
Menjadi Ibu Untuk Anak Pelakor
Bab 2
Karena sup gosong, tidak ada makanan untuk hari ini. Menantuku memang hanya diam, tetapi wajahnya sangat masam.
"Koa masih kecil, tapi ikut kita makan makanan nggak sehat seperti ini," keluhnya.
"Cuma sesekali. Nggak separah yang kamu katakan," hibur Finn.
Menantuku langsung naik pitam. "Apa maksudmu? Koa bukan anakmu ya? Kamu nggak peduli sama dia? Aku capek-capek kerja, tapi nggak ada makanan di rumah. Waktu kamu di rumahku, apa ibuku membiarkanmu pesan makanan dari luar?"
Ucapan ini jelas ditujukan kepadaku. Finn merasa makin kesal karena dirinya ikut terseret. "Ibu juga salah. Coba lihat Ayah dan Bibi Hera. Mereka sudah 70 tahun, tapi masih semangat. Kamu baru 55 tahun, tapi sudah pikun ya? Aku nggak punya waktu menjagamu!"
Finn selalu berbicara blak-blakan seperti ini. Menurutnya, sikapnya memang seperti Hart yang blak-blakan.
Namun, saat berhadapan dengan Hera, Finn akan bersikap sangat lembut. "Bibi Hera nggak seperti ibuku yang nggak tahu malu. Kalau suaraku terlalu keras, takutnya dia terkejut."
Ini pertama kalinya aku memasang ekspresi dingin. "Biasanya kalian juga sering pesan makanan dari luar, padahal aku masak. Finn, orang nggak berguna mana yang bangun jam 5 pagi untuk masak sarapan dan cuci baju?"
"Setelah punya ayahmu beres, aku harus ke rumah kalian lagi untuk bantu. Setelah kalian pergi kerja, aku harus urus anak kalian. Kalian bilang Koa harus makan makanan sehat. Aku harus masak khusus untuknya lagi."
"Setelah antar Koa ke sekolah, aku kembali dan membantu kalian merapikan rumah. Kemudian, aku harus merapikan tempat tinggal ayahmu lagi. Makan siang dan makan malam juga harus dimasak. Setelah kalian makan kenyang, aku harus cuci piring."
"Kegiatanku ini bukan cuma sehari atau dua hari, melainkan bertahun-tahun! Terus, kamu bilang aku nggak berguna?"
Finn merasa gusar mendengarnya. Dia langsung menyahut, "Bukannya ini sudah kewajibanmu? Lagi pula, kamu nggak kerja. Kalau nggak, ngapain kami memanggilmu ibu dan Koa memanggilmu nenek?"
Ekspresi menantuku tampak dingin. Dia menggendong Koa dan hendak keluar. "Ini urusan keluarga kalian. Jangan bawa-bawa anakku. Aku mau pulang ke rumah ibuku!"
Biasanya, aku selalu melerai saat mereka bertengkar. Aku akan minta maaf kepada menantuku dan membujuknya. Namun, sekarang aku tidak peduli dan Finn makin murka.
Finn menarik istrinya dan membentak, "Pesan makanan dari luar saja harus marah-marah begini? Kamu juga sering pesan makanan dari luar kalau di rumah ibumu."
Menantuku mengempaskan tangan Finn, lalu memelototiku sambil memekik, "Setidaknya, orang rumahku punya rasa malu! Nggak ada yang bakal mengajaknya menonton film kotor seperti itu!"
Finn kebingungan. Menantuku menggertakkan gigi dan meneruskan, "Bilang saja kalau kamu malas menjaga Koa. Kamu bisa kasih dia nonton kartun. Kenapa malah sejahat itu? Dia baru 4 tahun! Kamu nggak takut dia trauma?"
Dia mengira aku sengaja memperlihatkan film porno kepada Koa. Sejak Finn menikah, aku selalu bersikap baik kepada istrinya karena takut dia merasa tidak nyaman. Namun, malah hasil ini yang kudapatkan.
Finn akhirnya paham. Dia mengernyit dan menyergah, "Kamu nonton film semacam itu? Bahkan mengajak Koa? Nenek macam apa kamu ini?"
Finn mendorongku dengan kuat. Aku sampai mundur beberapa langkah. Kebetulan, Hart berdiri di belakangku. Tubuhku mengenainya.
Hart mendorongku dengan jijik dan berdecak. "Ngapain kamu? Kamu ini nggak sadar umur ya?"
Aku seperti bola yang ditendang sana sini. Kami sudah menjadi suami istri selama bertahun-tahun, tetapi dia tidak pernah menyentuhku. Bahkan ketika aku ingin memeluknya dan menggandeng tangannya, dia merasa keinginanku itu sangat tercela.
Finn mengadu, "Dia mengajak Koa nonton film porno!"
Alis Hart lantas berkerut. Dia menatapku dengan kesal. "Aku tahu kamu nggak berpendidikan. Tapi, kamu nggak seharusnya serendahan ini."
Ketika melihat ekspresinya yang sok suci, aku langsung teringat pada ekspresinya di video. Seketika, aku merasa mual. Aku seperti terjatuh ke lubang kotoran selama bertahun-tahun! Menjijikkan!
Tubuhku gemetaran saking emosinya. Aku berucap dengan suara bergetar, "Benar, aku nonton. Pemainnya adalah Profesor Hart yang terhormat!"
Anda Mungkin Juga Suka





