APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mendarat di Hatimu yang Retak

Mendarat di Hatimu yang Retak

Pertemuan kembali setelah sepuluh tahun membawa perubahan besar bagi Liora Anindya dan Arlo Dirgantara. Liora sangat mencintai dunia penerbangan, sementara Arlo justru membenci langit akibat pengkhianatan mantan tunangannya yang merupakan seorang pramugari. Luka lama tersebut membuat Arlo yang dulu hangat kini menjadi sosok yang dingin. Profesi Liora sebagai pramugari pun membangkitkan trauma mendalam pada diri Arlo. Di tengah kebencian dan kenangan masa kecil, mampukah cinta mereka menyembuhkan luka Arlo?
Bab
Bagikan

Bab 1

Suara bising Bandara Soekarno-Hatta selalu punya cara sendiri untuk membuat kepala Liora Anindya terasa berdenyut. Aroma avtur, deru mesin turbin di kejauhan, dan langkah kaki ribuan orang yang terburu-buru adalah musik harian bagi perempuan itu. Sebagai pramugari senior, Liora sudah hafal mati setiap sudut terminal ini. Hari ini, jadwal terbangnya ke Denpasar baru saja mendarat, dan dia sedang berjalan menuju pintu keluar dengan seragam kebaya biru langitnya yang masih tampak licin tanpa kerutan sedikit pun.

Liora menarik koper kecilnya dengan anggun. Rambutnya disanggul rapi-"french twist" yang sempurna-dan senyum tipis masih terpatri di wajahnya, meski sebenarnya kakinya sudah mulai protes karena terlalu lama bertumpu di atas high heels lima sentimeter.

"Liora! Tunggu!"

Liora menoleh, melihat temannya, Siska, berlari kecil menyusul. "Kenapa, Sis? Ketinggalan sesuatu di galey?"

"Bukan, itu... ada titipan dari kru darat buat kamu. Berkas mutasi jadwal bulan depan," ucap Siska sambil menyodorkan map plastik. "Eh, tapi kamu nggak langsung pulang, kan? Makan dulu yuk di lounge depan."

Liora melihat jam tangan di pergelangan kirinya. "Aduh, kayaknya nggak bisa deh. Aku janji mau mampir ke toko buku bentar, ada titipan adikku. Duluan ya, Sis!"

Liora melambaikan tangan dan melanjutkan langkahnya. Dia melewati area kedatangan internasional yang padat. Saat itulah, segalanya seolah melambat. Di antara kerumunan orang yang menunggu jemputan, mata Liora menangkap sosok pria yang berdiri mematung di dekat pilar besar.

Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku. Jam tangan peraknya berkilau terkena lampu bandara. Wajahnya tegas, namun ada raut lelah yang dalam di sana. Liora mengerutkan kening. Rasanya akrab. Sangat akrab.

"Arlo?" gumam Liora pelan, hampir tak percaya.

Arlo Dirgantara. Teman masa kecilnya yang dulu sering memanjat pohon mangga bersamanya. Pria yang menghilang tanpa kabar setelah keluarganya pindah ke luar kota sepuluh tahun lalu. Liora mempercepat langkahnya, rasa antusias mengalahkan rasa lelahnya.

"Arlo! Arlo Dirgantara, ya?" seru Liora saat jarak mereka tinggal beberapa meter.

Pria itu menoleh. Awalnya matanya menyipit, mencoba mengenali siapa yang memanggilnya. Namun, begitu pandangannya jatuh pada Liora-atau lebih tepatnya, pada seragam pramugari yang dikenakan Liora-ekspresinya berubah drastis.

Bukan senyum hangat yang didapat Liora, melainkan sorot mata penuh ketakutan sekaligus kebencian.

Arlo tersentak mundur satu langkah. Napasnya tiba-tiba menjadi pendek dan berat. Tangannya yang memegang ponsel mulai gemetar hebat. Di matanya, sosok Liora yang cantik berseragam biru itu mendadak menjadi bayangan kabur yang menyeramkan. Memorinya terseret paksa ke sebuah malam beberapa tahun lalu, saat seorang perempuan dengan seragam serupa mencampakkannya dengan kata-kata paling kejam tepat di hari mereka seharusnya membicarakan pernikahan.

"Arlo? Kamu kenapa? Ini aku, Liora," ucap Liora panik melihat perubahan drastis pada pria itu. Liora mencoba mendekat, tangannya terulur ingin menyentuh lengan Arlo untuk menenangkannya.

"Jangan... jangan mendekat!" suara Arlo tercekat, parau dan penuh tekanan.

Liora terpaku. "Arlo, kamu sakit? Aku cuma mau-"

"Aku bilang menjauh!" bentak Arlo lebih keras, membuat beberapa orang di sekitar mereka menoleh. Wajah Arlo pucat pasi. Keringat dingin mulai muncul di keningnya. Dadanya sesak, seolah-olah oksigen di bandara itu mendadak habis.

Setiap detail pada diri Liora saat ini-syal yang melingkar di leher, pin sayap perak di dada kiri, hingga aroma parfum yang segar-adalah pemicu yang menghantam mental Arlo tanpa ampun. Baginya, Liora saat ini bukan teman masa kecil yang manis, melainkan simbol pengkhianatan yang paling nyata.

"Lo... lo pramugari?" tanya Arlo dengan nada jijik yang tak tertahankan, meski suaranya masih bergetar karena serangan panik yang menyerangnya.

Liora tertegun, tangannya yang menggantung di udara perlahan turun. "Iya, aku... aku baru kerja beberapa tahun ini. Arlo, kamu kenapa sih? Kita udah lama banget nggak ketemu, masa kamu malah begini?"

Arlo tidak menjawab. Dia memegang dadanya, berusaha mengatur napas yang kian tak beraturan. Matanya memerah. Tanpa sepatah kata pun lagi, Arlo berbalik dan setengah berlari meninggalkan area tersebut, menabrak beberapa orang di jalannya tanpa meminta maaf.

"Arlo! Tunggu!" Liora mencoba mengejar, namun langkahnya terhambat oleh koper beratnya dan kerumunan orang yang menghalangi jalan.

Dia hanya bisa berdiri mematung di tengah terminal, melihat punggung pria itu menghilang di balik pintu otomatis. Rasa senang yang tadi membuncah kini berganti menjadi rasa bingung dan sakit hati yang menyesak. Liora menunduk, menatap seragam yang sangat dia banggakan selama ini.

Kenapa Arlo menatapnya seolah-olah dia adalah monster? Apa yang terjadi pada pria itu selama sepuluh tahun ini?

Liora menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang tiba-tiba mendesak ingin keluar. Dia adalah Liora yang profesional, dia tidak boleh menangis di tempat umum dengan seragam ini. Tapi jauh di dalam hatinya, pertemuan kembali yang dia bayangkan akan indah itu justru berubah menjadi luka pertama yang tak ia sangka-sangka.

Bandara yang tadi terasa seperti rumah, mendadak terasa begitu asing dan dingin bagi Liora. Dia menyeret kopernya perlahan, meninggalkan keramaian dengan seribu pertanyaan yang tak punya jawaban. Di luar sana, langit mulai menggelap, seolah ikut merasakan kebingungan yang berkecamuk di dalam dada sang pramugari.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Takdir dan Cinta
9.3
Azra Guzel Nawala tak berdaya saat Daren memaksanya menikah tanpa celah untuk menolak. Pria egois itu hanya tahu cara memberi perintah mutlak, mengabaikan arti cinta suci bagi Azra. Padahal, hati Azra sepenuhnya milik Bima, lelaki yang begitu ia dambakan meski sulit digapai. Kini, takdir justru melempar Azra ke pelukan Daren yang terobsesi padanya. Ia pun terjebak dalam dilema besar, meratapi impian indahnya yang hancur akibat pernikahan paksa ini.
Sampul Novel Kamu Akan Miskin, Mas!
8.6
Pascapersalinan, mahligai pernikahanku berubah total. Sikapku mendingin kepada suami akibat goresan luka batin yang teramat perih. Rasa sakit hati yang mendalam ini mustahil sirna begitu saja dalam sekejap mata. Kini, keyakinanku telah bulat untuk menuntut sebuah keadilan. Bersiaplah, Mas, karena aku akan membalas semua perbuatanmu secara setimpal tanpa belas kasihan. Kamu tidak akan pernah bisa melarikan diri dari konsekuensi ini.
Sampul Novel Meninggalkan Negara Setelah Perceraian
8.5
Tiga tahun menikah, ia diceraikan dan dicap sebagai istri terbuang yang jadi bahan tertawaan sekota. Namun, enam tahun kemudian ia pulang membawa anak kembar serta reputasi baru sebagai dokter genius tingkat dunia. Di saat banyak lelaki mencoba mendekatinya, sang putri membawa kabar tak terduga. Sang mantan suami kini justru rela berlutut dan memohon selama tiga hari berturut-turut agar ia bersedia rujuk kembali demi membangun rumah tangga mereka.
Sampul Novel Perjalanan Menuju Cinta Sejati
9.7
Tujuh tahun mendampingi Handi Wenas tanpa kejelasan status, harapan pernikahan sirna saat miliarder itu memilih menikahi putri konglomerat Barata. Demi pernikahan ini, Handi membuang gelang manik-manik cendananya ke loteng sebelah yang kemudian terbakar. Sang wanita nekat menerobos api demi menyelamatkan gelang tersebut. Publik pun terenyuh saat netizen mengungkap bahwa gelang itu didapatkannya dengan penuh perjuangan, berlutut di bawah guyuran hujan deras di Candi Dharma.
Sampul Novel Satu Kalimat Abadi yang Tak Berubah
9.1
Sebagai ahli negosiasi krisis andalan di Divisi Khusus Kepolisian, Zaki Sadam mampu menaklukkan kondisi psikologis siapa pun dalam situasi paling berbahaya. Anehnya, kemampuan hebat itu mendadak lumpuh setiap kali dia berhadapan dengan air mata Cindi Wiryo. Banyak orang mengira Zaki sangat memuja Cindi dan bersedia melakukan apa saja demi kebahagiaannya. Sayangnya, di balik rumor romantis yang beredar luas tersebut, hanya Cindi yang menyadari kenyataan pahit bahwa hati Zaki sebenarnya milik wanita lain.
Sampul Novel Ternyata Suamiku Miliarder
9.7
Dikhianati tunangan dan adiknya, Celine Maira nekat menikahi pria yang dikira gigolo bar. Suami barunya ini sangat tampan dan bermarga Jayadi. Celine percaya klaim sang suami bahwa kemiripannya dengan Tuan Muda Ketiga Keluarga Jayadi hanyalah kebetulan. Namun, rahasia terbongkar saat Celine melihat wajah asli sang tuan muda yang sama persis dengan suaminya. Saat rumor beredar bahwa kepala keluarga Jayadi mencintai wanita bersuami, sang miliarder langsung menegaskan bahwa wanita itu adalah istrinya.