APKDock Logo
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku

Istri Untuk Suamiku

8.6 / 10.0
Divonis kanker rahim stadium lanjut membuat Fatma harus mengubur mimpinya memiliki keturunan. Demi kebahagiaan sang suami, Satria, ia rela memintanya untuk beristri lagi. Namun, di balik keputusannya, terungkap fakta menyakitkan bahwa Satria sebenarnya tidak pernah mencintai Fatma. Walau Satria sempat menolak demi menjaga perasaannya, Fatma tetap memohon sambil menangis agar keinginan terakhirnya dikabulkan sebagai bukti ketulusan cintanya.

Istri Untuk Suamiku Bab 1

"Mas, aku mau kamu menikah lagi!" pinta seorang wanita yang sedang terbaring di ranjang dengan wajah pucatnya.

Pria yang sedang memakai dasi seketika menoleh. Terlihat raut wajahnya tak senang saat mendengar ucapan wanita itu.

"Cukup Fatma! Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak akan menikah lagi!" tegas seorang pria yang bernama Satria.

Fatma bangun dari tidurnya, lalu dia menyandarkan tubuhnya di dipan ranjang dan menatap lekat pada pria yang sudah menemaninya selama 5 tahun itu.

"Mas, aku ingin melihatmu bahagia. Kamu tahu kan, jika aku tidak akan bisa memberikanmu seorang anak? Aku ini gak bisa hamil, Mas. Aku ikhlas jika kamu menikah lagi."

"Tidak. Sudahlah Fatma, aku malas membahas ini terus." Satria keluar dari kamar untuk menuju meja makan.

Dia menghela nafasnya dengan kasar. Tatapannya kosong dengan tangan yang sedang mengaduk-aduk kopi yang ada di gelas.

Sudah beberapa kali Fatma memintanya untuk mendua, tetapi selalu Satria tolak dengan tegas. Pikirannya menerawang ke 5 tahun silam, dimana ia menikahi Fatma karena perjodohan almarhum kedua orang tuanya.

"Mas," panggil Fatma yang sudah sampai di meja makan.

"Fatma, sudah cukup! Jangan memaksaku untuk mendua." Satria merasa jengah, sebab setiap hari Fatma selalu membahas tentang menikah lagi.

"Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud membuatmu marah. Hanya saja, kamu tahu kan jika aku sedang sakit dan kita tak mungkin mempunyai anak. Aku hanya ingin ada yang mengurus kamu sebelum aku tiada," tuturnya.

Satria bangkit dari duduknya dengan tatapan tajam ke arah Fatma. "Cukup ya! Kamu itu bukan Tuhan yang tau kapan kamu tiada. Ingat Fatma! Ucapan adalah do'a. Sudahlah, aku mau ke cafe dulu."

Tanpa mengulurkan tangannya untuk di cium oleh Fatma, Satria pergi begitu saja. Dia meninggalkan sang istri yang tengah menangis.

"Maafkan aku, Mas. Maaf jika aku memaksamu. Tapi ini untuk kebahagiaanmu," lirihnya.

Dia meremas dadanya yag terasa sakit. Bukan Fatma rela mengizinkan Satria menikah lagi, akan tetapi penyakitnya yang semakin hari semakin parah, membuat Fatma tak memiliki pilihan lain.

Fatma hanya ingin melihat Satria ada yang mengurus saat ia sudah tak ada di dunia ini lagi. Namun, di balik itu semua ada hal penting yang menjadi dorongan bagi Fatma untuk mengizinkan Satria mendua. Sebab ia tahu, jika selama ini Satria tak pernah mencintainya.

"Mas, maaf jika aku harus melakukan ini." Fatma menuju kamar lalu menelpon Uminya.

"Hallo assalamualaikum, umi," ucap Fatma saat telepon teraambung.

"Waalaikumussalam."

"Umi, apa umi dan abi sudah dapatkan calon untuk mas Satria?"

"Iya nak, kami sudah mendapatkan wanita itu. Dan umi pastikan ia gadis baik-baik. Besok umi dan abi akan ke rumah untuk berbicara sama kamu dan Satria."

Setelah berbicara dengan uminya, Fatma menutup teleponnya. Dia kembali termenung sambil menatap foto pernikahannya bersama dengan Satria.

Air mata kembali mengalir deras saat mengingat 5 tahun perjalanan rumah tangga mereka berdua. Fatma memang sadar, selama ini sikap baik Satria padanya bukan dasar cinta, namun hanya sekedar menghargai dia sebagai istri.

"Aku berharap, wanita itu tidak pernah sakit, seperti aku saat ini." Dia menghapus air matanya lalu mengambil obat yang ada di laci kamar.

"Aawwh! Sssh!" ringis Fatma saat merasakan perutnya kembali sakit.

.......................

Malam ini Satria pulang lebih lambat, karena ia sengaja sebab malas berdebat dengan Fatma yang ujung-ujungnya akan membahas soal pernikahan lagi.

"Assalamualaikum," ucap Satria saat masuk kedalam kamar.

"Waalaikumusalam," jawab Fatma sambil mencium tangan Satria. "Mas, tumben kamu pulang telat?" tanyanya sambil membuka jas Satria.

"Iya, cafe lagi rame," bohong Satria, kemudian dia segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah selesai, Satria langsung menuju tempat pembaringan karena badannya terlalu lelah. Bukan hanya lelah tubuh saja, tapi pikiran juga.

"Mas, kamu gak mau makan dulu?" Fatma mengkhawatirkan kesehatan suaminya.

"Aku sudah makan, dan aku sangat lelah," jawabnya dan langsung memejamkan mata.

Fatma yang mendengar itu pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk memberitahu Satria jika besok kedua orang tuanya akan datang ke sana.

.

.

Pagi ini seperti biasa, Fatma sedang menyiapkan kebutuhan Satria, mulai dari baju sampai makannya. Walaupun dia sedang sakit, tapi kebutuhan Satria selalu Fatma yang handle, sebab ia merasa itu adalah tugas seorang istri.

"Ini Mas, kopinya." Fatma menaruh kopi di hadapan Satria.

"Hm, makasih," jawab Satria dengan datar.

Fatma hanya tersenyum tipis. Jawaban dingin nan datar sudah biasa ia dengar dari mulut suaminya, tapi tidak masalah bagi Fatma, sebab ia tau suaminya tak pernah mencintai dirinya.

Dengan cekatan Fatma mengambilkan sarapan untuk Satria, lalu dia pun duduk di samping pria itu. 'Aku rasa ini waktu yang pas,' batin Fatma sambil melirik ke arah suaminya.

"Mas, aku mau bilang kalau--"

Kriing!

Ucapan Fatma terhenti saat tiba-tiba saja ponsel Satria berdering, dan ternyata itu telepon dari Yusuf, sahabat sekaligus orang kepercayaannya di cafe.

"Iya, kenapa Suf?" tanya Fadli saat telepon tersambung.

"Oh, oke. Kamu siapkan saja semuanya, nanti aku langsung nyusul kesana ya." Telepon pun terputus.

Satria menyadari jika tadi Fatma ingin mengatakan sesuatu. "Kamu tadi mau bilang apa?" tanyanya sambil meminum kopinya.

"Itu Mas, aku cuma amu bilang kalau umi dan abi akan kesini nanti siang. Mereka juga mau menbicarakan sesuatu sama kamu," terang Fatma.

"Oh, begitu ... memang mau bicara soal apa?"

Fatma terdiam, dia nampak ragu untuk mengungkapkan kedatangan orang tuanya, takutnya Satria malah marah.

"Gak tau Mas. Nanti siang kamu makan di rumah ya!" pintanya penuh harap.

Mendengar permintaan Fatma, Satria mengangguk, "aku usahakan ya. Tapi aku tidak janji, sebab hari ini jadwal meeting ku benar-benar sangat padat." Satria tak mau memberi harapan pada Fatma.

"Iya Mas. Tapi aku berharap kamu pulang, sebab umi dan abi ingin mengatakan sesuatu yang penting."

Satria penasaran apa yang akan di bicarakan oleh kedua mertuanya, namun ia harus cepat ke cafe sebab ada meeting pagi ini.

Kemudian ia pun pergi dengan Fatma yang mengantarnya sampai halaman depan. "Sebenarnya apa yang akan di katakan oleh umi dan abi, ya? Hal penting apa itu?" lirih Satria saat berada di dalam mobil.

Dia pun ingin segera menyelesaikan pekerjaannya untuk bisa datang nanti siang, sebab Satria juga amat penasaran.

Sementara Fatma sedang menelepon Uminya dan menanyakan apakah jadi atau tidak kesana.

"Semoga nanti siang mas Satria tidak marah dan menolak. Ya Allah, lancarkanlah semuanya. Semoga umi dan abi bisa memberi pengertian pada mas Satria." Fatma kembali meringis sambil meremas perutnya, kemudian dia meminta pembantu yang ada di rumah itu mengambilkan obatnya.

BERSAMBUNG......

Lanjut Membaca

Daftar Isi Istri Untuk Suamiku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel 180 Days
9.4
Mengetahui suaminya berkhianat, April menolak menyerah pada perceraian. Ia justru memilih jalan sulit untuk menyelamatkan pernikahan mereka yang berada di ambang kehancuran. Sebuah target ambisius ia tetapkan: merebut kembali cinta sang suami dalam waktu 180 hari. Di tengah rasa sakit yang mendalam, April harus berkejaran dengan waktu demi memulihkan keharmonisan rumah tangganya. Akankah ia berhasil memikat kembali hati suaminya sebelum batas waktu tersebut habis?
Sampul Novel Musuh Bebuyutanku yang Berdarah Dingin Tiba-tiba Terobsesi Denganku
9.4
Tujuh tahun kebersamaan Daniela sirna seketika saat ia memergoki perselingkuhan Yosua menjelang pernikahan mereka. Di hari sakral tersebut, Daniela mantap membatalkan pernikahan dan membuang cincinnya. Saat keluarga Clark menghina tindakannya, tiga kakak laki-laki Daniela dari keluarga Stewart hadir membela. Mereka bertekad meruntuhkan dinasti Clark demi adik mereka. Di tengah kekacauan itu, Daniela justru menemukan dekapan hangat dari pria tak terduga yang mengajaknya pulang.
Sampul Novel Dulu Kau Buang Aku, Kini Aku Milik Pamanmu!
9.8
Silvia mengorbankan segalanya demi menikahi Sienzo Gunawan lewat investasi 20 triliun. Namun, di malam pernikahan, ia justru dijebak dan ditiduri belasan teman Sienzo hingga hamil dan tewas saat bersalin di ruang bawah tanah. Terbangun kembali di masa lalu tepat saat keluarga Gunawan memohon investasi dan pernikahan bisnis tersebut, Silvia memutuskan untuk mengubah takdirnya. Kali ini, ia tidak akan menjadi korban lagi, melainkan membuat Sienzo membayar semua kekejamannya di masa lalu.
Sampul Novel KAMINI (Wanita Penuh Kasih Sayang)
9.4
Pasca melahirkan anak untuk Dirandra Ekadanta dan istri pertamanya, Kamini Citra Kirana diusir begitu saja. Meski dibuang dengan uang kompensasi agar tidak kembali, ia pergi membawa sebuah rahasia besar yang memicunya untuk bangkit. Lima tahun berselang, takdir justru menyeret Kamini kembali ke hadapan masa lalu dan keluarga yang dahulu mencampakkannya. Mampukah ia menghadapi situasi rumit ini? Akankah rahasia yang ia simpan rapat selama ini mengubah segalanya saat mereka bertemu lagi?
Sampul Novel Nyawa Dibalas Nyawa
8.8
Dua tahun silam, Indah dipaksa mengakhiri hubungan cintanya demi menikahi Rendra, tunangan adiknya yang tunanetra. Kini, setelah penglihatan sang suami miliarder pulih, keluarganya justru menuntut Indah mengembalikan posisi tersebut kepada Mella. Dianggap tidak layak menyandang status Nyonya Saputra oleh ayahnya sendiri, Indah tidak lagi peduli. Di ambang kematian yang kian mendekat, ia rela melepaskan segalanya demi menyaksikan pembalasan setimpal bagi mereka setelah dirinya tiada.
Sampul Novel Takdir Yang Salah
7.9
Keputusan Alif memadu kasih dengan Amel justru merusak hidupnya. Pengaruh buruk sang kekasih membuat Alif berani melawan orang tua dan menelantarkan sekolah. Akibatnya, keluarga besar menentang keras hubungan mereka, memicu rentetan cobaan yang datang bertubi-tubi. Di tengah tekanan luar dan pergolakan batin, sanggupkah Alif dan Amel mempertahankan cinta mereka tanpa adanya restu, ataukah hubungan ini akhirnya akan hancur oleh realitas?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan