
Manis di Bibir, Pahit di Takdir
Bab 5
Saat membuka mata, aku mendapati diriku sudah berada di rumah sakit.
Kamar rawat inap ini sunyi, tak ada seorang pun.
Dari arah kamar sebelah, samar-samar terdengar suara yang kukenal—— Devan.
Aku menahan nyeri di perut, melangkah tertatih mengikuti sumber suara itu. Hingga langkahku terhenti di depan pintu yang hanya terbuka setengah.
Di sana… Keira terbaring pucat di atas ranjang pasien. Pergelangan tangannya dibalut perban tebal.
Devan memanggil hampir semua dokter rumah sakit untuk memeriksanya. Mereka berdiri mengelilinginya, sibuk memeriksa kondisinya.
Sementara itu, Devan duduk di tepi ranjangnya, jemari mereka saling bertaut erat. Tatapan Devan… lembut. Terlalu lembut.
“Jangan takut. Semuanya sudah baik-baik saja. Bayi kita juga aman,” ucapnya dengan nada hangat yang menusuk telingaku seperti belati.
Tangannya tak melepaskan tangan Keira. Terlalu dekat. Terlalu mesra. Hingga aku merasa… dunia ini memang tidak menyisakan ruang untuk orang ketiga sepertiku.
Dadaku sesak. Nafasku tercekat. Aku tak sanggup melihatnya lagi.
Ternyata, ketika hati benar-benar hancur, rasa sakitnya mampu membuat tubuh seperti kehilangan udara.
Menahan perih yang menjalar, aku tak peduli pada perawat yang mencoba menghentikanku. Aku langsung mengurus kepulangan.
Setibanya di vila, aku lanjut mengemasi barang.
Barang-barang yang tak kubutuhkan, kubuang begitu saja.
Yang kubawa hanya paspor, dokumen penting, dan beberapa potong pakaian.
Hadiah-hadiah dari Devan? Kubiarkan utuh di temptnya.
Di meja samping ranjang, ada foto kami berdua.
Aku menatapnya sejenak… lalu merobek bagian diriku, meremasnya, dan melemparkan sisa setengahnya ke tempat sampah..
Selesai berkemas, aku menyeret koper keluar dari vila tanpa menoleh sedikit pun.
Kebetulan, hari ini visa ke Negara Nusavara milikku resmi terbit.
Akhirnya… aku bisa meninggalkan tempat penuh luka ini.
Petugas imigrasi menyerahkan visa itu sambil tersenyum.
“Selamat, Kak Viona. Semoga perjalanan Anda menyenangkan.”
“Terima kasih.”
Menatap visa itu, anehnya… hatiku tenang, bahkan tanpa gejolak.
Sebelum pergi, aku menutup semua data pribadiku dan membeli tiket sekali jalan.
Masih teringat jelas, delapan tahun lalu, Devan menggenggam tanganku erat-erat sambil berkata, “Viona, kamu milikku. Seumur hidup ini, kamu harus di sisiku.”
Devan… kamu salah.
Mulai hari ini, di sisa hidupku… tak akan ada lagi namamu.
…
Sementara itu, usai menenangkan Keira agar mau minum obat hingga akhirnya tertidur, Devan baru teringat padaku.
Dia melangkah ke kamar sebelah, tapi hanya mendapati seorang perawat sedang merapikan ranjang yang kosong.
Ranjang tempatku berbaring kini kosong, tak ada sisa kehadiranku.
Hatinya mendadak diliputi kegelisahan.
Dia menghentikan perawat itu lalu bertanya, “Pasien di sini ke mana?”
“Anda keluarga pasien? Pagi tadi sudah pulang,” jawab perawat dengan tatapan heran.
“Apa?”
Gelisahnya kian menjadi. Dia segera merogoh ponselnya, mencoba menghubungiku. Nada sibuk.
Dia mengirim pesan—tapi sudah diblokir.
Ekspresinya mengeras, rahangnya menegang.
Butuh waktu cukup lama sebelum dia teringat menelepon kepala pelayan di vila.
“Di mana nyonya? Di vila? Suruh dia angkat telepon!”
Tak lama kemudian, suara di seberang justru terdengar panik.
“Pak Devan… nyonya sudah pergi. Pelayan melihat nyonya membawa koper dan naik taksi meninggalkan vila!”
Anda Mungkin Juga Suka





