APKDock Logo
Sampul Novel Ketika Keabadian Runtuh: Kenyataan Pahit Cinta

Ketika Keabadian Runtuh: Kenyataan Pahit Cinta

9.7 / 10.0
Baskara Aditama semula adalah suami miliarder idaman, sebelum masa lalunya datang membawa seorang putra yang sakit parah. Di saat kritis, Baskara lebih memilih menyelamatkan anak itu dan mengabaikan kondisiku yang terluka hingga aku keguguran sendirian. Puncak kepedihanku tiba ketika ia memohon agar aku mengizinkannya menikahi sang mantan secara pura-pura demi sang putra. Melihat tanda cinta wanita lain di lehernya, aku yang sedang berduka akhirnya menyetujui rencana itu.

Ketika Keabadian Runtuh: Kenyataan Pahit Cinta Bab 1

Suamiku, Baskara Aditama, seorang miliarder teknologi, adalah pria yang sempurna. Selama dua tahun, dia memujaku, dan pernikahan kami membuat semua orang yang kami kenal iri.

Lalu seorang wanita dari masa lalunya muncul, menggandeng tangan seorang anak laki-laki berusia empat tahun yang pucat dan sakit-sakitan. Anaknya.

Anak itu menderita leukemia, dan Baskara menjadi terobsesi untuk menyelamatkannya. Setelah sebuah insiden di rumah sakit, anaknya mengalami kejang. Dalam kekacauan itu, aku terjatuh dengan keras, rasa sakit yang hebat melilit perutku.

Baskara berlari melewatiku begitu saja sambil menggendong anaknya, dan meninggalkanku bersimbah darah di lantai.

Aku kehilangan bayi kami hari itu, sendirian. Dia bahkan tidak pernah menelepon.

Ketika dia akhirnya muncul di ranjang rumah sakitku keesokan paginya, dia mengenakan setelan jas yang berbeda. Dia memohon ampun karena tidak ada di sisiku, tanpa tahu alasan sebenarnya di balik air mataku.

Lalu aku melihatnya. Sebuah bekas ciuman berwarna gelap di lehernya.

Dia telah bersama wanita itu saat aku kehilangan anak kami.

Dia memberitahuku bahwa keinginan terakhir putranya yang sekarat adalah melihat orang tuanya menikah. Dia memohon padaku untuk menyetujui perpisahan sementara dan pernikahan palsu dengannya.

Aku menatap wajahnya yang putus asa dan egois, dan sebuah ketenangan yang aneh menyelimutiku.

"Baiklah," kataku. "Aku akan melakukannya."

Bab 1

Bau antiseptik yang khas memenuhi hidungku di klinik. Aku duduk di tepi ranjang pemeriksaan, memperhatikan seorang perawat dengan rapi membalut luka kecil di tanganku. Goresan bodoh karena pisau dapur.

Ini bukan apa-apa, sungguh, tapi Baskara memaksa aku memeriksakannya.

Pintu klinik terbuka dengan kasar dan dia bergegas masuk, setelan jas mahalnya sedikit kusut.

"Elara, kamu baik-baik saja?"

Matanya, mata yang sama yang biasa memerintah di ruang rapat, kini melebar karena cemas. Dia bergegas menghampiri, mengabaikan perawat, dan meraih tanganku yang tidak terluka.

"Baskara, aku baik-baik saja. Ini hanya luka gores kecil."

Dia sepertinya tidak mendengarku. Dia memeriksa perban baru itu seolah-olah itu adalah luka besar, ibu jarinya dengan lembut mengelus pergelangan tanganku.

"Kamu harus lebih hati-hati," gumamnya, suaranya rendah dan penuh dengan rasa cemas posesif yang familier, yang selalu membuat jantungku berdebar kencang.

Perawat itu, seorang wanita muda dengan wajah ramah, tersenyum pada kami.

"Ibu sungguh beruntung. Suami Ibu pasti sangat mencintai Ibu."

Aku balas tersenyum, perasaan hangat menyebar di dadaku. "Aku tahu."

Kami adalah pasangan yang sempurna. Elara Wijaya dan Baskara Aditama. Mantan mixologist yang melepaskan kariernya demi miliarder teknologi yang memujanya. Dua tahun pernikahan yang menjadi idaman semua orang yang kami kenal.

Tiba-tiba, tangisan anak kecil yang menyayat hati memecah keheningan klinik. Itu adalah suara kesakitan murni, diikuti oleh suara seorang wanita yang putus asa mencoba menenangkan.

Suara itu datang dari kamar sebelah. Senyumku memudar.

Perawat itu menghela napas, ekspresinya berubah sedih. "Kasihan anak itu. Dia datang untuk kemoterapi."

"Kemoterapi?" tanyaku, luka kecilku sendiri terlupakan.

"Leukemia," katanya pelan. "Baru berumur empat tahun. Sungguh malang."

Gelombang simpati menyelimutiku. Aku tidak bisa membayangkan rasa sakit yang dialami anak itu dan ibunya.

"Mengerikan sekali," bisikku.

Baskara meremas tanganku, nadanya acuh tak acuh. "Itu menyedihkan, tapi tidak ada hubungannya dengan kita, Elara. Ayo kita pulang."

Dia selalu seperti itu—fokus, sedikit dingin jika menyangkut hal-hal di luar dunia kami yang sempurna. Dia mulai membantuku turun dari ranjang, siap untuk pergi.

Tapi kemudian pintu kamar sebelah terbuka. Seorang wanita dengan mata lelah dan pakaian murah keluar, menggandeng tangan seorang anak laki-laki kecil yang pucat.

Anak itu menangis pelan, wajahnya basah oleh air mata. Wanita itu tampak putus asa, matanya memindai ruangan sampai mendarat pada Baskara.

Dia membeku. Lalu, wajahnya berubah kaget bercampur dengan sesuatu yang lain yang tidak bisa kuberi nama.

Dia maju selangkah, menarik anak kecil itu bersamanya.

"Baskara?" katanya, suaranya bergetar. "Baskara Aditama?"

Tubuh Baskara menegang di sampingku. Dia tidak berbalik. Dia tidak berbicara.

Wanita itu mengambil langkah lagi. "Ini aku. Karin. Dari Bali? Empat tahun yang lalu."

Aku memandang dari wanita itu ke suamiku, jantungku mulai berdetak sedikit terlalu cepat. Aku merasakan firasat buruk yang dingin merayap di tulang punggungku.

Anak kecil itu, Leo, menatap Baskara. Dan di wajahnya yang kecil dan pucat, aku melihatnya. Garis rahangnya yang tajam. Matanya yang dalam. Dia adalah versi mini dari suamiku.

Baskara akhirnya berbalik, wajahnya bagai topeng ketidakpercayaan. "Aku tidak kenal kau."

Penyangkalannya cepat, terlalu cepat.

"Di Mulia Resort," desak Karin, suaranya menguat. "Kau di sana untuk konferensi teknologi. Kita... kita menghabiskan malam bersama."

Sebuah ingatan muncul, sesuatu yang pernah Baskara ceritakan padaku dulu sekali. Kesalahan mabuk di Bali sebelum dia bertemu denganku. Dia bilang itu hanya cinta satu malam yang tidak berarti, sebuah kesalahan bodoh yang dia sesali.

Pandanganku kembali tertuju pada anak itu, Leo. Empat tahun.

Perhitungannya sederhana. Perhitungannya brutal.

Gelembung hangat dan bahagia tempatku hidup tidak hanya pecah. Gelembung itu hancur berkeping-keping es yang dingin.

Aku menatap Baskara, suaraku nyaris tak terdengar. "Apa itu benar?"

Dia tidak mau menatap mataku.

"Kita butuh tes DNA," kataku, kata-kata itu terasa asing di mulutku. Suaraku sendiri terdengar jauh, seperti milik orang lain.

Menunggu hasilnya adalah satu jam terpanjang dalam hidupku. Karin duduk diam, memeluk putranya, ekspresinya tenang, nyaris penuh kemenangan. Baskara mondar-mandir, wajahnya muram, karismanya lenyap, digantikan oleh rasa bersalah yang mentah dan membara.

Aku hanya duduk di sana, tangan terkepal di pangkuanku, mencoba menahan diri. Aku merasa mati rasa, seolah sedang menonton film tentang hidupku yang berantakan.

Akhirnya, perawat itu kembali dengan selembar kertas. Dia tidak perlu mengucapkan sepatah kata pun. Raut wajahnya sudah cukup.

Hasilnya mengonfirmasi. 99,9% kemungkinan.

Leo adalah putra Baskara.

Baskara menatap kertas itu, wajahnya pucat pasi. Dia menatapku, mulutnya membuka dan menutup, tetapi tidak ada kata yang keluar. Dia hanya tampak tersesat, hancur.

Karin mulai terisak, suara yang dibuat-buat agar terdengar menyedihkan. Dia menarik Leo lebih dekat.

"Baskara, dia sekarat," isaknya. "Dokter bilang dia butuh transplantasi sumsum tulang. Kau satu-satunya harapannya. Tolong, dia putramu."

Kata 'putra' seolah menghantam Baskara seperti pukulan fisik. Dia menatap anak laki-laki kecil yang sakit itu, pada air mata di wajahnya, dan sesuatu dalam diri suamiku berubah. Rasa bersalah di matanya digantikan oleh rasa tanggung jawab yang kuat dan putus asa.

Dia menatapku, tapi tatapannya jauh. Seolah-olah dia sudah berada di dunia lain, dunia di mana aku tidak ada.

"Elara," katanya, suaranya tegang. "Pulanglah. Aku... aku akan menangani ini. Pulang saja dan istirahat."

Pulanglah.

Kata-kata itu bergema di kepalaku. Dia mengusirku. Dalam krisis nyata pertama pernikahan kami, dia memilih mereka. Dia mendorongku keluar.

Itu adalah sebuah penghakiman. Sebuah vonis. Dan pada saat itu, aku tahu aku telah kalah.

Aku bahkan tidak bisa menemukan amarah untuk melawan. Aku hanya merasakan kesedihan yang mendalam dan mengosongkan jiwa. Inilah pria yang telah berjanji untuk mencintai dan melindungiku selamanya. Pria yang kucintai dengan segenap jiwa ragaku.

Tapi dia punya rahasia. Rahasia berusia empat tahun yang kini sedang sekarat. Dan aku tidak bisa membencinya karena ingin menyelamatkan anaknya.

Aku berdiri, kakiku terasa goyah. Dunia sedikit miring. Aku berjalan keluar dari klinik, meninggalkannya di sana dengan masa lalunya, putranya, dan wanita yang baru saja menghancurkan masa depanku.

Aku kembali ke rumah kami yang indah dan kosong. Potret pernikahan besar di lobi seolah mengejekku. Wajah kami yang tersenyum, begitu penuh harapan. Itu membuatku mual.

Gelombang pusing yang hebat menghantamku, dan dunia menjadi gelap.

Ketika aku sadar, aku berada di tempat tidurku sendiri. Asisten rumah tangga kami, Bi Imah, menatapku dengan cemas.

"Nyonya Baskara pingsan. Saya sudah panggil dokter."

Dokter, seorang pria berwajah ramah, sedang membereskan tasnya. Dia tersenyum lembut.

"Selamat, Nyonya Baskara. Anda hamil."

Hamil.

Kata itu menggantung di udara. Percikan kecil kegembiraan berkedip di dalam diriku, segera diikuti oleh gelombang ketidakpastian yang menghancurkan. Seorang bayi. Bayi kami.

Tapi apakah Baskara masih menginginkan bayi kami sekarang?

"Di mana dia?" tanyaku pada Bi Imah, suaraku lemah. "Di mana Baskara?"

"Beliau belum pulang, Nyonya. Beliau belum menelepon."

Dia masih di rumah sakit. Bersama mereka.

Aku berbaring di sana, satu tangan di perutku yang rata, tangan lainnya menggenggam ponselku, badai kegembiraan dan ketakutan berkecamuk di dalam diriku.

Dia tinggal di rumah sakit sepanjang malam. Dia tidak pernah menelepon. Dia tidak pernah mengirim pesan.

Keesokan paginya, saat aku duduk sendirian di meja makan besar mencoba memaksakan diri makan roti panggang, ponselku bergetar.

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

Aku tahu kau sedang mencari keluargamu. Kurasa aku bisa membantu.

Aku menatap layar, jantungku berdebar kencang. Keluargaku. Keluarga yang tidak bisa kuingat. Keluarga yang kukira telah hilang selamanya.

Aku mengetik balasan dengan satu kata gemetar.

Siapa ini?

Lanjut Membaca

Daftar Isi Ketika Keabadian Runtuh: Kenyataan Pahit Cinta

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Akulah Cintamu
9.3
Pasca panggilan video terakhir, suami Kayra lenyap tanpa jejak, meruntuhkan dunianya dan memaksanya membesarkan dua anak sendirian. Di tengah perjuangan berat ini, ia dipertemukan kembali dengan Damar, adik ipar yang menaruh dendam padanya akibat skandal masa lalu yang melibatkan saudari kembar Kayra. Sempat menolak mengakui sang keponakan, kemiripan fisik bayi tersebut akhirnya meluluhkan kerasnya hati Damar. Mampukah takdir baru ini mengembalikan kebahagiaan Kayra yang sempat sirna?
Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Kisah romansa modern ini mengikuti perjalanan emosional David dan Arina dalam menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah keindahan bunga musim semi yang bermekaran, keduanya belajar saling memahami dan mengisi kekosongan hati masing-masing. Hubungan mereka pun tumbuh dengan indah seiring waktu, membuktikan bahwa satu musim yang singkat mampu menyatukan dua jiwa dalam sebuah ikatan cinta yang tulus serta sangat mendalam bagi mereka berdua.
Sampul Novel Dewa Itu Adalah Patungku
8.6
Melinda kecil membawa pulang patung beruang yang ia temukan di jalan tanpa tahu rahasia di baliknya. Benda mati itu sebenarnya adalah wujud lain dari seorang pria muda yang sangat kuat. Melinda terus merawatnya dengan tulus hingga ia tumbuh dewasa menjadi wanita yang menawan. Keadaan mulai berubah saat ketegangan melanda hubungan mereka yang tidak biasa ini. Akankah kisah cinta unik antara manusia biasa dan sang dewa dapat bersatu dalam kebahagiaan?
Sampul Novel Direndahkan Oleh Keluarga Suami
8.9
Jasmine Bintang, yang memiliki keterbatasan fisik sejak lahir, kerap mengecewakan sang ibu. Harapan indahnya untuk bahagia bersama Ardan Mahendra, suaminya yang sukses, sirna ketika keluarga Ardan terus merendahkannya. Kehadiran Anindya, mantan kekasih Ardan yang membongkar kepalsuan pernikahan mereka, kian memperparah penderitaan Jasmine. Saat Jasmine memilih bercerai demi harga dirinya, Ardan justru menolak keras dan mengancam tidak akan melepaskannya.
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Divonis kanker rahim stadium lanjut membuat Fatma harus mengubur mimpinya memiliki keturunan. Demi kebahagiaan sang suami, Satria, ia rela memintanya untuk beristri lagi. Namun, di balik keputusannya, terungkap fakta menyakitkan bahwa Satria sebenarnya tidak pernah mencintai Fatma. Walau Satria sempat menolak demi menjaga perasaannya, Fatma tetap memohon sambil menangis agar keinginan terakhirnya dikabulkan sebagai bukti ketulusan cintanya.
Sampul Novel Jadi Wanita
9.1
Sota, pemuda malas berusia dua puluh tahun, lebih memilih menganggur dan sibuk dengan gawainya meski ia sangat cerdas dan licik. Kebiasaan buruk ini membuat ibunya, Artisa, merasa sangat khawatir. Sebagai pekerja keras yang juga punya sisi licik, Artisa bertekad mengubah tabiat putranya secara total. Ia pun mengambil langkah ekstrem dengan mengubah fisik Sota. Akankah rencana drastis Artisa berhasil mengubah jati diri sang anak melalui transformasi tubuh ini?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan