APKDock Logo
Sampul Novel DIBUANG MANTAN TUNANGAN, DICINTAI MANTAN AYAH MERTUA

DIBUANG MANTAN TUNANGAN, DICINTAI MANTAN AYAH MERTUA

8.6 / 10.0
Demi menepati janji pada sahabatnya, Reza menjodohkan putranya, Krisna, dengan Vivi. Namun, Krisna berkhianat dan melamar perempuan lain tepat di hari ulang tahun Vivi. Enggan membiarkan Vivi terluka, Reza mengambil keputusan nekat yang mengguncang keluarganya. Ia melamar mantan calon menantunya itu agar Vivi bisa membalas rasa sakit hati, sekaligus merebut kembali martabat serta hak yang selama ini dirampas darinya.

DIBUANG MANTAN TUNANGAN, DICINTAI MANTAN AYAH MERTUA Bab 1

Vivi membuka kedua mata perlahan, kepalanya pusing dan ia berusaha bangun dari tempat tidur dengan susah payah.

"Ini dimana?" Vivi berusaha mengingat kejadian semalam dengan kepala sakit.

Semalam ia mengunjungi kakek tunangan di rumah sakit setelah menghadiri meeting manajemen di hotel. Saat itu ia bertemu dengan Krisna, tunangannya bersama seorang wanita dewasa yang cantik seperti model di luar ruangan.

Vivi menghela napas melihat tangan tunangan memegang tangan wanita itu, ia sudah bisa menebak kalau wanita itu salah satu kekasih tunangannya. Selama masih bertunangan, Vivi tidak akan keberatan. Itulah yang diajarkan keluarga tunangan.

Semua orang di dalam ruangan terdiam begitu Vivi, Krisna dan wanita itu masuk ke dalam ruangan bersamaan.

"Kakek, Vivi sudah membuatkan sup kesukaan Kakek." Senyum Vivi sambil meletakan isi tas yang dibawanya ke atas nakas tempat tidur rumah sakit.

"Hari ini kamu sudah kerja keras, para manajer tadi memuji hasil kerjamu," puji ibu Krisna.

Vivi terkejut, selama ini ibu Krisna selalu menatap sinis dirinya dan sekarang memuji? apakah hasil kerja kerasnya selama ini diakui?

"Terima kasih."

Entah kenapa semua orang tersenyum sinis menatap dirinya. Ah, tak apa. selama diakui calon ibu mertua maka-

"Sudah berapa tahun ya kamu tinggal di rumah kami?" tanya Ibu Krisna.

"Sepuluh tahun," jawab Vivi. Ia mengingat tanggal kecelakaan kedua orang tua yang menyebabkan dirinya dititipkan di rumah keluarga Aditama hari itu juga.

Ibu Krisna tersenyum dan menepuk tangan Vivi. "Berarti sudah saatnya kamu keluar dari rumah kami."

Senyum Vivi lenyap.

"Sekarang kondisi kakek sudah stabil, nenek juga sudah bisa mendapatkan perawatan terbaik, hotel-hotel keluarga kami sudah bisa menghasilkan pendapatan bersih lalu kami akan memberikan kompensasi yang sesuai untuk kamu."

Kami?

"Ah, coba minum ini dulu." Wanita yang dibawa Krisna memberikan secara paksa sebuah gelas ke Vivi. "Ini untuk merayakan kemenangan kami makanya kami berkumpul disini."

Vivi menundukan kepala dan menatap gelas di tangan dengan mata berkaca-kaca.

"Minum, bersulang."

Vivi menarik napas panjang, lalu meminum sampai habis.

Ibu Krisna dan Krisna tersenyum puas melihatnya.

Tak lama, entah kenapa Vivi merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya, ia ingin mengatakan sesuatu tapi entah kenapa tidak bisa mengacaukan suasana bahagia di tempat ini, karena tidak mau mengganggu ia memutuskan pamit pulang dan terburu-buru keluar.

Setelah berusaha keras mencapai parkir mobil, ia tidak menemukan satupun mobilnya.

Vivi menelepon sopir, tidak diangkat. Telepon rumah pun tidak ada yang mengangkat. Di tengah guyuran hujan dan susah payah melangkah dengan mata berkabut berusaha menahan air mata, ia mencari mobil.

Vivi melihat seluruh tangan membengkak dan ia juga merasakannya di wajah. Vivi melihat spion kaca mobil orang lain, seluruh wajah bengkak memerah. Rasa mual menghampiri.

"Kamu baik-baik saja?"

Vivi mengangkat kepala. Ia melihat seorang pria tinggi yang sedang memegang payung menutupi mereka berdua dari hujan.

Perlahan kesadaran mulai memudar. Dan sekarang, entah berapa lama ia terbangun di sebuah kamar yang tidak dikenalnya.

"Itu-"

Pria itu berdiri di samping tempat tidur dan menatap Vivi. "Kamu pingsan di parkir rumah sakit. Dokter sudah periksa dan mengobatimu, kamu menunjukan gejala keracunan."

Vivi tertawa. Tentu saja.

"Ini."

Vivi menatap sebuah kotak besar di tangan pria itu. "Apa ini?"

"Hadiah ulang tahun kamu."

"Bagaimana-"

"Saya melihat id card."

Vivi menerima kotak itu dan membukanya. "Gaun?"

"Selamat ulang tahun."

Vivi kembali menatap pria itu, matanya berkaca-kaca. Tidak ada yang mengucapkan ulang tahun setelah kedua orang tua meninggal. "Terima... kasih..," ucapnya dengan lirih.

"Pulanglah, keluargamu pasti khawatir. Saya akan menyuruh sopir-"

"Tidak perlu!" tolak Vivi, "Saya bisa pulang sendiri."

Pria itu balik badan dan menelepon seseorang.

Vivi buru-buru bangun dari tempat tidur dan lari mencari kamar mandi. Ketemu! ia segera memuntahkan seluruh isi di dalam perut ke toilet.

"Saya sudah memanggil taxi." Pria itu sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.

Vivi mengangguk dan buru-buru membersihkan toilet.

Setelah selesai, Vivi mengucapkan terima kasih ke pria itu dan keluar ruangan. Ia terkejut, ternyata ini bukan hotel ataupun apartemen tapi Villa. Ia membaca petunjuk jalan sambil melihat sekeliling, masing-masing kamar terlihat seperti rumah biasa tapi dalam ruangan pasti mewah seperti yang dilihat di ruangan tadi.

Vivi menghela napas panjang. Selama ini dia hanya dididik menangani budget hotel atau city hotel. Mungkin menangani villa tidak terlalu berbeda.

Vivi menghentikan langkahnya. Tidak, ini bukan sekedar villa tapi juga resort. Ada lapangan golf tidak jauh dari sini. Terbesit keinginan kecil Vivi untuk belajar di tempat ini.

"Apa pria tadi tamu disini? sayang sekali aku tidak terlalu memperhatikan wajahnya." Gumam Vivi sambil melihat kotak di tangan.

Begitu mencapai lobby, ia disapa bellboy dengan ramah. "Taxi sudah datang dan sudah dibayar, jadi anda bisa diantar kemanapun."

Vivi mengangguk, mengikuti arahan bellboy. Begitu masuk ke dalam taxi dan memberitahu alamat rumah, Vivi segera menghubungi rumah untuk melaporkan kondisi. Lagi-lagi tidak diangkat.

Vivi menelepon sekali lagi. Nihil. Dia menatap luar jendela mobil. Sudah lama pingsan, ini sudah hampir jam 7 malam.

Beberapa menit kemudian, dia sampai ke rumah. Vivi terkejut melihat mobil-mobil mewah diparkir di sekitar rumah.

Vivi tersenyum, menutup mulut karena tidak percaya. Dia keluar dari mobil dan lari kecil ke dalam rumah dengan antusias.

"Saya ingin mengumumkan sesuatu yang spesial disini."

Terdengar pengumuman bersamaan dengan masuknya Vivi, jantung Vivi berdebar keras. Hari ini ulang tahunnya, apakah ini kejutan dari tunangan setelah berhasil menstabilkan hotel keluarga?

"Saya akan menikahi seorang perempuan cantik."

Senyum Vivi lenyap setelah melihat pemandangan di atas panggung.

"Almira, setelah perjuanganmu selama ini menemaniku dari bawah. Maukah kamu menikahiku?"

Vivi menjatuhkan kotak di tangan. Jadi ini alasan dirinya diberi minuman? supaya mendapatkan perawatan dan tidak bisa masuk kesini lalu mengganggu acara ini di hari ulang tahun? Wanita itu yang semalam di rumah sakitkan?

Orang-orang di dekat Vivi menatap jijik Vivi sambil menutup hidungnya. Vivi merasa malu.

Menyadari atmosfer suasana mulai berubah, Krisna dan ibu di atas panggung melihat Vivi berdiri di tengah ruangan sambil menundukan kepalanya.

Almira yang melihat itu, menatap tidak suka Krisna. "Sayang-"

"Apa yang kamu lakukan disini?"

Vivi mengangkat kepalanya dan menatap terkejut Krisna. "Aku-"

"Hari ini adalah hari istimewa aku, kamu yang hanya anak angkat tidak berhak masuk ke dalam sini," tegur Krisna.

Vivi lupa kalau dia diperkenalkan sebagai anak angkat keluarga Aditama, pertunangannya dengan Krisna hanya diketahui pihak keluarga atau orang tertentu dengan alasan Krisna dan Vivi masih terlalu kecil.

"Aku- aku sudah berusaha keras melakukan yang terbaik, kita sudah bertunangan-" ucap Vivi.

Ibu Krisna turun dari panggung, berjalan mendekati Vivi dan menamparnya. "Apa yang kamu katakan tentang kakakmu, saya mengangkat kamu sebagai anak, adik Krisna bukan tunangan!"

Vivi menyentuh pipi yang ditampar. "Tapi-"

"Semalam kamu habis darimana?" tanya Almira.

Vivi hendak menjawab.

"Kamu pasti berkeliaran lagi, setiap malam pulang dengan alasan kuliah malam tapi pada kenyataannya kamu bersenang-senang dengan pria lainkan?" tuduh ibu Krisna.

Vivi bingung dengan perkataan ibu Krisna, ia menatap Krisna untuk meminta tolong. Krisna harusnya tahu kemana saja ia pulang malam.

Krisna mengalihkan tatapan dan tersenyum ke Almira.

Hati Vivi berdenyut sakit.

Ibu Krisna menjambak rambut Vivi hingga Vivi jatuh ke depan tepat di bawah sepatu ibu Krisna. "Ambilkan sapu! selama ini ternyata aku mendidik anak liar!"

Vivi merasa malu, ia mendengar bisikan dan tatapan tajam para tamu mengelilingi dirinya.

Alih-alih sapu, pelayan menyerahkan pukulan rotan. Ibu Krisna memukul Vivi tanpa ampun.

"Selama ini aku menjadikan kamu anak supaya bisa menjadi perempuan baik-baik dan menikah dengan laki-laki baik. Tapi apa- kamu malah mempermalukan keluarga!" teriaknya tanpa memperdulikan tamu yang hadir.

Krisna memijat kening sementara Almira mengerutkan kening. Ibu Krisna memang dikenal temperamen di rumah tapi bukan berarti sampai bersikap seperti ini di acara penting.

Almira turun dari panggung dan menghampiri ibu mertua berusaha menghentikan apa yang dilakukan beliau.

"Nona Almira, jangan dihentikan! itu memang pantas untuk dia, hukuman seperti ini masih ringan," tegur salah satu tamu wanita setengah baya

"Hanya seorang anak angkat, harusnya bisa berterima kasih. Bukannya melakukan hal yang mempermalukan nama baik keluarga ini."

"Benar-benar mengecewakan."

"Anak liar tetap saja anak liar."

Krisna yang mengejar Almira, merangkul pundaknya. "Tidak apa, ibu hanya mendidik. Tamu yang hadir disini adalah kenalan keluarga kami."

Almira masih tidak puas.

Krisna tersenyum bangga. "Kamu masih memiliki hati malaikat ya."

Vivi tidak menjerit, ia menerima semua pukulan ibu Krisna sambil menelan kesakitan. Ia mendengar apa yang dikatakan Krisna.

"KAMU MASIH TIDAK MAU MENGAKU!"

Vivi menitikan air mata. Orang tuanya tidak pernah memukul, ia juga tidak pernah berbuat di luar batas, selalu menurut tapi kenapa justru ia dituduh hal seperti ini?

"Saya- sepulang kuliah, pergi ke hotel, belajar dan bekerja manajemen disana..." lirih Vivi.

"BOHONG!"

Teriak para tamu satu persatu.

'"Belajar manajemen hotel di malam hari? kamu kira kita buta?" Krisna tersenyum sinis.

"Lalu apa? pagi sampai sore aku merawat kakek dan nenek, setelah jam lima sore aku kuliah lalu jam sepuluh sampai jam dua pagi aku di hotel untuk belajar mencari tamu, menerima tamu bahkan perhitunga-"

"Mencari tamu dan menerima tamu?" potong Almira yang terkejut, "Sayang. Apa kamu mempekerjakan anak ini di malam hari?"

Para tamu yang mendengar sontak terkejut. Apa yang dilakukan anak perempuan keluar masuk hotel di malam hari? Tidak mungkin belajar bukan?

Wajah Krisna berubah merah karena marah begitu mendengar pertanyaan tersirat Almira. "Tidak ada yang seperti itu!"

"JANGAN MELONTARKAN KEBOHONGAN!" teriak Ibu Krisna.

Para manajer hotel yang bekerja di bawah naungan keluarga Aditama percaya dengan perkataan Vivi karena faktanya memang begitu. Tapi mereka tidak bisa mengucapkan apapun karena tidak mau dipecat, di masa pandemi dan kesulitan mencari pekerjaan aman benar-benar beresiko untuk dipecat.

Vivi yang memahami jalan pikiran para manajer, tidak menyentuh mereka.

"Ma-"

"Siapa mama kamu!" Ibu Krisna semakin membabi buta memukul Vivi. Ia lupa kalau mengakui Vivi sebagai anak angkat di depan umum.

Tidak ada yang menghentikannya sampai Ibu Krisna lelah memukul, Almira menepuk tangan ibu mertua.

"Bawa anak ini ke dalam kamarnya!" perintah Ibu Krisna.

Almira menyipitkan mata dan menatap kotak yang jatuh tidak jauh dari Almira. "Kotak itu-"

Krisna mengambil kotak dan melihat isi. "Gaun? ini gaun yang kamu inginkan bukan?"

Almira menutup mulut dengan terkejut. "Itu memang gaun yang aku inginkan, ini mahal dan harus menunggu berbulan-bulan. Kenapa bisa-"

Vivi yang kesakitan, sontak memeluk kaki Krisna. "Kembalikan padaku, itu punyaku."

Itu hadiah ulang tahun pertama setelah kedua orang tuanya meninggal. Selama tinggal di keluarga ini, ia diingatkan untuk bersikap dewasa dan tidak mengingat masalah kecil seperti ulang tahun sementara ia ingat kalau Krisna dan adik perempuannya merayakan ulang tahun setiap tahun.

"Tolong kembalikan."

Krisna menendang Vivi untuk menjauh, lalu menyerahkan kotak itu Almira.

Almira mengeluarkan gaun dan menatap kagum gaun itu.

"Itu harusnya milik kamu," ibu Krisna bahagia melihat senyum cantik menantu.

"Itu milikku." Vivi menepuk dada dengan keras. "Itu kado ulang tahunku."

"Kamu membelinya darimana? menggunakan uang apa? keluarga Aditama, kan?" senyum Ibu Krisna dengan sengaja mengeraskan suara. "Saya tidak pernah memberikanmu uang sebanyak gaun itu."

"Jangan-jangan-" Almira menatap putus asa Krisna.

Krisna mengangguk mengerti. "Kamu mencuri uang hotel."

Vivi menggeleng putus asa, para manajer menghela napas panjang melihat perilaku tidak bermoral keluarga Aditama.

"Kurung dia ke dalam kamar, jangan diberikan makanan sampai besok!" perintah Ibu Krisna.

Para pelayan menyeret Vivi tanpa rasa hormat, mengabaikan rasa sakit yang diderita Vivi.

Ibu Krisna dan Krisna bercakap-cakap dengan Almira, para tamu mendekati mereka dan melontarkan pujian karena masih mau menerima anak luar yang jelas merugikan keluarga mereka.

Lanjut Membaca

Daftar Isi DIBUANG MANTAN TUNANGAN, DICINTAI MANTAN AYAH MERTUA

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Derita Menantu Jelita
9.5
Kehidupan rumah tangga dalam novel modern "Derita Menantu Jelita" berubah drastis setelah sang suami mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan tragis. Situasi kian rumit ketika ayah mertua memutuskan tinggal bersama mereka. Demi menjaga kelangsungan garis keturunan, sang suami nekat melakukan aksi ekstrem dengan diam-diam membius istri dan ayahnya sendiri. Keputusan tersebut memicu rangkaian peristiwa misteri yang tak terkendali dan mengubah nasib mereka selamanya.
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa untuk pembaca usia 21 tahun ke atas ini menyoroti sisi tersembunyi kehidupan yang penuh luka, dilema, dan kerinduan di balik topeng kesucian. Melalui narasi realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan diri di tengah kegelapan untuk menemukan cahaya. Sebuah hiburan mendalam tentang pencarian makna hidup serta cinta yang berliku, menyajikan perspektif baru bagi Anda.
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam
9.3
Pasca dikhianati saudara angkat dan tunangannya sekembalinya dari desa, Sabrina bertekad membalas dendam. Ia memilih mendekati Charles, paman dari mantan kekasihnya. Walau Charles sempat menolak komitmen setelah malam intim mereka, Sabrina berhasil memicu harga diri pria itu hingga mereka terikat selamanya. Kini, Sabrina kembali sebagai bibi sang mantan. Di balik pandangan remeh orang lain, ia rupanya menyimpan kekayaan miliaran dolar, membuktikan dirinya adalah pemilik takhta yang asli.
Sampul Novel Menjadi Orang Ketiga Dipernikahan
7.9
Pernikahan hasil perjodohan Mira Aditya dengan Rafiq Jaya berujung pilu. Di balik ikatan tersebut, Rafiq rupanya telah menikahi Elena Faris, cinta masa lalunya, secara diam-diam. Terasing di rumah sendiri dan terus didera kepedihan mendalam membuat Mira berada di titik nadir. Di tengah kekecewaan serta hampa yang kian menyiksa, ia pun kini harus menentukan pilihan sulit: tetap bertahan dalam kepalsuan atau melangkah pergi demi meraih kebebasannya.
Sampul Novel SCANDAL WITH PRIVATE DOCTOR
8.3
Eliza menderita dalam pernikahan toksik bersama Karan, suami yang hanya memanfaatkannya demi nafsu. Trauma mendalam sejak malam pertama bahkan mengganggu kesehatan mentalnya, diperparah oleh perselingkuhan Karan dengan banyak wanita. Di tengah kepedihan ini, hadir Sean, seorang dokter tampan sekaligus sahabatnya. Keberadaan Sean tidak sekadar menyembuhkan luka batin Eliza, tetapi juga perlahan menjadi sosok sandaran hati yang baru bagi dirinya.
Sampul Novel Secret Wife
9.1
Sepuluh tahun menikah, Bram dan ibunya terus menyudutkan Sinta sebagai istri mandul tanpa bukti medis karena belum ada anak. Demi mendapatkan cucu, sang ibu mendesak Bram hingga ia nekat berpoligami secara rahasia. Sinta tidak tahu bahwa suaminya menyimpan rahasia besar tentang kondisi kesuburan Bram sendiri yang sebenarnya bermasalah. Saat pengkhianatan dan kebenaran ini akhirnya terkuak, apakah Sinta akan tetap tinggal diam?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan