APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kontrak Eksklusif untuk Kanaya

Kontrak Eksklusif untuk Kanaya

Hidup Kanaya hancur seketika akibat ketamakan ibu tirinya yang tega menjadikannya jaminan utang tanpa izin. Kini, ia terperangkap dalam cengkeraman rentenir paling kejam di kota. Di tengah situasi pelik yang mengancam masa depannya ini, kebebasan Kanaya benar-benar berada di ujung tanduk. Mampukah gadis malang ini bangkit melawan takdir buruknya, atau ia justru harus pasrah dan menyerah pada keadaan yang merenggut seluruh hidupnya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Naya melirik ke arah Roy, orang yang selalu menjawab pertanyaannya sedari tadi.

"Apa saya boleh bertanya?" tanya Naya memberanikan diri. Semua mata tertuju padanya. Raut mereka yang sangar memang tak seperti tampangnya. Mereka masih memiliki kesopanan dalam berbicara.

"Silahkan, Nona!" jawab Roy.

"Anda bilang, rumah saya tak bisa melunasi hutang ayah saya. Selama dua tahun ini, saya selalu membayar hutang ayah saya sesuai dengan jumlah yang di janjikan oleh pak lukman. Seharusnya, dengan penjualan rumah saya, itu sudah lebih dari cukup untuk melunasi hutang ayah saya 'kan?" Naya yang begitu memprotes.

Senyum bodyguard itu mulai tertoreh.

"Nona Inzen, mama anda juga meminjam uang sama pak Lukman dan dijadikan satu dengan hutang ayah nona sendiri," jawab Roy yang membuat Naya terkejut setengah mati. Ia tak menyangka jika mama tirinya secara tak langsung menjaminkan dirinya pada pak Lukman.

"Mama Dina sungguh keterlaluan! Bisa-bisanya dia membohongiku selama ini. Trus, kemana uangku selama ini? Kalo tau begini, aku tak mungkin mau ikut dengan mereka," kata batin Naya seraya mengusap air matanya yang terjatuh."Tenang Kanaya tenang! Semua akan baik-baik saja. Kamu pintar dan cerdas, kamu pasti bisa menggagalkan rencana busuk mama Dina yang akan menghancurkan masa depan kamu!" kata batin Naya menyemangati dirinya sendiri.

Jari jemari tangan Naya tak berhenti bergerak tepat di atas pahanya. Ia berpikir, bagaimana caranya ia untuk keluar dari orang-orang akan membawanya pergi.

"Agnes! Aku harus menghubungi Agnes!" gegas Naya mengambil ponsel yang ada di tas punggungnya. Jari jemari tangannya dengan cepat mencari kontak sahabatnya itu.

Tapi, tangan Naya terhenti saat orang yang di sampingnya mengambil ponsel dan membuangnya begitu saja.

"Kenapa Anda membuang handphone saya?" tanya Naya kesal melihat handphonenya di lempar begitu saja.

"Maaf, Nona. Kami tak mau nona mempersulit kerja kami. Kami hanya melaksanakan tugas. Semakin nona menurut pada kami, kami pastikan nona akan baik-baik saja!"

Naya mendesah sebal. Ia benar-benar tak menyangka ia akan terjebak di lingkaran hitam yang akan menghancurkan masa depannya.

"Ya Tuhan, bagaimana ini? Apa aku benar-benar tidak bisa lari dari masalah ini?" gumam batin Naya seraya memegang kepalanya yang sedikit pusing.

"Nona baik-baik saja?" tanya Roy yang begitu perhatian di balik tampang sangarnya itu.

Naya mendongak dan menyandarkan kepalanya kembali.

"Tidak! Saya tidak apa!" jawab Naya tersenyum tipis.

"Syukurlah!"

Drt ... Drt ...

Getaran ponsel mengagetkan Naya. Kedua matanya melirik ke arah Roy yang sibuk menjawab telepon.

"Baik, Pak. Kami akan melakukan sesuai perintah bapak!" ucap Roy mematikan ponselnya.

"Kita perumahan Cempaka Asri!" perintah Roy pada teman-temannya.

Naya seakan tak mampu menegak salivanya sendiri. Bibirnya melipat dan perasaan takut mulai menghampiri dirinya."Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Tak ada ide yang keluar dari otkku ini. Come on Kanaya come on!" kata batin Naya berpikir.

Perlahan, ia mulai membuka mata indahnya kembali. Ia mulai menegakkan tubuhnya seraya menghela nafas panjang.

"Sebelum saya menemui pak Lukman. Tolong antarkan saya ke hotel De lena. Ada barang yang harus saya ambil di sana!" pinta Naya yang membuat semuanya terkejut.

"Hotel de Lena?" tanya mereka serempak.

"Iya. Sebentar saja! Kalian tenang saja, saya tak akan kabur dan menyulitkan kalian!" ucap Naya yang begitu meyakinkan.

Naya mengernyit menatap mereka yang seakan berdiskusi dengan kedua mata mereka masing-masing.

"Maaf, Nona. Kami tak bisa mengabulkan permintaan nona. Jika barang itu sangat penting, saya akan mengantar nona sesudah bertemu dengan pak Lukman."

Naya mengepal. Ia tak menyangka jika idenya gagal untuk melarikan diri.

*****

"Sayang, sebelum bunda meninggalkan dunia ini, tolonglah turuti dua keinginan Bunda!" pinta Bunda yang terbaring lemas di rumah sakit.

"Bunda jangan berkata seperti itu. Percayalah! Bunda pasti sembuh. Alen yakin itu!" ucap Alen memegang erat tangan bunda yang berselangkan dengan infus.

Bunda tersenyum. Dengan lembut, ia membelai rambut putranya yang lembut berwarna pirang kemerahan.

"Sayang, berhentilah menjadi seorang pembalap!" kata Bunda yang membuat Alen terkejut."Bunda mohon! Teruskan bisnis Bunda dan carilah wanita yang akan menjadi istri kamu, menantu untuk Bunda."

Deg

Alen terbangun dari tidurnya. Ia mendesah dan tak habis pikir bisa bermimpi yang sama berulang kali.

"Istri? Haruskah aku menurutinya juga?" tanya Alen memicing menatap foto keluarga yang terpajang di meja kerjanya.

Kebencian yang mendalam kembali muncul di diri Alen. Foto seseorang yang telah menghancurkan hati bundanya terpampang jelas di figura kecil itu.

"Gara-gara kamu, bunda ingin mengakhiri hidupnya!" ketus Alen membuang foto tersebut tepat ke dalam tempat sampah.

Drt ... Drt ...

Alen melirik ke arah ponsel yang berdering di depannya. Dengan gayanya yang khas, ia meraih dan mengangkat telepon tersebut.

"Bagaimana?" tanya Alen memicing dengan tajam. Jari tangan kanannya mengepal mengisyaratkan kekecewaan yang mendalam di dalam dirinya.

"Kirim alamatnya sekarang!" ketus Alen mematikan ponselnya. Ia menghela nafas seraya menopangkan kedua tangan di dada.

"Aku tak akan membiarkan kamu menikmati apa yang seharusnya bukan milik kamu!" gumam Alen dengan tatapan yang sinis.

****

Naya seakan tak berdaya. Pikirannya buntu. ia seakan terjebak dan tak bisa lari dari orang yang telah membawanya ke dalam lubang singa.

"Apa yang harus aku lakukan! Tak seharusnya aku ikut dengan mereka," gumam batinnya mendesah seraya menggigit bibir mungilnya. Penyesalan kini menaungi dirinya.

Kedua matanya berputar melihat lokasi rumah pak Lukman yang terbilang sangat elite.

"Mari, Nona!" ucap mereka mempersilahkan.

Naya menghela nafas panjang. Lentik bulu matanya yang indah tak berhenti mengerjap mengimbangi dirinya untuk tegar menghadapi kenyataan ini.

"Tenang Kanaya tenang! Kamu bisa kabur di saat mereka lengah mengawasimu. Dulu kamu bisa lolos dari kejaran anjing buas yang akan menerkammu. Dan sekarang, kamu harus yakin kamu bisa lari dari mereka," kata Naya dalam hati seraya menegakkan tubuhnya.

Naya mulai memasuki rumah yang seperti istana tersebut. Kedua matanya berputar melihat beberapa kaki bersepatu yang terus saja mengikuti dirinya.

Ceklek

"Silahkan masuk, Nona Inzen!" ucap Roy yang begitu ramah.

Naya mengernyit melihat ruang kamar yang begitu luas terbuka untuk dirinya.

"Kenapa saya harus masuk ke sini? Bukankah kamu bilang, pak Lukman ingin bicara dengan saya?" tanya Naya dengan ketus.

"Maaf, Nona. Saya hanya menjalankan perintah dari pak Lukman!"

Naya mendesah sebal. Tanpa banyak buang waktu, ia membalikkan badan dan berniat untuk pergi meninggalkan mereka.

"Nona mau ke mana?" tanya mereka menghadang.

"Saya mau pulang! Minggir!" ketus Naya terkejut saat salah satu dari mereka menggendong dirinya dan memasukkan ke dalam kamar.

"Hei, apa yang kalian lakukan!" teriak Naya memukul punggung orang yang menggendongnya.

Buk

Naya terjatuh tepat di atas tempat tidur.

"Maafkan kami, Nona!" gegas mereka pergi buru-buru.

"Hei ...," teriak Naya melihat mereka yang mengunci pintu kamar tersebut. Kedua bola mata indahnya berbinar. Tatapannya memicing menahan amarah yang tertahan. Dadanya terasa begitu sesak.

"Ayah, apa yang harus Naya lakukan?" tanya Naya menangis seraya memukul guling yang ada di sampingnya.

Sepanjang perjalanan, Alen mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tatapan amarah melekat di dirinya saat ini.

"Sayang, kamu jangan salahkan dia! Maafkan dia! Bagaimanapun juga, dia pernah menjadi ayah kamu." Perkataan bunda yang menghampiri pikirannya.

Alen tersenyum sinis. Ia tak menyangka jika sang bunda begitu mencintai orang yang sudah memanfaatkan keluarganya.

"Sampai matipun, aku tak akan pernah memaafkan dia!" kata Alen sinis dan menambah laju kendaraannya.

Sesampai di tempat, Alen membuka kacamata hitamnya. Sudut matanya mengerut menatap rumah yang seharusnya adalah miliknya.

Dengan langkah yang perfect, Alen berjalan memasuki rumah tersebut.

Ceklek

Semua mata tertuju ke arah Alen yang bisa membuka pintu rumah yang terkunci itu.

"Mas Alen," kata mereka serempak. Spontan, mereka berdiri dan memberi hormat pada mantan tuan mudanya itu.

Alen tersenyum sinis dan berjalan menghampiri mereka yang masih tunduk kepadanya.

"Mana boss kalian?" tanya Alen duduk seraya menyilangkan kedua kakinya. Tatapan matanya yang tajam membuat mereka tak mampu mendongakkan kepala. Ia tersenyum sinis melihat mereka yang memainkan bahasa tubuhnya untuk berdiskusi menjawab pertanyaannya.

"Aku tak menyangka, kalian juga terlibat dalam aksinya!" ujar Alen tersenyum sinis melihat mereka mendongak secara serempak.

"Mas Alen ...," kata mereka serempak dan terhenti saat tangan Alen mengkodenya untuk diam.

Alen beranjak dari duduknya. Ia menghela nafas dan mengitari para mantan bodyguardnya itu.

"Mas Alen, kami terpaksa melakukannya, Mas!" kata Roy menjelaskan alasannya untuk ikut pak Lukman.

Di kamar, Naya tak berhenti mencari cara untuk kabur dari tempat yang telah mengurung dirinya. Jari jemari tangannya terus mencari celah jendela kamar yang terkunci rapat.

"Ya Tuhan, bagaimana ini? Haruskah aku menikah dengan tua bangka itu?" gumamnya menangis tertunduk di lantai dekat jendela.

Prank

Suara pecahan kaca mengejutkan Naya. Ia mendongak dan mencari suara pecahan kaca tersebut.

Naya berdiri dan menempelkan telinganya tepat di balik pintu.

Alen kalap. Ia tak berhenti menghajar kelima mantan bodyguardnya itu hingga babak belur.

"Ampun, Mas!" ucap Roy seraya memegang bibirnya yang penuh luka lebam.

"Bangun!" Alen menarik kerah Roy dengan satu tangannya. Matanya yang tajam membuat mereka tak berdaya.

"Bilang sama boss kamu untuk datang menemuiku!" ketus Alen melepas Roy dan pergi begitu saja.

Naya mengernyitkan dahi seraya menoleh ke arah jendela kaca yang ada di kamar tersebut.

"Bagaimana bisa aku tak berpikir untuk memecahkannya," gegas Naya menarik kursi rias yang berada di sampingnya.

Sejenak, Naya meletakkan kursi itu kembali. Tangannya gemetar seraya memegang kepalanya yang mulai pusing.

"Kanaya, come on! Please, Jangan pingsan sekarang!" Naya menarik nafasnya dalam-dalam dan kembali mengangkat kursi itu dengan sekuat tenaganya.

Prank

Semua mata tertuju ke arah kamar yang di tempati Kanaya. Mereka saling tatap satu sama lain dan bergegas menuju kamar tersebut.

Ceklek

Semua mata terperangah melihat Naya yang berhasil keluar lewat jendela kamar.

"Nona!" teriak Roy berlari mengejar Naya.

Tepat di depan mobil, Alen menopangkan kedua tangan di dada. Kedua matanya tak berhenti menatap ke arah rumah yang ia beli dari hasil keringatnya sendiri.

"Bisa-bisanya dia mengambil rumah kesayanganku," kata Alen menghela nafas panjang.

Alen menoleh saat mendengar hentakan kaki yang menuju ke arahnya. Ia mengerling melihat seorang wanita yang berlari menghindari kejaran Roy dan kawan-kawan.

"Nona ... tunggu!" Teriakan Roy yang begitu memekik telinga.

"Ya Tuhan, kepalaku," kata Naya terhenti seraya memegang kepalanya. Pandangannya mulai buram. Ia menatap ke atas yang terlihat mulai gelap.

Dan

Buk

Naya terjatuh tepat di pelukan seseorang. Sosok lelaki yang mengenakan jas hitam terlihat begitu samar dalam penglihatannya.

"Tolong aku!" lirih Naya terkulai lemas tak sadarkan diri.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel (bukan) Telepati Cinta
8.3
Hyura Anastasya sangat terobsesi menemukan reinkarnasi Fino lewat buku kuno milik kakeknya. Namun, misi ini justru merusak hubungan dengan sahabat serta cinta sejatinya. Di tengah konflik, hadirlah arwah pria yang menyimpan kunci misteri hidupnya. Mengandalkan kekuatan telepati uniknya, Hyura harus menuntaskan teka-teki besar ini. Sanggupkah ia menyelesaikannya saat kemampuan telepati tersebut justru tak berfungsi untuk urusan asmara?
Sampul Novel Cinta di Ranjang Jenderal
8.7
Demi kesembuhan sang ayah, Navila rela mengorbankan kesuciannya kepada seorang prajurit Erdan. Transaksi satu malam itu rupanya berbuntut panjang saat sang Jenderal justru terpikat dan menginginkannya lebih jauh. Sayang, romansa mereka terbentur konflik berdarah antara dua kerajaan yang berseteru. Di tengah sempitnya waktu dan kecamuk perang besar yang melanda kedua kubu, mampukah ketulusan cinta mereka bertahan dan tersampaikan?
Sampul Novel Dear Clarissa
7.9
Dua tahun Clarissa bertahan di kerasnya dunia malam Jakarta demi menjaga dirinya. Namun, ketenangannya terusik oleh Arga, pelanggan tetap yang sangat terobsesi padanya. Meski Clarissa benci pria dan terus menghindar, kuasa Arga membuatnya tak berkutik. Di sisi lain, perjuangan Arga meluluhkan Clarissa terhalang penolakan keras saudaranya yang memicu konflik besar. Akankah Clarissa akhirnya takluk pada pria yang kini terus membayangi hidupnya itu?
Sampul Novel Gerry's Love Story
8.5
Pertemuan Gerry dengan seorang janda kaya mengubah total takdir hidupnya. Namun, pernikahan mewah mereka justru membuka kotak pandora yang mengungkap rahasia kelam masa lalu Gerry yang lama terpendam. Lambat laun, tabir misteri tentang identitas aslinya mulai terkuak satu demi satu. Hal ini memicu konflik hebat yang tak terduga, menguji hubungan rumah tangga mereka yang bergelimang harta namun penuh dengan teka-teki rumit.
Sampul Novel Rahasia Memalukannya, Perselingkuhan Publiknya
9.0
Malam pertama sang istri hancur saat Bima, suaminya, mengigaukan nama Karin, sahabatnya sendiri. Pengkhianatan mereka makin nyata lewat tato inisial K di dada Bima. Konflik memuncak ketika Karin sengaja menyajikan makanan pemicu alergi parah pada sang istri. Bukannya menyelamatkan istrinya yang sekarat dan sesak napas, Bima justru membela Karin. Dalam kondisi hamil, sang istri kini harus berjuang bertahan hidup demi melawan kekejaman mereka.
Sampul Novel Rahasia Tersembunyi Dalam Pernikahan
8.3
Pertemuan pertama yang sunyi langsung menyulut hasrat membara bagai pedang tajam yang melukai mereka. Sebagai pria yang akrab dengan risiko maut dan kenikmatan duniawi, ia tak pernah menyangka ada wanita yang sanggup meruntuhkan pertahanannya hingga ia lengah. Di balik ikatan pernikahan mereka, tersimpan sebuah rahasia besar yang kini menguji batas kekuatan serta perasaan terdalam keduanya.