APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mencari Cinta Sejati

Mencari Cinta Sejati

Anggita Anggraini selalu mendambakan kasih sayang tulus yang menerima dirinya tanpa syarat. Sayangnya, kepedihan dari kegagalan hubungan masa lalu memaksa Gita membangun benteng pertahanan demi melindungi hatinya agar tidak terluka lagi. Kini, ia terjebak dalam trauma mendalam dan skeptisisme yang kuat. Mampukah Gita mengatasi keraguan batinnya, meruntuhkan tembok ego tersebut, dan membuka diri untuk cinta sejati? Simak perjuangan emosional Gita yang penuh liku.
Bab
Bagikan

Bab 2

Tiyo

[Judes banget neng, jangan judes judes napa? Nggak aslinya nggak di chat tetap saja judes. Lagi dapet?]

Ternyata dia orang yang cukup peka, tapi mau bagaimana memang ini lah sifatku. Judes dan pendiam, sebenarnya aku tidak percaya diri dan juga minder karena kekurangan yang aku miliki. 

Pesannya pun aku abaikan, apalagi aku lagi sibuk membuat surat lamaran pekerjaan untuk esok hari. Malam semakin larut sudah ada 5 surat lamaran yang siap aku pakai esok hari. 

Dret… 

Dret… 

Dret… 

Terdengar suara getar ponsel yang aku taruh di atas meja. Aku memang sengaja tidak memberi dering, karena sering banget dapat telepon dari nomor yang tidak aku kenal. Dan kebanyakan mereka dapat dari Adi. 

"Ya, halo," jawabku setelah tahu siapa yang telah melakukan panggilan. 

"Assalamualaikum, ucap salam dulu Gita!" ucapnya dengan lembut. 

Bibirku pun tertarik ke atas mendengar teguran dari Tyo. Mengenal Tyo, berbeda dengan teman-teman Adi. 

"Waalaikumsalam, ada apa telepon?" jawabku masih dengan nada yang kurang bersahabat. 

Entah kenapa hati ini masih ragu dan ingin membentengi agar tidak terlalu kenal lebih jauh dengan dia. Aku akui Tyo, adalah cowok tipe yang aku suka. Wajah yang tampan dengan sorot mata yang tajam dan postur tubuh yang perfect membuatku sedikit tertarik saat pertama bertemu. 

"Kok pesanku nggak dibalas? Lagi sibuk? Atau lagi telponan sama cowok kamu?" 

"Nggak juga sih, aku lagi buat surat lamaran," 

"Oh, ganggu nggak ini? Emang mau melamar kerja dimana lagi?" 

"Belum tahu juga, lihat nanti yang ada dimana. Tapi kayaknya mau nyoba cari di toko atau minimarket, semoga saja diterima,"

"Amin… Git, boleh tidak aku tanya?" ucapnya yang terdengar serius. "Cowok yang kemarin ada di depanmu itu siapa? Apa dia cowok kamu? Kayaknya kok dia marah saat aku duduk disampingmu?"

"Bukan! Dia itu cowoknya Fia. Cewek yang di sebelah dia waktu itu," 

"Oh… tapi dia kok melihat kamu seperti itu? Kayaknya dia suka sama kamu!" 

Pembicaraan masih saja berlanjut ada saja yang Tyo bahas. Sampai aku ketiduran karena mata yang sudah sangat berat dan akhirnya telepon ia matikan. 

***

Semenjak hari itu, kami sering bertukar kabar. Tiyo orang yang asyik untuk diajak bicara. Aku pun merasa nyaman sama dia. Tidak hanya lewat pesan tapi juga dia sering telpon. Tentunya ketika di rumah tidak ada orang. 

Kini hari-hariku semakin berwarna setelah kehadiran dia. Setiap hari selalu saja ada yan kita bahas, sedikit demi sedikit akupun bisa melupakan sakit hati yang pernah diberikan Adi. 

Terdengar dari sebuah radio ada lowongan untuk bekerja di surabaya. Aku tak ingin melewatkan informasi ini, segera aku catat nomer telpon lembaga penyaluran tenaga kerja yang di maksud. Ya, iklan itu di buat oleh LPK. Tidak nunggu lama, segera aku telfon nomer itu. 

"Halo, selamat siang. Dengan LPK Kencana ada yang bisa saya bantu?" ucap seseorang yang mengangkat telpon ku. 

"Selamat siang Pak, begini pak tadi saya dengar informasi dari radio. Maksud saya telpon ingin tanya apa lowongan itu masih ada?"

"Oh, masih masih mbak. Lengkapi persyaratan nanti langsung datang ke kantor. Selebihnya nanti akan kami sampaikan di kantor,"

"Baik Pak, kalau boleh tau persyaratannya apa saja? Biar saya siapkan sama minta alamatnya ya pak?"

"Persyaratan seperti biasa mbak, alamatnya nanti saya kirim,"

Setelah menutup telfon kini aku persiapkan persyaratan yang dibutuhkan dan untungnya semua sudah lengkap. Alamat juga sudah dikirim. Masalahku kali ini bagaimana aku izin, karena ibu belum tau. 

"Lagi apa Git?" tanya Ibu yang masuk ke dalam kamarku. 

"Ini lagi nyiapke lamaran. Tadi aku dengar dari radio dan besok aku mau daftar, do'ain semoga bisa diterima ya bu," 

"Iya, memang kerja apa?"

"Aku belum tau bu, tapi ini dari LPK mungkin di pabrik," ucapku asal karna aku tidak tahu nanti mau disalurkan kemana. 

***

Tidak hanya ibu yang aku beritahu, Tiyo juga. Aku bilang ke Tiyo lewat pesan. Dari hari ke hari hubungan kami semakin dekat jadinya aku terbiasa bilang ke dia apapun yang aku lakukan. Seperti hari ini, aku bilang ke dia kalau mau nglamar kerja. 

Hampir saja aku tersesat dan mau pulang karena aku tidak menemukan kantor LPK itu. Namun aku tidak mau menyerah begitu saja, dan akhirnya kini aku sudah menemukan. Di kantor ini, Pak Dion orang yang mengelola LPK ini menjelaskan. 

Ada dua pilihan mau di pabrik atau di minimarket dan aku milih di minimarket. Karena dulu aku sekolah bagian management bisnis dan bagiku itu sesuai dengan jurusan yang aku ambil. 

"Bagaimana Gita? Di terima?" tanya Ibu antusias setelah aku sampai rumah. 

"Alhamdulillah Bu di terima, tapi__"

"Tapi kenapa?" sahut bapak yang juga ingin tahu. 

"Tapi di luar kota Pak, bu, dan ada biaya administrasi sebesar 800rb itu kalau di minimarket kalau di pabrik 1,5juta. Tadi aku bilang yang di minimarket bu. Apa bapak sama ibu ada uang buat bayar administrasinya? Kalau tidak ada nanti aku batalkan saja,"

"800ribu ya? Kita usahakan Pak, ibu sudah tidak tahan dengar omongan tetangga. Asal kamu bisa kerja ibu dan bapak akan usahakan Git, luar kotanya mana?" ujar ibu. 

"Di Surabaya Pak, Bu. Makasih Pak, bu, aku janji akan bekerja dengan baik. Agar bisa mengganti uang Ibu,"

Alhamdulillah izin sudah aku kantongi, kini tinggal memikirkan bagaimana cara agar aku bisa segera berangkat kerja. Segera kukirim pesan pada Pak Dion dan bertanya kapan aku bisa berangkat. Betapa senangnya hatiku karena minggu depan aku bisa langsung berangkat. 

Kring... 

Kring... 

Kring... 

Panggilan masuk dari Tiyo, segera aku angkat. Karena seharian aku tidak sempat memberi kabar padanya. 

"Halo, assalamualaikum. Ada apa?"

"Waalaikumsalam, bagaimana tadi? Lancar?"

"Alhamdulillah, minggu depan aku berangkat. Kamu bagaimana sudah ada kabar dari kakak kamu?"

"Belum, doakan semoga aku juga lekas dapat kerjaan. Tapi minggu depan aku mau nyusul kakak dan mencoba melamar disana. Doakan semoga aku bisa lekas dapat kerjaan,"

Selesai telponan aku bersiap untuk tidur. Seminggu lagi aku akan pergi, dalam hati ingin sekali aku bertemu lagi dengan Tiyo. Tapi apa mungkin dia mau? 

***

Pertemanan kami semakin dekat sudah hampir satu bulan kami saling mengenal. Tiyo hari ini mengutarakan perasaan yang dia rasakan. 

"Gita, aku boleh jujur? Sebenarnya aku sayang sama kamu. Aku ingin lebih dari sekedar teman. Apa kamu mau menjadi teman dekatku? Apa kamu mau untuk jadi orang spesial dalam hidupku?" ucap Tiyo lewat sambungan telepon. 

"Biarkan hubungan ini mengalir apa adanya. Kita jalani seperti air yang mengalir dan tahu kemana nanti akan berhenti," jawabku tidak menolak atau menerima. 

Jujur dalam hati memang aku sudah bisa menerima dia, tapi aku tidak ingin  jika dia mengutarakan perasaan lewat dunia maya. Apa jika nanti kita ketemu dia mau mengutarakan perasaannya langsung? Atau dia malah akan menjauh karena jawaban dariku? 

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Akibat Bebas Bergaul
7.9
Mengusung genre romansa modern khusus dewasa, kisah ini menyoroti rumitnya hubungan asmara serta dampak nyata dari pergaulan bebas di masa kini. Melalui alur yang intens, pembaca diajak menyelami konflik personal dan konsekuensi dari pilihan gaya hidup tersebut. Sebuah narasi mendalam yang membutuhkan kedewasaan berpikir untuk memahami setiap lika-liku dan pertentangan batin yang dihadapi para tokohnya.
Sampul Novel Bangkitnya Ahli Waris Tersembunyi
7.9
Pasca mengakhiri hidup akibat perundungan, tubuh mahasiswa bernama Adit justru dirasuki jiwa Hito Aswatama yang tewas dalam kecelakaan maut. Dengan raga baru ini, Hito bergerak menyelidiki dalang di balik pembunuhan dirinya. Ia pun harus bersaing memperebutkan takhta ahli waris keluarga Aswatama melawan paman serta sepupunya. Perseteruan ini perlahan membongkar misteri kelam kematian orang tua Hito. Mampukah ia memenangkan takhta di tengah pusaran intrik tersebut?
Sampul Novel Boss Dingin
9.7
Zahra Aiza Naadhira awalnya ditolak bekerja di Perusahaan Haidar karena gaya busana Muslimahnya. Meski begitu, sang pemilik yang bernama Alvino Daffa Haidar akhirnya luluh setelah menyadari bakat besar Zahra dalam mengembangkan bisnis. Alvino sendiri merupakan miliarder paling kaya di Indonesia yang memiliki kepribadian sangat dingin kepada kaum hawa. Situasi kian rumit ketika terungkap bahwa ayah Alvino dan ayah Zahra rupanya telah menjalin sebuah kemitraan bisnis.
Sampul Novel Cinta Gadis Bunga
8.0
Lucyana, seorang gadis biasa, mendadak jadi sorotan saat Nyonya Silviana menunjuknya sebagai pewaris tunggal. Perubahan nasib yang instan ini memicu penolakan dari orang-orang sekitar yang meragukan dirinya. Di tengah kepalsuan dan intrik kaum elite, Lucyana harus berjuang bertahan hidup. Mampukah ia menghadapi tekanan lingkungan barunya sembari menemukan sosok cinta sejati yang tulus?
Sampul Novel Dikejar Jodoh
8.0
Elena menghadapi tekanan berat untuk segera menikah, tetapi ia justru dikhianati oleh kekasihnya. Di tengah rasa trauma yang mendalam, Rasky—pria yang paling ia benci—malah datang dan terus-menerus mengejarnya. Walau ketulusan Rasky mulai meruntuhkan ego Elena, bayang-bayang masa lalu tetap menjadi penghalang. Tiba-tiba, Elena meminta berpisah demi menyembunyikan sebuah rahasia kelam. Akankah Rasky tetap bertahan, atau rahasia itu akan menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Gairang seorang pembantu penggoda
8.3
Demi menyokong keluarganya, Hana yang baru berumur dua puluh tahun nekat merantau dan bekerja jadi pelayan di rumah seorang triliuner rupawan. Terbuai oleh harta, ia sengaja memikat sang majikan hingga terseret dalam hubungan rahasia yang penuh gairah di dalam mansion mewah tersebut. Semua itu ia lakukan demi uang. Namun, rasa jenuh akhirnya datang dan ia ingin menyudahi segalanya. Sanggupkah Hana membebaskan diri dari jeratan materi dan kepuasan yang menggiurkan yang membelenggunya?