tiba-tiba kembali bersama seorang wanita hamil yang katanya telah menolongnya. Dengan lancang, dia menyuruhku tinggal bersama mereka dan menjanjikan pesta pernikahan formal sebagai ganti atas keputusannya menikahi perempuan itu. Statusku sebagai putri bangsawan dan menantu konglomerat membuatku menolak keras menjadi simpanan. Jika dia memilih melepaskan kemewahan, aku akan membuat hidupnya hancur hingga dia jatuh miskin.
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Divonis kanker rahim stadium lanjut membuat Fatma harus mengubur mimpinya memiliki keturunan. Demi kebahagiaan sang suami, Satria, ia rela memintanya untuk beristri lagi. Namun, di balik keputusannya, terungkap fakta menyakitkan bahwa Satria sebenarnya tidak pernah mencintai Fatma. Walau Satria sempat menolak demi menjaga perasaannya, Fatma tetap memohon sambil menangis agar keinginan terakhirnya dikabulkan sebagai bukti ketulusan cintanya.
Sampul Novel Misteri matinya teman-temanku
8.6
Satu per satu orang terdekatku, mulai dari sahabat, kerabat, hingga musuh masa lalu, tewas mengenaskan. Pelaku pembunuhan berantai ini sangat rapi menyembunyikan bukti, membuat sosoknya tak terdeteksi. Di tengah pusaran misteri yang mencekam ini, daftar korban terus bertambah panjang. Kini, bahaya besar mulai mengancam nyawaku sendiri. Aku yang terjebak di pusaran teror ini harus menghadapi kenyataan bahwa maut sedang mengincar dari kegelapan.
Sampul Novel Misteri Ular Xaver
8.5
Sepulang dari Kota Xaver, ibu membawa patung dewa ular yang diklaim bisa membuatnya awet muda jika disembah dengan darah menstruasi perawan. Aku dipaksa menyerahkan darahku, bahkan rambutku dipotong untuk dililitkan di kepala patung itu. Ibu tidak tahu bahwa aku menyimpan rahasia pernah menginap dengan pacarku saat kuliah. Dua bulan kemudian, kebohongan ini berbuah petaka saat kulit ibu mulai dipenuhi bercak biru mirip sisik dan mulai mengelupas layaknya ular asli.
Sampul Novel Pengorbanannya, Kebencian Butanya
8.0
Baskara tega memaksaku mendonorkan sumsum tulang untuk Rania, tunangannya. Hubungan masa kecil kami berubah jadi kebencian akibat fitnah video asusila dari Rania. Baskara pun menyiksaku dan menculik orang tuaku hingga mereka tewas terjatuh dari gedung di depan mataku. Saat aku menyembunyikan penyakit parahku, Baskara malah memintaku mati. Tanpa ragu, kupenuhi permintaannya lalu melompat ke jurang maut.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan