APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel KIBAS DASTER BUNDA

KIBAS DASTER BUNDA

Tujuh belas tahun membina rumah tangga dan mengurus tiga anak membuat Dona kerap diremehkan. Berdaster dan dinilai ketinggalan zaman, ia bahkan dipandang sebelah mata oleh Sakura, putri sulungnya sendiri. Di tengah himpitan ekonomi akibat masalah di tempat kerja suami serta tingginya tuntutan keluarga, kesabaran Dona diuji. Kejenuhan sang anak akhirnya memicu titik balik. Dona bertekad berubah dan siap membongkar rahasia masa lalunya demi membuktikan kapasitas dirinya.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Dicukupin, Bun." Mario memberikan bukti transfer uang gajinya kepada Dona - Istrinya - yang selalu mengangguk dan tersenyum mendapat uang masuk setiap bulannya.

"Ok, Yah," ia mengambil ponsel miliknya dan mengecek melalui m-banking.

"Kacau, Bun. Nggak ada naik gaji tahun ini!"

"Nggak pa-pa, sabar, yang penting uang sekolah anak-anak bisa kebayar, 'kan?" Dona beranjak menyiapkan makan malam suaminya.

Ketiga anaknya sibuk di kamar masing-masing, yang tertua bernama Sakura, yang kedua Dimas dan yang ketiga Akasia.

Anak pertama dan terakhir punya nama pohon. Terdengar aneh, tapi punya arti bagus. Dona yang ngotot memberi nama itu. Suaminya ambil andil saat kelahiran Dimas. Akasia paling kecil, sekolah dasar kelas dua beranjak kelas tiga, yang tertua enam belas mau tujuh belas tahun, yang kedua lima belas tahun. Semua lahir secara normal dan bukan di rumah sakit. Tapi di bidan. Bidan turun temurun keluarga Dona alias ibundanya sendiri. Nenek dari ketiga putra putrinya. Selain Gratis, Dona juga mendapat fasilitas mewah di klinik milik ibundanya itu. Jelas, dong.

"Masak apa kamu, Bun?" tanya Mario saat menuju ke meja makan.

"Ayam penyet, Yah. Anak-anak udah makan kok, aku juga udah."

"Bener kamu udah?" tatapan Mario penuh telisik. Dona mengangguk sambil tersenyum.

Flashback dua jam sebelum.

"Punya Akas itu ayam pahanya, Abang ...!" rengek Akasia kepada Dimas yang tak sengaja mengambil ayam bagian paha bawah. Dimas memindahkan ayam itu ke atas piring Akas. Ia mengganti dengan mengambil ayam bagian paha atas.

"Kalau Abang makan ini, boleh?" tunjuk Dimas ke ayam yang sudah ia pegang. Akasia mengangguk. Dimas melirik ke piring kakak perempuannya.

"Diet lo. Makan nasi segitu, sama sayur doang. Udah kurus juga!" tegur Dimas sewot.

"Berisik!" jawab Sakura cuek.

Dona membawa satu mangkuk sop sayur dan ia letakan di tengah meja makan.

"Sayurnya di makan, yes ...." ucap Dona. Sakura mengambil sendok dan memasukan tiga sendok makan sop sayur itu ke piringnya. Berganti Dimas dan terakhir Akasia yang cuma mau makan wortel dan kuah saja.

"Bunda nggak makan?" tanya Sakura.

"Udah tadi. Makan ya kalian. Terus kerjain PRnya, ada 'kan?" Dona menatap satu persatu anak-anaknya. Dua anaknya mengangguk, kecuali si bungsu yang diam.

"Akas," tanya Dona.

"Udah selesai, Bun. Tadi dikerjain pas Bunda lagi ke rumah depan," jawab Akasia. Dona terkekeh dan mengusap rambut putra kecilnya itu.

Dona tersenyum melihat ketiga anaknya makan dengan lahap. Ia melirik ke satu potong ayam bagian dada yang besar. Hanya itu yang tersisa. Ia meneguk ludah dan menyingkirkan piring berisi ayam.

"Ini buat Ayah ya, kalian udah, 'kan?" Dona beranjak dan memasukan piring berisi ayam ke dalam lemari penyimpan makanan. Anak-anaknya mengangguk. Tak lama Akasia menyandarkan punggungnya. Ia melirik ke Dona.

"Kenyang?" tanya Dona sambil menyodorkan gelas berisi air putih untuk Akasia.

"Habisin Akas!" tegur Sakura. Akasia menggeleng.

"Udah ... Bunda aja yang habisin nanti." Dona tersenyum. Akasia beranjak untuk mencuci tangan. Sementara Dona menunggu kedua anaknya yang lain selesai makan.

"Sayur sopnya udah, nih?" lirik Dona. Dimas dan Sakura mengangguk.

