APKDock Logo
Sampul Novel Dendam Cinta Sang Miliarder

Dendam Cinta Sang Miliarder

9.4 / 10.0
Sagara Tyson Murphy dirundung duka mendalam setelah kematian tragis tunangannya, Janessa. Ia meluapkan kemarahannya pada Aluna Jaylee Morris, sosok yang dituding bertanggung jawab atas kecelakaan maut tersebut. Tak rela melihat Luna hidup bebas, Saga memaksanya menikah demi membalas dendam secara langsung. Demi melindungi orang-orang tercinta, Luna rela menanggung segala siksaan Saga. Namun, akankah kebencian Saga goyah saat tabir kebenaran perlahan mulai tersingkap?

Dendam Cinta Sang Miliarder Bab 1

Embusan napas tertahan yang terdengar begitu menyesakan, menguar melalui celah antara bingkai birai milik Sagara Tyson Murphy yang sedikit berjarak juga tampak gemetar, karena tengah mencoba mati-matian untuk menahan tangisan.

Manik mata jelaganya yang dikelilingi iris yang memerah, menyalang tajam, dibiarkan menatap lamat pada pusara yang ada di hadapannya.

Berdiri tegap kendati dengan seluruh persendian di seluruh tubuh sebenarnya sudah merasa begitu lemas, Saga - begitu singkatnya pria berusia tiga puluh tahun itu biasa di sapa, sudah sekitar tiga puluh menit memaku di sana.

Mengabaikan derasnya air hujan yang mengguyur tubuh, juga gelegar guntur yang seakan memberi cambukan pada relung yang tengah didera asa, Saga masih belum memiliki keinginan untuk beranjak.

Hati Saga saat ini sebenarnya sedang remuk redam. Dunianya runtuh, sebab baru saja ditinggalkan oleh Salsabila - sang ibu, untuk selamanya.

Beberapa jam yang lalu, tepatnya saat Saga baru sekali tiba di bandara selepas melakukan perjalanan bisnis, pria pemilik paras tampan itu dikagetkan dengan sebuah kabar yang berhasil membuat dunianya seperti berhenti berputar.

Saga yang ingin bergegas kembali ke Mansionnya, berjalan begitu antusias dengan senyuman yang memeta indah, menghiasi bibir, menambah pesona yang ia miliki.

Ia merasa bahagia bukan main, karena pikirnya ... saat itu akhirnya ia bisa melepas rindu yang sudah begitu menggebu dalam relung pada sang kekasih dan sang ibunda yang menunggu kedatangannya.

Dua minggu terasa waktu berjalan begitu lambat bagi Saga, karena harus berjauhan dengan orang-orang terkasihnya. Namun, begitu dirinya tiba, bukannya ia disambut oleh pelukan hangat atau pun senyum senang dari mereka, Saga mendapati Julian - orang kepercayaannya, menerima telpon dari Sesil yang kepala pelayan di mansionnya membawa kabar menyedihkan.

"Tuan?" Julian ragu-ragu menyeru begitu dirinya menghentikan langkah dan menutup panggilan dengan Sesil.

Dengan perasaan heran, Saga melakukan hal yang sama, yakni menghentikan ayunan tungkai dan menoleh ke arah Julian.

"Ada apa?" Saga bertanya dengan suara bariton bernada dingin, sedikit jengkel.

Pandangan Julian seketika tertunduk, menatap jemari yang ia tautkan di depan badan. "Ada hal yang ha-harus saya sampaikan, Tuan."

Kerutan samar muncul di kening Saga. "Apa? Katakan. Jangan membuang waktu. Aku harus segera pergi menemui Jane dan juga ibuku." Saga memendarkan pandangan, menatap keadaan sekitar dengan nanar. "Kenapa tidak ada satupun dari mereka datang ke bandara seperti biasanya? Apa mereka lupa, jika hari ini aku pulang?" gumamnya.

"Ini tentang Nyonya Besar dan Nona Janesaa, Tu-Tuan."

"Ada apa dengan mereka?"

Julian menelan ludahnya dengan susah payah. "Me-mereka ... me-mereka mengalami ke-kecelakaan, Tu-Tuan."

Mata Saga membelalak. Terkejut, tentu sangat. Jantung Saga saat itu seketika bekerja lebih keras daripada biasanya, berdebar dalam tempo yang begitu cepat, ayalnya orang yang baru selesai melakukan lari marathon.

Rasa bahagia yang sebelumnya hampir membuncah dalam relung, seketika diambil alih oleh rasa cemas yang begitu mengungkung.

"Ke-Kecelakaan? Lalu bagaimana keadaan mereka sekarang? Di mana mereka?"

Sungguh, tak sampai hati Julian menyampaikan kebenaran yang harus Saga dengar saat itu, karena ia mengetahui pasti, jika berita yang hendak ia sampaikan, mampu menghancurkan perasaan orang yang saat ini berdiri di hadapannya itu.

Julian yang bisa dibilang sebagai tangan kanan Saga, orang yang paling mengenal Saga di antara para pekerja lainnya, tahu ... jika Saga sangat menyayangi sang ibu dan Janessa Kennedy Jordan - kekasihnya, lebih dari apa pun, bahkan dirinya sendiri.

"Tiga hari yang lalu mereka mengalami kecelakaan, Tuan. Nona Janessa tidak memberi anda kabar sejak saat itu, karena dia sebenarnya telah meninggal dunia."

Sebagaimana ada ribuan pisau belati yang tepat mengarah pada dada dan menancab dalam relungnya, Saga sungguh merasa dadanya sesak bukan main.

Saga bergeming, membiarkan perasaannya perlahan mengambil alih. Dirinya yang selama ini dikenal dengan pria berhati batu dan tidak memiliki rasa empati, tidak sanggup menerima berita yang baru saja ia dengar.

"Dan Nyonya besar-" Julian menjeda perkataannya, karena terasa berat sekali bagi dirinya untuk berucap. Hatinya tidak menginjinkan, sementara lidahnya enggan, karena tiba-tiba menjadi kelu.

"Damn just say it!" Saga berteriak, penuh emosi.

Julian terhenyak. "Bi Sesil tadi menelponku untuk memberi kabar, jika Nyonya Besar telah mengembuskan napas terakhirnya hari ini."

Belum sempat hatinya bisa menerima berita terkait sang kekasih dan sang ibu mengalami kecelakaan, bahkan Jane telah tiada, kini seolah ada sambaran petir yang membawa badai, membuat hatinya porak-poranda seketika.

Dunia dan perasaan Saga hancur, tak tersisa. Namun, pria tampan itu sama sekali tidak meneteskan air mata, meskipun manik jelaganya sudah gemetar dan berkaca-kaca.

"Tiga hari yang lalu? Kecelakaan itu terjadi tiga hari yang lalu? Lantas kenapa tidak ada yang memberitahuku?!" Suara Saga meninggi di penghujung kalimat.

Dicengkramnya kerah pakaian yang Julian kenakan saat itu, membuat Julian terkejut bukan main, karena kedua tungkainya hampir tidak lagi menapak di lantai.

Pandangan Julian masih tertunduk, tak berani balas menatap Saga yang sudah menatapnya penuh kemarahan. "Tuan B-Besar memintaku untuk memberitahumu, sa-saat anda sudah kembali, Tu-Tuan."

Saga menghempas tubuh Julian, membuat Julian jatuh terjerambab. Namun, daripada marah, Julian lebih merasa sedih, karena melihat atasannya terluka.

Saga mencengkram geram rambutnya dengan telapak tangan sembari memejam dan membungkukan tubuhnya, sesaat. "Antarkan aku pada ibuku, sekarang!"

Sekitar lima jam sudah berlalu, dari proses pemakaman Salsabila dilakukan, dengan sangat berat hati Saga harus meninggalkan tempat peristirahatan beliau dan pulang ke Mansion.

"Jelaskan padaku, sejelas-jelasnya. Kapan mereka mengalami kecelakaan dan apa penyebabnya?" titah Saga seraya menghadap ke arah Julian yang sudah menunggunya di depan pintu kamar miliknya, penuh tuntutan.

"Nona Jane dan Nyonya Besar pergi bersama satu minggu yang lalu ke sebuah pusat perbelanjaan. Setelahnya ... mereka kemudian pergi jalan-jalan bersama di taman kota. Ti-Tidak ada yang tahu bagaimana persisnya kecelakaan itu terjadi, Tuan. Karena Nyonya Besar, sa-saat itu meminta para ajudan membiarkan mereka pergi berdua saja."

"Dan mereka membiarkannya begitu saja?"

"Ti-tidak ada yang berani menolak permintaan Nyonya Besar, Tuan."

"Lalu apa yang terjadi sampai mereka berakhir tiada seperti ini?"

"Se-sepertinya Nyonya Besar dan Nona Janessa mengalami tabrak lari, saat mereka berjalan di trotoar hendak kembali ke mobil, Tuan."

Saga memejamkan pelupuk matanya rapat-rapat, beberapa saat. Kedua telapak tangan yang saat itu menggantung bebas di kedua sisi tubuhnya, mengepal erat.

"Apa kalian belum benar-benar mencari tahu bagaimana kecelakaan ini bisa mereka alami, dan siapa yang menabrak mereka?"

Julian menggeleng ragu. "K-kami belum mendapatkan perintah apa pun."

"Kalau begitu segera lakukan dan berikan laporan padaku sejelas-jelasnya dan secepatnya!"

Tidak memerlukan waktu cukup lama bagi Saga untuk menerima laporan yang ingin ia ketahui dari Julian, karena dua hari setelahnya, Julian datang menemui Saga yang tengah berada di ruang kerja, membawakan sebuah berkas yang berisi sebuah laporan yang diinginkannya tersebut.

Sembari duduk tenang, Saga pun mulai membaca laporan yang dibawa Julian, dibantu oleh Julian sendiri yang sesekali memberikan keterangan terkait bagaimana kecelakaan yang dialami sang ibu dan sang kekasih terjadi.

Benar adanya, sang ibu dan sang kekasih mengalami tabrak lari di jalan yang berada di area dekat taman yang kala itu habis mereka kunjungi.

Dalam berkas yang tengah Saga telisik, terdapat sebuah foto yang menunjukan sosok gadis cantik yang tengah tersenyum manis.

Saga sempat dibuat terkejut, karena kecantikan yang gadis itu miliki. Pria itu membiarkan sebuah seringaian ngeri penuh arti memeta di bibirnya. "Aluna Joylee Morris? Dia cantik." Kemudian mata yang sebelumnya nampak kosong, seketika berubah menjadi dingin, beraura gelap.

"Benar, Tuan. Dia adalah anak kedua dari Tuan Theo Morris, pemilik TM Group."

Saga menengadah, menatap Julian. "Kau yakin dia pelakunya?"

Julian mengangguk samar. "Iya, Tuan. Meskipun tidak ada bukti jelas, karena rekaman Dashcam dari mobil yang dikendarainya hanya merekam suara sang adik yang memintanya untuk memperlambat laju mobilnya."

"Kau mendapatkan rekaman ini dari mana?"

"Dari kantor polisi."

"Kantor polisi?" Kening Saga mengernyit, keheranan. "Apa itu artinya, dia saat ini sedang dipenjara?"

"Seharusnya, tapi keluarganya membebaskannya dengan menyuap pihak berwajib."

Saga marah, sangat marah. Namun, dia tersenyum. Bukan tersenyum karena senang, justru senyum yang ia tunjukan, terlihat begitu sinis. "Cukup menarik. Apa dia memiliki catatan kriminal, sebelumnya?"

Julian mengangguk, mengiyakan. "Saat dia masih kelas dua SMA, dia dijerat kasus penyelundupan obat-obatan terlarang dan perundungan, sampai salah satu korbannya meninggal dunia, karena bunuh diri. Sama seperti saat ini, saat itu ... dia juga tidak dihukum karena keluarganya memberikan jaminan, beserta suapan. Tapi anehnya ... dia sempat menjadi siswi berprestasi."

Saga menyeringai lagi, sementara membiarkan manik mata legamnya menatap dingin potret wajah cantik Luna. "I don't give a damn, tentang prestasinya di sekolah. Wajahnya sangat cantik, membuatku sejenak merasa tidak percaya, jika dia sudah menjadi penyebab Jane meregang nyawa."

Saga melempar map berisi berkas laporan tersebut ke atas meja di hadapannya. Ia kemudian mendongakan kepala sembari membuang napas kasar dan memejam. "Aku harus menemui Tuan Morris."

Saga mengernyitkan kening. "Untuk apa?"

"Kau tidak perlu tahu."

Julian berdehem, singkat. "Apa anda ingin saya buatkan janji temu?"

"Nanti saja. Ada beberapa hal yang ingin aku lakukan lebih dulu."

"Lantas, apa yang akan anda lakukan pada gadis itu, Tuan?"

Saga membuka pelupuk mata seraya meluruskan pandangan. Diraihnya map yang sebelumnya ia lemparkan, guna mengambil foto Luna tadi.

Saga tersenyum sinis, lagi. Manik matanya menatap tajam sosok Luna, sebelum telapak tangannya mengepal, meremat geram foto Luna tersebut. "Aku akan membuatnya menyesali setiap napas yang ia embuskan, sampai menyesali kehadirannya di dunia ini. Aku akan membuatnya menyesal, karena telah menghancurkan satu-satunya kebahagiaan yang aku miliki. Air mata dan penderitaan akan menjadi satu-satunya hal yang hadir dalam hidupnya. Aku akan menunjukan seperti apa itu neraka. Dia tidak akan hanya melihat, tetapi akan hidup di dalamnya."

Lanjut Membaca

Daftar Isi Dendam Cinta Sang Miliarder

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Cinta Wanita Malam
9.8
Kehidupan Sania di SMA Brawijaya mendadak gempar sejak Gevan, kakak kelas idola, menjemputnya di kos. Namun, ketenangan Sania di kelas XI IPS 2 seketika terusik oleh kehadiran Bara, siswa baru yang sangat dingin. Pertemuan perdana mereka langsung memicu ketegangan saat Bara mengungkap dusta Sania di hadapan guru. Kini, Sania terjebak di antara pesona hangat Gevan dan sikap sinis Bara yang penuh misteri.
Sampul Novel Guru Untuk Nona Muda Nakal
8.2
Demi meloloskan diri dari kejaran sosok misterius, Dihan terpaksa bersembunyi. Di waktu yang sama, keluarga Rahadian tengah pusing mencari guru privat untuk mendidik dua putri mereka yang terkenal sangat nakal dan enggan belajar. Dihan akhirnya mengambil kesempatan itu walau harus menghadapi tantangan berat. Sanggupkah ia mengatasi kebandelan dua nona muda tersebut? Sementara itu, di balik kekacauan ini, misteri masa lalu Dihan perlahan mulai membayangi langkahnya kembali.
Sampul Novel Kakak Tiriku adalah Pasanganku
8.0
Masuk ke dalam lingkaran keluarga konglomerat setelah pernikahan ibunya dengan pria kaya raya seharusnya menjadi awal kehidupan yang menyenangkan bagi sang protagonis. Namun, keberadaan kakak tiri yang tampan sekaligus bersikap dingin merusak segalanya. Pria itu menyimpan kebencian mendalam, dengan tatapan yang kian hari terasa semakin janggal. Puncaknya terjadi ketika sang kakak pulang dalam kondisi mabuk suatu malam, memaksa adik tirinya memanggilnya dengan sebutan sayang hingga fajar tiba.
Sampul Novel My Angel Baby Is Werewolf
9.2
Fiona Megan Olaf, mahasiswi yang biasa ditindas, mengalami perubahan hidup drastis saat menginjak usia dua puluh tahun. Pertemuan tak terduga dengan seekor serigala misterius menyingkap rahasia besar bahwa dirinya adalah keturunan werewolf. Kini, ia harus belajar mengendalikan kekuatan barunya. Di tengah takdir baru ini, mampukah Fiona membalas perlakuan buruk para perundungnya dahulu sekaligus meraih cinta dari pria impiannya? Kisah perjuangan dan asmara pun dimulai.
Sampul Novel Pernikahan Yang Dikhianati
8.3
Harapan Aruna membahas pernikahan bulan depan hancur saat calon mertuanya membatalkan rencana itu demi wanita lain yang lebih setara. Di tengah kepedihan dan harga diri yang terkoyak, ia secara tak terduga menerima lamaran dari Reza, seorang duda kaya raya yang juga cinta pertamanya. Keputusan nekat Aruna ini justru membawanya masuk ke dalam pusaran intrik penuh drama, pengkhianatan mendalam, serta jalinan asmara yang jauh lebih rumit dari bayangannya.
Sampul Novel Terlalu Lelah Untuk Bertahan
7.9
Demi menyambung hidup anaknya, Liana terpaksa mengais sisa makanan di pasar. Alih-alih dibantu, ia malah diberi nasi basi oleh Nina, sang mertua yang kejam. Penderitaannya kian lengkap akibat sikap dingin Damar, suaminya yang justru menuduhnya sebagai penyebab masalah keuangan keluarga. Di tengah kelaparan dan kepedihan mendalam, Liana sadar harus keluar dari lingkaran ini. Rasa lelahnya kini berubah menjadi tekad kuat untuk bangkit demi masa depan sang buah hati.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan