APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kuhancurkan Harga Dirimu, Galih

Kuhancurkan Harga Dirimu, Galih

Tujuh tahun kulupakan karier hukum demi mendukung mimpi Galih. Sialnya, dia malah mengabaikanku demi Davina, bahkan abai pada alergi seafood-ku saat sakit. Setelah 52 kali rencana masa depan kami dibatalkan sepihak, aku memilih pergi. Kini, aku bangkit menjadi pengacara sukses yang mandiri. Saat Galih bersujud memohon di depan kantor, aku menolaknya dengan tegas. Waktunya telah tiba bagiku untuk menghancurkan harga dirinya dan memegang kendali penuh atas takdirku sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 3

Amira Suwito POV:

Aku mengabaikan Galih. Langkahku mantap, menuju ruang HRD. Tanganku gemetar saat menyerahkan amplop putih itu kepada Nona Rima. "Ini surat pengunduran diri saya," kataku, suaraku tegas dan tanpa keraguan.

Nona Rima menatapku dengan mata membulat. "Amira, kamu serius?" Dia adalah salah satu rekan kerja yang paling dekat denganku, yang tahu sedikit banyak tentang hubunganku dengan Galih. "Apa Galih tahu tentang ini?"

"Dia akan mengetahuinya," jawabku datar. Saat aku berbalik untuk pergi, sebuah tangan menyentuh lenganku. "Amira, jangan pergi!" Itu Rima. Matanya berkaca-kaca. "Kami akan merindukanmu. Kamu adalah koki terbaik di sini."

"Benar, Amira! Jangan pergi!" Suara lain menyahut, itu adalah Dimas, fotografer junior yang sering kubantu. "Kalau kamu pergi, siapa yang akan memasak makanan enak saat kita lembur?" Nada suaranya bercanda, tapi matanya menunjukkan kesedihan.

"Lagipula, bagaimana kamu bisa tahan dengan mereka berdua?" Rima berbisik, mendekat kepadaku. "Davina selalu menempel pada Galih seperti lintah. Dia bahkan memanggilnya 'Papa Galih' di depan semua orang kemarin! Itu sangat tidak sopan!" Aku hanya tersenyum tipis. Mereka tidak tahu apa-apa.

Saat itu juga, Davina muncul di ambang pintu, lengannya melingkar mesra di lengan Galih. Mereka berdua tersenyum lebar. Galih membawa sebuah kotak kecil berbalut pita merah di tangannya. "Davina, ini untukmu. Hadiah terima kasih karena sudah menemaniku bekerja hari ini," katanya manis.

Davina membuka kotak itu dengan mata berbinar. Sebuah jam tangan mewah, berkilauan. Harganya pasti puluhan juta. Hadiah yang sama persis seperti yang pernah dijanjikan Galih kepadaku saat ulang tahunku tiga tahun lalu, tapi tidak pernah terwujud.

"Oh, Sayang! Kamu tidak perlu repot-repot!" Davina berteriak kegirangan, tapi matanya melirik ke arahku dengan senyum kemenangan. "Aku hanya ingin membantu 'Papa Galih' kok." Dia sengaja menekankan kata 'Papa Galih'.

Rima mendengus. "Lihatlah dia," bisiknya padaku, rahangnya mengeras. "Sungguh menjijikkan!" Aku hanya diam, menatap kosong. Aku tidak merasakan apa-apa lagi.

"Amira!" Galih akhirnya memperhatikanku. "Kenapa kamu masih di sini? Bukankah kamu bilang mau pulang?" Nada suaranya terdengar tidak sabar.

Aku hendak menjawab, tapi Davina mendahuluiku. "Oh, Amira?" Davina tersenyum lembut, seolah dia adalah malaikat tanpa dosa. "Maaf ya, aku tidak tahu kalau kamu masih ada di sini. Aku tidak bermaksud mengganggu." Matanya menyiratkan ejekan.

"Dia tahu persis apa yang dia lakukan," Rima hampir meledak, tapi aku menahan lengannya. "Tidak apa-apa, Rima," kataku pelan, menggelengkan kepala. Aku tidak ingin membuat keributan. Aku hanya ingin pergi.

Aku menatap Davina. "Selamat bersenang-senang dengan hadiahmu," kataku, suaraku tenang, bahkan mungkin terlalu tenang. Aku bisa melihat sedikit kekecewaan di matanya. Dia mungkin mengharapkan aku marah, berteriak, merusak momennya. Tapi aku tidak akan memberinya kepuasan itu.

Dia mengerucutkan bibirnya. "Aku tidak tahu kenapa kamu begitu dingin padaku, Amira," katanya, suaranya kini terdengar lebih manja. "Aku hanya ingin berteman denganmu. Bukankah kita semua bekerja di sini?" Oh, betapa naifnya dia berpikir aku akan mempercayai itu.

Galih menatapku dengan tatapan tajam. "Amira, jangan membuat masalah," bisiknya, menarik Davina lebih dekat. "Davina tidak bersalah. Kamu tidak perlu cemburu kepada semua orang yang dekat denganku."

Aku hanya tersenyum dingin. "Aku tidak marah, Galih," kataku, kini menatap matanya. "Aku hanya mengingatkanmu, aku sudah menyerahkan surat pengunduran diri. Jadi, mulai sekarang, kamu tidak perlu khawatir Davina akan merasa tidak nyaman dengan keberadaanku."

Galih terdiam, matanya membelalak. "Apa?" Suaranya pelan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Ada sedikit kepanikan di wajahnya.

"Kamu mengundurkan diri?" Davina bertanya, nada suaranya mendadak ceria. "Oh, itu... itu sangat disayangkan. Aku harap kamu menemukan pekerjaan lain yang lebih baik." Dia memegang lengan Galih lebih erat.

"Aku tidak bisa percaya ini, Mir," kata Galih, suaranya kini lebih tinggi. "Bagaimana bisa kamu melakukan ini tanpa bicara padaku? Kita punya restoran yang harus dibangun!"

"Restoran itu," kataku, menunjuk ke arahnya dengan tangan yang sedikit gemetar, "adalah impianku. Bukan impianmu. Dan kamu sudah membatalkannya 52 kali. Aku sudah selesai." Aku menatap Rima dan Dimas. "Aku sudah mengakhiri hubungan ini secara sepihak. Aku tidak akan lagi menjadi tunangan Galih."

Rima dan Dimas saling menatap, shock. Galih terdiam, wajahnya pucat pasi. Dia tidak menyangka aku akan sejauh ini. Dia tidak tahu bahwa aku sudah merencanakan ini jauh sebelum dia membatalkan semuanya.

"Ini bukan lelucon, Galih," kataku. "Aku sudah muak dengan pembatalan pernikahan yang terus-menerus. Aku sudah muak dengan janji-janji kosongmu." Aku merasa beban berat terangkat dari pundakku.

Galih mencoba meraih tanganku. "Amira, tunggu! Kita bisa bicara. Jangan begini." Matanya memohon, tapi aku hanya merasakan kekosongan.

"Aku sudah bicara cukup banyak, Galih," kataku, menarik tanganku. "Aku sudah menunggu cukup lama." Aku melangkah ke mejaku, mulai mengemasi barang-barang pribadiku.

Galih mencoba membantuku, tangannya meraih beberapa barang. "Aku akan membantumu. Kita bisa bicara di rumah."

"Tidak perlu," kataku, mengambil kembali barang-barang itu dari tangannya. "Aku akan mengurusnya sendiri."

"Bagaimana kalau kita makan malam?" Dia mencoba lagi, suaranya terdengar cemas. "Aku akan membayarmu sebagai permintaan maaf. Kita bisa membahas semuanya."

Aku hanya menggeleng. "Tidak perlu." Aku menatap perhiasan kecil yang dulu kukira adalah cincin pertunangan kami. Sebuah gelang perak dengan ukiran nama kami.

"Gelang itu," kata Galih, menunjuk ke arah gelang di kotak perhiasanku. "Kamu tidak pernah memakainya lagi." Dia terdengar bingung.

"Aku menyimpannya dengan baik," kataku, berbohong. Aku tidak akan pernah memberitahunya bahwa gelang itu, bersama dengan kalung liontin hati, sudah berada di tempat sampah.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BUKAN SUAMI RAHASIA
8.1
Dua tahun Ava dan Jay terjebak pernikahan paksa. Saat Jay asyik berselingkuh, Ava membalasnya lewat hubungan rahasia bersama pria kaya terpandang. Walau sama-sama ingin berpisah, perceraian mustahil dilakukan. Akhirnya, Jay mengizinkan Ava menjalin kasih dengan lelaki lain demi menjaga status mereka. Namun, mampukah rahasia besar ini terus tersimpan rapat? Akankah sandiwara pernikahan mereka bertahan selamanya tanpa pernah terbongkar?
Sampul Novel Diantara Larangan dan Perasaan
7.9
Rahasia terbesar dalam hidupku terbongkar tepat di hari ulang tahunku yang ke-22 ketika pamanku menemukan buku harian pribadiku. Setelah menyadari perasaan cinta terlarang yang selama ini kusembunyikan darinya, ia mengambil tindakan tegas. Pria itu segera mengirimku ke luar negeri untuk menjauh. Tidak hanya itu, ia bahkan menghabiskan dana fantastis demi merancang sebuah pesta pernikahan yang sangat mewah, lalu memutuskan untuk menikahi cinta pertamanya sendiri.
Sampul Novel Hilang Selamanya Dari Hatiku
8.6
Sepuluh tahun menikah dengan Dennis, sang istri selalu dijadikan alasan suaminya untuk memutuskan hubungan dengan para pacar barunya. Di hari peringatan pernikahan mereka, ia justru sibuk menenangkan mahasiswi yang baru dicampakkan Dennis, sementara suaminya menonton bioskop dengan kekasih baru. Menyadari kemalangan dirinya, ia memutuskan untuk meminta cerai. Dennis yang kebingungan meminta waktu untuk berubah, namun ia memilih pergi ke luar negeri demi meninggalkan luka tersebut selamanya.
Sampul Novel Ikatan Hati
8.9
Kehancuran melanda keluarga Bimantara setelah sesosok bayi misterius ditinggalkan di depan pintu rumah mereka. Sebuah surat yang menyertai bayi tersebut menuduh Adrian Bimantara sebagai ayah kandungnya. Kabar mengejutkan ini langsung memicu kekacauan besar di dalam keluarga. Kini, Adrian terpaksa menghadapi tuduhan berat itu sambil berusaha mengungkap siapa orang tua asli sang bayi, di tengah ancaman kehancuran hidupnya.
Sampul Novel Luka Tak Terbantahkan Seorang Istri
8.6
Kehamilan kedua setelah tujuh tahun menikah harusnya jadi berkah. Namun, duniaku runtuh saat memergoki Brama, suamiku, diam-diam punya keluarga lain bersama Kania—wanita yang dulu membuatku keguguran—dan anak mereka. Kejamnya, Brama yang terhasut dusta Kania tega menyuruh orang menculikku. Tanpa sadar bahwa korban adalah istrinya sendiri, dia menyiksaku dengan keji hingga aku kembali kehilangan janin yang kukandung.
Sampul Novel Persona
8.5
Safira Riana, seorang gadis polos, jatuh hati pada Gilang Angkasa yang terlihat begitu sempurna dengan pesona dan sikapnya yang memikat. Namun, setelah menjadi kekasihnya, Safira mendapati bahwa Gilang menyembunyikan tabiat buruk serta sisi gelap di balik topeng indahnya. Hubungan asmara mereka pun kini dihadapkan pada godaan berat dan konflik batin yang rumit. Akankah cinta mereka hancur oleh rahasia itu, atau mampukah Safira mengubah kepribadian kekasihnya?