APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Love Trap

Love Trap

Kehadiran Melisa di pesta ulang tahun sahabat lamanya berujung petaka. Ia terjebak dalam peristiwa kelam yang menyisakan trauma berat hingga merenggut gairah hidupnya. Siapa sangka, musibah tersebut justru menjadi awal dari perubahan yang tak terduga dalam hidupnya. Seiring berjalannya waktu, Melisa mulai menyadari bahwa perasaan cinta yang ia miliki perlahan-lahan bertransformasi secara signifikan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pesta ulang tahun yang begitu berkelas. Minuman, cocktail, makanan semua berasal dari restoran dengan bintang michelin. Bahkan para tamu pun sebagian besar dapat dipastikan adalah tamu dari Louis. Resi yang sangat mudah bergaul dengan siapa saja, tidak pernah pilah pilih dalam berteman. Dia dapat masuk ke kalangan mana pun, dan dari tamu-tamu yang hadir semua dapat dipastikan adalah orang-orang kaya.

Setelah acara tiup lilin, Melisa memilih duduk di meja bar agar bisa sendirian dan tidak perlu berbincang-bincang basa-basi dengan orang yang tidak dikenalinya. Hanya segelas martini yang menemaninya.

Dari kejauhan, Louis nampak berbincang dengan para tamu sambil sesekali memperhatikan Melisa. Melisa, begitu menarik di matanya. Tak peduli dia telah memiliki istri, baginya dirinya adalah seorang lelaki yang bebas.

"Mel, bete ya?"

Melisa menoleh dan Resi ikut duduk di sampingnya.

"Ah.. enggak, gue cuman pengen duduk di sini."

Resi meneguk champange yang sedari tadi di bawanya.

"Gue turut bahagia buat lo."

"Bahagia?" Resi terlihat menahan tawanya.

Melisa mengernyitkan dahinya. "Lo nikah dengan lelaki bule, kaya, rumah mewah,"

"Tapi gue gak sebebas lo, Mel."

"Maksudnya?"

"Apa yang lo lihat, gak sama dengan kenyataannya."

Melisa kembali kebingungan. Kini dia melihat Resi yang tampak tidak seperti Resi yang menyapanya tadi. Wajah Resi terlihat murung. Apa mungkin dia sudah terlalu banyak minum?

"Res, lo baik-baik aja kan?" tanya Melisa.

Resi kemudian seolah-olah tersadar. "Ah iya! Sorry, gue tinggal dulu. Gue ke toilet dulu ya!"

Resi pun pergi dari sana. Melisa kembali meneguk martininya dan merasa tidak yakin dengan keadaan Resi yang baik-baik saja.

"So, Melisa. Sejak kapan kau berteman dengan istriku?" ucap Louis yang tiba-tiba duduk menggantikan Resi, di samping Melisa.

Melisa menoleh dan gelagapan dengan pertanyaan dari Louis. Kharisma Louis begitu mengintimidasinya, membuatnya merasa tidak nyaman.

"Mm... kami berteman sejak kuliah. Setelah lulus, aku ke Jakarta bersama suamiku dan dia tetap di sini," jawab Melisa akhirnya.

"Oh kau sudah menikah? Mana suamimu?"

"Suamiku sedang mengurus proyek di Jakarta,"

Louis mengangguk-ngangguk, kemudian meneguk minumannya. Senyuman tipis dan penuh misterinya kembali terlihat. Dengan ketukan jarinya, bartender itu kemudian mengangkat gelas Melisa dan mengisinya dengan minuman yang baru.

"Hah? Kenapa? Minumanku belum habis," protes Melisa pada bartender yang mengganti minumannya.

"Seorang tamu istimewa harus dilayani dengan pelayanan istimewa pula. Selamat menikmati!" ucap Louis, kemudian pergi.

Melisa terheran-heran dengan kelakuan Resi dan suaminya yang mengundang tanda tanya. Melisa pun meneguk martini barunya dengan lahap dan mulai mencari-cari Resi untuk pamit. Sebaiknya dia cepat pergi dari tempat itu karena sedari tadi perasaannya sudah tidak enak.

Melisa berjalan ke lorong dimana Resi pergi tadi. Saat menyusuri koridor yang sepi dari para tamu undangan itu, tiba-tiba kepalanya pening hingga dia terjatuh dan seorang pelayan laki-laki mengangkat Melisa dan membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan.

Pukul 11.00 malam, para tamu undangan sudah berangsur pulang. Kini hanya tinggal Louis, Resi dan beberapa pelayan yang membereskan tempat acara.

"Mana Melisa?" tanya Resi.

"Oh ya, aku lupa. Tadi saat kamu ke toilet, Melisa pamit pulang padaku dan menitipkan salam untukmu," balas Louis.

Resi menoleh jendela yang mengarah ke parkiran, semua mobil para tamu undangan sudah tidak ada. Dia pun mempercayai apa yang suaminya ucapkan.

"Baiklah, aku lelah sekali. Aku istirahat duluan ya?" ucap Resi.

"Ya, istirahatlah. Sekali lagi, selamat ulang tahun!" balas Louis kemudian mengecup kening istrinya. "Aku masih ingin menikmati minumanku dulu."

Resi mengangguk kemudian berjalan menyusuri koridor dan pergi ke rumah utama. Jarak antara paviliun dan rumah utama cukup jauh, sehingga apa yang terjadi di paviliun tidak akan terdengar ke rumah utama.

***

Pintu kamar itu terbuka, samar-samar terlihat seorang lelaki dengan stelan berwarna hitam masuk. Melisa hanya dapat membuka setengah matanya, namun pandangannya masih samar. Lelaki itu membuka jas dan kemejanya. Terlihat dada berbulu halus dan tubuh yang atletis mulai merangkak ke atas kasur menuju dirinya.

Kesadaran Melisa begitu lemah. Dia mampu merasakan apa yang terjadi pada tubuhnya, namun dia tak kuasa untuk berontak dan berteriak. Dia merasakan sentuhan bibir dan lidah dari lelaki itu ke sekujur tubuhnya. Lelaki itu menciuminya dari kaki, perut, dada hingga lehernya sambil menyingsingkan gaun hitam yang melekat.

Lelaki itu kemudian mengangkat kedua lengan Melisa yang lemah, lalu mengikatnya ke kayu dipan di atas kepala Melisa. Lelaki itu tidak mengikat kedua lengan Melisa dengan kuat karena ketidakberdayaan Melisa.

Melisa mulai dapat melihat wajah lelaki itu setelah nafas lelaki itu menyapu seluruh wajahnya. Lelaki bermata hitam dengan pandangan setajam elang itu seakan siap menerkam dirinya.

"Louis?" gumam Melisa lemah.

Louis tersenyum, kemudian mendekatkan cuping telinganya pada bibir Melisa. "Ucapkan namaku sekali lagi."

"Loui..s"

Louis nampak bergariah mendengarnya. Dia kemudian menyumpal bibir Melisa dengan bibirnya. Melisa tak mampu berontak, air matanya terus berjatuhan selama Louis menikmati tubuhnya dengan kasar bagaikan zombie yang kelaparan.

Louis terengah-engah setelah mencapai puncak kenikmatan. Dilihatnya Melisa sudah terpejam tak sadarkan diri. Louis kemudian berbaring di samping tubuh Melisa yang masih terikat. Dia menatap wanita malang itu lekat-lekat, kemudian dia melihat sebuah luka kecil di bawah perut Melisa. Louis mengelus luka itu dengan jemarinya.

"Kau sudah memiliki anak?" tanya Louis pada Melisa yang terpejam.

Louis pun bangkit dan kembali mengenakan kemeja dan celana panjangnya. Setelah selesai berpakaian, dia menghampiri Melisa kemudian membuka ikatannya dan menyelimuti tubuhnya yang polos. Sebelum keluar dari kamar itu, Louis mengambil kamera di sudut ruangan yang sedari tadi menyala dan merekam setiap adegan yang terjadi di kamar itu.

Melisa terbangun dengan tubuhnya yang polos terbalut selimut. Malam tadi adalah mimpi buruk yang ternyata adalah kenyataan terpahit dalam hidupnya. Kemalangan demi kemalangan terus menimpa dirinya. Setelah kehilangan anaknya, kini dia telah kehilangan kehormatannya. Terlebih, dia adalah seorang istri yang memiliki suami. Dan lelaki semalam adalah seorang suami dari sahabatnya.

Dirinya merasa begitu rendah, air matanya terus menerus mengalir menangisi rasa bersalah yang teramat besar terhadap suaminya yang malang.

Jglek!

Pintu terbuka, dan seorang pelayan masuk dengan sebuah kotak di tangannya. Tanpa menoleh sedikitpun pada Melisa, pelayan itu menyimpan kotak itu di atas sofa di depan ranjang, kemudian kembali keluar dari kamar itu.

Melisa membalut tubuhnya dengan selimut. Kemudian, membuka kotak itu. Dalam kotak itu, terdapat tas miliknya berisi kunci mobil dan ponsel. Lalu di bawah tas terdapat baju ganti untuknya dan sebuah amplop.

Amplop itu berisi foto dirinya tengah ditindih oleh seorang lelaki. Wajah lelaki itu samar karena terlihat dari belakang, namun wajahnya nampak begitu jelas. Melisa kembali menangis sejadi-jadinya. Di belakang foto itu terdapat sebuah tulisan.

Kini kau adalah tawananku.

Melisa merobek foto itu menjadi serpihan kecil, kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi di ruangan itu dan membersihkan dirinya dari jejak-jejak Louis. Lelaki gila yang mempermainkan dirinya.

Setelah mandi dan berpakaian, Melisa keluar dari kamar itu kemudian mencari-cari seseorang. Seorang pelayan wanita datang menghampiri sambil menunduk.

"Nyonya, silahkan sarapan terlebih dahulu," ucap pelayan itu.

"Mana Louis? Mana Resi?"

"Tuan sudah berangkat ke kantor dan Nyonya Resi sudah berangkat ke bandara, Nyonya," jawab pelayan itu.

"Bandara?"

"Iya, Nyonya Resi akan berlibur keliling Eropa selama dua minggu."

Melisa mengangguk, kemudian keluar dari paviliun itu. Segera dia berjalan menuju parkiran dan masuk ke dalam mobilnya.

Sebelum menyalakan mobilnya, Melisa meraih ponsel dan mulai berpikir untuk melaporkan apa yang menimpa dirinya semalam pada Resi. Namun, belum sempat dia menelepon Resi, sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya. Panggilan dengan nama kontak Louis.

"Hah? Sejak kapan aku menyimpan nomornya?" tanya Melisa.

Dengan penuh amarah, Melisa mengangkat sambungan telepon itu. "Hei, lelaki brengsek! Akan aku laporkan kau ke polisi!"

"Hahaha..." tawa renyah Louis terdengar dari dalam sambungan.

"Sebelum kau sampai ke kantor polisi, maka foto dan video asusilamu akan tersebar di media sosial," tambah Louis.

Melisa meninju stir mobil dengan sekuat tenaga.

"Kau merekam kejadian semalam?"

"Kau adalah tawananku sekarang. Aku harus memiliki sesuatu yang mengikatmu denganku."

"Sialan!"

"Oh ya, aku pun menyimpan nomor telepon suami malangmu itu. Dengar, aku bisa melakukan apapun semauku. Jangan pernah berpikir untuk lari, menghindar, atau melawanku."

"Apa yang kau inginkan dariku? Apa semalam kau tidak puas?! Aku hancur! Aku sudah hancur!"

"Aku masih menginginkanmu."

Louis menutup teleponnya dengan penuh kemenangan. Kemudian dia membuka laci meja kerjanya. Terlihat sebuah foto istrinya bersama Melisa sembilan tahun lalu. Foto di saat keduanya masih berkuliah. Louis pun merobek foto Resi, kemudian menatap foto Melisa.

"Akhirnya, aku mendapatkanmu, Lisa."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alpha Damon
9.5
Sejak kecil, Damon hidup dalam bayang-bayang kutukan misterius. Meski sang ayah mengisolasinya dari dunia luar, ia justru tumbuh menjadi pemburu yang sangat mematikan. Ketiadaan serigala batin membuatnya menjadi sosok brutal yang enggan memimpin kawanan. Namun, takdirnya berputar arah ketika seorang putri rupawan datang ke hidupnya. Demi keselamatan perempuan tersebut, Damon harus menerima takdir sebagai Alpha terkuat yang pernah ia benci demi melindunginya.
Sampul Novel Hubungan Terlarang Berkedok Belajar Berkemudi
8.1
Sesi belajar menyetir yang seharusnya biasa saja berubah menjadi situasi intim yang berbahaya. Saat berada di balik kemudi bersama ayah sahabatnya, sang protagonis diminta duduk di pangkuan pria tersebut. Guncangan jalanan bergelombang dan sentuhan fisik yang berdalih melatih konsentrasi segera memicu ketegangan sensual yang tak tertahankan. Ketika batas-batas mulai dilanggar, dia menyadari bahwa hubungan rahasia ini telah meluncur jauh di luar kendali mereka berdua.
Sampul Novel PUTRI YANG TERTUKAR
8.3
Takdir Ana Merwin berubah drastis dari seorang pelayan dapur menjadi mempelai pengganti dalam pernikahan politik kerajaan. Dia dipaksa bersanding dengan Pangeran Leonhart, pria berjuluk The Black Phantom yang dikenal dingin dan mengerikan. Namun, pernikahan ini justru menjadi awal tersingkapnya konspirasi besar. Tanda lahir misterius pada tubuh Ana membangkitkan ketakutan sang ratu dan memicu ingatan kelam masa lalu yang mengancam kestabilan takhta kekuasaan.
Sampul Novel Satu Malam, Dua Anak
8.8
Lima tahun usai keluarganya bangkrut, Melita terpaksa memisahkan putra kembarnya. Satu anak ia bawa, sementara yang lain ditinggal bersama sang ayah. Kini, Melita kembali sebagai influencer sukses, namun bayang masa lalu belum hilang. Mantan kekasihnya menyambutnya dengan dingin dan provokatif. Ketika bertemu anak di rumah pria itu yang sangat mirip putranya, Melita malah ditegur dengan ketus. Ia pun bertekad merebut anaknya dari pola asuh kaku sang mantan.
Sampul Novel Suami Tak Ada Akhlak
9.5
Bagi banyak istri, suami yang perhatian dan rajin membantu di rumah adalah impian. Namun, sikap manis Hadi hanyalah kedok untuk menutupi sebuah rahasia gelap dari sang istri. Di balik itu semua, ia rupanya menjalin hubungan gelap dengan wanita lain. Kehadiran sosok selingkuhan ini kini menjadi ancaman nyata bagi pernikahan mereka, bagaikan bom waktu yang siap menghancurkan segalanya begitu kebenaran itu akhirnya terbongkar.
Sampul Novel Terkubur di Crimson Tides
9.3
Suamiku tega menguburku di pasir pantai hingga menyerupai putri duyung, lalu pergi begitu saja demi menenangkan adik tiriku yang jatuh. Saat menatap punggungnya menjauh, aku hanya bisa pasrah ketika air laut yang pasang mulai menenggelamkan tubuhku. Di tengah keputusasaan sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya, sebuah pemikiran terakhir tiba-tiba terlintas di benakku.