
Ketika Kapal Tenggelam, Tunanganku Menolong Cinta Pertamanya
Bab 2
Sampai sosok Zayden dan Caitlyn sepenuhnya hilang, aku baru buru-buru memikirkan cara untuk menyelamatkan diri. Meskipun kapal pesiar ini sudah terendam air, masih ada banyak barang dalam kapal yang masih bisa digunakan.
Melihat genangan air yang makin dalam, aku buru-buru berjalan ke dalam kapal pesiar dan mencari ban pelampung serta baju pelampung. Di kehidupan sebelumnya, aku tidak bisa berenang tetapi ingin bermain di tepi pantai. Oleh karena itu, aku sudah terlebih dahulu menyiapkan beberapa ban pelampung. Sekarang, ban pelampung itu akhirnya terpakai juga.
Setelah menemukan semua ban pelampung itu, aku mengenakan baju pelampung dengan tergesa-gesa, lalu mengisi udara di ban pelampung dan memakainya. Aku juga mengambil beberapa bungkus cokelat dan air mineral yang tersisa.
Pada saat kapal sepenuhnya tenggelam, aku menarik napas dalam-dalam dan mulai berenang ke arah tepi pantai. Meskipun ini adalah kawasan laut dalam, ada banyak nelayan yang sering mengunjungi tempat ini. Jadi, tempat ini tidak sepenuhnya terpencil. Asalkan bisa menemukan kapal nelayan, aku pasti tertolong.
Sayangnya, ini adalah tengah malam. Walaupun ada kapal nelayan yang berlayar di sekitar, suara mesin kapal terlalu besar sehingga jarang ada yang mendengar suara teriakanku. Untungnya, aku tidak menyerah, melainkan tetap berusaha berenang ke arah tepi pantai.
Hanya saja, cuaca tidak bisa ditebak. Siang ini, langit memang tidak berawan. Sekarang, langit malah dipenuhi awan hitam. Di kehidupan sebelumnya, cuacanya juga seperti ini. Berhubung tiba-tiba turun hujan deras, misi penyelamatan pun menjadi makin sulit untuk dilakukan. Hal ini pula yang menyebabkan Caitlyn akhirnya tidak tertolong.
Namun, di kehidupan ini, aku menatap lautan yang tidak berujung dan berusaha makin keras untuk berenang. Setelah berenang sekitar sejam, aku akhirnya melihat sebuah kapal pesiar yang sedang bergerak ke depan.
Aku buru-buru melambaikan tangan dan berteriak ke arah kapal, “Tolong! Ada orang? Tolong aku! Tolong ....”
Aku berusaha berteriak sekencang mungkin. Pada saat ini, hujan juga mulai turun. Awalnya, itu masih hanyalah gerimis. Beberapa menit kemudian, hujan itu perlahan-lahan menjadi deras.
Melihat kapal yang makin menjauh, hatiku tiba-tiba diliputi rasa putus asa. Namun, aku tetap berseru kencang, “Tolong! Siapa saja! Tolong aku!”
Tepat pada saat harapanku hampir sirna, tiba-tiba terlihat seseorang yang muncul di atas kapal pesiar. Dia menyalakan senter dan menyinari area laut. Dia sudah mendengar seruanku! Aku pasti tertolong!
Dalam sekejap, rasa gembira langsung memenuhi hatiku. Aku buru-buru melambaikan tanganku ke arah senter sambil berteriak, “Tolong! Tolong! Tolong aku!”
Aku menggunakan sedikit tenagaku yang terakhir untuk berenang ke arah kapal. Pada saat aku hampir mencapai pinggir kapal, tangga kapal juga segera diturunkan. Aku pun memanjat tangga dan hampir kehabisan tenaga beberapa kali.
Begitu naik ke kapal, kakiku langsung terasa lemas. Pada saat aku hampir jatuh berlutut di dek, sepasang tangan yang kuat dan kokoh segera menopangku.
“Kamu nggak apa-apa, ‘kan?”
Aku menghela napas lega dan menjawab, “Aku baik-baik saja. Terima kasih.”
Aku yang bersandar dalam pelukannya mencoba untuk berdiri, tetapi tenagaku sudah terkuras habis.
Begitu mendengar ucapanku, pria itu hanya melirikku dengan kening berkerut, lalu langsung menggendongku masuk ke kamar di dalam kapal. Kemudian, dia mengeluarkan pakaian bersih untukku dan berkata, “Tubuhmu sudah basah kuyup. Ganti saja dulu bajumu.”
“Oke.”
Setelah dia keluar, aku buru-buru melepaskan piamaku yang basah kuyup. Berhubung insiden ini terjadi begitu mendadak, aku bahkan tidak sempat mengganti pakaian. Seusai aku mengganti pakaian, pintu kamar diketuk seseorang. Aku pun berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Pria itu membawakan semangkuk mie dan menaruhnya di atas meja, lalu mengisyaratkanku untuk mencicipinya. Saat ini, aku baru melihat jelas rupa pria itu. Dia memiliki fitur wajah yang tampan dan sepertinya adalah seorang tentara. Tubuhnya memancarkan aura penuh keadilan dan wibawa.
Namun, aku sudah terlalu lapar. Setelah menghabiskan semangkuk mie itu, aku baru berkata, “Halo, namaku Raina. Terima kasih banyak sudah menolongku.”
Christian melirik rambutku yang masih basah kuyup dan beberapa luka ringan di tanganku.
“Aku keringkan dulu rambutmu, sekalian tangani lukamu.”
Aku pun kebingungan. “Hmm?”
“Laut banyak bakteri. Lukamu bisa infeksi kalau nggak didisinfeksi tepat waktu.”
“Emm, oke. Terima kasih.”
Kemudian, Christian mengeringkan rambutku dengan handuk secara lembut dan membersihkan lukaku dengan hati-hati. Aku menggigit bibir sambil menatapnya yang mengeringkan rambutku. Hatiku tiba-tiba terasa hangat.
Anda Mungkin Juga Suka





