
Mantanku Minta Aku Jangan Tinggalkan Dia
Bab 4
Sudah satu jam sejak lukaku ditangani.
Rehan belum juga kembali.
“Nggak ada yang jemput kamu, ya?” tanya perawat sekali lagi.
Setelah itu, barulah aku menelepon Rehan.
Namun, Rehan di ujung telepon sudah lupa bahwa dia awalnya ke rumah sakit untuk menemaniku.
“Maaf ya, Alia. Celine tadi tiba-tiba merasa nggak enak badan, jadi aku antar dia pulang dulu ...” ucap Rehan.
Sebelum dia selesai bicara, suara seorang wanita terdengar dari ujung telepon. Wanita itu berkata dengan nada iri, “Suamimu baik sekali! Denger kamu suka bunga ini, dia langsung beli semua yang ada di toko.”
Terdengar lagi suara bicara Celine.
Meski Rehan buru-buru menjauh dari sumber suara itu, aku masih jelas mendengarnya.
“Baiklah,” jawabku singkat.
Begitu kututup telepon, notifikasi WhatsApp langsung masuk.
[Sayang, nanti aku jelasin semuanya di rumah, ya.]
Penjelasan yang dimaksud hanyalah kebohongan baru.
Aku langsung memesan taksi untuk pulang sambil menahan diri dengan tongkat.
Malam itu, aku tidak mendapatkan penjelasan apa pun.
Rehan bahkan tidak pulang.
Aku baru saja menyelesaikan rapat online dengan klien dari luar negeri dan mengirimkan seluruh rencana promosi untuk kuartal pertama. Ketika aku sedang memijat pelipis yang lelah, sebuah notifikasi pesan masuk.
[Rehan, kamu pacaran sama Celine sekarang? Terus Alia gimana?]
Hasil tangkapan layar dari unggahan Instagram Celine yang dikirim oleh sahabat Rehan membuatku terdiam.
Di foto itu, satu ruangan penuh bunga.
Celine duduk dan tersenyum manis di tengah-tengahnya, mengenakan jaket yang aku belikan untuk Rehan.
Foto itu disertai kalimat: [Putar-putar ke mana pun, tetap kembali ke kamu.]
Dalam bayangan kaca jendela besar di belakang Celine, terlihat jelas sosok Rehan sedang mengambil foto untuknya.
Baru saat itu aku sadar bahwa laptop yang kupakai ini masih menggunakan akun WhatsApp Rehan.
Rehan membalas pesan itu dengan ponselnya: [Jangan bercanda!]
Setelah itu, temannya mengirimkan stiker dengan ekspresi jorok.
Aku menutup laptopku dan tidur nyenyak.
Tiga hari kemudian, aku menyerahkan surat pengunduran diri dan seluruh dokumen rencana promosi ke CEO-ku.
CEO-ku tampak berat hati untuk melepasku pergi, tetapi dia turut senang untukku.
“Alia, kamu sudah bekerja di sini sejak lulus kuliah. Aku benar-benar nggak rela kamu pergi. Tapi aku ikut senang kamu bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri!” kata CEO.
CEO dan beberapa manajer mentraktirku makan malam perpisahan. Kami memilih restoran tempat aku dan Rehan pertama kali berkencan. Restoran yang jadi tempat perayaan hubungan kami setiap tahun.
Rehan pernah bilang, “Sayang, nanti pas aku lamar kamu, kita bakal ke sini juga. Karena cuma di tempat ini kita bisa lihat pemandangan malam terindah di seluruh Citrasa!”
Di tengah acara makan, aku izin keluar sebentar untuk diam-diam membayar tagihan. Namun, saat membelok ke arah kasir, aku berpapasan langsung dengan Celine.
Anda Mungkin Juga Suka