"Oke. Buat bunda juga, ya." Dona menggeser mangkuk sop sayur yang hanya tersisa beberapa potongan wortel.

"Kita ke kamar ya, Bun .... " Dimas memeluk leher Dona lalu berganti Sakura yang juga memeluk bundanya itu.

"Oke. PR kerjain ya!" Dona kembali mengingatkan.

"Ya ...." jawab Sakura santai. Dona menatap piring bekas makan Sakura dan Dimas. Ia terkekeh. Dimas mirip dirinya, makan tak bersisa dan rapi. Hanya tulang ayam yang tak mungkin di telan. Sedangkan Sakura mirip suaminya, suka menyisakan makanan.

"Hajarrr ...." lirih Dona sambil memakan sisa makanan anak-anaknya.

Flash back end.

Dona duduk menatap suaminya yang makan dengan lahap juga. Setelah selesai, ia mencuci piring dan mengelap meja makan. Ia berjalan ke kulkas dan menyiapkan bahan makanan untuk esok sarapan pagi.

***

Dona membaca grup sekolah anak terakhir. Kehebohan terjadi karena membahas study tour. Hasil keputusan sekolah, mereka akan berkunjung ke taman binatang terbesar di puncak. Dan masing-masing anak membayar tujuh ratus enam puluh lima ribu. Belum dengan pendamping.

Keributan di grup kembali terjadi karena membahas tentang seragam anak dan pendamping juga. Jika Dona mentotal semuanya berjumlah satu juta dua ratus sekian ... sekian ... sekian.

Ia melihat tanggal terakhir pembayaran jika Akasia harus ikut. Dua bulan lagi. Dona lalu menghitung pengeluaran keluarganya dalam sebulan. Ia mendengkus. Tak ada sisa untuk ditabung khusus uang kegiatan Akasia. Ia melirik suaminya yang sudah tidur pulas. Jam menunjukan pukul sebelas malam.

Kamarnya di ketuk. Dona berjalan dan membuka pintu. Tampak Sakura berdiri dengan wajah cemberut.

"Lho, Kakak kok belum tidur?" Dona menatap Sakura lekat.

"Bunda, aku boleh minta uang jajan lebih nggak buat besok?"

"Berapa?"

"Seratus lima puluh ribu?"

"Eeehhh ...," Dona mengusap tengkuknya. "Buat apa cantik?" lanjut Dona.

"Mau nonton sama temen-temen. Besok kan jumat, mau nonton yang jam tiga sore," jawab Sakura.

"Emang berapa harga tiketnya, bukannya cuma empat puluh ribu?" Dona mencecar dengan cara halus.

"Iya. Tapi Kakak mau ada pegangan lebih Bun, takut temen ngajak jalan lagi atau jajan-jajan. Bisa nggak?" Sakura merengek. Pipinya gembung menunggu jawaban bundanya.

"Seratus ribu cukup?" Dona bernegosiasi.

"Yah Bundaaa .... " Sakura menunduk.

"Hmh ... yaudah, besok pagi ya, sekarang tidur."

"Iya. Makasih Bunda," Sakura berjalan kembali ke kamarnya. Dona menutup pintu. Ia berjalan ke lemari pakaiannya dan membuka dompet bermotif bunga.

Dompet itu khusus ia isi dengan uang untuk kesehatan. Karena mereka tak pakai asuransi jika sakit. Jadi Dona selalu menyisihkan uang setiap bulannya.

***

Pagi menjelang. Dona sudah sibuk di dapur. Ia membuat nasi kuning, kering tempe dan telur dadar yang ia iris tipis.

Suami dan ketiga anaknya menatap Dona.

"Why oh why, sayangku semua?" Dona tersenyum.

"Nasi kuning lagi, Bun? Udah empat hari berturut-turut, lho," tegur Mario.

"Makan aja Ayah. Bersyukur masih bisa sarapan," celetuk Dimas yang beranjak mengambil piring untuk ia dan Akasia. Dimas juga mengambilkan nasi kuning untuk Akas.

"Makan yang cepet, Kas, Abang ada piket pagi." Dimas mengambilkan lauk juga. Dimas dan akan berangkat bersama, dimas selalu mengantar hingga masuk ke kelas. Mereka berjalan kaki karena sekolah Akasia masih di dalam komplek. Setelahnya, baru Dimas berangkat bersama Fadil, teman sekelas sekaligus sahabat sejak kelas dua SMP.

"Bunda nggak sarapan?" tanya Sakura.

"Udah tadi. Nih, lagi ngeteh santai," sahut Dona. Padahal, ia belum sarapan. Seperti biasa, menunggu semua warganya makan dan berangkat beraktifitas, baru ia yang makan.

Dona memberikan uang permintaan Sakura. Putrinya itu tersenyum.

"Kak, Bunda dapat surat dari sekolah, besok rapatnya. Bunda boleh datang?" Sakura diam. Lalu menggeleng.

"Ayah aja ya, Bun. Rapat kenaikan kelas doang kok, Sakura masuk IPA, kemarin pengumumannya. Bunda nggak usah hadir."

"Kenapa? Bunda pingin lho, Kak lihat sekolah Kakak yang selesai renovasi, terakhir bunda ke sekolah kamu pas kamu kelas tiga SMP."

Sakura lagi-lagi diam.

"Ayah aja ya, Bunda, Bunda di rumah aja. Kakak berangkat ya, bye, Bunda!" Sakura mencium punggung tangan bunda dan menuju ke mobil temannya yang sudah menunggu di depan pagar rumah mereka.

Dimas dan Akasia pamit kemudian, terakhir, suaminya sambil melambaikan tangan dari dalam mobil.

Dona berjalan ke dalam rumah dan menatap hidangan yang berformasi seperti biasa. Ia menghabiskan sisa sarapan Sakura dan Mario. Sedangkan Akasia tumben menghabiskan sarapannya.

'Sakura kenapa ya, masa Bundanya nggak boleh ke sekolah.'

Dona berpikir sendiri. Ia akan coba mencari tau jawabannya pelan-pelan.

Bersambung,

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dalam Pelukan (Sang ) CEO
9.1
Kevin Hadiwajaya adalah CEO sukses yang dikenal sebagai monster berwajah malaikat. Ia sangat berambisi untuk sepenuhnya memiliki Sarah Rania, asisten pribadinya sendiri. Namun, rencana Kevin terhambat oleh Hansen Rudolf, sahabat masa kecilnya yang juga menaruh hati pada Sarah dengan penuh kelembutan. Di antara persaingan ketat kedua pria itu, Sarah kini terjepit dalam badai emosi yang menguras hati. Akankah ia memilih sang bos yang dominan, atau bersandar pada Hansen yang tulus?
Sampul Novel Kesetiaanku Kau Balas Dengan Luka
8.3
Haura Ghania Eftikhar, eks tentara bayaran, luluh oleh kesabaran CEO karismatik Sean Wijaya dan bersedia menjadi CEO demi menutupi masa lalunya. Namun, pernikahan mereka hancur seketika saat Haura memergoki perselingkuhan Sean. Di tengah penyesalan Sean yang memohon kesempatan kedua, hadir seorang remaja tampan yang menawarkan cinta tulus namun obsesif, kian memperumit luka batin Haura yang mendalam.
Sampul Novel My Lovely CEO
8.4
Sebelum pernikahan resmi mereka, Ellen berteriak histeris begitu menyadari tindakan Reyhan Saputra. Sambil menutupi badannya, ia memaki pria itu. Bukannya marah, Reyhan malah tertawa gemas. Setelah mematikan kompor, ia mendekat hingga membuat Ellen terdesak ke dinding. Ellen merasa geli sekaligus tegang saat Reyhan memegang tengkuknya. Dengan seringai nakal, Reyhan pun menawarkan diri untuk mempraktikkan langsung contoh perbuatan tersebut.
Sampul Novel Penjara Cinta Tuan Billionare
8.7
Dominique Anastasia berjuang keras menjauh dari Haiden Aramgyan, mantan pacar yang menjadi mimpi buruknya. Walau dikenal sebagai miliarder sukses yang memikat banyak wanita, bagi Dominique, Haiden adalah sosok posesif yang sangat mendikte. Sebaliknya, kekayaan melimpah tidak menghentikan obsesi Haiden untuk terus memburu Dominique. Bagi pria itu, daya tarik manis sang mantan adalah segalanya, dan ia bertekad untuk kembali mengurung Dominique dalam genggamannya.
Sampul Novel Reinkarnasi Menjadi Istri Presdir Dingin
9.6
Setelah tewas mengenaskan akibat pengkhianatan keji mantan suami dan selingkuhannya, Lara Anggraini mendapatkan kesempatan kedua. Ia bereinkarnasi ke dalam raga seorang wanita yang merupakan istri dari mantan bosnya, seorang Presdir dingin yang kaku. Di balik kemewahan hidup barunya ini, Lara tidak tinggal diam. Ia mulai menyusun siasat matang demi menuntut balas pada orang-orang yang telah menghancurkan masa lalunya. Akankah dendam membara Lara terbalaskan?
Sampul Novel Skandal Pengawal Dan Nona Muda
8.9
Arthur, seorang kapten pengawal tangguh, bertekad kuat menjaga keselamatan Lintang yang merupakan putri dari keluarga terpandang Adiwilaga. Namun, di tengah tugas profesionalnya, getaran asmara justru hadir tanpa diduga. Lintang pun akhirnya menaruh hati pada sang pelindung setianya tersebut. Terhalang oleh jurang perbedaan status sosial yang membentang lebar, akankah hubungan cinta terlarang mereka mampu bertahan dan bersatu dalam ikatan suci?