APKDock Logo
Sampul Novel Aku Bukan Sampah

Aku Bukan Sampah

8.1 / 10.0
Trauma akibat pelecehan seksual membuat Berlian tumbuh menjadi gadis tomboi yang pemberontak. Merasa dirinya kotor dan tidak lagi berharga, ia memilih menutup rapat hatinya dari semua laki-laki karena yakin tak akan ada cinta yang tulus untuknya. Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang miliarder kaya. Akankah kehadiran pria ini mampu memulihkan luka masa lalu Berlian yang begitu kelam, atau justru mendatangkan kepedihan baru yang jauh lebih menyiksa?

Aku Bukan Sampah Bab 1

Berlian Andini, gadis berumur dua puluh tahun itu berbinar saat seorang pria paruh baya memberinya handphone baru. Sebenarnya dia sangat senang dengan hadiah kesekian kalinya dari ayah sambungnya tersebut. Hanya saja ada rasa tidak enak dan sungkan.

Lian, begitu ia kerap disapa. Bibir mungilnya melengkung tipis sambil memberikan lagi barang pemberian Darma. Pria itu merengut tidak mau mendengar penolakan.

"Ayah ikhlas membelikan ini untukmu. Masa anak muda pake Hp jadul! Jadi, ambil saja!" Dia menarik tangan Lian untuk memberikan lagi kotak handphone, sengaja ingin menyentuh kulit bersih anak tirinya.

Lian menarik tangannya. Ada perasaan was-was saat melihat kilat mata jelalatan dan senyum penuh seringai milik Darma. "Te-terima kasih, Yah. Nanti setelah aku gajian, uangnya kuganti."

"Lho … gak usah! Ayah tersinggung kalau kamu melakukan itu," ucapnya masih tersenyum mencurigakan.

Mau tak mau benda itu diterima. Tapi Lian tetap berniat menggantinya nanti jika sudah punya uang.

Wanita paruh baya menghampiri mereka. Tersenyum bahagia karena melihat keharmonisan antara suami dan putri semata wayangnya.

"Lian, apa kamu suka handphone baru itu? Ayah memang bilang ingin membelikannya untukmu tapi Ibu tidak sangka akan secepat ini," tutur Ayu Sari, ibu dari Berlian.

"Ayah kan memang sayang sama Lian. Apapun akan Ayah lakukan untuknya," timpal Darma sambil memegang kursi roda yang diduduki istrinya tapi tatapannya tertuju pada si anak tiri.

"Handphone-nya bagus, Bu! Eh, iya. Aku harus segera berangkat takut kesiangan!" Lian menatap jam di pergelangan tangan lalu masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas.

"Ayah akan mengantarmu," tawar Darma.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Lian diantar-jemput oleh ayah sambung menuju ke tempat kerja. Tapi saat ini rasanya ada kecemasan yang melanda sejak Darma menatapnya berbeda tadi.

"Ini hanya ketakutan yang tidak jelas. Aku memang harus ikut sama ayah biar tidak telat ke pabrik. Tenanglah! Kemarin-kemarin aman dan dia tidak melakukan hal aneh. Jadi, tidak usah cemas!" pikir Lian yang disusul dengan anggukan yang tertuju pada Darma.

Ayu mengusap kepala putrinya saat gadis itu berpamitan. Senyumnya makin mengembang. Rasanya lega karena dia mempunyai suami yang juga menyayangi Lian seperti anak sendiri.

**

Seperti biasa, Lian duduk dengan posisi menyamping saat menaiki motor matic milik ayah sambungnya. Tangannya selalu berpegangan pada besi ujung jok.

"Yah, gak usah ngebut biar aman!" Memang saat ini Lian sedang berlomba dengan waktu untuk sampai di tempat kerja. Tapi jika harus membahayakan nyawa, itu juga salah.

Darma sama sekali tidak mempedulikan permintaan dari Lian. Dia sengaja membawa si kuda besinya untuk memacu lebih kencang. Si gadis masih bertahan untuk tidak berpegangan pada pinggang ayah tirinya.

"Lihat saja, kamu pasti akan memelukku dengan erat!" batin Darma yang diiringi senyum seringai.

Pria setengah botak itu menambah kecepatan motor seperti pembalap liar hingga membuat Lian benar-benar menyentuh pinggangnya dengan sebelah tangan. Bagian benjolan di dada sedikit menyundul pada punggung Darma, membuat pria itu makin berotak miring.

Lian segera melepas tangannya saat kendaraan berhenti di depan gerbang sebuah pabrik garmen.

"Sun tangan dulu kalau mau pergi!" Darma mengulurkan tangannya saat Lian baru saja turun dari kendaraan.

Dengan sungkan, gadis itu menurut. Dia terhenyak ketika pipinya dielus oleh Darma. Lian sedikit mundur kemudian buru-buru pergi tanpa berkata apa-apa.

"Hem, manis sekali. Aku suka!"

Seringai itu muncul lagi sebelum Darma meninggalkan tempat tersebut.

**

Lian berkutat di dapur setelah pulang dari bekerja. Memasak untuk makan malam seperti biasanya.

Kompor dimatikan. Dia mengambil wadah untuk nasi goreng dan telur dadar. Menyimpannya di atas meja makan kemudian bergerak membersihkan dapur dan mencuci tangan.

Gadis itu tersentak karena pinggangnya dipeluk seseorang dari belakang. Segera berbalik dan menjauh. Matanya membeliak dan dadanya berdegup-degup.

"Lian, Ayah bikin kamu kaget ya?" Darma tersenyum tanpa dosa.

Gadis tersebut gemetaran menatap takut. Kakinya dipaksakan bergerak meski terasa lemas. Dia harus menjauh dari ayahnya yang makin menakutkan.

Darma menyeringai. "Aku suka aroma tubuhnya."

Pria itu duduk tenang di ruang makan, menunggu yang lainnya datang. Sekitar sepuluh menit, Lian muncul bersama ibunya.

"Akhirnya … yang ditunggu-tunggu datang juga," ucap Darma dengan senyum tipis yang menyeringai.

Ayu tersipu karena berpikir jika suaminya sedang menggombal. Dia salah, perkataan Darma sebenarnya tertuju pada anaknya.

Pria itu menatap Lian yang tengah menyendokkan makanan. "Bu, anak gadismu mirip denganmu. Sepertinya dulu kamu juga secantik Lian."

"Mas bisa saja. Lian itu jauh lebih cantik karena hidungnya mirip sama almarhum ayahnya, sementara aku kan pesek begini." Wanita paruh baya itu terkekeh.

"Tentu saja, Lian jauh lebih cantik dan muda daripada kamu. Sudah tua, cacat lagi. Tahu begini aku dulu tidak akan menikahimu. Tapi tidak apa-apa, masih ada yang seger di rumah ini," batin Darma.

Lian sebenarnya tidak terlalu berselera makan. Itu karena perlakuan tidak menyenangkan dari ayah tirinya tadi. Tapi karena perutnya perih maka dia mengganjalnya dengan beberapa suap nasi.

Darma mendorong kursi roda untuk mengantar istrinya ke kamar. Membantu Ayu berbaring kemudian pergi lagi ke dapur. Senyum menyeramkan itu terbit lagi karena melihat si Daun Muda berdiri membelakanginya. Lian sedang membersihkan piring bekas makan.

Air liur Darma nyaris menetes melihat sosok tinggi semampai itu. Perlahan dia mendekat lalu berbisik tepat di daun telinga anak tirinya. "Anak Ayah selain cantik juga rajin."

Jantung gadis itu nyaris keluar dari tempatnya. Tubuhnya gemetaran hingga piring yang dia pegang jatuh ke wastafel. Dia menggeser tubuhnya agar menjauh. Namun, Darma mengikuti pergerakannya dan dengan secepat kilat mencuri pipinya menggunakan bibir agak hitam itu.

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Darma. Gadis itu menatapnya tajam meski dipenuhi air mata. Tak ada kata yang terlontar karena dadanya terlalu sesak.

"Gadis galak, aku malah makin tertantang untuk memillikimu!" Pipi yang masih terasa panas itu dielus-elus. Satu sudut bibirnya terangkat ke atas.

Lian berlari masuk ke dalam kamarnya. Pintu dikunci lalu telungkup di atas tempat tidur. Bahunya berguncang hebat. Air mata membanjiri bantal yang dijadikan tempat bersandarnya saat ini.

Kecewa dan takut bercampur di dadanya. Kemarin-kemarin dia sangat bersyukur mempunyai sosok pengganti ayahnya yang telah tiada. Darma begitu perhatian dan menjaga dia dan ibunya dengan baik. Namun, sejak Ayu Sari mengalami kecelakaan dan lumpuh sebulan yang lalu, pria itu perangainya berubah. Memandangnya dengan cara berbeda tapi Lian belum betul-betul menyadarinya. Baru hari ini sejak Darma berani menyentuhnya. Apalagi kejadian tadi di dapur, membuatnya makin gemetaran.

**

Darma keluar dari kamarnya setelah memastikan jika istrinya sudah pulas. Langkahnya mengendap-endap dan menutup pintu dengan pelan. Kakinya berhenti tepat di depan kamar anak tirinya yang terhalang oleh kamar mandi.

Pria itu memegang handle pintu. "Sial, dikunci!"

Dia mengambil kunci cadangan yang ada di dalam kamarnya dengan super hati-hati. Kembali lagi ke kamar Lian dan … pintu itu terbuka! Kembali ditutup dan dikunci.

Darma berjalan perlahan lalu duduk di bibir ranjang. Senyum menyeramkan muncul setiap otaknya berjalan-jalan pada hal yang liar. Matanya memindai setiap inchi tubuh indah yang sedang meringkuk. Jakunnya naik turun saat tangannya merayapi kaki hingga naik makin ke bagian atas dari anak tirinya.

"Benar-benar indah dan menantang!" gumamnya.

Darma melucuti pakaiannya sampai keadaannya benar-benar polos. Jemarinya membelai lembut bibir Lian. Mata gadis itu membulat sempurna saat ruhnya kembali ke jasad. Baru sadar jika ada makhluk menyeramkan di dekatnya.

"Apa yang Ay …." Mulut yang ingin berteriak itu dibekap oleh tangan kasar Darma.

Lian tahu bahwa keadaan ini sangat berbahaya. Dia harus bisa melarikan diri. Sayangnya pria itu sudah menindihnya dan memegang pergelangan tangannya dengan kuat-kuat. Bibirnya dibekap lagi tapi saat ini menggunakan bibir bau rokok milik Darma.

Lian menggigit bibir yang menyosornya dengan kuat hingga pria itu mengaduh. Niatnya ingin melawan tapi malah mendapat respon menjijikan.

"Bagus, Sayang. Aku suka dengan gadis galak sepertimu! Tidak masalah jika bibirku sampai berdarah jika itu hasil dari gigitanmu," lirihnya sambil menatap lapar.

Lian menyemburkan salivanya tepat di wajah Darma. Tatapannya penuh kebencian meski terselip ketakutan. "Lepaskan aku, brengsek!"

Darma mendesis agar gadis itu tidak berisik. "Diam dan ikuti kemauanku! Jika tidak maka aku tidak akan segan untuk mengantarmu pada ayahmu yang sudah mati itu!"

"Lenyapkan saja aku! Aku tidak mau melayanimu! Ibu … tolong!" teriaknya.

Darma segera turun dari tubuh semampai itu. Memungut celananya tapi bukan untuk dipakai. Dia hanya ingin mengeluarkan sebuah benda tajam dari sakunya.

Lian memanfaatkan waktu untuk turun dari ranjang dan bergerak ke arah pintu.

"Mau ke mana?" Darma mencekal pergelangan tangannya lalu menempelkan senjata tajam pada leher jenjang Lian.

"Kalau kamu macam-macam maka aku akan menghabisimu sekarang juga! Bukan cuma kamu tapi juga ibumu, camkan itu!" bisiknya penuh penekanan.

Darma memangku paksa tubuh Lian dan melemparnya ke atas kasur. Lian memohon agar dirinya bisa dibebaskan tapi tentu saja tidak dikabulkan.

Pria itu melepas segala penghalang yang masih menempel di tubuh Lian dengan kasar. Sama sekali tidak peduli dengan tangisan anak tirinya. Kepalanya sudah dipenuhi nafsu setan.

"Ibu …!" batin Lian.

Wajahnya banjir air mata saat Darma berusaha merenggut miliknya secara paksa. Seluruh tubuhnya dikunci oleh pria bejad yang ada di atasnya. Ingin melawan tapi tak mampu. Kalah tenaga oleh orang yang tengah kesetanan itu.

"Jika kamu menurut, Sayang …, aku tidak akan mencelakaimu dan ibumu!"

Darma menyeringai dan melancarkan aksinya dengan kasar. Sudah tak tahan lagi ingin menuntaskan hasrat yang sudah lama tidak terpenuhi. Sebenarnya Ayu masih sanggup untuk melayaninya tapi pria itu terlalu maruk. Dia ingin yang lebih segar dan sempit untuk memberi kepuasan batin. Otak dan hatinya sudah gelap tidak bisa memilih mana yang benar.

Suara gedoran di pintu utama membuat aksinya terganggu. Dia menggeram kesal lalu terpaksa turun dari ranjang dan memakai pakaian dengan lengkap. Benda tajam didekatkan pada wajah Lian sekedar untuk mengancam agar gadis itu tidak kabur.

Darma memasukan pisau kecil ke saku celana lalu mengunci pintu setelah dia keluar kamar.

"Aku harus bisa kabur!" gumam Lian. Dia harus memanfaatkan waktu singkat itu dengan baik.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Aku Bukan Sampah

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel After Marriage
9.5
Bagi Denisa, menikahi pria yang ia puja sejak SMA adalah impian yang jadi nyata. Namun, biduk rumah tangga mereka rupanya tak seindah dongeng. Hubungan pernikahan yang semula diharapkan harmonis kini perlahan hancur akibat bayang-bayang kelam dari masa lalu yang terus menghantui. Di tengah badai konflik yang tiada henti, Denisa kini dihadapkan pada pilihan sulit: tetap bertahan memperjuangkan cintanya atau menyerah dan menyudahi pernikahan ini.
Sampul Novel Be My Husband
8.1
Kiran Naomi Tanaka memiliki satu tujuan hidup yang mutlak, yaitu menikah dengan Evan Davaro Saga. Sejak awal bertemu, ia bertekad memikat hati pria dingin yang juga putra dari sahabat ayahnya tersebut. Sayangnya, Evan yang sangat gila kerja selalu bersikap acuh tak acuh. Ia bahkan kerap meminta Kiran untuk lebih fokus belajar matematika ketimbang memikirkan pernikahan. Di tengah perbedaan usia mereka yang cukup jauh, sanggupkah kegigihan Kiran meluluhkan Evan, atau ia justru akan patah hati?
Sampul Novel Pengantin Sempurna Sang CEO: Kesepakatan dengan Iblis yang Menyamar
8.1
Leyla kerap dituduh sebagai penggoda licik yang ambisius. Namun, sebuah pernikahan mendadak dengan Colton, miliarder playboy yang baru dikenalnya, menggemparkan publik. Hubungan yang semula dikira murni transaksi bisnis tanpa cinta ini mulai berubah saat Colton memperlihatkan sisi rapuhnya di sebuah pesta. Leyla pun tersadar bahwa seluruh pertemuan hingga pernikahan mereka sebenarnya adalah skenario matang yang telah dirancang Colton sejak awal.
Sampul Novel Chasing Your Love
9.4
Demi menghindari perjodohan paksa dengan seorang duda yang direncanakan ayahnya, Carissa memilih melarikan diri. Ia tidak menyadari bahwa rencana tersebut adalah taktik licik ibu dan adik tirinya untuk menguasai warisan miliknya. Di tengah pelarian, Fabian datang menyelamatkannya dan menawarkan kesepakatan: menjadi tunangan pura-pura agar ia terbebas dari perjodohan ibunya. Masalah rumit muncul ketika Fabian menyadari calon tunangan aslinya adalah mantan kekasihnya, sementara Carissa mulai jatuh cinta padanya.
Sampul Novel Penyesalan Raja Mafia
8.5
Nasib Luna Hayes berbalik sepenuhnya usai menyelamatkan Liam Moretti, calon pemimpin mafia terkuat di Ravenwood. Di balik reputasi Liam yang bengis, ia justru bersikap sangat lembut pada Luna. Sayangnya, kemewahan yang Luna rasakan harus dibayar dengan menjadi kekasih rahasia pemuas nafsu sang raja mafia. Situasi di antara mereka kian rumit ketika Liam menuntut Luna untuk mengandung dan melahirkan anak darinya.
Sampul Novel SUAMIKU MANTAN PACAR, PACARNYA MANTANKU
8.3
Talitta memilih mengungsi ke Bandung demi menyembuhkan luka akibat pengkhianatan Yuda dan Elsa. Di kota baru ini, Birly mengenalkannya pada Davaro, pria yang ternyata merupakan mantan pacar Elsa. Situasi kian pelik ketika orang tua Talitta kembali dari Jerman dan menjodohkannya dengan Davaro. Talitta pun mencurigai adanya rencana di balik semua ini. Akankah pernikahan yang berawal dari masa lalu rumit ini mampu memicu cinta sejati di antara mereka?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan