APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Maaf, Aku Tidak Pantas Buatmu

Maaf, Aku Tidak Pantas Buatmu

Irfan, pria tampan dan taat beragama, masih terluka karena penolakan Iffah yang merasa tidak sepadan dengannya. Padahal, kecerdasan dan kesalehan Irfan membuatnya menjadi sosok dambaan. Di saat alasan penolakan itu masih menyisakan tanya, hadirlah Rayhan, seorang lulusan Malaya University yang berupaya mendekati Iffah. Situasi ini membuat Iffah bimbang. Haruskah ia membuka hati untuk Rayhan, ataukah ia akan kembali merajut asa bersama Irfan, cinta lama yang masih tersimpan di hatinya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Reporter dan tim sudah selesai melakukan wawancara. Mereka belum berhasil mewawancarai Iffah. Disaat yang bersamaan dengan itu, Iffah baru saja pergi menuju panti asuhan ditemani sahabatnya bernama Arini.

“Mbak Iffah ….”

Arini yang menyetir mobil memanggil Iffah yang berada di sampingnya. Di mobil itu berisi sekitar 100 box ayam geprek dan minuman botolan sari kedelai.

“Iya, gimana Mbak Rin?”

“Mbak Iffah kan yang mengendalikan resto. Heem, apa gak rugi mbak tiap Jumat gini kasihkan 100 box ayam geprek gratis kepada panti?”

“Yaa engg- ….”

Iffah belum menjawab, Arini kembali berbicara.

“Udah 100 box, belum lagi makan gratis di resto setiap jumat juga, sekitar 200 makanan. Jadi, totalnya 300 makanan, belum lagi minumnya, juga 300-an. Waah banyak banget.”

“T-tapi kaa ….”

Lagi-lagi sahabatnya itu memotong perkataan Iffah. Iffah tersenyum mendengar sahabatnya berbicara. Dia mencoba mengalah karena sadar bahwa sahabatnya itu memang berkarakter seperti itu.

“Gini loh gini Iffah ... temanku, sahabatku dari kecil, dari unyu-unyu malahan. Maksudku gini, itukan banyak banget kan yaa. Kalau dihitung-hitung 1 box ayam geprek dan minumnya aja 20 ribu, nah 20 ribu kali 300, waah bentar bentar berapa tuh ya?”

Seperti biasa, Arini tidak bisa tenang.

“E-eeh, mau ngapain?”

“Ambil Hp, kayaknya di dalam tasku deh.”

“Lah … buat apa? Udah nanti aja ….”

“Hiiih, buat buka kalkulator, hitung tadi loh abis berapa?”

“Astaqfillah … Ya Allah … Hiihh … gemes deh sama kamu Riiin. Sudah fokus nyetir, kalau banyak goyah entar nabrak loh.”

“Ya janganlah, masih belum mau mati tau! kan lagipula aku juga belum nikah, kan gak enak kalau di akhirat pas dibangkitkan gak punya pasangan. Eh, kayaknya Mbak Iffah kan juga belum nikah hehe ….”

“Ariniiii … udaah, fokus nyetir dulu ….”

“Hehe … siaap Mbak Iffah!”

“Oke, tenangkan dulu dirimu yah. Sudah tenang?”

“Iyaa, sudah mbak.”

“Baik, jadi yang tadi kalau ditotal itu habis 6 juta.”

Arini lagi-lagi terkaget.

“Whaaaaaat? 6 juta per pekan, kalau sebulan dikali empat, jadi 25 juta.”

“Eh, 6 juta kali empat kok 25 juta, bukannya 24 juta yah?”

“Iya 24 juta, kan sama biaya transportnya, beli bensin mobil, kadang Mbak Iffah juga baik hati sepulang dari panti, aku diajak jalan-jalan dibeliin sesuatu. Jadi yaa itu sekitar 1 juta. Makanya totalnya 25 juta.”

Iffah menghela nafasnya.

“Huff … Arini kan ada-ada aja deh.”

“Tapi, mbak ….”

“Ada apa lagi?”

“Anu mbak, mau nanya, hem, apa nggak rugi kah kalau gini terus?”

“Gimana-gimana?”

Iffah menatap ke arah sahabatnya itu dan Arini mencoba menjelaskannya lagi.

“Maksudku, daripada habis per bulan sampai 25 juta, apa ngga sebaiknya uangnya ditabung yaa? Kan kebutuhan Mbak Iffah juga banyak.”

Iffah tersenyum mendengar penjelasan sahabatnya itu.

“Arini, rezeki itu ada yang mengatur kok, jadi tidak perlu khawatir.”

“Tapi 25 juta loh mbak.”

“Iya terus kenapa kalau 25 juta?”

“Yahh .. bisa buat skin care yang mahal ituloh yang harganya 10 jutaan, nanti wajah kita jernih, kulit kita bersih deh. itupun ada sisanya, buat beli parfum, baju, hiihh banyak deh.”

Arini memang begitu, dan sekali lagi Iffah berusaha memahami karakternya.

“Arini sayang. Kalau itu maa namanya kita boros. Sedikit-sedikit ada uang, dibuat belanja. Aku tuh takut kalau tidak bisa mengontrol diri. Jadinya yaa tidak akan pernah puas gitu.”

Arini diam. Dia mulai berpikir tentang hal itu, kemudian kembali menanggapi perkataan Iffah.

“Kalau begitu ditabung saja, kan biar banyak.”

“Kalau sudah banyak, terus diapain?”

“Yaa … dikumpulin terus, biar tambah banyak.”

“Kalau udah sangat buanyak uangnya, terus …?”

“Hem. Diapain yaa?”

Arini mulai bingung. Di sinilah kesempatan Iffah untuk menjelaskan.

“Nah bingung kan hayoo hehe … maksudku gini, kita itu hidup di dunia cuma bentaaar banget. Bahkan kita mati aja gatau kapan, bisa saja 50 tahun lagi, 10 tahun lagi, atau bahkan pekan depan. Kita tidak pernah tahu. Jadi, apa salah selagi masih hidup kita lakuin untuk melakukan kebaikan-kebaikan semampu kita?”

Arini diam, merenungi perkataan dari Iffah.

“Ini aja aku alhamdulillah banget. Allah udah lancarin usaha resto ini. Omzetnya juga besar per bulannya. Awalnya aku sama sempat punya pikiran seperti Arini, apa yaa uangnya dibuat beli baju ya, buat jalan-jalan ya, buat beli rumah aja ya yang banyak. Tapi … pada satu titik, aku akhirnya sadar bahwa di luar sana masih ada yang susah makan, di luar sana bahkan banyak yang jadi pengangguran, butuh uang untuk hidup mereka. Jadi itulah mengapa aku buat program pekanan seperti itu.”

“Tapi Mbak Iffah itu cantik. Jadi kek sayang banget gitu, capek-capek, kadang bantu angkat-angkat, kadang kepanasan. Mending bekerja di kantor resto saja mbak, kalau untuk sedekah kan gak harus tiap pekan. Sebulan sekali juga bisa kan. Lagian Allah juga pasti ngerti kalau Mbak Iffah juga orang yang baik.”

“Rin …, Menurutku seperti cantik, baik, dan seperti menutup aurat pun gak cukup buat muslimah. Harus ditambah satu hal yaitu dengan menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarnya. Aku ingin jadi seperti itu, Rin. Selagi aku bisa melakukan itu mengapa tidak. Tidak mudah memang untuk istiqomah, tetapi aku tetap akan berusaha. Aku itu sayang sama Allah. Dengan itu aku pengen banget jadi hambanya yang baik.”

Arini terenyuh mendengar apa yang disampaikan Iffah. Pesan-pesan kelembutan dari lisan Iffah menghanyutkan hatinya, seolah-olah menyadarkannya bahwa memang manusia harus saling berbaik kepada manusia yang lain.

“Kamu sayang kan sama Allah, Rin?”

Iffah bertanya kepada sahabatnya itu dengan lirih dan lembut. Setelah itu Arini melihat ke wajah Iffah. Di sana terlihat bola mata ketulusan, terlihat bening dan sejuk.

“Iya Mbak Iffah, Arini sayang sama Allah.”

Mendengar perkataan itu, Iffah memeluk Arini.

“Allah sayang sama aku juga kan, Mbak?”

Arini yang masih memeluk sahabatnya itu, berbisik panjang kepadanya.

“Allah tidak sayang Arini, tapi Allah tuh sayaaaang banget sama Arini ….”

Air mata Arini tumpah membasahi bajunya. Arini mulai sadar bahwa tak perlu lagi memberatkan urusan dunia, tak ada gunanya menuruti nafsu untuk perhiasan dunia, bukannya manusia diciptakan di dunia oleh Allah untuk diuji, mana hambanya yang terbaik imannya, yang baik akhlaknya, yang banyak kontribusi kebaikannya.

Bukan hamba yang mementingkan diri sendiri, senang akan harta, perhiasan, rumah, kemudian tidak mau berbagi, tidak mau saling menolong yang sedang membutuhkan. Sungguh Allah tidak menyukai hamba yang seperti itu.

Setelah percakapan mereka, akhirnya mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan panti. Di sana terlihat agak ramai, terlihat beberapa laki-laki yang menurunkan baju dari mobil depan panti.

Iffah dan Arini segera turun dari mobil, hendak mereka menuju panti untuk mengonfirmasi kepada ketua panti bahwa makanan untuk adek-adek panti sudah datang, tiba-tiba dari arah mobil di depan panti keluar laki-laki yang memakai gamis, dia melihat Iffah mau berjalan masuk panti.

“Iffah yah?”

Mendengar ada yang memanggil, Iffah menoleh ke arah sumber suara. Dihadapannya ada sosok laki-laki yang tidak asing baginya, dia adalah Irfan.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Gadis Simpanan
9.2
Carl Davidson gemar menjahili Samantha Walker sejak kecil dengan menaruhnya di meja tinggi hingga menangis. Kebiasaan unik ini bertahan hingga Carl sukses menjadi miliuner otomotif. Kini, ia tidak hanya mendudukkan Samantha di meja, tapi juga membawanya ke ranjang. Di tengah stigma buruk masyarakat yang melabelinya sebagai gadis simpanan, mampukah Samantha mempertahankan kehormatannya dan bersanding dengan Carl di pelaminan?
Sampul Novel Derita Suami Mandul
8.2
Rumah tangga Jaka dan Fatimah berada di ambang kehancuran akibat belum hadirnya buah hati. Desakan dari keluarga Fatimah akhirnya membongkar fakta bahwa Jaka mandul. Di tengah ujian ini, Fatimah goyah lalu berselingkuh dengan mantannya sampai mengandung. Jaka yang terkhianati memilih untuk menggugat cerai. Setelah perpisahan resmi terjadi, kini keduanya harus menjalani kehidupan baru yang diwarnai kepedihan serta penyesalan mendalam.
Sampul Novel Lawyer With Benefit
8.2
Demi menjatuhkan ibu tirinya yang menggelapkan dana perusahaan saat ayahnya kritis, Adara meminta bantuan pengacara andal bernama Deva. Namun, hubungan kerja ini justru berkembang menjadi hubungan intim yang penuh gairah. Di tengah kesedihannya kehilangan sang ayah, pesona Deva di luar dan di dalam persidangan berhasil memikat hati Adara. Akankah jalinan asmara yang penuh skandal ini dapat berakhir bahagia bagi keduanya?
Sampul Novel My Ghost
8.4
Syafira akhirnya paham mengapa apartemennya disewakan dengan harga miring. Di balik ketakutan para tetangga, hunian itu dihuni hantu tampan yang justru memikat hatinya. Alih-alih lari, fantasi romantis Syafira malah membuncah saat merasakan dekapan dingin sang arwah. Namun, benturan logika dua dunia perlahan mulai mengusik pikirannya. Akankah jalinan asmara beda alam ini berujung bahagia seperti kisah-kisah fiksi yang kerap ia tulis?
Sampul Novel Sang Desainer
9.6
Karina, mahasiswi desain semester lima, berjuang keras merintis karier sebagai desainer muda. Di tengah paras cantiknya yang memikat banyak pria, ia terus diusik oleh gangguan sang mantan kekasih, Langit. Demi membiayai kuliah serta pengobatan ibunya, Karina terpaksa mengambil pekerjaan sampingan sebagai pengasuh bayi. Menghadapi peliknya dunia profesional dan beban keluarga, ia diterpa berbagai cobaan berat. Mampukah Karina bertahan melewati seluruh rintangan hidup ini?
Sampul Novel Sayap-sayap Patah
8.6
Inara Subrata memilih New York untuk memulihkan diri dari masa lalu kelamnya. Tak disangka, pertemuannya dengan Fabio, seorang CEO kaya di Brooklyn, malah membuka kembali luka lama yang berusaha ia lupakan. Ara kini dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dalam ikatan tanpa kepastian yang menyiksa batin, atau menyaksikan usaha sang kakak hancur tanpa sisa. Di tengah situasi pelik ini, sanggupkah Ara meraih kebahagiaan dan cinta sejati yang ia dambakan di negeri orang?