APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Maaf, Aku Tidak Pantas Buatmu

Maaf, Aku Tidak Pantas Buatmu

Irfan, pria tampan dan taat beragama, masih terluka karena penolakan Iffah yang merasa tidak sepadan dengannya. Padahal, kecerdasan dan kesalehan Irfan membuatnya menjadi sosok dambaan. Di saat alasan penolakan itu masih menyisakan tanya, hadirlah Rayhan, seorang lulusan Malaya University yang berupaya mendekati Iffah. Situasi ini membuat Iffah bimbang. Haruskah ia membuka hati untuk Rayhan, ataukah ia akan kembali merajut asa bersama Irfan, cinta lama yang masih tersimpan di hatinya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Rabbana laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hablanaa min ladunka rahmah, innaka antal wahhaab

‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan, setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.’

Irfan mengulangi hafalan surat Ali ‘Imran ayat 8. Air matanya meleleh membayangkan apabila hatinya condong akan kesesatan.

Ya Allah, Irfan bukanlah malaikat yang senantiasa tunduk dan patuh akan perintah-Mu …

Ya Allah, Irfan bukanlah nabi atau rasul yang senantiasa teguh dalam pendirian akan ketentuan-ketentuan-Mu …

Irfan adalah manusia biasa yang berusaha taat dengan sekuat apa yang menjadi batasannya. Kadangkala imannya akan naik dan kadangkala akan turun. Walaupun bisa melakukan cobaan-cobaanmu Ya Allah, mohon jangan meninggalkannya walaupun sebentar. Tidak ada sesuatu yang lebih membahagiakan, lebih membuat tenang, terkecuali ada tuntunanmu yang menyertai.

Mentari mulai menampakkan kehangatan pada sinar yang dipancarkan. Tetumbuhan nampak girang, mereka perlahan melebarkan sayap-sayap dedaunannya. Burung-burung sudah bersiap menggais rezeki hari ini. Mereka selalu percaya akan bisa pulang dengan kondisi perut kenyang.

Pagi ini, sudah sebulan nama Iffah perlahan dilupakan Irfan. Irfan kembali menjalani rutinitas seperti sediakala. Sebagai lulusan program studi Ilmu Komunikasi, Dia bisa memanfaatkan ilmunya untuk mengabdikan dirinya menjadi relawan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) khususnya sebagai penghubung informasi antar bagian divisi.

Walau beralamat di Surabaya, Irfan justru sering berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Irfan juga mendampingi kegiatan seperti memberikan bantuan makanan bagi keluarga miskin di pojok kota, dan tentu saja pada bulan tertentu dia akan ditugaskan ke Palestina untuk memberikan bantuan makanan dan obat-obatan.

“Ciee … wajahnya sudah kembali ceria nih.”

Seperti biasa, siapa lagi sahabat Irfan yang paling dekat dengannya kalau bukan Awi. Apabila Irfan dilanda masalah, maka Awi adalah orang pertama yang mengetahui permasalahan Irfan.

Irfan akan cerita semuanya kepada sahabatnya itu. Kepercayaannya kepada Awi melebihi apapun. Dialah sahabat baiknya.

“Tambah ganteng kan?”

Sekalian Irfan menambahkan. Bercanda beginian sering mereka lakukan. Satu dari keduanya sudah paham akan karakternya masing-masing.

“Maap nih yee. Sekali lagi maap barangkali menyinggung. Kalau kata kakek gua sih pernah ngomong kalau laki itu akan fiks dikatakan ganteng kalau ada perempuan yang menyukainya, dengan kata lain sudah punya istri. Laah, kamukan ….”

“Heeettt.” Irfan memotong pembicaraan Awi, “Lah, kamukan …. Gimana, gimana, coba lanjutkan ….”

Tangan kanan Irfan mengepal. Gawaat! Sepertinya Irfan mau marah. Mata Awi melotot melihat tangan Irfan yang bersiap menyantap tubuhnya itu.

“H-hem, g-gimana yaa ….”

Awi tidak jadi melanjutkan perkataannya. Tangan Irfan yang mengepal perlahan direnggangkan, wajahnya sedikit menesu.

“Maaf yaa ….”

Tangan kanan Irfan memegang pundak Awi, kemudian dia meminta maaf. Dia mencoba untuk melupakan Iffah seutuhnya, maka dia meminta agar sahabatnya itu tidak lagi membahas sesuatu yang berhubungan dengannya.

“Oh itu, iyaa aku paham. Bukannya aku yang seharusnya minta maaf?”

“Iya iya, harusnya kamu tuh ….”

“Tapi karena kamu duluan, ga jadi deh. Haha ….”

Irfan dan Awi tertawa. Dari peristiwa singkat itu, Awi paham bahwa Irfan ingin berusaha melupakan Iffah, terkait apakah Irfan masih ada rasa atau tidak tentang Iffah, sungguh hanya hatinya dan tuhannya saja yang tahu.

**

Masih di kota pahlawan, terdapat satu restoran yang tidak pernah sepi. Setiap harinya selalu datang bergantian orang-orang yang menjadi pelanggan untuk makan di sana. Sekitaran restoran memiliki tempat bersantai.

“Enak banget makanan di resto ini yaa ….”

Pujian seperti itu sering didapatkan lantaran pengunjung merasa puas dengan masakan yang enak, tempatnya pun juga nyaman, dan tentu saja ada pelayanan yang juga cukup baik.

Restoran ini juga terkenal akan kedermawanannya. Setiap hari Jumat akan ada makan gratis di restoran, juga akan dibagikan untuk anak yatim piatu di panti. Maka tak heran, restoran yang bernama ‘Resto Berkah’ ini menjadi rekomendasi dari banyak kalangan.

Restoran yang memiliki visi ‘Dari resto menunju Jannah’ ini memerhatikan banyak hal, khususnya terdapat integrasi nilai Islami di dalamnya.

Misalnya di dinding-dinding resto terdapat anjuran beradab terhadap makanan, diantaranya seperti makan menggunakan tangan kanan, makan sambil duduk, membaca doa sebelum dan sesudah makan.

Dari pusat restoran, terdapat beberapa orang bergerumbul sepertinya bersiap akan ada sesi wawancara dari salah satu stasiun televisi.

“Terima kasih telah meluangkan waktunya ya kak.”

Seorang reporter berbaju hitam sedang mewawancarai perempuan di tengah-tengah restoran.

“Boleh saya bertanya beberapa hal kak?”

“Silakan, akan saya jawab sebisa saya yaa.”

Tim syuting fokus mengambil video mereka, beberapa kru lainnya melihat channel televisi kebanggaan orang Surabaya ini diHpnya, mereka memastikan apakah tayangan berlangsung lancar, tanpa ada kendala.

Reporter melanjutkan pertanyaannya,

“Banyak kabar burung yang mengatakan resto ini menjadi tempat ternyaman kedua setelah masjid ya kak?”

“Tentang sebutan itu memang benar. Tetapi kami tidak berfokus pada itu, melainkan bisa mengajak kebaikan aja dan targetnya adalah pengunjung resto. Oleh sebab itu, pengiring musik resto diganti dengan syair-syair yang mendekatkan diri kepada Allah dan solawat mengingat nabi.”

“Jadi, apakah artinya resto ini hanya untuk orang muslim saja?”

“Tidak! Justru beraneka ragam agama, tidak hanya orang muslim saja yang datang. Ada juga rombongan dari banyak agama menjadi satu, memesan makanan dan makan bersama-sama. Mereka menikmatinya.”

“Berarti masakan di sana halal semua kan?”

“Tentu saja! Menarik juga diamati karena banyak mahasiswa non muslim yang sering mengadakan penelitian di restoran.”

Reporter terkejut.

“Keren banget ya ini restoran. Kalau boleh tahu, bagi-bagi dong gimana strateginya hingga resto ini bisa ramai sekali, banyak pengunjung, bahkan banyak yang melakukan penelitian?”

Perempuan yang ditanyai bergumam,

“Heem … gimana yaa ….”

Reporter mencoba bertanya pelan,

“Maaf, tidak bisa yaa kak?”

“Bukan tidak bisa. Tapi jujur saya tidak begitu tahu hehe. Posisi saya di sini sebagai pengelola restoran saja, jadi tugas saya terbatas berhubungan dengan pengecekan makanan, alat-alat makanan, dan kebersihan tempat.”

Mendengar jawaban perempuan, reporter mengangguk pelan. Awalnya dia merasa perempuan ini adalah yang paling berkuasa di restoran ini, ternyata bukan.

Perempuan kembali melanjutkan ucapannya, telunjuk tangan kanannya mengarah ke arah perempuan bergamis merah muda yang baru saja keluar dari kantor restoran.

“Nah nah, itu diaa ….”

Reporter memalingkan kepala. Tim syuting dan kru ikutan melihat ke arah yang dimaksud.

“Jadi, perempuan muda itu adalah yang paling berkuasa di restoran ini?”

Perempuan menganggukkan kepala, kemudian menambahkan ucapannya lagi,

“Benar. Dialah yang paling berperan atas kesuksesan restoran ini. Kegiatan-kegiatan sosial rutinan untuk anak yatim, makan gratis hari jumat, semua berasal dari idenya.”

Reporter masih memandang ke arah perempuan muda di sana.

“Udah masih muda, pinter, cantik yah? Duh duh duh.”

Mendengar pendapat itu, sepertinya mereka pada setuju. Tim syuting dan kru terlihat menahan diri, jangan sampai ada satupun suara yang sengaja maupun tidak sengaja keluar dari lisan mereka.

Reporter terus penasaran tentang sosok perempuan muda itu,

“Kira-kira bolehkah saya mewawancarainya?”

“Jangan sekarang. Beliau kalau jam segini sedang sibuk, sebentar lagi beliau mau ke panti asuhan untuk membagikan makanan.”

“Haduh, sayang sekali ya pemirsa. Kita tidak bisa bertanya lebih dekat dengan pemilik restoran ini.”

Reporter menyayangkan sekali kesempatan yang ada di depan matanya itu, namun dia yakin nanti akan ada waktu tersendiri bisa berbincang panjang dengannya.

Reporter kembali bertanya, sebelum menyelesaikan wawancaranya itu,

“Ohya pemirsa di rumah mungkin juga penasaran kan?. Kak, perempuan muda tadi itu siapa sih?”

“Dia adalah putri tunggal dari pemilik perusahaan Book Group. Papanya bernama Pak Rohman dan bundanya bernama Bu Aisyah”

Reporter mengangguk, kemudian kembali bertanya,

“Kalau putrinya kak?”

“Namanya Iffah ….”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AFTER THAT NIGHT (CEO)
8.8
CEO teknologi New York, Darren Hawk, ingin melamar Angela Rawllies yang merupakan desainer top Paris. Namun, rencana ini terhalang niat ibunya menjodohkannya dengan model elite, Xavia Price. Darren berupaya menjauh, tetapi satu malam tak terduga mengubah segalanya dan menyeretnya ke dilema rumit. Kini ia terjebak di antara kesetiaan cintanya pada Angela atau tanggung jawab mendesak yang harus ia penuhi terhadap Xavia.
Sampul Novel Beri Aku Kesempatan Kedua
9.2
Kehidupan Ishvara hancur setelah sang ayah tiada. Ia terperangkap dalam pernikahan tanpa cinta bersama Kalandra Ranjaya, pria yang telah memiliki tambatan hati lain. Kerap dihina sebagai wanita kuno yang menjemukan, Ishvara hanya bisa meratapi nasibnya. Namun, keadaan berbalik saat ia bertransformasi menjadi sosok menawan dan terlibat hubungan misterius dengan pria lain. Kalandra pun terbakar cemburu dan mulai peduli. Sayang, Ishvara memilih pergi dan menutup rapat hatinya demi menyudahi sandiwara.
Sampul Novel Dokter Milik Tuan Muda
8.2
Dua dokter cantik, Kimmy Jordan dan Inggit, harus menghadapi rumitnya takdir asmara. Kimmy terjebak dilema besar setelah menerima perjodohan orang tuanya, sementara hatinya justru terpikat oleh pemilik kafe langganan. Di sisi lain, Dokter Inggit terpaksa menjalani pernikahan dengan pria kaku yang sedingin beruang kutub. Saksikan perjuangan keduanya dalam menavigasi komitmen, cinta tulus, dan dinginnya sikap pasangan mereka.
Sampul Novel Kebersamaan Tanpa Cinta
9.0
Sepuluh tahun bertahan tanpa cinta di sisi Arga membuat Amanda menyerah. Setelah masa kesepakatan mereka berakhir, ia bertekad membawa putrinya, Adele, pergi jauh. Hubungan dingin ini sempat menghasilkan kehamilan setelah satu malam Arga mabuk dan kehilangan kendali. Walau difasilitasi sebuah vila untuk melahirkan, Amanda harus menerima syarat kejam: anaknya dilarang memanggil Arga sebagai ayah. Arga tetap berlagak lajang di depan publik dan menegaskan tidak akan pernah mengakui keberadaan darah dagingnya sendiri.
Sampul Novel Mantan Istriku Hamil?!
9.4
Miliarder ibu kota bernama Lenny terjebak pernikahan hampa tanpa cinta. Demi menikahi wanita misterius dari cinta satu malamnya, ia memutuskan menceraikan sang istri. Namun beberapa bulan pasca-perceraian, Lenny sangat terkejut saat melihat mantan istrinya hamil tujuh bulan. Kecurigaan pun mulai menyelimuti benaknya, membuatnya bimbang apakah mantan istrinya itu telah berselingkuh dan mengkhianati komitmen pernikahan mereka selama ini.
Sampul Novel Menikah dengan CEO Dingin
9.7
Demi melunasi utang sang ayah, Jasmine Mariana terpaksa menikahi Kevin Prakarsa, seorang CEO dingin yang tidak memiliki kehangatan. Alih-alih menjadi solusi, pernikahan ini justru menyeret Jasmine ke dalam badai masalah baru. Ia tidak hanya harus menghadapi dinginnya sikap sang suami, tetapi juga gangguan dari mantan istri Kevin serta berbagai konflik tak terduga. Perjuangan berat Jasmine baru saja dimulai. Sanggupkah ia bertahan dalam ikatan pernikahan tanpa cinta ini?