
Mantanku Minta Aku Jangan Tinggalkan Dia
Bab 3
Keesokan paginya, saat aku membuka mata, Rehan juga baru masuk ke kamar. Tubuhnya seperti biasa langsung menindihku.
Aku buru-buru menghindar, rasa jijik yang timbul dari dalam membuat ekspresiku langsung berubah.
Rehan mengira aku tidak enak badan. Tatapannya melirik kakiku dengan cemas, lalu mengambilkan jaket dari sisi ranjang sambil berkata, “Sayang, ayo pakai jaket.”
“Mau ke mana?” tanyaku.
Rehan menghela napas dan menjawab, “Sayang, kamu dari dulu kayak anak kecil. Begitu nggak enak badan langsung kelihatan dari wajahmu. Kita ke rumah sakit untuk periksa lagi, ya.”
Aku pun ikut dibawa Rehan ke rumah sakit.
Baru masuk lobi, kami langsung bertemu dengan Celine.
Dia berdiri sendirian dengan wajah pucat pasi, tangannya menekan bagian bawah perut.
Tanpa pikir panjang, Rehan langsung melepaskan genggaman tanganku. Kakiku terbentur tembok, nyerinya sampai membuatku keringat dingin.
Namun, aku seolah menghilang di mata Rehan. Dia langsung menghampiri Celine, memeluknya erat dan bertanya, “Kamu sakit apa? Kenapa nggak hubungi aku untuk menemanimu?”
Celine tersenyum tipis dan menggeleng, tetapi pandangannya melihatku dari atas ke bawah.
Jaket yang kupakai persis sama dengan jaket yang dia pakai.
“Cuma nyeri perut sedikit. Kenapa kalian berdua ada di sini?” tanya Celine.
Rehan mengusap hidungnya, dia jelas gugup, tetapi dia langsung merangkai alasan tanpa ragu.
“Kaki adikku sakit. Dia minta aku menemaninya buat periksa,” jawab Rehan.
Aku sudah terbiasa dengan alasan itu.
Sejak Rehan menyembunyikan hubungan kami, setiap kali kami bertemu teman-temannya, dia selalu berkata, “Tya lagi di luar negeri, jadi aku minta aku jagain adiknya.”
Hanya sahabat dekatnya yang tahu bahwa aku sebenarnya pacarnya.
Celine hanya mengangguk kecil, kemudian berkata, “Kalau begitu, cepat temani adikmu pergi periksa. Aku ....”
Sebelum Celine selesai bicara, wajahnya kembali berkerut menahan nyeri. Tangannya kembali menekan bagian bawah perut.
Sesaat kemudian, Rehan sudah menggendongnya dalam pelukan.
“Alia, kamu tunggu sebentar, ya. Dia kesakitan, aku antar dia dulu ke dalam,” ucap Rehan.
Aku menunduk.
Darah dari pergelangan kakiku sudah merembes keluar dari perban. Rasa sakitnya menembus hingga ke tulang.
Sosok Rehan dari ujung rambut sampai ujung kakinya, tampak penuh dengan kecemasan.
Aku mendengus dingin.
Ternyata aktor hebat seperti dia pun bisa kehilangan kemampuan aktingnya jika sudah berurusan dengan orang yang dia cintai.
“Waduh! Kakimu berdarah banyak sekali!” seru perawat yang langsung menarikku masuk untuk penanganan darurat.
Aku ikut melangkah sambil menunduk melihat kakiku. Darah yang menodai lantai tampak mencolok dan baunya tajam. Sayangnya, Rehan tak melihat semua itu.
Perawat bertanya sambil membersihkan lukaku, “Kamu terluka karena jatuh terkena pecahan kaca dan tulangmu juga patah, ya?”
Hari itu, dorongan Rehan benar-benar kuat.
Saat aku jatuh, aku juga menabrak botol-botol alkohol. Kacanya pecah dan serpihannya menusuk masuk ke pergelangan kakiku sehingga tulangku ikut remuk. Padahal, sejak kecil aku selalu hidup nyaman. Luka gores sedikit saja, orang tuaku pasti langsung panik dan menyuruhku dirawat di rumah sakit. Namun, sekarang... aku hanya bisa mengepalkan tangan dan tak mampu menjawab sepatah kata pun.
Setelah lukaku selesai ditangani, seluruh tubuhku sudah basah oleh keringat dingin.
Perawat berkata, “Sudah selesai. Sekarang kamu tinggal istirahat yang baik. Suruh pacarmu jemput kamu, ya. Jangan sampai jalan sendiri. Takutnya lukanya terbuka lagi.”
Tanganku refleks hendak mengirim pesan ke Rehan. Ini sudah menjadi memori otot tanpa sadar.
Anda Mungkin Juga Suka





