APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel KIBAS DASTER BUNDA

KIBAS DASTER BUNDA

Tujuh belas tahun membina rumah tangga dan mengurus tiga anak membuat Dona kerap diremehkan. Berdaster dan dinilai ketinggalan zaman, ia bahkan dipandang sebelah mata oleh Sakura, putri sulungnya sendiri. Di tengah himpitan ekonomi akibat masalah di tempat kerja suami serta tingginya tuntutan keluarga, kesabaran Dona diuji. Kejenuhan sang anak akhirnya memicu titik balik. Dona bertekad berubah dan siap membongkar rahasia masa lalunya demi membuktikan kapasitas dirinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sakura berdiri bersandar di dinding luar kelasnya bersama ke tiga teman perempuan. Mereka heboh dan asik membahas drama korea yang sedang happening di TV. Tak hanya itu, mereka juga membahas boyband yang sedang naik daun. Apa itu namanya, ada X-X nya, author pun bingung Bunds.

"Gue pingin ke Korea, liburan kenaikan kelas mau ke sana, lo pada bisa ikut nggak?" tanya Meyra, anak paling kaya di antara ke tiga lainnya. Febi, dan Naura menggeleng, Sakura, ia memilih tersenyum.

"Ra, kenapa lo bisa masuk IPA sendirian. Sedangkan kita bertiga IPS, gue kan sedih ...." Meyra memeluk Sakura dari samping yang hanya terkekeh.

"Yaelah, kaya gue pindah ke angkasa aja. Gue mau ngejar nilai dan dapet beasiswa." Sakura kembali tersenyum. Meyra melepaskan pelukannya. Ia mengangguk.

"Sore nanti kita jadi nonton, kan?" Kini Febi yang bersuara. Ketiga sahabatnya mengangguk.

Sakura terkejut saat seseorang datang menghampirinya dengan napas ngos-ngosan. Ia melirik galak, begitu pun Meyra, Febi dan Naura.

"Yang namanya Sakura mana si?!" Cowok itu menatap keempat wanita itu.

"Gue. Kenapa?" jawab Sakura Judes.

"Nih. Gue disuruh anter ini dari Algen. Udah ya gue balik," entah siapa nama cowok itu, Sakura menerima kotak makan transparan dan ada note diatasnya.

'Buat kamu. Nanti sore nonton, yuk, balikin kotak ini kalau setuju, kalo nggak setuju buang.'

Sakura menatap ke ketiga sahabatnya. Mereka semua tampak heboh sampai jingkrak-jingkrak. Sakura membukanya, berisi roti keju dan teh kotak.

"Gimana?" Sakura menatap bingung ke ketiga remaja yang heboh kaya cacing kepanasan di hadapannya.

"Mau, Ra, udah mau. Lo tau Algen, kan? Most wanted sekolah." Naura loncat-loncat di tempat dengan heboh.

"Iya, Ra. Udah, mau, balikin nanti kotak makannya. Lumayan kita jadi ada personil tambahan buat nonton." Meyra cengar cengir.

Sakura menunduk menatap kotak makan yang ada di tangannya.

***

Di sekolah Dimas.

"Woy! Mas. Dipanggil ketua osis, tuh, gue denger elo mau di calonin jadi ketua osis yang baru." Fadil duduk di atas meja tempat Dimas.

"Ogah. Lo aja sana." Dimas beranjak. Fadil juga menolak. Ia tak akan sanggup menjadi ketua osis. Ribet. Tak bebas.

Dimas berjalan di lorong sekolah menuju ke ruangan dekat ruang guru.

"Dimas!" panggil seorang perempuan. Dimas menoleh. Tanpa ekspresi.

"Mau ke mana? Ikut dong," cewek itu memaksa. Dimas kembali jalan tanpa menggubris.

Kalila, nama cewek itu. Teman se-kelas Dimas yang terang-terangan menunjukan rasa sukanya ke Dimas sejak awal mereka masuk ke SMA itu. Sikap Dimas yang cuek cenderung dingin, justru membuat Kalila gemas.

"Dimas, ditanyain diem aja," kejar Kalila. Dimas tetap diam hingga ia masuk ke ruangan osis.

"Jangan ikut," celetuk Dimas ketus sambil menoleh ke Kalila yang senyum-senyum manggut-manggut.

Dimas duduk di depan sang ketua osis yang duduk dibelakang mejanya. Ia menyodorkan kertas pendaftaran calon ketua osis yang baru. Dimas menggeleng cepat.

"Sori, gue nggak bisa ikutan jadi pengurus osis. Yang lain aja deh," tolak Dimas sopan.

"Kenapa. Lo berpotensi, Dim. Sayang kalau lo cuma sekolah, pulang, sekolah lagi, pulang lagi."

Dimas terkekeh mendengar ucapan ketua osis itu.

"Sori, gue nggak bisa. Makasih tawarannya." Dimas beranjak dan berjalan keluar ruangan itu. Kalila masih berdiri di depan pintu ruangan osis.

"Kenapa Dim, lo nolak jadi ketua osis ya? Bagus, lah. Nanti lo sibuk, gue dicuekin. Sekarang aja lo nggak sibuk udah cuekin gue."

Dimas berjalan terus. Masih tak menggubris omongan Kalila. Kalila menarik tangan Dimas dan memberikan susu kotak yang sudah ia siapkan untuk Dimas.

"Buat lo, bye." Kalila berlari menuju ke teman-temannya. Tak menoleh lagi ke Dimas. Sedangkan Dimas memegang susu kotak itu dan memasukkan kedalam saku celana seragamnya.

'Buat Akasia lumayan.'

Ia lalu tersenyum dan berjalan kearah kelasnya kembali.

***

Dona sibuk menyetrika baju. Ia tak sendiri, ada Silvi si tetangga sebrang rumah yang rajin menemaninya. Silvi anaknya hanya satu, sepantaran Sakura, suaminya bekerja ditengah laut. Orang perminyakan. Jarang pulang karena ditempatnya di daerah sumatra sana.

"Sil, gimana ya, gue bingung nih, uang buat study tour Akasia, mahal banget aduhhh." Dona berkeluh kesah sambil tetap menyetrika pakaian-pakaian.

"Berapa. Mau pake duit gue nggak? Pake aja Don."

"Nggak. Utang gue waktu aja belum gue bayar. Mau nambah lagi." Dona menyemprotkan pewangi pakaian kisskiss ke baju seragam Sakura.

"Terus? Akas nggak ikutan pergi?" Kedua bahu Dona terangkat.

"Lagian ada aja sekolahannya. Uang kegiatan kan udah ada. Kenapa diminta lagi." Silvi memakan keripik pisang kiriman mertua Dona. Home made, karena kebun pisang milik mertuanya sedang panen.

"Nggak tau lah. Gue juga bingung, padahal awal-awal masuk situ nggak dibilangin lho, mereka bilang uang kegiatan udah sekalian semuanya sama uang daftar ulang kenaikan kelas."

"Marketing banget!" Silvi beranjak menuju meja makan dan mengambil minum sendiri.

"Guntar apa kabar nya Sil, betah masuk asrama? Niat banget sekolah taruna penerbangan, eh- bener nggak sih, istilahnya."

"Betah. Anak gue kalo udah maunya kan maunya. Alias keukeuh. Anak sama bapak betah banget ninggalin gue sendirian dirumah. Bapaknya di tengah laut, anaknya calon prajurit udara."

"Kan ada gue yang setia setiap saat temenin lo, Sil." Dona terkekeh sambil melipat kemeja kerja Mario.

"Jelas. Sapa lagi tetangga di sini yang tingkat kejulidtannya di bawah harga pasar, alias masa bodoh, cuma elo doang. Nggak mau peduli tetangga lo baru beli kulkas baru kek, nyicil mobil atau motor baru kek, anaknya punya pacar baru apa nggak kek. Lo tuh Don, lurusssnyakebangetan!" Silvi kembali duduk dan melanjutkan makan keripik pisang dengan memangku toplesnya juga.

"Gue kan, males ladenin kaya gitu-gitu. Rugi. Buat apaan."

"Bener. Makanya gue cocok temenan sama lo. Dari awal ini perumahan masih kebon engkong sampe jadi batu bata dan baja ringan semua. Kita berdua yang saling jaga dan sayang."

Dona menatap Silvi dengan tatapan nanar.

"Terharuuu ....." ucap Dona sambil kembali menyetrika baju.

"Don, pake duit gue ya, yang dampingin siapa. Lo atau Mario? Apa Sakura atau Dimas?"

"Gue pikir-pikir dulu, ya. Kalo bener-bener kepepet dan nggak ada jalan. Gue baru ke elo deh."

"Ah elo. Eh, ngomong-ngomong, yang suka jemput Sakura siapa?"

"Yang naik mobil putih itu?" Dona beranjak dan mengambil pakaian kering lainnya dari jemuran di samping rumah. Lalu kembali kedalam.

"Iya, siapa? Anak orang kaya ya?"

"Iya. Sahabatnya Sakura. Meyra namanya. Kenapa Sil?"

"Nggak bawa pengaruh jelek, 'kan? Gue cuma merhatiin aja. Sakura kayak sedikit beda sekarang, lebih modis kesekolah. Gue khawatir aja dia jadi ikut-ikutan temen-temennya itu. Gue takut Sakura juga jadi malu sama keluarganya sendiri."

"Nggak lah. Gue percaya anak gue. Sakura nggak kaya gitu, lagian malu kenapa si, rumah ada, mobil adam"

Silvi cekikikan.

"Mobil butut Mario, tuh, kalo kata Bapaknya Guntar, musium juga ogah ngambil jadi barang antik."

"Eh sembarangan. Itu mobil sejarahnya puanjangggg ... Silvi. Dari Mario masih kuliah, ngajak gue kencan pertama kali, ya sama si Bambi itu. Nggak ada yang bisa ngalahin Bambi."

Silvi terbahak-bahak.

"Segala lu namain Bambi!" Silvi meletakan toples keatas meja setelah ia tutup rapat. Lalu berjalan kearah dapur.

Tak lama ia berdiri berkacak pinggang menatap Dona.

"Gue ada beras. Masih satu karung. Lo ambil satu Don. Nolak gue kepret lo jadi keset!"

Silvi gemas sendiri dengan Dona. Sahabatnya itu menganggukan kepala sambil tersenyum.

"Makasih Silvi, nanti gue bantuin beberes rumah lo ya sebagai tanda terima kasih." Dona senyum-senyum.

"Nggak. Pembantu gue dua." Silvi berbalik badan dan duduk di sofa.

"Sombongnyaa juragan minyak," celetuk Dona. Lalu keduanya tertawa bersama.

Suara pagar terbuka terdengar. Akasia baru pulang sekolah dan main sebentar ke rumah temannya di belakang rumah mereka. Tak lama Dimas juga pulang. Jam sudah menunjukan pukul dua siang.

"Halo anak-anak Bunda," sapa Dona.

"Halo Bunda, halo Mami," sapa Akasia sambil mencium tangan Silvi. Lalu mencium pipi bundanya.

"Aduh. Bau matahari," ledek Dona ke Akasia yang sepertinya habis main bola.

"Akas mandi boleh, Bun?" tanyanya. Dona menggeleng.

"Ganti baju aja, tapi cuci tangan, cuci kaki dan cuci muka." Akasia mengangguk.

"Kas," panggil Dimas. Akasia menoleh.

"Nih." Dimas memberikan susu kotak ke tangan Akasia. Kedua mata adiknya berbinar.

"Makasih, Bang," dengan ceria Akasia menaruh susu ke dalam kulkas lalu menuju ke kamar mandi.

"Dari siapa, Dim," tanya Silvi sambil mencolek lengan Dimas yang duduk disebelahnya.

"Kalila," lalu Dimas beranjak

"Eeeewwww, siapa Kalila, Dim? Coba kenalin ke Mami. Kali-kali Mami srek sama ceweknya." Silvi melirik ke Dona yang diam menatap putra keduanya yang berjalan kedalam kamar.

"Temen doang, Mam, Bun. Jangan khawatir," jawab Dimas.

"Lebih dari temen juga nggak pa-pa Dim!" teriak Silvi. Lalu tatapannya berubah heran ke Dona.

"Kenape? Anak lo ada yang suka. Wajar, lah, usia segini. Gejolak kawula muda Don."

"Gue takut .... "

"Takut apa, sih? yang perlu lo khawatirin tuh Sakura. Bukan Dimas."

Dona diam. Anaknya itu bilang akan menonton di bioskop jam tiga sore. Berarti pulang setelah magrib atau jam tujuh malam paling telat. Dona akan bertanya nanti.

Silvi beranjak. Ia pamit untuk pulang. Tapi sebelumnya memanggil Dimas untuk mengambil beras dirumahnya. Dona merasa khawatir dengan Sakura. Ia lalu menghubungi putrinya dengan mengirim pesan singkat.

Bersambung,

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Delayed Love
9.1
Lima tahun berlalu, Reina Valeria masih berupaya melupakan luka masa lalu. Namun, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Rian Nataharja, yang kini menjadi manajer barunya di kantor. Pertemuan tak terduga ini membangkitkan kembali memori masa sekolah mereka. Rahasia apa yang sebenarnya tersimpan di antara si siswa teladan dan siswi bodoh ini? Kini, Reina terpaksa menghadapi kembali perasaan lama yang sempat tertunda.
Sampul Novel Gairah Terpendam Tuan Ahli Waris
7.9
Dunia Jill runtuh usai dikhianati sang kekasih yang telah menemaninya selama tiga tahun. Saat duka mendalam, ia tak sengaja terjerat malam satu kali yang penuh gairah bersama pewaris konglomerat bernama Revel. Meski Revel kerap memicu emosinya, Jill tak mampu menghapus bayang pria itu dari benaknya. Hubungan rumit ini kian membingungkan saat sebuah rahasia besar terkuak: Revel ternyata terhubung erat dengan masa lalu Jill yang selama ini tersembunyi.
Sampul Novel Harga Diriku 10 Juta Per Malam
9.4
Demi melunasi utang miliaran dan membiayai kuliahnya, Arabella Alexandro, seorang mahasiswi yatim piatu, terpaksa bekerja ganda sebagai wanita penghibur di diskotek. Tanpa dukungan keluarga, ia harus berjuang bertahan hidup sendirian. Kehidupannya yang keras menemui babak baru saat ia bertemu dengan Arkan Stevanno Orlando, seorang CEO kaya raya yang menyewa jasanya. Akankah takdir ini menjadi jalan penyelamatnya atau justru menyeret Arabella ke dalam pusaran masalah yang jauh lebih rumit?
Sampul Novel Love & Destiny
8.1
Mikaela Cassandra Djuanda ditinggalkan suaminya pada hari pernikahan demi perempuan lain. Tiga tahun kemudian, ia kembali dipertemukan dengan Marcel Arya Buana yang telah memiliki kehidupan baru. Marcel sangat terkejut saat mengetahui bahwa pernikahan mereka belum berakhir dan dirinya telah menjadi seorang ayah. Kini, Marcel menghadapi dilema berat untuk memilih antara cinta barunya atau memikul tanggung jawab terhadap anak kandungnya.
Sampul Novel Mati Kutu Ketika Mereka Tahu Suamiku Ternyata Sultan
8.9
Akibat wajah hitam bertompel yang kontras dengan tubuhnya, seorang pria kerap dihina sebagai sosok miskin. Sang istri bahkan sempat meragukan siapa dia sebenarnya. Padahal, rupa buruk itu hanyalah penyamaran untuk mencari cinta tulus dari gadis desa. Saat kedoknya sebagai CEO kaya raya terbongkar, tetangga yang dahulu meremehkannya langsung bungkam. Apa motif sang Sultan di balik keputusannya hidup penuh cercaan?
Sampul Novel Perlindungan yang Menjadi Balas Dendam
8.9
Dikhianati sahabat sendiri, Amara terjebak malam penuh gairah di Michigan hingga hamil. Empat tahun berlalu, ia kini merintis hidup baru di New York sebagai dokter bedah bersama Ethan, putranya. Takdir mempertemukannya dengan Damian Sinclair, dokter bedah anak yang aromanya terasa sangat familier. Namun, Damian bukanlah pelindung yang Amara harapkan. Pria itu justru menyimpan dendam masa lalu yang membara dan siap membalaskannya kepada Amara.