APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mantan Jadi Bos

Mantan Jadi Bos

Nasib buruk menimpa Alula yang dipecat tanpa pesangon akibat menolak dimadu oleh atasannya. Sebagai penopang hidup ibu dan adiknya, ia harus segera mendapat pekerjaan baru. Beruntung seorang kawan membantunya diterima di sebuah perusahaan. Namun, Alula terkejut karena CEO barunya adalah mantan pacar yang dulu ia campakkan begitu saja. Sang bos kini berniat membalas dendam padanya. Di tengah perlakuan buruk itu, cinta lama Alula justru bersemi kembali. Mampukah ia bertahan?
Bab
Bagikan

Bab 3

.

Dasar nih orang.

Akhirnya dengan sangat terpaksa, aku ngikutin aja sama si empunya motor. Kalau aja aku yang nyetir, udah pasti sampai di tempat dari tadi.

Karena ada lampu merah, Alena pun menghentikan motornya.

Aku menoleh ke samping kanan, dan ... ya ampuun ... kok ada mobil mewah yang kemarin sih?

Gimana ini?

Eh, tapi yang punya mobil mewah seperti itu kan bukan cuma orang yang kemarin aja, tentu ada banyak orang yang bisa memiliki mobil seperti itu kan?

Sebodo amatlah itu mobil orang yang kemarin atau bukan, yang pasti, untuk menghindari sesuatu yang nggak diinginkan, lebih baik aku segera memalingkan wajah ke sisi kiri.

Beruntung, tak lama kemudian traffic light berubah jadi warna hijau, dan Alena pun segera menjalankan motornya kembali.

Beruntungnya lagi, kulihat mobil itu berjalan mendahului motor yang sedang kutumpaki ini.

Huuh ... selamat, selamat. Aku mengelus dada, lega. Keadaan kembali berpihak padaku.

"La, lo kenapa, kok dari tadi diem mulu, nggak biasanya?" tanya Alena dengan suara kerasnya. Maklum, masih di jalan raya.

"Nggak papa, cuma lagi latihan jadi pendiem aja," jawabku asal. Nggak mungkin dong, mau kasih tahu ke Alena tentang apa yang aku resahkan dari tadi, nanti dia bisa ngetawain aku, lagi.

"Caela, seorang Alula pengin jadi pendiem? Sampai kiamat gue nggak bakalan percaya!" cibir Alena.

===========Aufa=========

"Alulaaa ... bangun woooy ...." Teriakan Alena yang kebetulan tepat di samping telingaku, sontak membuatku kaget. Aku yang tadinya masih terbuai mimpi, refleks jadi terduduk meski mata masih enggan terbuka.

"Apaan sih, lo, Len, gangguin orang tidur aja!" kataku kesal. Gimana nggak kesal coba, orang lagi enak-enak tidur eh, malah dikagetin gitu.

"Ck! Lo tuh kebiasaan ya, ini tuh udah jam enam pagi, sejam lagi kita berangkat kerja. Bisa telat kalau jam segini lo belum bangun, mana ini hari pertama lo masuk kerja, kalau sampai telat, bisa-bisa lo dicancel jadi karyawan di kantor gue." Omongan Alena yang lagi ngomel-ngomel itu persis seperti ibuku kalau lagi merepet. Duh, jadi kangen ibu di kampung.

"Untung aja gue ajak lo buat nginep di sini, jadi lo ada yang bangunin. Coba kalau lo kekeuh di kost-an lo, beneran hari ini lo bisa telat," tambah Alena.

"Iya, iya, bawel! Nih, gue mau mandi." Dengan enggan, aku bangkit dari kasur. Berjalan dengan masih sedikit menutup mata menuju kamar mandi.

=========Aufa=======

"Len, ini gue kerja di bagian apa ya?" tanyaku pada Alena, ketika kami sampai di lobi kantor.

"Lho, kok malah lo tanya ke gue sih? Ya mana gue tau lah. Emangnya lo kemarin nggak tanya sama pak Angga?"

"Pak Angga siapa, Len?"

Alena memutar bola matanya. "Pak Angga itu ketua HRD di kantor ini, yang kemarin interview lo."

"Ooh ... yang itu ...." Aku mengangguk paham. "Gue nggak dikasih tahu kerja di bagian apa."

"Ck! Terus lo nggak tanya gitu?"

"Enggak. Soalnya gue kemarin lupa buat tanya. Saking senengnya gue bisa diterima kerja tanpa interview macem-macem," jawabku.

Sahabatku itu menghembuskan napas kasar. "Dasar pe'a! Harusnya lo tanya dodol!" Alena menjitak kepalaku.

"Ya, namanya juga lupa," ujarku membela diri.

"Gue mau masuk ke ruangan divisi gue. Lo di sini aja dulu, nanti lo tanya sama mbak Nela, lo ditempatin di bagian apa."

"Kata lo waktu itu di sini lagi butuh karyawan yang sama di divisi lo. Jadi, mungkin kerja gue bareng sama lo."

"Belum tentu, soalnya di sini juga lagi butuh sekretaris buat CEO. Jadi, mungkin aja lo diterima jadi sekretaris CEO, mengingat pengalaman kerja lo di perusahaan Wijaya Company," tutur Alena.

"Iya juga sih. Tapi, gue nggak yakin bakal jadi sekretaris CEO, tepatnya nggak minat sih," kataku.

"Ya udah deh, mending lo di sini dulu. Nanti kalau mbak Nela udah ada, lo tanya aja ke dia," saran Alena yang kemudian melangkah pergi meninggalkanku.

=========Aufa========

Tak lama setelah kepergian Alena, mbak Nela pun datang. Dia langsung menempati meja resepsionis tempatnya bertugas. Sepertinya dia tidak melihat keberadaanku yang sedang duduk manis di sofa lobi ini.

Aku bangun dari duduk, lalu menghampiri meja resepsionis. Tentu tujuanku bertanya pada mbak Nela, seperti arahan dari Alena tadi.

"Selamat pagi, Mbak Nela," sapaku dengan nada seramah mungkin, disertai senyuman.

"Ooh, selamat pagi, Alula," balasnya ramah. Kemarin kami memang sempat berkenalan seusai aku diinterview di ruang ketua HRD, maka dari itu mbak Nela tahu siapa namaku. "Hari ini kamu sudah mulai bekerja ya?"

"Iya, Mbak. Tapi kemarin nggak dikasih tahu di bagian apa, soalnya aku asal aja bikin surat lamaran kerja tanpa mencantumkan posisi yang mau aku lamar. Terus, kemarin aku juga lupa nanyain sama pak Angga," terangku.

"Ooh, gitu ...." Mbak Nela mengangguk. "Ya udah, ayo aku anterin kamu ke ruangannya pak Angga."

=========Aufa========

Setelah menanyakan pada pak Angga perihal bagian apa aku ditempatkan di kantor ini, akhirnya aku mendapat jawabannya.

Aku ditempatkan di bagian yang sama dengan Alena, divisi marketing. Hal ini jelas membuatku senang, karena itu berarti aku bisa lebih cepat beradaptasi dengan orang di divisi ini, sebab salah satunya adalah sahabat karibku.

"Selamat pagi semua," ucap pak Angga begitu masuk di ruang divisi marketing. Aku kini berada di belakangnya.

"Pagi, Pak ...," jawab para karyawan di divisi ini dengan serentak. Kulihat mereka sedang memperhatikanku dari kubikel masing-masing. Eh, tepatnya memperhatikan pak Angga juga.

"Hari ini saya mau memperkenalkan karyawan baru di perusahaan ini, yang akan bekerja sama dengan kalian di divisi ini," terang pak Angga yang membuat orang-orang di ruangan ini semakin memperhatikanku. "Alula, ayo sini." Pak Angga memberi kode agar aku berdiri di sampingnya. Aku pun menurut.

"Ayo, silakan perkenalkan diri," perintah pak Angga padaku.

"Hai teman-teman semua, perkenalkan saya Alula ...."

========Aufa========

Sebagai karyawan baru di perusahaan ini, tak membuatku kesulitan untuk berteman dengan orang-orang di sini. Bukan saja karena Alena yang sudah lama kukenal, tetapi karena kebanyakan dari mereka itu ramah-ramah, dan humble, terutama yang satu ruangan denganku.

Baru beberapa jam saja berkenalan, aku sudah merasa nyaman dengan mereka. Obrolan ngalor ngidul tentu saja terjadi di antara kami. Seperti halnya saat ini aku yang sedang berada di kantin kantor, bersama Alena, dan dua teman baruku--Tere, dan Gio.

Jam makan siang ini kami memilih untuk makan di kantin kantor. Katanya sih, tiga temanku ini biasanya makan siang di restoran yang letaknya berada di seberang kantor, tapi berhubung di luar sedang hujan lebat, jadi terpaksa makan di sini.

"La, lo tuh beneran kocak ya," kata Gio setelah tadi kami ketawa-ketiwi ngobrolin yang nggak jelas. "Jangan-jangan karena lo ketularan si Alena, lagi, kan katanya kalian temenan udah lama."

"Enak aja! Yang ada gue yang ketularan Alula," protes Alena. "Gue tuh aslinya pendiem tau!"

Ucapan Alena tadi sontak membuat kami tertawa. Siapa yang akan percaya dengan pernyataannya barusan?

"Iyain aja deh, takut lo gantung diri," kata Gio di sela tawanya. Tentu itu membuat Alena semakin kesal.

"Udah, udah, kalian berdua tuh kalau lagi bareng nggak pernah akur mulu," ucap Tere menengahi, sedang aku masih sedikit tertawa sambil melihat ekspresi Alena, dan Gio bergantian.

Mereka berdua itu lucu, dan sepertinya ada sesuatu. Kayaknya aku harus menanyakan ini pada Alena.

=========Aufa=========

"Len, lo ada hubungan apa sama Gio?" tanyaku yang spontan membuat Alena menghentikan kegiatannya yang sedang memoles bedak pada wajahnya.

Saat ini aku dan Alena sedang berada di toilet, dan hanya kami berdua saja yang ada di sini, jadi aku bebas bertanya macam-macam sama Alena.

"Kita temenan, La," jawabnya singkat, namun aku menangkap ada yang aneh dari nada Alena ngomong.

"Serius?" Kutatap mata Alena lekat, mencari kebenaran darinya.

Alena menghembuskan napasnya berat, seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.

Bukannya aku mau ikut campur sih, tapi sebagai sahabat, aku wajib tahu dong tentang keduanya, biar ke depannya aku lebih enak dalam bersikap.

"Sebenarnya gue udah lama suka sama Gio, La, sejak pertama gue kerja di sini," ungkap Alena yang seketika membuatku membelalakkan kedua mataku. "Sayangnya, dia suka sama orang lain."

Aku mengelus bahu Alena,memberi kekuatan. "Sabar ... kalau jodoh pasti nggak akan ke mana kok." Alena hanya mengangguk.

======Aufa======

Nasib jadi anak baru ya gini, dikit-dikit disuruh, mau membantah nggak mungkin karena yang nyuruh si ketua divisi--bu Indira, yang konon katanya masih jomblo di umurnya yang sudah menginjak kepala tiga. Kebanyakan marahin karyawan sih, jadinya banyak kan yang doain biar jomblo terus, eh!

Seperti saat ini, aku disuruh buat memfotokopi beberapa berkas yang lumayan tebal, dan cukup berat dibawa olehku yang kebetulan bertubuh mungil nan imut, dan cantik ini.

Sebenarnya sih, di ruang divisi ada mesin fotokopi, tapi berhubung lagi rusak, dan belum diperbaiki, akhirnya dengan sangat terpaksa aku harus bawa berkas-berkas ini ke lapak fotokopi yang ada di sebelah kantor. Mau nebeng fotokopi di ruang divisi lain jelas nggak mungkinlah, malu!

"Duh, berat amat sih," gerutuku begitu turun dari lift. Saat ini aku berada di lobi kantor, niatnya sih, pengin minta bantuan sama mbak Nela buat bantu bawain, eh, malah orangnya nggak ada di tempat. Terpaksa harus bawa sendiri sampai ke tempat kang fotokopi.

Berjalan dengan pelan, sesekali lihat ke depan, sesekali lihat berkas yang sedang aku bawa dengan susah payah ini, takutnya ada yang terbang kebawa angin. Kan berabe kalau sampai gitu, bisa-bisa balik-balik nanti diomelin sama mak lampir alias bu Indira.

"Tumbenan banget nih lobi sepi, nggak ada satu orang pun. Mbak Nela nggak ada, pak satpam juga entah di mana rimbanya. Padahal kan pengin minta bantuan," kataku bermonolog sambil celingukan ke kanan, dan ke kiri.

Tiba-tiba ....

Bruk ....

Berkas-berkasku jatuh semua gara-gara nggak sengaja menabrak orang.

"Kamu jalannya pake mata nggak sih?!"

To be continue

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tidak Akan Pernah Diam Saat Keluargaku Terancam
9.6
Adikara, duda berkuasa yang divonis mandul, melampiaskan rasa frustrasinya melalui hubungan singkat yang ceroboh. Takdir mempertemukannya dengan Alara, model 19 tahun sekaligus putri bawahannya. Setelah malam tragis yang merenggut kesucian Alara, kejutan besar muncul sebulan kemudian saat Alara mengaku hamil. Kini, di tengah perbedaan usia 15 tahun dan rahasia medisnya, Adikara harus memilih: bertanggung jawab atau menghancurkan masa depan gadis itu demi egonya.
Sampul Novel Istri Kedua Tuan Gio
8.5
Demi kesembuhan ibu dan buah hatinya, Liana terpaksa meminta bantuan dana kepada Rafael. Pria berpengaruh tersebut bersedia membiayai seluruh pengobatan mereka, namun dengan satu syarat mutlak: Liana wajib menjadi istri keduanya. Terdesak keadaan yang begitu sulit, ia pun terpaksa menerima tawaran pernikahan tak terduga ini. Akankah keputusan besar tersebut membawa Liana pada kebahagiaan sejati, atau justru menenggelamkannya dalam penderitaan yang jauh lebih perih?
Sampul Novel Kecanduan Manis: Istri Manja Tuan Wahid
9.4
Kehamilan tak terduga akibat cinta satu malam menghancurkan hidup Rossa. Di tengah keputusasaan, ia terpaksa menjalani pernikahan bisnis dengan tunangan masa kecilnya. Walau awalnya terasa hambar, cinta mulai tumbuh di hati Rossa. Tragisnya, menjelang persalinan, ia justru didepak dengan surat cerai. Rossa pun memilih pergi. Saat takdir mempertemukan mereka kembali, sang mantan suami memohon kesempat kedua. Akankah Rossa mau memaafkan?
Sampul Novel Luka Cinta Dari Suami Obsesif
8.6
Demi menyelamatkan kakeknya, seorang wanita terpaksa menikahi Simon Adijaya yang telah mengurungnya selama sepuluh tahun. Naas, dia justru disiksa Virginia hingga wajahnya hancur, lalu dibuang Simon ke sungai es dalam kondisi sekarat. Di ambang kematian, ia mengetahui sang kakek telah wafat. Simon telah merenggut orang tua, kebebasan, dan harapannya. Kini, dengan dendam yang membara, wanita itu bersumpah akan bangkit untuk menghancurkan hidup Simon sepenuhnya.
Sampul Novel Makasih Patah Hati
9.5
Empat tahun menjomblo membuat Amelia, gadis 25 tahun, terbiasa sendiri demi menghindari lelaki yang tak serius. Namun, benteng pertahanannya goyah saat bertemu Fred. Pemuda 27 tahun yang menjabat sebagai CEO kaya raya dan berpengaruh ini menaruh minat besar padanya. Tanpa diduga, Fred langsung datang membawa lamaran pernikahan yang mengejutkan. Kini, Amelia dihadapkan pada persimpangan jalan untuk menentukan arah masa depannya.
Sampul Novel Nikmatnya Cinta Suci
9.7
Kehidupan mapan pengusaha muda bernama Rubi seketika runtuh saat memergoki Candy, sang istri, berselingkuh dengan orang kepercayaannya, Jeff. Usai menjebloskan keduanya ke penjara, Rubi mengasingkan diri ke desa demi mencari kedamaian. Di sana, ia jatuh cinta pada Dara, seorang janda sederhana. Sayang, cinta mereka terganjal restu orang tua Rubi yang mempermasalahkan status sosial Dara. Sementara itu, bahaya mengintai dari balik jeruji besi saat Candy dan Jeff menyusun rencana balas dendam keji.