APKDock Logo
Sampul Novel Sindiran Pedas Istri Kedua

Sindiran Pedas Istri Kedua

8.9 / 10.0
Kehidupan Tiara hancur setelah mengizinkan suaminya menikah lagi. Kesabaran dan sikap mengalahnya tidak membuahkan kedamaian. Istri kedua sang suami justru terus mengusik ketenangannya dengan sindiran pedas, baik secara langsung maupun lewat media sosial. Terjebak dalam situasi yang menyakitkan ini, Tiara kini dihadapkan pada pilihan sulit. Haruskah ia tetap bertahan demi pernikahannya, atau mengumpulkan keberanian untuk melangkah pergi?

Sindiran Pedas Istri Kedua Bab 1

"Bodo amat sama komentar anda ya, yang suka nyelonong aja kerjaannya di wall orang. Yang jelas sekarang, saya sangat bahagia sama kehidupan saya. Yang jelas, di sini antara saya dan pasangan saya saat ini, nggak ada istilah dipaksa atau pemaksaan ya. Jodoh, maut, rezeki Tuhan yang ngatur bukan anda! soal hati nggak bisa dipaksakan dan nggak ada yang bisa ikut campur ya! Jadi, buat anda jadi manusia nggak usah sok suci ... jatuhnya kamu MUNAFIK!!! Paham...?"

Begitulah sebuah status yang terpampang di beranda ketika pagi ini aku membuka salah satu aplikasi yang populer di negeri ini. Diposting semalam dengan menandai sepuluh orang. Salah satunya adalah suamiku.

Postingan itu sudah disukai oleh hampir lima puluh orang dan komentar juga mendekati angka seratus. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat semua itu. Aku memang tidak berteman dengan pemilik akun tersebut karena dia menandai orang-orang yang berteman denganku otomatis mampir juga ke berandaku.

Namun, jariku tak bisa berhenti sampai di situ. Jiwa kepoku melonjak-lonjak dan harus segera diikuti maunya. Aku pun berkelana di kolom komentar.

"Kata-kata mutiaranya indah banget, say."

"Hajar Bund."

"Jangan kasih kendor, Sist!"

"Wiiih, disuguhi cerpen untuk pengantar tidur."

"Orang kayak gitu mah jangan dibaik-baikin, nanti ngelunjak."

"Ada ya manusia model begitu?"

"Ih, julid banget tuh orang."

"Orang kayak gitu kudu dikasih pelajaran. Biar kapok!"

"Moga orang itu dapat hidayah, ya, jeng."

"Sabar, say. Pertahankan orang yang kamu cintai. Jangan dengerin orang-orang syirik."

"Berasa baca novel deh pagi-pagi."

"Bunda cantik ternyata bisa ngomel juga. Jangan diambil hati bun, orang syirik abaikan aja."

Begitulah rata-rata komentar yang bertebaran di sana. Memojokkan sosok 'anda' yang dimaksud pada postingan itu. Aku merasa miris, entah kenapa orang-orang cepat sekali menghujat padahal sebagian dari mereka tidak tahu apa yang mereka komentari.

Hampir semua komentar dibalas atau pun ditanggapi dengan stiker oleh si pemilik postingan. Bahkan pada beberapa komentar terjadi saling balas yang cukup banyak sehingga sedikit banyak terkuaklah beberapa hal yang seharusnya tidak dikonsumsi publik.

Aku sangat tahu bahwa postingan itu ditujukan padaku. Dan ini sudah untuk kesekian kalinya. Sepertinya memang sudah hobinya begitu, bikin status tandai beberapa orang kerabatnya kemudian mereka akan berkomentar beramai-ramai. Habis-habisan menyudutkan pihak yang berseberangan itu. Seolah-olah merekalah yang paling benar dan paling segalanya.

"Dasar keluarga norak, bar-bar, malu-maluin. Padahal semua komentar itu cocoknya untuk dia tapi nggak nyadar diri juga." Aku bergumam lalu menyimpan ponsel ke tempat yang aman karena sebentar lagi Hendi, suamiku yang juga sudah menjadi suami wanita itu akan datang ke sini. Pasti postingan itulah yang akan dibahasnya. Jika nanti berujung pertengkaran, jangan sampai ponselku menjadi korban lagi seperti beberapa waktu lalu. Secepat mungkin harus kuamankan.

