
Mantanku Minta Aku Jangan Tinggalkan Dia
Bab 2
“Kak Rehan.”
Rehan tertegun sejenak saat aku tiba-tiba memanggilnya begitu.
Aku terus terang padanya. Namun, Rehan langsung menindihku dan membekapku di bawah tubuhnya.
“Sayang, cuma gara-gara semalam aku nggak tidur sama kamu, kamu jadi nggak akrab denganku?” tanya Rehan.
Dia masih suka menggodaku seperti biasanya.
“Sayang, maafkan aku. Mulai sekarang aku akan memberimu pelayanan penuh di ranjang setiap hari, sampai kita bener-bener akrab, ya,” lanjutnya.
Kata-kata yang dulu terdengar manis, malam ini justru membuatku merasa jijik.
Saat dia mulai membuka baju, aku melihat bekas ciuman di dadanya.
Selama ini, setiap kami bermesraan, Rehan tak pernah mengizinkan aku meninggalkan bekas di tubuhnya. Katanya, “Kita udah dewasa, nggak usah main-main tanda.” Ironisnya, baru malam ini aku sadar bahwa larangan ini tidak berlaku untuk semua orang.
Sesaat kemudian, tangannya menyentuh pergelangan kakiku.
Aku merasakan rasa sakit seperti disobek. Aku refleks mendorongnya keras, air mataku langsung menetes. Aku sendiri pun tidak tahu, apakah aku menangis karena rasa sakit atau rasa jijik.
“Lepaskan aku!” bentakku.
Rehan yang belum sempat merapikan bajunya, tampak panik saat melihatku menangis. Dia bertanya dengan cemas, “Sayang, apa kamu nggak enak badan?”
“Kakiku,” ucapku.
Gips di kakiku terlihat sangat jelas sejak tadi, tetapi Rehan baru menyadarinya sekarang.
Ekspresinya langsung berubah.
“Kakimu kenapa?! Kenapa kamu nggak bilang sama aku kalau kamu terluka?” tanya Rehan.
Dia sepertinya sudah lupa bahwa akulah yang dia dorong dari tangga hingga patah kaki demi mengejar Celine, si cinta lamanya.
Kepeduliannya sekarang terasa seperti lelucon. Aku bahkan tidak ingin mengingatkannya.
“Sayang, aku cuma ninggalin kamu satu malam saja, kamu sudah terluka seperti ini. Gimana coba kalau nggak ada aku?” ucap Rehan.
Dia berkata sambil menghapus air mataku penuh kasih sayang, lalu beranjak menuangkan segelas air.
“Sayangku yang malang. Tangismu bikin hatiku ikut hancur,” lanjutnya.
Aku menatap punggungnya, lalu kembali menunduk, merasakan denyutan nyeri di pergelangan kaki. Sekilas, aku tersenyum kecut.
Selama sembilan tahun ini, dia selalu menjagaku dengan baik dalam setiap hal. Aku bahkan tidak pernah membayangkan hidup tanpanya.
Namun dalam sembilan tahun itu, berapa detik sebenarnya Rehan benar-benar peduli padaku dan bukan menjagaku hanya karena bayang-bayang Celine?
Hubungan ini rasanya menjijikan seperti menelan lalat hidup-hidup.
Malam itu, aku berkata bahwa kakiku sakit dan memilih tidur di kamar tamu. Namun, Rehan menyusul dan memelukku di dalam selimut.
Aku mendorongnya. Saat dia hendak kembali mendekat, ponselnya tiba-tiba menyala.
“Sayang, temanku lagi sedih. Aku harus temani dia mengobrol sebentar,” ucap Rehan.
Setelah itu, dia pergi ke ruang kerja.
Saat aku membuka media sosial, aku melihat salah satu teman Rehan mengunggah status seperti ini.
[Memang cuma Kak Celine yang bisa nyeret orang keluar dari pelukan surga.]
Aku menekan tombol suka pada status itu, lalu mematikan lampu dan tidur.
Anda Mungkin Juga Suka





