APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menaklukan CEO tampan

Menaklukan CEO tampan

Sejak kepergian sang ayah, Clara harus membanting tulang sebagai admin demi menghidupi ibu dan kakaknya sembari tetap kuliah. Beban hidupnya kian berat akibat tekanan dari CEO yang arogan serta kepedihan mendalam setelah dikhianati oleh kekasihnya yang playboy. Bertekad mengubah takdir keuangan keluarga, Clara iseng mendaftar ke biro jodoh untuk mencari pria mapan. Mengejutkan, sosok yang ia temui di sana justru bosnya sendiri. Clara pun kini bertekad memikat hati sang CEO tampan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Bab 2.

Sampai di lantai tiga, aku celingukan mencari ruang Boss. Ada satu ruangan di depan pintunya bertuliskan "Direktur Marketing dan Operasional." Mungkin ini ruangan yang di maksud Miss Caterine tadi. Dengan membaca doa dalam hati, perlahan ku ketuk pintunya.

Tok ... tokk ... tokk ...

"Masukk!" sahut suara dari dalam.

Kreekk ...

Pintu ku buka. Seorang lelaki berkacamata minus, sedang duduk di belakang meja. Ia menatap serius ke layar komputer, tanpa perdulikan kehadiranku.

"Maaf, Pak, saya ingin mengantarkan hasil rekapan data untuk di tanda tangani," ucapku.

"Iya, sudah tau! Letak di meja dan tunggu di kursi itu!" sahutnya dengan nada angkuh.

Ku amati wajah lelaki di depan ini, waduh ... sepertinya lelaki ini yang menyenggolku tadi. Keringat dingin mulai membasahi kemeja yang kupakai. Padahal ruangan ini suhunya dingin banget seperti di dalam kulkas.

"Hey, jangan melamun! Ini sudah saya tanda tangani, bersiap-siaplah! Kita akan rapat dengan dewan Komisaris!" titahnya sambil mengangkat wajah.

"Hahh ... kamu!!!" teriaknya. Aku dan si Boss sama-sama kaget. Ia menyipitkan mata sambil berkata.

"Kamu yang tadi menabrak saya di ruang absensi?!" ucapnya dengan suara berat.

"Maaf, Pak! Saya permisi," aku langsung buru-buru keluar dari ruangan itu. Hampir saja map biru tertinggal di meja kerjanya.

Setelah berada di luar pintu, aku menarik napas lega. Ternyata yang kutabrak tadi pagi adalah seorang CEO di perusahaan ini. Lagi pula aku tak sengaja kok. Dia saja yang jalan tak pakai mata, asal nyelonong saja.

Syukurnya aku bisa langsung kabor dari hadapannya. Kalau tidak, pasti sudah di interogasi oleh CEO yang angkuh itu. Gegas aku masuk kembali ke dalam lift menuju lantai dua. Untungnya di lift sedang ramai, jadi tak kumat pobhiaku.

"Loh, kamu kenapa, kok kemejanya basah begitu? Habis lihat hantu, ya?" tanya Miss Caterine heran.

"Enggak Papa kok, Mbak," sahutku pelan.

"Hm, Miss tau nih! Pasti kamu baru pertama kali ketemu dengan CEO ganteng itu, kan!?" cecarnya.

"Ahh, Miss sok tau, deh," jawabku.

"Asal kamu tau aja, ya! Sudah dua kali Miss punya asisten admin. Tapi dua-duanya gak betah bekerja di kantor ini, karena CEOnya galak!" jelasnya.

"Masak sih, Miss?" tanyaku kaget.

"Beneran loo, sama persis seperti kamu! Keluar dari ruangan Boss CEO, kemejanya basah bermandikan keringat!" ledeknya.

"Memangnya Miss gak seperti itu, ya kalau bertemu CEO galak itu?" tanyaku kepo.

"Iya, Enggaklah! Ngapain takut, orang umur CEOnya masih di bawah, Miss! Paling seumuran kamu atau lewat dikitlah!" jelasnya sambil tertawa.

*******

Di dalam hati, aku membenarkan ucapan Miss Caterine. Sampai nama CEOnya saja aku belum tau, padahal sudah satu bulan bekerja. Nanti saat rapat akan ku selidiki siapa dia, sebab aku mulai penasaran dengan sikap sombongnya.

Saat rapat berlangsung, aku tak bisa fokus dengan isi rapat yang dibicarakan. Syukurnya

aku hanya asisten, tugasnya hanya menemani Sementara Miss Caterine yang mencatat semua hasil rapat.

Aku terus mengamati CEO dan beberapa orang peserta rapat. Salah satunya ada dewan komisaris. Beliau adalah orangtua dari CEO tersebut. Aku tau karena mereka duduk berdampingan. Namanya Surya Hutomo. Sedangkan di dada sebelah kanan CEO ada bed bertuliskan nama Calvin Hutomo, mereka duduk berdampingan.

Baru pertama kali aku di ajak ikut rapat, ini permintaan CEO tersebut. Itu karena posisiku sebagai asisten Mbak Caterine jadi harus paham tentang perusahaan ini, begitu alasannya. Waktu rapat selama dua jam, berlalu begitu saja.

"Kamu asisten admin yang baru, ya?" tanya Tuan Surya Hutomo.

"Iya, Tuan," sahutku sambil membungkukkan badan. Kami berpapasan ketika hendak keluar ruang rapat.

"Kamu sudah tamat kuliah?" Tuan Komisaris mulai kepo.

"Belum Tuan, sedang menyusun skripsi!" jawabku sopan sambil menundukkan kepala.

"Bekerjalah yang rajin dan teliti, siapa tau kamu bisa jadi asisten tetap di sini!" pesannya.

"Baik, Tuan." Aku menganggukkan kepala dan menyilakan beliau untuk keluar ruangan terlebih dahulu.

Dari jauh CEO tersebut mencuri pandang ke arahku. Pasti ia penasaran dengan apa yang sedang kami bicarakan. Hm, Bapaknya saja ramah, mau bertegur sapa. Nah, ini anaknya kok bisa sombong begitu, ya?

"Cieee, yang baru tegur sapa dengan calon mertua!" ledek Miss Caterine.

"Aiih, apaan sih, Miss? Fitnah banget ituu!" jawabku sambil cekikikan.

Sebenarnya hatiku bersorak dalam hati, siapa yang tak mau jadi menantu dari seorang  pengusaha terkenal dan istri seorang CEO tampan. Pasti di luar sana berebut wanita yang ingin mencuri hati CEO tersebut.

"Kalau besok ada jadwal meeting, kamu mau ikut gak?" tanya Miss Caterine.

"Kalau diperbolehkan, saya mau Miss!" ucapku bersemangat. Pasti di sana bertemu CEO ganteng lagi, pikirku.

"Ya, sudah, hampir jam istirahat, kamu bereskan semua berkas di atas meja! Setelah itu kita makan siang di kantin!" ajaknya.

Gegas ku bereskan semua lembaran tugas yang berserakan di atas meja, kemudian menyusunnya dengan rapi. Setelah itu kami pun keluar menuju lift untuk turun ke lantai bawah menuju kantin.

*******

"Cla ... buruan! Entar antri yang masuk ke lift!" Miss Caterine menarik tanganku.

"Iya, Miss," sahutku setengah berlari.

Tiba di pintu lift, sudah menunggu beberapa orang yang hendak turun untuk makan siang.

"Miss ... kita pindah ke lift sebelah sana, yuk!" ajakku sambil menunjuk lift di sebelah kanan.

"Oke!" Miss Caterine mengekor di belakangku.

Begitu pintu lift terbuka kami segera masuk.

"Heyy, tahan! Jangan tutup liftnya!" ucap suara di belakang kami, aku menoleh ke asal suara, degg ... lelaki bertubuh atletis itu sudah berdiri sejajar denganku.

Tiba-tiba keringat dingin mulai mengalir membasahi kemeja yang ku pakai. Melihat situasi ini, Miss Caterine langsung menyapa Boss CEO dengan sopan.

"Silakan masuk, Pak! Hendak turun makan siang juga, ya, Pak?!" tanya Miss Caterine.

"Hm, iya," sahutnya ketus.

Setelah basa-basi yang singkat itu, kami pun saling diam, kebetulan di dalam lift hanya kami bertiga. Mungkin karyawan lain enggan satu lift dengan CEO yang sombong.

Dengan ekor mata, ku perhatikan CEO ini mencuri pandang ke arahku. Ia menelisik inci demi inci semua yang ada ditubuhku. Sedang Miss Caterine sibuk membalas pesan di ponselnya.

Pintu lift terbuka, kami persilahkan CEO tersebut lebih dulu keluar. Dengan langkah angkuh ia berjalan keluar gedung. Berarti ia makan siang ke luar kantor bukan di kantin.

"Enggak usah gitu amat merhatiin CEO ganteng itu! Entar gak bisa tidur loo," ledek Miss Caterine sambil menggoyangkan telapak tangannya di depan mataku.

"Ahh, Miss ini dari tadi ngejek terus deh!" protesku sambil mengusap keringat di dahi.

"Habisnya kamu itu lucu, deh! Setiap melihat CEO, selalu kemejanya basah! Memangnya kamu takut, ya?" Miss Caterine heran.

"Enggak juga sih, Miss! Saya hanya takut di pecat saja bila melakukan kesalahan."

"Maklumlah, Miss, saya bekerja sambil kuliah. Kadang kurang fokus karena kelelahan sehabis bekerja!" jelasku.

"Iya juga, sih. Kamu harus pandai mengatur waktu antara kuliah dan pekerjaan. Sebab dua-duanya penting, karena keduanya adalah masa depan kamu."

Mobil CEO tadi sudah pergi meninggalkan halaman parkir. Enak banget jadi Direktur, makan siang boleh keluar gedung. Pergi ke tempat mana saja yang disukainya.

Baru saja CEO tadi meninggalkan kantor, datang seorang wanita seksi berdandan menor. Ia menegur Miss Caterine, lalu menanyakan keberadaan CEO tersebut.

Bersambung ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam : Kembalinya Sang Miliarder
8.0
Di rumah sakit mewah Chicago, kebahagiaan Florence melahirkan putra kandungnya hancur seketika. Nelson Gonzales, sang presiden sekaligus ayah dari bayi itu, justru menunjukkan kebencian mendalam. Nelson menolak mengakui darah dagingnya sendiri dan tega menghina Florence. Konflik memuncak saat Nelson mengancam akan membuang bayi malang tersebut. Saat Florence berusaha menenangkan bayinya dengan menyusui, Nelson malah menuduhnya melakukan tindakan keji itu demi merayunya.
Sampul Novel Perceraian Ditolak: CEO yang Sombong Tak Mau Biarkan Saya Pergi
8.1
Banyak orang menantikan kabar perceraian Rhett dan Jillian demi kembalinya sang mantan kekasih. Namun, kejutan besar terjadi dalam konferensi pers. Sang CEO justru memamerkan bayi mereka ke publik dan membantah rumor miring tentang rumah tangganya. Rhett menegaskan bahwa pernikahan mereka sangat harmonis dan kian bahagia dengan kehadiran buah hati mereka. Harapan publik untuk melihat pasangan ini berpisah pun akhirnya pupus seketika.
Sampul Novel Dendam Cinta Sang Miliarder
9.4
Sagara Tyson Murphy dirundung duka mendalam setelah kematian tragis tunangannya, Janessa. Ia meluapkan kemarahannya pada Aluna Jaylee Morris, sosok yang dituding bertanggung jawab atas kecelakaan maut tersebut. Tak rela melihat Luna hidup bebas, Saga memaksanya menikah demi membalas dendam secara langsung. Demi melindungi orang-orang tercinta, Luna rela menanggung segala siksaan Saga. Namun, akankah kebencian Saga goyah saat tabir kebenaran perlahan mulai tersingkap?
Sampul Novel Dikira Pelayan Miris, Ternyata Pewaris
9.2
Kehidupan Danny Laksana runtuh usai dikhianati sang kekasih dan kehilangan orang tua dalam sebuah tragedi tragis. Di tengah kepedihan, ia mendapati kenyataan bahwa dirinya adalah pewaris tunggal dinasti bisnis terkaya. Demi membalas dendam pada mantan pacarnya serta membongkar misteri kematian orang tuanya, Danny memilih menikah. Tanpa ia sadari, dalang kejahatan yang selama ini ia incar ternyata berada sangat dekat di lingkaran terdekatnya.
Sampul Novel Gairah Istri yang Tersembunyi
8.9
Demi wasiat kakeknya, Abigail Putri terjebak dalam pernikahan paksa. Di balik penampilan biasanya, ia merahasiakan karier profesional yang sangat bergairah. Sang suami, seorang CEO penerbitan dan psikolog berkarakter dingin, justru sangat terobsesi dengan penulis misterius yang sebenarnya adalah Abigail sendiri. Begitu rahasia besarnya terancam tersingkap, ia terpaksa bernegosiasi dengan suaminya, meski perlindungan itu menuntut tebusan yang sangat mahal.
Sampul Novel MENJADI BUDAK NAFSU TUAN YUAN
9.8
Sepulang dari London, Hani Paulla bekerja jadi sekretaris di bawah pengawasan sang kakak, Yuan Andersson. Namun, pesona Hani memicu obsesi gelap Yuan hingga memaksanya melayani hasrat sang billionaire. Terjebak hubungan terlarang, sentuhan Yuan justru membuat Hani kecanduan. Kini ia bimbang antara kabur atau menyerah pada cinta, sambil terus didera ketakutan jika rahasia ini terbongkar di hadapan orang tua mereka.