Perkiraanku tepat, terdengar suara mesin kendaraan di luar. Tak lama seseorang mengucapkan salam. Aku segera keluar kamar dan kami berpapasan di ruang tengah.

"Kamu bikin gara-gara apalagi sama Nadia sampai-sampai dia buat postingan begitu?"

Tanpa basa-basi, Hendi langsung menodongku dengan pertanyaan itu.

"Ya kamu tanya aja sama istri barumu itu! Ngapain nanya aku?" jawabku sesantai mungkin. Padahal dalam hati aku sangat geram.

"Nadia tidak akan mungkin begitu kalau bukan kamu yang mancing-mancing!" Hendi sedikit meninggikan suaranya.

Aku tercengang, beberapa saat setelah itu aku pun berucap pelan dengan menyipitkan mata sebagai bentuk keherananku.

"Aku?"

"Tolonglah Tiara, bersikaplah lebih dewasa. Jangan apa-apa dibawa ke sosmed. Apa perlunya tentang kehidupan kita harus diketahui banyak orang?"

"Kamu datang ke sini terus ngomongnya seperti itu padaku, salah tempat! Kamu buta huruf apa buta hati? Datang-datang nyalahin aku."

Kali ini suara aku sedikit naik.

"Nyatanya, semua ini memang berawal dari kesalahan kamu, kan? Kamu berkomentar sana-sini di postingan orang yang ujung-ujungnya menyudutkan keberadaan Nadia?"

Suara Hendi semakin meninggi. Aku ingat sekarang, dua hari yang lalu aku memang berkomentar di status teman lama kami. Dia menyiratkan kegundahan hatinya atas konflik yang tak berujung dengan keluarga suaminya.

"Semangat! Semua akan indah pada waktunya."

Kutulis di kolom komentarnya sebagai bentuk empati padanya. Kami pun saling berbalas komentar beberapa kali hingga dia menarik kesimpulan dari pembicaraan kami itu bahwa apa yang kita lakukan kelak akan kembali pada kita.

Di berandaku sendiri aku membagikan sebuah quote tentang kesabaran. Quote dari halaman seorang penulis terkenal. Sepertinya dia atau pun keluarganya memang sengaja memantau aktivitasku di sosial media. Kurang kerjaan amat!

"Tanpa aku harus ngejelek-jelekin dia juga udah jelek imejnya di mata orang-orang," celetukku.

Kulihat perubahan di muka Hendi. Dia pasti tidak terima ucapanku tadi.

"Ulah kamu yang membuat Nadia dipandang jelek sama orang-orang. Stop status-status lebay kamu itu. Kalau tidak, aku tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di rumah ini!"

"Papa ...." Rara, putri kami telah berdiri di ambang pintu. Dia berlari kecil ke arah kami dan langsung memeluk papanya. Sepertinya dia sangat rindu. Tak lama berselang Khalif --kakaknya-- juga masuk. Mereka tadi pergi ke rumah ibu untuk sarapan.

"Papa semalam kok tidak tidur di sini lagi? Rara susah tidur semalam."

Putri kecilku itu memang sangat dekat dengan papanya. Dialah yang membuatku harus bertahan dengan kondisi seperti ini. Khalif pun menghampiri papanya. Setelah mencium tangan dia pun menuju kamar mengambil tas dan sepatu.

"Rara ikut ngantarin Kak Khalif, ya," pinta gadis kecil yang baru genap lima tahun itu. Dia pun memeluk papanya lebih erat lagi.

"Iya, sana ambil jaket sama kaca mata biar nggak kelilipan," ujar Hendi sambil menurunkan Rara dari pangkuannya. Rara segera berlari ke kamar.

"Ingat Tiara, jangan bikin gara-gara lagi!"

Hendi berbicara dengan suara penuh penekanan disertai tatapan tajam. Kemudian dia keluar. Khalif yang baru saja keluar dari kamarnya berjalan ke arahku. Ia mengulurkan tangan untuk berpamitan.

"Mama baik-baik aja?" tanya Khalif dengan lembut.

Kalimat sederhana itu hampir saja membuat mataku mengembun. Buru-buru aku tersenyum padanya. Walaupun baru berusia sepuluh tahun, anak sulungku itu sudah mulai peka terhadap apa yang terjadi di rumah ini.

"Mama baik-baik aja. Cuma agak ngantuk. Semalam Syira sering kebangun."

"Kakak sekolah dulu ya, Ma," pamitnya dengan santun.

"Hati-hati, ya, Nak. Nanti dari sekolah langsung pulang, ya!"

Khalif mengangguk kemudian menggandeng Rara menyusul papanya keluar. Aku mengantar mereka sampai ke pintu. Melepas kepergian mereka hingga punggungnya tak terlihat lagi.

Hari masih pagi tetapi perasaanku sudah tak menentu. Tidak cukupkah wanita itu mengusik kehidupanku di dunia nyata?

***

Lanjut Membaca

Daftar Isi Sindiran Pedas Istri Kedua

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel 66 Kali, Aku Tak Lagi Mencintaimu
8.8
Setelah enam puluh enam kali melamar, Vincent akhirnya berhasil meluluhkan hati pasangannya di upaya ke-67. Di awal pernikahan mereka, sang istri menyiapkan enam puluh enam kartu maaf yang bisa digunakan Vincent setiap kali ia berbuat salah. Namun selama enam tahun berumah tangga, Vincent terus-menerus memicu kemarahan istrinya demi membela teman masa kecilnya, hingga kartu-kartu itu perlahan habis dihapus. Saat kartu ke-64 digunakan, Vincent baru menyadari ada perubahan dingin yang tidak biasa.
Sampul Novel Balas Dendam Dalam Cinta
9.5
Kimbeerly Libason awalnya hanya alat balas dendam bagi Alexander, sebelum pria itu benar-benar jatuh cinta padanya. Demi menyembuhkan luka batinnya, Alexander memilih pergi dan meninggalkan Kimbeerly yang tengah mengandung. Bertahun-tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun, hati Kimbeerly hancur saat melihat Alexander bersama wanita dan anak lain, sementara buah hati mereka terus menanyakan ayahnya. Apakah mereka akan bersatu atau berpisah selamanya?
Sampul Novel Garis Cinta
8.2
Protes langsung terlontar dari bibir Diza begitu merasakan tindakan kasar sang kekasih. Menyadari kesalahannya, Rayden pun segera meminta maaf dengan kelembutan yang menenangkan. Ia berjanji akan bersikap lebih pelan dan hati-hati demi menjaga kenyamanan bersama. Sambil mencairkan ketegangan romantis yang menyelimuti mereka, Rayden melonggarkan dasi yang menjerat lehernya sejak tadi, bersiap melanjutkan momen intim tersebut dengan lebih santai.
Sampul Novel Kakak Ipar Rasa Pacar
7.9
Niat Nadia memberikan kejutan ulang tahun untuk Raka berujung pahit saat memergoki sang tunangan berselingkuh dengan kakak kandungnya, Tania. Pernikahan yang diimpikan pun hancur seketika. Setelah diusir dari rumah, Nadia menemui kakak iparnya, Darren, untuk membeberkan perselingkuhan tersebut. Sama-sama dikhianati, mereka sepakat bersatu demi membalas dendam. Namun, saat rencana mulai dijalankan, kedekatan mereka justru menumbuhkan benih cinta yang tak terduga.
Sampul Novel Mute Husband
9.7
Nasib malang menimpa Jihan, anak angkat keluarga Park yang dipaksa menggantikan Jira untuk menikahi lelaki misterius. Jihan sangat terkejut saat mengetahui bahwa suaminya ternyata seorang tunawicara. Kini, ia terjebak dalam mahligai pernikahan dengan pria bisu yang penuh rahasia tersebut. Harus menghadapi realitas hidup baru yang tak pernah terbayangkan, mampukah Jihan bertahan menjalani biduk rumah tangga yang sunyi tanpa suara ini?
Sampul Novel Skandal Panas Presdir Tampan
8.0
Damien D'Arcy, pemilik hotel mewah yang kerap mempermainkan wanita, mengalami perubahan hidup total setelah bertemu Chiara, seorang resepsionis di Italia. Tujuh tahun pasca-hilangnya Chiara, Damien hidup menderita akibat masalah kesuburan dan kehilangan harta demi kompensasi cerai. Saat kembali ke Italia, sebuah prosedur donor darah mengungkap rahasia besar: ia bertemu anak yang sangat mirip dengannya dan Chiara yang kini bersikap dingin.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan