APKDock Logo
Sampul Novel Akibat Bebas Bergaul

Akibat Bebas Bergaul

7.9 / 10.0
Mengusung genre romansa modern khusus dewasa, kisah ini menyoroti rumitnya hubungan asmara serta dampak nyata dari pergaulan bebas di masa kini. Melalui alur yang intens, pembaca diajak menyelami konflik personal dan konsekuensi dari pilihan gaya hidup tersebut. Sebuah narasi mendalam yang membutuhkan kedewasaan berpikir untuk memahami setiap lika-liku dan pertentangan batin yang dihadapi para tokohnya.

Akibat Bebas Bergaul Bab 1

Perkenalkan Namaku Reggie, biasa dpanggilnya Egi. Dulu aku ini anak baik-baik. Paling bandel cuma nonton bokep. Pacaran ga berani ga ada nyali. Main game kesukaanku. Tapi hobiku sebenarnya adalah belajar.

Aneh gak? Itulah yang sebenarnya. Sampai pada kisah ini, pada waktu aku telah lulus SMA waktu umur 18 tahun.

Kisah ini bermula ketika aku hendak daftar ulang kuliah di salah satu universitas kota Bandung. Karena aku masih belum berpengalaman pergi-pergi sendirian dan karena Mama Papaku sibuk, mereka meminta Pamanku yang mengantar aku. Pas nya lagi, ternyata Pamanku memang sedang berada disana di kota B, sedang bertugas untuk LSM besar tempat dia bernaung.

Karena berbagai hal, sesampainya aku di kota B hari sudah gelap. Aku menelpon Pamanku untuk meminta jemputan di terminal. Rencananya aku menginap di kosan Pamanku saja, besok baru mendaftar ulangnya.

Kami bertemu di sebuah warung di terminal, rupanya ia sudah semenjak sore menunggu disitu. Ia tidak sendirian pula. Ada gadis yang menarik mata pria disebelahnya. Pamanku mengenalkanku padanya.

Tangan lentik gadis cantik itu mengulur padaku.

"Reggie...," kataku kaku.

Perempuan berkulit putih dengan rambut hitam lurus sebahu itu tersenyum ramah, ia tidak menyebutkan namanya.

"Ini temen Mamang, Gi....' kata Pamanku. "Evi namanya... Tante Evi lah kalo kamu manggilnya"

"Ih... masa Tante... emang aku udah tua..." ia tersenyum. "Panggilnya Teteh aja....' sambungnya lagi.

Aku mengangguk mengiyakan saja. Dalam hati aku masih bingung, siapakah dia ini? Apa Pamanku punya istri lagi? menjijikan... bi Nur istri Paman Cahya yang sah kemana. pikirku.

Tapi tak mau kupikirkan lagi. Ditawari makan aku langsung memesan soto. Bodo amat ah, aku tak mau campuri urusan, kataku dalam hati sambil makan.

Setelah aku makan, pamanku berbisik padaku.

"Mana ada ga titipan si Papa buat Mamang?"

Aku termenung dulu, mengingat ingat.

"Oh, iya lupa Egi...."

Aku mengeluarkan amplop dari tasku. Pamanku merebut begitu saja. Dibukanya isinya, ia menghitung. Lalu setengah diberikannya pada Evi.

"Nih, itu sama ongkosnya ya sekalian?"

Teh Evi tersenyum mengangguk.

"Makasih," jawabnya.

Aku melihat setidaknya 500 ribu dipegang perempuan itu lalu masuk kedalam saku celana jeannya, sementara sisanya 500 ribu masuk ke kantung saku seragam LSM milik pamanku.

"Hayu Gi... kita cao...," sahut Pamanku bersemangat.

Didalam mobil sedan butut tahun jebot milik pamanku mereka mengobrol seru didepan. Aku menghabiskan waktu dengan melihat-lihat sekitar, mencoba mengingat-ingat jalan yang kami lalui. Biar hafal nanti kalau kesini sendirian.

"Oh... jadi ini teh anak dokter Linda...' Teh Evi menoleh padaku.

'Iyaah...." jawab pamanku.

Aku mengangguk ramah.

"Kenapa emangnya?" tanya Mang Cahya.

"Gapapa, hihi ganteng... hahahaha...." Teh Evi tertawa sambil menutup mulutnya.

"Mirip Mamangnya ya?"

"Ih... ini mah mirip Mamanya atuh putih... si Akang mah mirip Papanya... item hahaha."

"Iiya kan memang Kakak saya."

Mereka membicarakan Papaku yang kakaknya Mang Cahya. Papaku juga Dokter sama dengan Mamaku. Pada saat itu Papaku menjabat sebagai Kepala di RSUD di kota kami.

"Si Mama teh orang Tionghoa bukan A Egi?" tanya Teh Evi.

"Iya setengah...." jawabku, "Dari si Kakek yang Tionghoa mah, nenek asli urang sunda...."

"Ooooh sama atuh yah sama Teteh.... Teteh juga kan Papa Teteh orang Tionghoa...."

"Cuma beda nasiib..." sela Pamanku.

"Hahaha...." kami semua tertawa bersama.

"Ko Teteh bisa kenal sama Mama saya. emang orang mana aslinya?" tanyaku penasaran.

Teteh dan Pamanku tertawa.

"Iya sama... orang sana juga Egi... tadi baru datang juga pake bis... cuma dia mah sore, kalo kamu janjina sore, datang-datang udah Isya.... huuuh..." jawab Pamanku.

Aku cengengesan, Teh Evi tertawa, kini tak lagi sambil menutup mulutnya. Ia membalik untuk melihat wajahku. Dimatanya terlihat pula senyumnya padaku.

Dia cantik, pake kaos u can see ketat, dimasukin kedalam celana jean yang menampilkan lekuk pantat, membentuk bodi ramping, ukuran dadanya pas. Rambutnya digerai sebahu lebih dikit. pakai poni untuk tirai wajahnya. 'Haduuuh... lumayan buat bahan coli nih....' kataku dalam hati.

'Dimana Pamanku yang begajulan bisa menemukan perempuan seperti ini', pikirku

Mobil memasuki pelataran sebuah cafe yang didekorasi dengan batang bambu.

"Mau kemana kita Mang?" tanyaku.

"Sebentar Gi ketemu temen... cuma sebentar... kamu makan lagi atuh.... atau nyanyi-nyanyi karaoke tuh sambil nunggu, si Evi seneng tah nyanyi... kalo ke kosan dulu jauh Gi muter...."

Aku sedang tak tertarik untuk bernyanyi, padahal aku ini vokalis band kacangan, aku lelah sebenernya pengen tidur. Tapi malas untuk protes sama Mang Cahya.

Aku memilih memisah menjauh dari meja mereka. Segera saja teman-teman pamanku berdatangan. Mereka memesan minuman beralkohol dan kacang-kacangan. Mereka mulai mengambil mic dan bernyanyi. Aku memesan kopi susu, dan mengambil hapeku mengabari orang tuaku bahwa aku sudah samapai dan bertemu Mang Cahya, kubalasi pesan-pesan kawan-kawanku pada hapeku.

Malam semakin larut, pesta di meja pamanku sudah mulai berkurang. Kini tinggal Teh Evi yang sedang bernyanyi. Pamanku yang sudah setengah teler tengah berbisik-bisik dengan rekannya. Ia kelihatannya sudah lupa kalau aku sekarang ini ikut bersamanya. Teh Evi melirik ke arahku, kelihatannya kasihan dengan keadaanku yang kelihatan bosan, ia mengangkat 1 botol bir yang masih penuh bermaksud menawarkan padaku.

Ternyata efek bir sebotol itu lumayan buatku. Aku terlelap di mejaku. Bukan tak sadarkan diri. Cuma hawa alkohol memang berhasil menambah kantukku. Pamanku membangunkanku ketika mereka semua bersiap untuk bubar. Di mobil aku lanjut tidur. Sesampai di kosanpun aku langsung menggoler tiduran lagi diatas karpet, aku memilih diatas karpet karena kulihat kasur cuma ada satu.

Aku terbangun sesaat di gelap malam, terganggu oleh suara yang konstan berulang, aku sayup mendengar suara kain bergesek berulang-ulang suara pria yang sedang ngos-ngosan, dan suara perempuan yang sedang merintih seperti menahan sakit. Mataku mencari-cari, masih buram karena belum terbiasa dengan gelapnya ruangan.

Setelah jelas barulah aku melihat tubuh pamanku yang telanjang tengah menindih tubuh Teh Evi yang bersuara lirih. Tidak terlihat seluruh tubuh bawahnya, karena terhalang pantat paman yang aktif naik turun memompa. Mata Teh Evi terpejam, ia kelihatan berusaha menahan suaranya sepelan mungkin. Desahannya terdngar, 'aang....

Seumur hidupku baru dua kali memergoki orang sedang bersetubuh, kedua orangtuaku sewaktu aku kecil, sekarang pamanku dan Teh Evi yang entah siapanya. Kejadiannya hampir sama, terbangun seperti ini.

"Aw... aw," Tiba-tiba Teh Evi mengaduh. Aku buru-buru menutup mataku lagi.

"Aduh jangan neken ke situ atuh Kang, kena tulang ih... sakit...."

"Oh, iya maaf...."

Pompaan itu kembali terdengar. Aku mengintip lagi. Kini kulihat Teh Evi tak lagi memejamkan mata, tak lagi mendesah kenikmatan, wajahnya bolak balik menatap ke arah sana sini. Ia seperti sedang melayani pamanku saja, menunggu selesai.

Tiba-tiba pandangan matanya beradu dengan intipan mataku. Aku terkejut, sontak kututup buru-buru. Teh Evi kelihatannya masih memperhatikanku untuk memastikan

"Kang... eh eh Kang... itu Egi bangun kali....?"

Pamanku berhenti sejenak, ia berpaling menatap ke arahku. Aku tegang, berusaha sebaiknya di luar kemampuanku berakting pura-pura tidur. 'Mampus... jangan sampe ketawan....' Nafasku kuatur semirip orang yang tidur. Sampai kukeluarkan sedikit suara kerongkongan orang tidur.

Terdengar kembali suara kain bergesekan, walau perlahan. Lagi enak kayaknya si Paman, tanggung kalau mau lepas.

"Bukan ah... tidur dia sih... ngga.... ga apa-apa...."

Pamanku melanjut ijut lagi Teh Evi, lebih semangat kedngrannya sekarang. Suara plak plak kulit beradu pun terdengar.

"Aaaach...." Teh Evi menjerit kecil. Akupun penasaran, kubuka lagi mataku.

Pamanku menahan badannya dengan tangannya, hentakan pada tubuh bawahnya jadi lebih kencang. Plak plak.... Teh Evi memejamkan kembali matanya. Kedua tangnnya ada di dada Mang Cahya.

"Sssshhh... aaah... jangan keluar di dalam," seru Teh Evi.

"Iiyaaa aaaaaaarghh...." Pamanku mencabut kontolnya pas ketika spermanya muncrat di perut Teh Evi.

"Aaaaaaargh... ah hah hah hah...."

Teh Evi memperhatikan tiap crotnya yang keluar. Tak terlalu banyak seperti yang di film bokep. Cepat ia mengambil celana pendek pamanku dan mengelapnya seketika. Sempat ia melirik ke arahku. Pandangan kami beradu lagi sekilas. Terkejut lagi aku, otomatis pula kututup matak. u.

"Aaahh..." Pamanku terdengar menggelesoh ke sebelah Teh Evi.

Deg! Inilah kesempatanku melihat memeknya. Sebelum ditutup yang punya. Aku membuka mataku lagi.

'Wew...! Kusaksikan Teh Evi menutupi tubuhnya dan memeknya yang ditumbuhi bulu hitam itu perlahan dengan selimut. Aku terpana. Selimut itu terus ditariknya sampai dada yang masih memakai u can see tadi. Kutangkap matanya menatap kepadaku, bibirnya agak mengulum senyum. Aku langsung terkena sihir, terutama si tititku yang perjaka, si titit tegang luarbiasa.

Tapi ku tak berani apa-apa, setidaknya harus menunggu mandi pagi agar bisa kucolikan ketegangan ini.

Pamanku langsung mengorok. Teh Evi beranjak duduk sambil berselimut rapat. Aku membalikan badanku. Akupun berusaha tidur.

Sebelum tertidur kudengar Teh Evi pergi kekamar mandi cukup lama.

Udara dingin menerpa wajahku. Aku masih bisa bertahan, tapi kemudian suara bising mobil sedan butut dan bau knalpot membangunkanku. Setelah sepenuhnya sadar, barulah aku tahu, pamanku sudah berada dalam mobil hendak memacunya pergi. Kulihat Teh Evi berdiri dekat jendela mobil berbicara dengan pamanku.

Aku duduk kebingungan menatap Teh Evi yang masuk kembali ke kamar sambil menutup pintu.

"Apa A, hehe udah bangun?" tanyanya duduk diatas kasur sambil menyulut sebatang rokok.

"Itu si Mamang dipanggil ketua Kota Bandung, disuruhnya mah kemarin setelah dari café itu. Tapi malah ketiduran dianya...."

Ia duduk mencari-cari sesuatu. Mataku pun ikut mencari. Sama-sama kami tertumbuk pada sesuatu, celana dalam perempuan Teh Evi. Ditariknya kain kecil berenda tersebut kedalam selimutnya. Ia tiduran sebentar sambil berusaha memakainya, masih didalam selimut rapat.

"Eh maaf ya A, pakai ini dulu... hihi males mau ke kamar mandi...."

Barulah disitu aku ingat kejadian semalam. Terbayang kembali keseruannya. Kontolku bergerak sedikt demi sedikit.

'Aduh.... aku coliin dulu aja apa ya?' pikirku dalam hati.

"Mau ngopi A?" tanya Teh Evi.

Ia kini setengah menelungkup menghadapku, bertumpu pada siku sambil merokok.

"Teteh mau?"

"Eh, malah balik nanya, Teteh bikin satu gelas untuk berdua aja ya?"

Aku mengangguk. Ia berdiri mengikatkan selimut pada pinggangnya, diatasnya ia tetap memakai U can see, tapi tanpa beha kulihat.

^*^

Lanjut Membaca

Daftar Isi Akibat Bebas Bergaul

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel En-PD158
8.7
Demi menyembuhkan putra kandungnya dengan Lin Yanran yang terkena leukemia, Zhou Yu'an mendadak meminta cerai setelah tiga tahun menikah. Ia memohon kepada istrinya agar diizinkan memiliki anak lagi dengan sang mantan pacar demi mendapatkan sel pengobatan, berjanji akan kembali setelah semuanya usai. Namun, di balik tangis pilu suaminya, sang istri justru menemukan pesan provokatif dari Yanran yang menuntut Yu'an untuk menghamilinya malam itu juga.
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menebus adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari terpaksa menjual kesuciannya kepada Keyko Khayang Gumelar seharga 100 juta rupiah. Namun, takdir membawanya bertemu Damian, seorang duda tampan, di sebuah supermarket tanpa sengaja. Kini, Daiva berada di persimpangan asmara saat kedua pria itu mulai memperebutkan cintanya. Siapakah yang akan Daiva pilih sebagai pendamping hidupnya di tengah bayang-bayang masa lalu yang kelam?
Sampul Novel Hari Bahagianya, Hari Kematian Aku
8.4
Di hari pernikahannya, seorang wanita dikhianati oleh keluarganya sendiri. Orang tua dan tunangannya, James, mendesak agar posisi pengantin digantikan oleh sang kakak yang sekarat demi memenuhi keinginan terakhirnya. Karena menolak, ia diikat paksa di rumah dengan janji akan dibebaskan setelah upacara selesai. Malangnya, saat ditinggal sendirian, seorang penjahat menyusup dan menghabisi nyawanya dengan kejam. Ketika keluarganya akhirnya kembali, mereka hanya mendapati jasadnya yang telah membusuk.
Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Demi kesembuhan kekasih Anthony Smith, Alicia Huang rela menjadi donor sumsum tulang belakang. Namun, ia mengajukan syarat agar Anthony bersedia menikahinya. Anthony pun sepakat dengan satu tuntutan mutlak: pernikahan mereka harus dirahasiakan rapat-rapat dari publik. Kini, Alicia menjalani hari-harinya sebagai istri yang tersembunyi layaknya seorang simpanan. Akankah pernikahan kontrak ini menumbuhkan cinta tulus, atau justru berujung luka mendalam bagi mereka?
Sampul Novel Menjadi Orang Ketiga Dipernikahan
7.9
Pernikahan hasil perjodohan Mira Aditya dengan Rafiq Jaya berujung pilu. Di balik ikatan tersebut, Rafiq rupanya telah menikahi Elena Faris, cinta masa lalunya, secara diam-diam. Terasing di rumah sendiri dan terus didera kepedihan mendalam membuat Mira berada di titik nadir. Di tengah kekecewaan serta hampa yang kian menyiksa, ia pun kini harus menentukan pilihan sulit: tetap bertahan dalam kepalsuan atau melangkah pergi demi meraih kebebasannya.
Sampul Novel P. S. I LOVE YOU
8.5
Kehidupan Cyra Alesha, mahasiswi berumur dua puluh tahun yang bekerja paruh waktu di kota besar, berubah drastis akibat kesalahpahaman dengan Felix Domil. CEO muda yang kejam sekaligus pewaris tunggal tersebut tega menyiksa dan menginjak harga diri Cyra. Di tengah penderitaan itu, Cyra justru terpikat oleh pesona sang miliarder. Kini, ia dihadapkan pada pilihan sulit: terus bertahan menghadapi kekejaman Felix atau memilih berontak untuk membebaskan dirinya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan