APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menikah Demi Perceraian

Menikah Demi Perceraian

Sebastian Alvero Abraham terjebak pernikahan dengan Latasha Revalina Mahendra yang berusia delapan tahun lebih muda. Awalnya, Vero merasa bagai pengasuh karena sifat kekanak-kanakan Reva. Namun lambat laun, keceriaan gadis itu membawa kebahagiaan tak terduga. Sayangnya, saat benih cinta mulai tumbuh, niat terselubung Reva menikahi Vero justru terbongkar. Akankah rasa kecewa Vero menghancurkan rumah tangga yang baru seumur jagung setelah rahasia besar ini terungkap?
Bab
Bagikan

Bab 3

Cukup lama diam memaku dan bergeming, selagi membiarkan manik mata hazel indahnya menatap permukaan pintu kamar yang saat ini ditempati - selepas Vero pergi, Reva membuang napas kasar sembari menundukan pandangannya, sebentar.

Perlahan membaringkan tubuh dalam posisi miring - masih menghadap ke arah pintu, Reva menggigit gugup bibir bawahnya.

Tatapan matanya terlihat begitu sendu, menyorotkan banyak arti yang tidak mampu dibaca dengan mudah.

Mengerjap pelan, pandangan Reva akhirnya teralihkan. Kini ia menatap permukaan tempat tidur kosong di sampingnya dengan tatapan nanar.

"Apa keputusan ini udah tepat?"

Membuang napas kasar, Reva sedikit menggulingkan tubuh, merubah posisi berbaringnya jadi terlentang.

Pandangan Reva menengadah. Ia membiarkan manik matanya menatap permukaan langit-langit kamar, lantas mengerjap pelan.

Berdiam diri cukup lama, mendadak permukaan bingkai birai Reva perlahan merenggang, hingga mematrikan senyun lirih.

Memejamkan pelupuk mata, Reva mengangkat lengan sebelah kirinya, menggunakannya untuk menutupi area mata.

Sebuah kekehan kecil yang terdengar begitu getir, menguar melalui mulut wanita cantik itu, membersamai tubuhnya yang agak sedikit gemetar, sebab terguncang.

Detik kemudian, kekehan itu tergantikan oleh suara isakan pelan yang sengaja ditahan, hingga terdengar lebih menyesakan.

Isakan itu membersamai air mata yang mengalir begitu saja dari kedua sudut pelupuk mata Reva, membentuk aliran anak sungai kecil, sebelum kemudian meniti, membasahi permukaan bantal yang dijadikan topangan kepala.

"Dengan adanya pe-pernikahan ini, seenggaknya a-aku bakal berenti ngebebanin hidup Papa sama Mama." Reva bergumam lirih di sela tangis dalam diamnya.

"Tapi a-aku baru sadar, ka-kalau kedepannya ... mungkin hidup Uncle Vero yang bakal jadi kacau, karena keputusan bo-bodoh yang a-aku ambil ini."

***

"Mas?"

Attala Gevanio Mahendra, sedikit terhenyak saat mendengar suara manis seorang wanita berhasil mengecai ke dalam rungu, membersamai tepukan pelan yang berlabuh di permukaan bahu sebelah kirinya.

Gevan - begitu biasanya kakak laki-laki satu-satunya dari Reva itu singkatnya disapa, menolehkan kepala dan pandangannya ke samping kiri.

Dirinya yang sedari tadi tengah duduk termenung sembari menyandarkan punggung di kepala tempat tidur, sedikit merubah posisi duduk begitu tatapannya beradu dengan netra teduh Sandra - sang istri.

Merenggangkan bingkai birai, Gevan menundukan pandangannya, sebentar.

"Kamu kenapa belum tidur?" Sandra bertanya dengan nada suara lembut dan manisnya, selagi memokuskan seluruh atensi yang dimiliki ke arah sosok sang suami.

"Gak kenapa-kenapa. Cuman belum bisa tidur aja."

Manik hazel indah Sandra gemetar, menatap Gevan, penuh telisik. "Kamu pasti kepikiran Reva, ya?"

Tersenyum getir, Gevan menunduk, sengaja sekali memutuskan kontak mata yang berlangsung dengan sang istri.

Sandra membuang napas kasar, mengetahui jika Gevan agaknya tidak ingin berbagi masalah yang saat ini sebenarnya sedang begitu berkecamuk dalam benak, hingga membuatnya kesulitan untuk beristirahat atau sekadar memejamkan pelupuk mata.

"Mas?" Sandra menyeru lembut sembari menundukan pandangan, meraih telapak tangan sebelah kanan sang suami, tak lupa memberi rematan penuh arti di sana.

Gevan menengadah, menoleh ke arah Sandra, membuat Sandra mengulas senyum manis di bibirnya.

"Apa yang lagi Mas cemasin, hemmm? Jangan dipendem sendiri. Cerita dong sama aku."

Gevan mendengkus seraya mendongakan kepala, membiarkan manik matanya menatap permukaan langit-langit kamar yang saat ini menaungi dirinya bersama sang istri.

Mengerjap, pribadi tampan berusia dua puluh tujuh tahun itu lantas meluruskan pandangan. "Mas cuman lagi nerka-nerka aja, apa sebenernya alesan di balik pernikahan Reva sama Bang Vero yang terkesan rada mendadak."

Sandra tersenyum lembut sambil menatap sang suami dengan tatapan hangat, memahami betul alasan di balik ketidak tenangannya. "Mau ngundang Reva sama Bang Vero buat makan malem bareng di sini gak, besok? Biar kita bisa tanya-tanya lebih jauh dan detail ke mereka secara langsung?"

Mendengar penuturan sang istri, Gevan pun langsung menoleh.

Sandra kembali tersenyum. "Siapa tahu, kalau lagi gak sama Mama atau Oma, mereka mau cerita sama kita. Iya kan?"

"Cerita soal pernikahan mereka?"

Sandra mengangguk. "Hemmm."

Bingkai birai Gevan perlahan merenggang, hingga mematrikan senyum senang, membersamai manik matanya yang berbinar, memancarkan rasa antusias. "Kalau gitu aku telpon Reva sekarang."

Sandra berdesis pelan sembari menarik tangan Gevan, saat melihat suami tampannya itu hendak meraih ponsel yang tergelatak di permukaan nakas samping tempat tidur.

Berhasil membuat pergerakan Gevan terhenti, bahkan kembali memokuskan atensi yang dimiliki ke arahnya, Sandra menggeleng. "Gak usah sekarang. Besok pagi aja. Takutnya ... kalau Mas telpon Reva sekarang, Mas malah ganggu malem pertama dia."

Permukaan kening Gevan mengernyit, menghasilkan kerutan cukup dalam, hingga membuat kedua alisnya yang bersebrangan, hampir saling bertautan.

Mata milik pribadi tampan itu agak memicing, menatap sang istri, nanar. "Malem pertama?"

Sandra mengangguk sambil mengatupkan bibir, cukup rapat. "Mereka kan abis nikah, hari ini."

Mata Gevan membola. Kepalanya perlahan tertolehkan ke arah depan. "Reva kan masih kecil."

Sandra terkekeh. "Reva bukan anak kecil lagi, Mas. Umur dia udah dua puluh tahun, sekarang. Ya ... meskipun kelakuannya gak jauh beda, kayak anak kecil."

Gevan menoleh lagi ke arah Sandra, manik mata jelaga indahnya memancarkan rasa tidak percaya, menggantikan rona antusias yang sempat hinggap di sana meski hanya sesaat, tadi. "Itu artinya ... Reva malem ini diunboxing?"

Mengatupkan bingkai birai cukup rapat, Sandra mengindikan bahu sambil menundukan pandangan, memutuskan kontak mata dengan Gevan. "Mungkin. Aku gak tau."

"Gak boleh!"

Sandra sedikit terkesiap saat mendengar Gevan berucap dengan intonasi yang agak sedikit meninggi.

Menenggerkan kedua telapak tangan di permukaan dada secara refleks, wanita cantik itu menoleh kaget ke arah sang suami. "Apanya yang gak boleh?"

"Reva."

"Reva?"

"Iya, Reva. Reva masih kecil, gak boleh diunboxing dulu. Ntar kalau bibit Bang Vero unggul gimana? Reva punya anak. Kan gak lucu. Masa bocil momong bocil?"

Mendengkus kasar, Sandra memutar bola matanya malas. "Itu jadi urusan Reva sama Bang Vero. Mas gak perlu ikut ambil pusing. Udah. Mending sekarang Mas bobok."

"Tapi Rev-"

Tidak membiarkan sang suami menuntaskan perkataan, Sandra berdesis sembari memberi Gevan tatapan tajam, syarat betul akan sebuah peringatan, ia lantas menggeleng begitu melihat Gevan seketika bungkam. "Bobok!"

Bergeming. Manik mata Gevan gemetar, menatap nanar wajah cantik sang istri. Ia lantas membuang napas kasar. "Ok."

"Gak usah mikirin apa-apa lagi, ya? Apa lagi ngebayangin Reva lagi diunboxing sama Bang Vero."

"Kamu kenapa ngomong gitu?" Mata Gevan sedikit melebar, menatap Sandra dengan tatapan tidak habis pikir.

Sandra mengindikan bahunya, kelewat acuh. "Ya ... takut aja gitu, Mas sampe ngebayangin itu."

"Tadinya enggak. Tapi gara-gara kamu ngomong gitu, bayangannya jadi muncul di otak aku, tahu?!" kerutuk Gevan, setengah merengek.

Sandra terkekeh. Menengkup wajah masam sang suami, ia lantas mendaratkan kecupan manis di permukaan bibirnya. "Jangan pikirin orang lain. Mas cukup pikirin aku aja."

Gevan terkekeh sinis sambil menatap Sandra dengan tatapan mencibir. "Kamu harus tanggung jawab," tukasnya, dingin.

Sandra mengerjap. Melepaskan tengkupan dari wajah Gevan, ia menjauhkan diri, sedikit membuat jarak dengan sang suami. "Tanggung jawab apa?"

"Kalau Bang Vero malem ini lagi unboxing adek aku, Reva. Biar aku juga ikutan, unboxing kamu."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Palsu di Balik Perjalanan Dinas
8.3
Empat puluh tahun menikah, aku baru tahu suamiku berselingkuh dengan sahabatku, Wulandari. Lewat tablet cucu, terungkap ribuan foto mesra mereka saat dinas palsu. Tragisnya, Rizal, anak kandungku, justru berpihak pada wanita itu. Aku sadar hanya dijadikan mesin pencetak anak karena Wulandari mandul. Enggan terus diperalat, aku menggugat cerai dan mengambil seluruh aset mereka. Kini aku hidup sukses di Bali, membiarkan mereka jatuh miskin dan memohon maaf tanpa kuberi ampun.
Sampul Novel Dendam di Balik Cinta
8.8
Demi menyelamatkan bisnis keluarga yang hancur, aku tega mengkhianati Jase Mitchell dan memilih menikah dengan Kade Mitchell. Empat tahun kemudian, Kade meninggal dunia. Ibu tirinya yang kejam, Katie Fuller, langsung mengusirku beserta anakku tanpa belas kasihan. Kehilangan segalanya membuatku terpaksa memohon bantuan kepada Jase, yang menyambutku dengan penuh godaan. Di tengah keputusasaan ini, aku berniat memanfaatkan anak Katie sendiri untuk merebut kembali seluruh warisan yang telah dia curi.
Sampul Novel Duri Pernikahan
8.6
Setahun berpacaran membuat Sasy Mentari, mahasiswi 19 tahun, yakin menikahi Satya. Namun, kesempurnaan sang dosen sirna seketika usai akad nikah terucap. Satya yang dahulu begitu hangat tiba-tiba berubah menjadi sosok yang dingin serta kasar. Di tengah kepedihan yang terus menyiksa batinnya, Sasy bertekad mengungkap misteri perubahan drastis suaminya. Sanggupkah ia tetap bertahan ketika biduk rumah tangga yang ia jalani kini justru dipenuhi duri yang melukai?
Sampul Novel Hari-Hariku Jadi Ibu Susu untuk Konglomerat
9.1
Sebuah insiden memalukan di pesta kantor mengubah hidupku saat bos suamiku mengetahui kondisiku yang sedang menyusui. Pria berkuasa itu memaksaku menjadi ibu susu di kediamannya tanpa memedulikan penolakanku. Di tengah kesepian malam, pertahananku runtuh ketika sang konglomerat menyelinap ke ranjangku demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Hubungan terlarang ini membuatku terjerumus dalam situasi yang jauh lebih rumit dan penuh rahasia daripada yang kubayangkan sebelumnya.
Sampul Novel Istri Pengganti, Cinta Suami Untuk Lain
7.9
Lima tahun pernikahan dengan Yoga hanya memberi kehampaan bagi saya, meski cinta ini begitu besar. Kepedihan kian tak tertahankan saat perselingkuhan Yoga dengan adik angkatnya, Meiliana, terungkap. Saya pun nekat menjebak Yoga menandatangani surat cerai lewat dokumen asuransi palsu. Setahun setelah berpisah, saya menata hidup baru dan bertunangan dengan Luki. Namun, Yoga mendadak memohon untuk kembali, sementara Meiliana mengungkap perasaan Yoga yang sebenarnya. Kini keputusan ada di tangan saya.
Sampul Novel My Husband Is My CEO
7.9
Aghata sangat terpukul saat kekasihnya memilih bertunangan dengan seorang pegawai biasa. Didorong obsesi besar, ia mencoba mendekat demi menegaskan bahwa pria itu hanya miliknya. Meski penolakan keras yang ia terima hingga membuatnya menangis pilu karena merasa dicampakkan demi wanita kelas bawah, Aghata tidak menyerah. Ketegangan pun memuncak ketika ia nekat menggoda kembali sang pujaan hati di tengah penolakan yang begitu dingin.