
Ketika Kapal Tenggelam, Tunanganku Menolong Cinta Pertamanya
Bab 3
Aku mengingat sebuah memori dari kehidupan sebelumnya. Ketika aku baru menikah dengan Zayden, dia pernah mabuk. Aku memapahnya ke kamar dan menasihatinya untuk mengurangi konsumsi alkohol. Namun, dia malah langsung murka dan mendorongku hingga aku terjatuh ke lantai.
Kepalaku langsung terbentur keramik dan berdarah. Aku pun berseru kesakitan ketika melihat darah yang melumuri tanganku.
Setelah melihat keadaanku, Zayden hanya menatapku dalam dingin dan berkata, “Sakit? Baguslah kalau begitu. Waktu meninggal, Caitlyn pasti jauh lebih menderita dari kamu. Dia sudah meninggal! Kalau bukan karena menyelamatkanmu, mana mungkin dia tenggelam! Raina, ini semua gara-gara kamu!”
Aku sangat tercengang dan menatapnya dengan ekspresi tidak percaya. Hatiku juga berangsur-angsur mendingin. Aku tidak percaya kata-kata itu bisa keluar dari mulutnya.
Setelah sekian lama, aku baru berujar, “Zayden, yang tenggelamkan kapal pesiar itu musuhmu! Yang suruh aku naik ke perahu penyelamat itu juga kamu! Sekarang, kamu malah salahkan aku? Apa kamu nggak rasa itu sangat lucu?”
Begitu mendengar ucapanku, ekspresi Zayden menjadi makin dingin.
“Raina, aku nggak pernah setujui pernikahan ini dari awal. Kalau bukan karena kamu bilang ke Nenek bahwa kamu menyukaiku, mana mungkin aku dipaksa menikahimu!”
“Hahaha!” Aku pun tertawa sambil menatap Zayden, lalu melanjutkan, “Jadi, maksudmu, ini semua gara-gara aku? Zayden, kamu bukannya salahkan musuhmu atau keluargamu yang kasih kamu tekanan, malah salahkan aku? Otakmu benar-benar bermasalah!”
Seusai berbicara, aku pun keluar dari kamar dan naik taksi ke rumah sakit untuk menangani lukaku. Sejak saat itu, hubungan kami pun menjadi sangat dingin. Sejak saat itu pula, aku tidak lagi mengalah padanya.
Sekarang, orang asing di hadapanku malah khawatir aku kesakitan dan memperlakukanku dengan lembut. Mataku tiba-tiba berkaca-kaca. Aku pun buru-buru memalingkan wajah dan menarik napas dalam-dalam untuk menekan rasa ingin menangis.
“Terima kasih.”
Christian menatapku dan menjawab sambil tersenyum cerah, “Sama-sama.”
“Pak Christian, apa kamu ada di dalam?”
Tiba-tiba, terdengar suara seseorang dari luar pintu. Kemudian, terlihat seorang pria berkacamata berbingkai hitam dan mengenakan piama berdiri di pintu. Dia menatapku dan bertanya, “Tadi, kamu telepon bilang ada yang jatuh ke air. Apa itu nona ini?”
Christian mengangguk, lalu menoleh ke arahku. “Dia ini dokter kapal ini. Biarkan saja dia periksa kamu dulu.”
Aku pun mengangguk.
Kemudian, Christian menyingkir ke samping dan membiarkan Anthony masuk. Anthony berjalan ke sisiku dan memeriksaku secara sederhana. Dia juga menanyakan beberapa pertanyaan dan mengetahui bahwa aku tidak terluka, hanya berenang terlalu lama.
Setelah itu, Anthony pun berdiri dan berkata pada Christian, “Nona Rania baik-baik saja. Hanya saja, dia terombang-ambing kelamaan di laut, makanya tenaganya terkuras habis. Dia akan pulih setelah beristirahat dengan baik.”
Christian mengangguk, lalu mengantar Anthony keluar. Saat tiba di depan pintu, kedua orang itu juga membisikkan sesuatu. Aku memanfaatkan kesempatan saat mereka berbicara untuk melirik ke luar. Seiring dengan hujan yang turun makin deras, yang terlihat di permukaan laut hanyalah kegelapan yang tak berujung.
Aku merasa lumayan bersyukur.
Saat mengalihkan kembali pandanganku ke pintu, Christian sudah kembali dan berkata dengan lembut, "Sebentar lagi, kapal akan menepi. Kamu tinggal di mana? Aku antar kamu pulang, ya?”
Mungkin karena merasa egois, aku tiba-tiba tidak ingin pulang. Lagi pula, orang tuaku juga lebih sering tidak ada di rumah. Meskipun pulang, aku belum tentu bertemu mereka. Selain itu, dinilai dari tingkat kepedulian mereka terhadapku, mereka juga tidak akan menanyakan apa-apa walaupun aku tidak pulang selama sebulan.
Mengenai Zayden, kami mati bersama di kehidupan sebelumnya. Sekarang, aku sudah terlahir kembali. Dia seharusnya juga sudah terlahir kembali dan hanya sibuk memikirkan cara untuk bersama Caitlyn.
Di kehidupan sebelumnya, selama 5 tahun pernikahan kami, dia tidak pernah membawaku ke acara apa pun dan tidak pernah tidur sekamar denganku. Dia bahkan mengambil alih perusahaan keluargaku dan mengurangi biaya hidupku. Setiap kali orang bertanya tentang aku, dia hanya akan menghinaku sehingga aku menjadi lelucon di komunitas kelas atas.
Di kehidupan ini, biarkan saja Zayden dan Caitlyn hidup bersama selamanya.
Oleh karena itu, aku menatap Christian dan memohon, “Aku nggak punya tempat tujuan. Bisa nggak kamu tampung aku beberapa hari?”
Berhubung Christian tidak menunjukkan reaksi apa pun, aku hanya bisa menarik ujung pakaiannya dan menatapnya dengan tampang memelas.
Jika aku tidak salah ingat, Christian seharusnya adalah putra Keluarga Kurniadi. Di kehidupan sebelumnya, dia adalah satu-satunya orang yang pernah membantuku ketika aku hendak bercerai. Dalam 2 kehidupan ini, Christian sudah menyelamatkanku. Dia seharusnya bukanlah orang jahat.
Melihat tampang memelasku, dia tiba-tiba menunduk, lalu menatapku dengan tatapan yang membara?
“Aku bukan orang baik. Kalau mau ikut aku, kamu harus bayar harganya.”
Mungkin karena jarak kami yang tiba-tiba terlalu dekat, aku bahkan bisa mencium aroma mint dari tubuhnya. Aroma itu sangat harum sampai aku merasa agak mabuk.
“Oke, kamu boleh minta apa pun.”
“Serius?
“Tentu saja!”
Aku menatapnya dengan tegas, sedangkan dia malah tiba-tiba tertawa. Namun, kapal ini akhirnya menepi. Berhubung terombang-ambing terlalu lama di dalam laut, aku sudah mulai demam ringan. Ketika Christian menggendongku keluar dari kapal, tiba-tiba terdengar suara familier seseorang.
“Raina? Itu benar-benar kamu?”
Itu adalah suara Zayden. Dia sedang membentuk tim penyelamatan bersama polisi. Begitu melihat kemunculanku, dia tiba-tiba berlari ke arahku dan menatapku dengan penuh perhatian.
“Raina, kamu baik-baik saja?”
Aku menyuruh Christian menurunkan aku, lalu menatapnya dan bertanya balik, “Menurutmu, aku kelihatan baik-baik saja?”
Anda Mungkin Juga Suka





