APKDock Logo
Sampul Novel Cinta, Dusta, dan Vasektomi

Cinta, Dusta, dan Vasektomi

8.1 / 10.0
Saat hamil delapan bulan, duniaku hancur setelah menemukan bukti bahwa Bima telah divasektomi setahun lalu. Kebenaran pahit terungkap di kantornya saat dia dan Erlan menertawakan kehamilanku. Pernikahan kami rupanya hanya taruhan kejam demi uang dan Elsa, adik angkatnya. Mereka bahkan menjadikan sosok ayah bayiku sebagai bahan taruhan. Merasa dikhianati dan dijadikan objek mainan, batinku mati rasa. Tanpa ragu, aku langsung menghubungi klinik untuk mengakhiri segalanya.

Cinta, Dusta, dan Vasektomi Bab 1

Dengan usia kehamilan delapan bulan, kupikir aku dan suamiku, Bima, sudah memiliki segalanya. Rumah yang sempurna, pernikahan yang penuh cinta, dan putra ajaib kami yang akan segera lahir.

Lalu, saat merapikan ruang kerjanya, aku menemukan sertifikat vasektominya. Tanggalnya setahun yang lalu, jauh sebelum kami bahkan mulai mencoba untuk punya anak.

Bingung dan panik setengah mati, aku bergegas ke kantornya, hanya untuk mendengar tawa dari balik pintu. Itu Bima dan sahabatnya, Erlan.

"Aku tidak percaya dia masih belum sadar juga," Erlan terkekeh. "Dia berjalan-jalan dengan perut buncitnya itu, bersinar seperti orang suci."

Suara suamiku, suara yang setiap malam membisikkan kata-kata cinta padaku, kini penuh dengan penghinaan. "Sabar, kawan. Semakin besar perutnya, semakin dalam jatuhnya. Dan semakin besar bayaranku."

Dia bilang seluruh pernikahan kami adalah permainan kejam untuk menghancurkanku, semua demi adik angkatnya yang berharga, Elsa.

Mereka bahkan memasang taruhan tentang siapa ayah kandung bayi ini.

"Jadi, taruhannya masih berlaku?" tanya Erlan. "Uangku masih untukku."

Bayiku adalah piala dalam kontes menjijikkan mereka. Dunia seakan berhenti berputar. Cinta yang kurasakan, keluarga yang kubangun—semuanya palsu.

Saat itu juga, sebuah keputusan yang dingin dan jernih terbentuk di reruntuhan hatiku.

Kukeluarkan ponselku, suaraku terdengar sangat stabil saat aku menelepon sebuah klinik swasta.

"Halo," kataku. "Saya perlu membuat janji. Untuk aborsi."

Bab 1

Beban berat di perutku adalah pengingat yang selalu kusambut dengan suka cita. Delapan bulan. Hanya beberapa minggu lagi sampai aku menggendong putraku. Aku mengelus lekukan kencang itu, senyum terukir di wajahku. Aku dan Bima memiliki segalanya. Rumah yang indah, kehidupan yang membuat orang iri, dan sebentar lagi, sebuah keluarga.

Aku sedang menata ruang kerja Bima di rumah, sebuah naluri yang tak bisa kulawan. Terselip di bagian belakang laci mejanya, di bawah tumpukan laporan pajak lama, jemariku menyentuh sebuah kertas tebal yang terlipat. Terasa seperti dokumen resmi.

Rasa penasaran menguasaiku. Aku menariknya keluar.

Itu adalah sertifikat medis. Sertifikat vasektomi.

Napas tercekat di tenggorokanku. Kubaca namanya: Bima Wijaya. Lalu aku melihat tanggalnya. Setahun yang lalu, enam bulan sebelum kami bahkan mulai mencoba untuk punya anak.

Ruangan mulai berputar. Tanganku gemetar memegang kertas itu. Ini tidak masuk akal. Aku hamil delapan bulan. Ini pasti kesalahan, lelucon, atau semacam kesalahpahaman.

Sertifikat itu terasa dingin di tanganku, sangat kontras dengan kehangatan kehidupan di dalam diriku. Aku hamil. Aku merasakan tendangannya baru pagi ini. Kertas ini bohong. Pasti bohong.

Gelombang mual dan kepanikan melandaku. Jantungku berdebar kencang di dada, irama yang panik dan menyakitkan. Ini tidak mungkin nyata. Kehidupanku yang sempurna, suamiku yang penuh kasih, bayi kami... apakah semuanya bohong?

Aku harus menemuinya. Aku harus mendengar penjelasannya.

Kuraih kunci mobilku, pikiranku kosong karena bingung dan takut. Aku harus ke kantornya. Sekarang.

Perjalanan ke sana terasa kabur. Aku tidak ingat lalu lintas atau belokan yang kuambil. Yang bisa kulihat hanyalah tanggal di sertifikat itu, mengejekku, membakar lubang di ingatanku.

Aku parkir sembarangan di area pengunjung Wijaya Group dan bergegas masuk, perut buncitku membuat gerakanku canggung. Resepsionis mencoba menghentikanku, tapi aku menerobos melewatinya, langsung menuju kantor Bima di sudut.

Semakin dekat, aku mendengar tawa. Tawa yang keras dan congkak datang dari balik pintunya yang tertutup.

Aku memperlambat langkahku, tanganku melayang di dekat gagang pintu. Kutempelkan telingaku ke kayu yang dingin itu, sebuah keputusan yang akan kusesali sekaligus kusyukuri seumur hidupku.

"Aku tidak percaya dia masih belum sadar juga," sebuah suara yang kukenali sebagai Erlan, sahabat Bima, berkata di sela-sela tawa. "Dia berjalan-jalan dengan perut buncitnya itu, bersinar seperti orang suci."

Para pria itu tertawa lagi. Suara tawa yang kejam dan mengejek yang membuat kulitku merinding. Rasanya seperti mereka menertawakanku.

Lalu aku mendengar suara suamiku, suara yang setiap malam membisikkan kata-kata cinta padaku. "Sabar, kawan. Semakin besar perutnya, semakin dalam jatuhnya. Dan semakin besar bayaranku."

Darahku seakan membeku. Bayaran? Apa yang dia bicarakan?

"Ini semua demi Elsa, kau tahu," lanjut Bima, suaranya diwarnai dengan kasih sayang yang aneh dan posesif. "Jalang Alena itu harus membayar atas perbuatannya, karena telah mengirim adikku pergi seolah-olah dia bukan siapa-siapa."

Elsa. Adik angkatnya. Mereka bilang dia harus pergi ke luar negeri untuk program khusus, bahwa itu adalah kesempatan besar. Aku telah mendukungnya, bahkan mendorongnya. Kupikir aku sedang membantu.

"Bodohnya dia jatuh cinta padaku, dia akan percaya apa pun yang kukatakan," cibir Bima. Suara itu, begitu penuh penghinaan, terasa seperti pukulan fisik. "Dia mungkin berpikir bayi ini adalah keajaiban, bukti cinta kita yang agung."

Pria-pria lain tertawa terbahak-bahak.

"Jadi, taruhannya masih berlaku?" tanya Erlan. "Siapa ayah kandungnya? Uangku masih untukku."

"Atau aku," sahut suara lain.

Sebuah taruhan. Mereka bertaruh siapa ayah dari bayiku. Bayiku.

Dunia terasa berputar di porosnya. Cinta yang kurasakan, keluarga yang kubangun, pria yang kuberikan hatiku—semuanya palsu. Sebuah permainan kejam dan rumit yang dirancang untuk mempermalukan dan menghancurkanku.

Bayi di dalam diriku tiba-tiba menendang dengan keras, seolah dia bisa merasakan penderitaanku.

Air mata mengalir di wajahku, panas dan tanpa suara. Cinta yang kurasakan sejam yang lalu mengental menjadi sesuatu yang dingin dan keras di dadaku. Semuanya bohong. Semuanya.

Saat itu, berdiri di luar kantor suamiku, sebuah keputusan terbentuk di reruntuhan hatiku. Keputusan yang dingin, jernih, dan mutlak.

Bayi ini, simbol permainan menjijikkan mereka, tidak akan lahir.

Aku berbalik dari pintu, gerakanku kaku dan seperti robot. Kukeluarkan ponselku, jemariku meraba-raba layar.

Kutemukan nomor sebuah klinik swasta.

"Halo," kataku, suaraku terdengar sangat stabil. "Saya perlu membuat janji. Untuk aborsi."

Lanjut Membaca

Daftar Isi Cinta, Dusta, dan Vasektomi

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Antara Cinta Dan Trauma
8.3
Trauma mendalam membayangi Adel akibat kekerasan sang ayah di masa lalu, meski ibunya tetap setia mendampingi. Kesedihannya kian berat saat Dara, sahabatnya, menjauh karena Farhan, ditambah kisah cintanya dengan Vero yang berakhir pilu. Kecewa dan terluka, Adel mempertanyakan arti kesempatan kedua. Demi menyembuhkan diri dan menata masa depan, ia memutuskan ikut pelatihan di Surabaya. Bisakah Adel lepas dari bayang kelam masa lalu dan meraih kebahagiaan sejati?
Sampul Novel Dokter Cantik Spesialis Andrologi
9.3
Sebagai dokter spesialis andrologi, protagonis wanita dihadapkan pada situasi tidak terduga saat menangani seorang pasien pria. Pasien tersebut mengaku memiliki stamina yang terlalu besar dalam urusan intim dan menuntut sang dokter untuk memeriksa kondisinya secara langsung menggunakan tubuhnya sendiri. Permintaan provokatif ini seketika mengubah dinamika profesional mereka, membuat sang dokter kewalahan dan tidak berdaya menghadapi dominasi sang pasien dalam pertemuan medis yang tidak biasa ini.
Sampul Novel Gairah panas sang presdir
8.0
Pengkhianatan masa lalu mengubah Joshua menjadi pria dengan gairah seksual berlebih yang tak terkendali. Luka batin akibat perselingkuhan itu mengubah perilakunya secara drastis. Di tengah kondisi ini, takdir mempertemukannya dengan seorang mahasiswi muda secara tidak terduga. Akankah hubungan dengan gadis tersebut mampu menyembuhkan trauma mendalam Joshua dan memulihkan dirinya yang dulu, ataukah kehadiran sang mahasiswi justru membuat situasi hidupnya semakin rumit?
Sampul Novel Keputusan Takdir
8.5
Sallyana harus merelakan impian indahnya hancur ketika Veen mengusirnya secara paksa. Butuh perjuangan keras baginya untuk menyembuhkan luka dan melupakan masa lalu. Namun, saat ia mulai bangkit, takdir justru mempertemukan mereka kembali dalam situasi yang jauh berbeda. Apakah Sallyana akan kembali terpikat pada Veen, ataukah ia akan melabuhkan hatinya pada sosok baru yang menemaninya di masa-masa sulit? Keputusan takdir akan menentukan akhir perjalanan cintanya.
Sampul Novel Nostalgia
8.4
Misa Almira tak mampu lepas dari ingatan masa kecil bersama sahabat yang sangat ia sayangi. Akibat sebuah kekeliruan fatal di masa lalu, sosok berharga itu tiba-tiba lenyap tanpa jejak. Ketika fakta sebenarnya terkuak, Misa didera penyesalan yang teramat besar. Walau kini ia telah tumbuh dewasa dan fokus membangun kariernya, bayang-bayang kesalahan masa lalu dan memori manis bersamanya tetap melekat erat dalam hidup Misa.
Sampul Novel Siapa Yang Menghamili Istriku?
8.4
Kisah romansa modern ini menyajikan misteri kelam dalam pernikahan yang penuh emosi dan pengkhianatan. Pembaca dewasa akan diajak menelusuri rahasia yang menghancurkan kepercayaan antar pasangan. Bersiaplah menghadapi alur penuh air mata saat kepingan teka-teki perlahan terungkap. Karakter utama pun dipaksa melihat kenyataan pahit yang tak terduga di tengah konflik hubungan yang sangat pelik.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan