APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Manis di Bibir, Pahit di Takdir

Manis di Bibir, Pahit di Takdir

Devan Atmadja berulang kali mengkhianati Viona dengan dalih kesetiaan pada mendiang sahabatnya. Mulai dari pernikahan rahasia dengan Keira Maheswari, menjadikannya nyonya besar demi aliansi mafia, hingga kehamilan yang diklaim sebagai kecelakaan. Setelah berkali-kali mengalah dan memaafkan janji manis Devan, Viona akhirnya tersadar bahwa hubungan mereka tidak memiliki masa depan. Di tengah jaringan intrik dan dusta ini, Viona memilih untuk melepaskan diri dan pergi selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Devan Atmadja, pria yang katanya mencintaiku sepenuh hati.

Di mata orang lain, dia adalah suami teladan… pria idaman.

Namun, dia telah mengkhianatiku tiga kali.

Pertama kali, tiga tahun lalu.

Sahabatnya, Dion Prasetya, meninggal demi menyelamatkannya.

Devan menyembunyikan semuanya dariku, lalu diam-diam menikah dengan pacar Dion, Keira Maheswari.

Hatiku saat itu hancur. Aku sudah bersiap pergi.

Namun, malam itu juga, dia mengirim wanita itu ke luar negeri, lalu berlutut di hadapanku, memohon dengan penuh kesedihan.

“Viona… Dion mati demi aku. Aku harus menjaga istrinya. Surat nikah itu hanya jaminan untuk Keira. Setelah membalaskan dendam Dion, aku akan menceraikannya. Satu-satunya wanita yang kucintai… hanya kamu!”

Dan bodohnya… aku memaafkannya.

Setahun kemudian, Devan justru mengumumkan status Keira sebagai nyonya besar keluarga di depan semua media.

Dia kembali memberiku penjelasan.

“Keira adalah putri tunggal Keluarga mafia Maheswari. Pernikahan ini adalah bentuk aliansi demi membalas dendam untuk Dion! Kami sudah sepakat, setelah semua selesai, aku akan menceraikannya… lalu menikahimu!”

Lagi-lagi aku percaya padanya.

Kemudian setahun lalu, di sebuah pesta, Devan dijebak dan menghabiskan malam bersama Keira. Dia menutupinya dariku. Sampai dua minggu lalu, ketika aku melihatnya sendiri, dia menemani wanita itu melakukan pemeriksaan kehamilan di rumah sakit.

Dengan tatapan yang tak sanggup bertemu denganku, dia berbisik, “Viona, ini cuma kecelakaan. Setelah dia melahirkan, aku akan mengirimnya pergi. Anaknya akan diasuh orang tuaku, dan seumur hidup mereka tak akan pernah muncul di hadapanmu.”

Dengan dalih cinta, Devan membuatku terus mengalah.

Tapi hari ini… aku sadar.

Tak ada lagi masa depan untuk kami.

Sudah saatnya… aku pergi.

“Devan…”

Suara teriakan panik Keira terdengar dari belakang. Dia menekan perutnya, wajahnya meringis menahan kesakitan.

Tubuh Devan menegang. Tanpa pikir panjang, dia refleks mendorongku menjauh, lalu berbalik menggendong Keira.

Aku yang lengah seketika terdorong hingga terhuyung, bahuku membentur dinding. Rasa nyerinya membuat air mataku langsung mengalir.

“Viona, keadaan Keira mendesak. Aku harus segera membawanya ke dokter. Kamu pulang dulu, nanti aku akan jelaskan semuanya,” ucap Devan tergesa, bahkan tanpa menoleh.

Dia berlari masuk ke ruang medis sambil memanggil dokter, mendekap Keira erat.

Aku bersandar di dinding, air mata mengalir semakin deras.

Hutang nyawa, status sebagai nyonya besar yang sudah diumumkan ke publik, ditambah anak yang akan menjadi milik mereka… Devan, kamu takkan pernah bisa melepaskan Keira seumur hidupmu.

Masih mungkinkah kita memiliki masa depan?

Menahan sakit di bahu, aku melangkah keluar rumah sakit dan naik ke mobil.

“Nyonya, apa kita kembali ke vila Keluarga Atmadja?” tanya sopir hati-hati.

Aku bersandar lemah di kursi.

“Nggak… antar aku ke Kantor Imigrasi lebih dulu.”

Dua jam kemudian, paspor dan berkas aplikasi visa Negara Nusavara sudah di tanganku.

“Permohonan visanya butuh antrean, tujuh hari lagi baru bisa diambil,” kata petugas.

“Tujuh hari lagi… tujuh hari lagi, aku takkan punya hubungan apa pun lagi dengan Devan,” gumamku lirih.

Sesampainya di vila Keluarga Atmadja, aku langsung mulai mengemas barang.

Benda-benda milikku tak terhitung banyaknya.

Karena pekerjaannya, Devan sering bepergian ke berbagai tempat, dan ke mana pun dia pergi, selalu membelikanku tas mewah, perhiasan, serta barang-barang mahal lainnya.

Di vila ini ada tiga ruangan penuh—semuanya untuk menyimpan hadiah darinya.

Setiap sudut rumah menyimpan kenangan kami.

Setiap bulan kami selalu berfoto di bilik stiker dan menempelkannya hingga memenuhi dinding.

Setiap hari anniversary di tiap tahunnya, dia selalu memberiku cincin berlian—kotak-kotak penyimpannya kini sudah penuh sampai tiga lapis.

Ada juga boneka edisi terbatas dan figur langka yang sudah tak diproduksi lagi.

Semua itu menjadi bukti betapa dia memanjakanku tanpa batas.

Sebelum Keira muncul, aku sungguh percaya kami akan menua bersama.

Aku mengusap air mata. Foto-foto di dinding kucabut satu per satu, lalu kuhempaskan ke tempat sampah.

Semua hadiah darinya kubungkus ke dalam kardus.

Sebelum pergi, aku akan mengembalikan semuanya.

Saat tengah mengemas barang, tiba-tiba terdengar suara ramai dari lantai bawah.

Dari koridor lantai dua, aku mengintip ke ruang tamu. Para pelayan mengangkut kotak-kotak perhiasan yang tampak berat.

Keira berdiri di sana, menggeleng lembut pada Devan.

“Ini terlalu banyak. Aku cuma bilang suka, tapi kamu hampir memborong semua barang di tempat lelang,” ujarnya manja.

“Aku hanya ingin kamu senang. Kalau kamu senang, proses persalinan juga akan lancar,” balas Devan dengan tatapan lembut.

Lalu dia mendongak dan melihatku berdiri di lantai dua, di balik pegangan balkon. Wajahnya langsung menegang.

“Maaf, Viona… barusan setelah periksa dokter, Keira mood-nya buruk, jadi aku membawanya ke tempat lelang. Ada sesuatu yang kamu suka? Nanti aku belikan untukmu.”

Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata pelan.

“Hadiah darimu sudah terlalu banyak. Belikan saja untuk Keira.”

Devan tampak hendak bicara, tapi Keira lebih dulu menarik lengannya.

“Aku ngantuk… mungkin bayi ini ingin tidur. Bisa antarkan aku ke kamar?”

Devan langsung panik, lalu menopangnya dengan hati-hati.

“Pelan-pelan, jangan sampai jatuh! Kalau ngantuk kenapa nggak bilang dari tadi? Kalau sampai tertidur tiba-tiba dan terjatuh, gimana?”

Dia tak lagi sempat bicara padaku, merangkul Keira dan membawanya menuju kamar utama.

Hatiku seperti tertusuk—nyerinya samar, tapi terasa begitu menusuk jiwa.

Kamar itu dulunya adalah kamar pengantin kami. Devan menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk menatanya, bahkan dengan sungguh-sungguh pernah berkata, “Tak seorang pun boleh masuk sebelum hari pernikahan. Aku ingin jadi orang pertama yang menuntunmu masuk ke sini.”

Namun nyatanya… kamar pengantin yang dulu dia siapkan dengan sepenuh hati, kini telah diberikan pada wanita lain.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta, Dusta, dan Vasektomi
8.1
Saat hamil delapan bulan, duniaku hancur setelah menemukan bukti bahwa Bima telah divasektomi setahun lalu. Kebenaran pahit terungkap di kantornya saat dia dan Erlan menertawakan kehamilanku. Pernikahan kami rupanya hanya taruhan kejam demi uang dan Elsa, adik angkatnya. Mereka bahkan menjadikan sosok ayah bayiku sebagai bahan taruhan. Merasa dikhianati dan dijadikan objek mainan, batinku mati rasa. Tanpa ragu, aku langsung menghubungi klinik untuk mengakhiri segalanya.
Sampul Novel Cinta  Sang Dokter Untuk Gadis Nakal
8.5
Dunia Ayyara runtuh akibat dikhianati dan dilecehkan oleh pacarnya sendiri hingga hamil. Di tengah keputusasaan saat berniat mengakhiri hidupnya, ia diselamatkan oleh sepasang suami istri, di mana sang suami adalah dokter tampan. Hal tak terduga terjadi ketika istri dokter tersebut justru memohon agar Ayyara bersedia menikah dengan suaminya karena alasan khusus. Kini, Ayyara didera kebimbangan hebat menghadapi tawaran pernikahan yang sangat mengejutkan itu.
Sampul Novel Intermezzo ( Antologi Cerpen )
9.0
Antologi cerita pendek ini mengisahkan bagaimana cinta dapat tumbuh dari situasi yang tak pernah disangka. Tanpa aba-aba dan tak mengenal waktu, perasaan kasih sayang bisa hadir mengetuk hati siapa saja. Lewat untaian kisah romansa modern, buku ini memperlihatkan keunikan momen saat dua insan saling jatuh hati, menegaskan bahwa cinta sejati kerap kali menampakkan dirinya di sela-sela keseharian yang tampak biasa saja.
Sampul Novel Mempelai kedua
9.2
Hari pernikahan Rihanna yang seharusnya bahagia berubah menjadi mimpi buruk saat para tamu telah hadir. Di balik layar, ia menangis histeris setelah melihat postingan media sosial sepupunya. Unggahan tersebut memperlihatkan Vero, tunangannya, tengah tertidur mendekap kerabat dekatnya sendiri. Di tengah luka akibat dikhianati, Rihanna kini dihadapkan pada pilihan sulit: tetap menunggu sang calon suami datang atau membatalkan pernikahan demi harga diri walau mencoreng nama baik keluarganya.
Sampul Novel Menantu jadi pembantu
8.8
Pernikahan Sabira Prameswari dan Daffa Prasetya yang berawal dari media sosial justru berujung pilu. Sabira harus menghadapi kenyataan pahit akibat keegoisan sang suami dan campur tangan ibu mertua yang terlalu mendominasi rumah tangga mereka. Di tengah tekanan batin yang terus menyiksa dan konflik keluarga yang kian memanas, Sabira dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Akankah ia bertahan demi sebuah komitmen, atau memilih bercerai demi menyelamatkan dirinya?
Sampul Novel Pendekar Dataran Tengah
8.5
Pernikahan kontroversial Jiu Cien dengan bibi gurunya berujung petaka. Hasutan dan rasa iri membuat istrinya yang sedang mengandung tewas dibantai secara keji. Di tengah kehancuran hidup, Jiu Cien bangkit membawa dendam membara terhadap para pelaku. Ia memulai petualangan hebat di dunia persilatan demi membalas rasa sakitnya. Lewat perjuangan berdarah, ia menapaki jalan kependekaran hingga berhasil menduduki takhta tertinggi sebagai Pendekar Dataran Tengah.